Sabtu, 26 Januari 2013

Resume Kelas Menulis 5+1 dg Tasaro GK, 26 januari

KONEKSITAS



nah, kita lanjutkan obrolan minggu lalu yaaa....Jadi dalam materi #5plus1 Kita, 5 elemen sudah kita bahas ya...semoga juga dilatih oleh kawans di rumah...Sekarang kita mau membahas elemen "+1" nya... Siaaap?

Kalau lima elemen sebelumnya adalah aplikasi dari lima pancaidera, maka elemen "+1" adalah pengikat seluruhnya yakniiiiiiiii....indera keenam ...hihihi...kira-kira apa itu?

kami menyebutnya......"koneksitas"

Perhatikan deh, bagaimana penulis-penulis terkenal membuat naskah mereka yang tampak "sederhana" kok keren bangeeets...kadang2 kita malah bingung, apa ya, yang bikin bagus.

Nah, selain berhubungan dengan lima indera, koneksitas ini memperlihatkan seberapa banyak buku yang dibaca oleh penulis, berapa film yang ditonton, berapa luas pengetahuannya.

kita nih, mau menceritakan kisah remaja sekarang, coba deh. rata-rata kalo kisah remaja pan hadeeeuh....bintang sekolah pacaran ma jago basket, saingan ama anak yang punya yayasan.

Nah, kalau kita nih penulis yang punya kemampuan "koneksitas" bagus, mau cerita seklise ini pun akan jadi menarik. Ceritanya dengan memasukkan data-data yang tidak biasa ke dalam alur cerita, sehingga konflik di antara si Jago Basket, bintang Sekolah, dan anak Ketua Yayasan jadi lebih menarik.

Ingat "ADA APA DENGAN CINTA?"

hayooo....kira-kira...elemen apa di luar konflik khas remaja yang muncul dalam cerita AADC dan membuat cerita itu tampak jadi kereeeen bangets?

elemen dunia sastra, politik

pintarnya script-writer masukin Aku-nya Chairil, tokohnya AADC jadi cerdas dari perspektif sastra

Jadi, unsur sastra menjadi "alien" dalam kisah cinta remaja itu dan jadi "SSSSSSSSSSESUATUK" bandingkan dengan sinetron2 atau FTV yang bertema serupa, tapi unsur "koneksitasnya" justru soal harta, dll....contoh : Bawang Merah Bawah Putih (alamak jadulnya)

Nah, "HUKUM" koneksitas itu tidak hanya berlaku dalam alur dan unsur cerita yang memperkaya cerita, tapi juga sebaiknya kita masukkan dalam kalimat.....hayoooo mau contoh?

CONTOH KOMPARASI

PENULIS BIASA

Sari mendatangi kios kelontong itu pagi tadi, membelanjakan seluruh gaji suaminya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

PENULIS ber-KONEKSITAS

Sari pening kepalanya, ketika Bu Maman, pemilik kelontong tetangga rumahnya, menyorongkan sekeresek belanjaan berisi sekilo cabai, lima liter beras, dan tiga ikat sayuran. Cabai besar Rp1000 rupiah per satunya. Itu menghabiskan hampir setengah gaji suaminya...

COBA BANDINGKAN KAWANS.... siapa yang bisa menengarai nilai koneksitas di contoh kedua?
Kira-kira, apakah semua penulis tahu berapa harga CABAI BESAR hari ini? atau hanya penulis yang melakukan KONEKSI? yang ngecek harga ke Warung? yang Googling, atau setidaknya nanya ibunya? Heheheeh

PENULIS BIASA: Seorang penulis seperti Angga, sepanjang hidupnya lebih suka kesendirian, membaca banyak buku, menuliskan idenya ke dalam tulisna.

PENULIS BERKONEKSITAS: Sari memahami kehidupannya sebagai penulis seperti ibu yang mengandung bakal anaknya. Setiap hari memberinya gizi yang baik, sabar menunggu si jabang bayi menyempurna di dalam rahimnya.

HAYOOO.... apa bedanya? Ada nilai KONEKSITAS apa di dalam naskah PENULIS BERKONEKSITAS?

pertanyaannya, apakah SEMUA PENULIS mengetahui bagaimana proses janin bertumbuh di dalam RAHIM? Ataukah hanya penulis yang membaca buku tentang proses kehamilan, Googling tentang kehamilan, atau bertanya kepaa ibunya? hayooo.....INILAH kekuatan KONEKSITAS.....menghubungkan dua, tiga data yang secara langsung tidak berhubungan, tapi punya kemampuan untuk memperkaya naskah, memberi nilai plus kepada PEMBACA. asyik, ya?

jadi mau kisah cinta, sejarah, cerita anak, apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa pun...dengan KONEKSITAS, nilanya akan lebih tinggi dibanding kisah biasa.
Anne Adzkia Indriani mau tanya, bagaimana tipsnya kita bisa menciptakan koneksitas yg tepat? misalnya pd contoh ttg penulis tadi. kok kepikiran menganalogikannya dgn kehidupan rahim? aku gak kepikiran sejauh itu ;p
Anne Adzkia Indriani: nah, itulah kenapa tadi, KONEKSITAS, hanya dimiliki penulis YANG BANYAK BACA.....BANYAK NGOBROL, BANYAK JALAN-JALAN....ketika kita tahu rasanya menulis, terus kita tahu proses janin dalam perut, kita akan menemukan persamaan. SAMA-SAMA nggak bisa dipaksain lahir sebelum waktunya SAMA-SAMA butuh asupan GIZI yang baik...SAMA-SAMA bertumbuh dengan waktu....nah, KLIK...langsung deh...kita sandingkan.

supaya tak berkesan laporan ilmiah gimana ya mas?

GAMPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG! bayangin aja kita lagi ngegosip...hahahaha. Coba deh...kalo lagi ngegosip kan lompat-lompat tuh....gak kerasa kita nih menghubungkan banyaaaaaaaaaaak hal dalam satu bahasan. haha...tapi mesti dikendalikan biar tidak ke mana-mana.

kapan saat koneksitas muncul kapan ga perlu mas ?

pertanyaan baguuuus.ss......jadi koneksitas itu untuk memperkaya naskah, bukan mendominasi...jadi kita menambahinya sebagai bonus....jangan diseluruh tubuh naskah...cukup pada hal2 yang tidak biasa dan tidak diketahui kebanyakan pembaca saja.

ksimpulannya, koneksitas itu sperti membuat jaringan sebanyak mungkin untuk menggambarkan satu hal?

boleh dibilang begitu...tapiiii jangan pula kebanyakan...jadi buat bonus aja bagi pembaca...jangan habis pulak satu paragraf sama bonus...nanti istilahnya bukan bonus lagi dooong.

atau boleh dikatakan bahwa koneksitas adalah kemampuan penulis untuk memjaga keyterkaitan antar unsur- unsur dalam cerita, dan tidak menjadikan unsur itu sekedar tempelan belaka, bagaimana menurutmu mas?

Asyeeeeeeeeeeeeek......bener gitu..jangan jadi TEMPELAN...harus menyatu.....tidak terasa oleh pembaca.

jadi, kita menambahkan "koneksitas" ini pada bagian-bagian yang termasuk ke dalam cerita atau tambahan sebagai 'pemanis' aja? *apa ya istilah dalam kepenulisannya*

BONUS...kalo pemanis...nanti jadi tempelan, Mbak...jangan juga. Bedanya BONUS sama TEMPELAN, ada pada keseriusan pembaca mendalaminya...memberi informasinya secara utuh kepada PEMBACA.

boleh minta contoh yang bentuknya tempelan, Mas?

Sari menyetel TV dan menyadari gambar di layar plasma itu tak sempurna. Seperti efek CMYK tak sempurna pada mesin pencetak kertas....(udah...si penulis tidak menjelaskan lagi apa itu CMYK...bagaimana kinerja mesin cetak)

KAWAAAAAAAAAAAAAAANS!!!!!!! Bisa diterima yaaaaa? Hadeeeuh...#5plus1 udah tersampaikan semua....kuasai ini saja, tulisan kita akan MANTAP DIJE bener....naaaaaaaah...karena malam ini banyak temen2 dari Tasaro Gk Dua tidak bisa menyimak acara kita, mulaiminggu depan, kita pindah channel ke Tasaro GK Juru Dongeng yaaaaaaaaa...biar semua bisa gabung....nah minggu depan tema kita PENGALAMAN, RISET, dan IMAJINASI....pukul 20:00 teng kita mulai....

by : Hairi Yanti

Rabu, 26 Desember 2012

Dewata Island


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46)
Sekelumit kata dari Kitab Sempurna Tanpa Cela. Sebuah permulaan yang manis yang menjodohkan saya dengan sebuah hobi berjudul jalan-jalan. Sebuah perintah bahwa berjalan itu bukan sekedar melihat, melainkan memahami dan mendengar. Bahwa berjalan dapat membuka pikiran dan menambah wawasan. Bahkan dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa air yang mengalir itu akan selalu jernih, sedang air yang diam itu akan keruh dan rusak. Maka sudah pasti, begitu pula manusia. Bukankah tujuh puluh persen diri kita adalah air?
Dan lagi, kalimat sakti itu kutemukan di dalam lembaran mulia.
“Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Bulatlah sudah tekadku untuk membuat kaki kecil ini menapak seluruh permukaan bumi. Mataku gatal ingin melihat dari dekat rupa-rupa keunikan yang tercipta. Telingaku rindu mendengar nyanyian alam. Aminkan, tolong aminkan.

Sebuah nikmat yang tak bisa didustakan bahwa saya terlahir di tanah surga bagi para pejalan. Alam sejuta pesona yang menyihir mata dengan keelokannya tanpa buatan. Dimana? Indonesia! Ketika kita menyusuri negara lain, satu negara mungkin hanya memiliki  beberapa dialek (bukan bahasa), tarian, beberapa macam makanan, tempat wisata yang mungkin sudah dipoles dan adat masyarakat setempat lalu khatam!
Bandingkan dengan ibu pertiwi ini. Tak kurang tiga belas ribuan pulau berbaris sepanjang katulistiwa. Terkubur di dalamnya sejarah peradaban sejak sebelum masehi bersama kisah raja-rajanya, kekejian penjajahan, euforia kemerdekaan, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tak kurang dari 1.128 suku dari berbagai pulau yang melahirkan kurang lebih 700 bahasa daerah. Belum lagi tari-tarian, lagu-lagu, makanan khas, pakaian, rumah adat, pertunjukan, cerita rakyat, peninggalan sejarah, upacara adat, tumbuhan khas, binatang khas, kerajaan-kerajaan masa lampau dan banyak lagi. Cukupkah sekedar kata ‘wow’ untuk semua ini? Tidak akan! Jika ada seseorang yang mungkin tergila-gila dengan Indonesia yang mana di setiap nadinya tertulis kata Indonesia dan terobsesi membukukan segala hal tentang Indonesia dengan lengkap, terperinci, dan akurat dan parahnya jika dia adalah perfeksionis, saya yakin hasilnya adalah ensiklopedi berat, berjilid-jilid, yang memakan waktu dan membutuhkan riset, dan tentu saja perjalanan ‘real’ ke seluruh nusantara.

Adalah sebuah pertunangan yang cantik ketika hobi berjalan ini tumbuh di pulau kecil yang terselempit, namun elok dan tersohor sejagad. Sejak kecil, kecantikan alamnya telah membuat setiap sel ini ingin selekasnya tumbuh besar agar dapat segera merasakan wangi angin dan indahnya langit. Ingatan ini mungkin telah tua, tetapi kenangannya sangat terasa. Ketika kecil dulu, saya pernah diajak ke sebuah dataran tinggi di Pulau Dewata yang dikenal dengan nama Bedugul. Kami sekeluarga pergi ke tepian danau, yang setelah besar baru saya tahu bahwa namanya adalah Danau Batur.  Danau yang berkabut dan luas. Ditengahnya ada pulau kecil yaitu Pulau Trunyan. Hal yang paling digemari dari tempat ini adalah memancing, dan menyewa kapal ‘boat’ untuk mengitari Pulau tersebut. Konon, masyarakat di pulau tidak pernah menguburkan sanak keluarganya yang telah meninggal. Mereka hanya meletakkan jenazahnya di bawah pohon begitu saja dan hebatnya malah bukan berbau busuk, jenazah tersebut malah mengeluarkan aroma wangi.
Kuliner khas ketika berkunjung ke daerah ini adalah sate kelincinya yang lezat dan buah markisa. Sungguh! Keramahan dan pelayanan dari masyarakat sekitar memberi andil besar yang membuat turis domestik maupun mancanegara begitu tergila-gila dan rela ‘membuang’ uang mereka untuk menikmati. Terlihat rambut-rambut pirang dan kulit-kulit merah ikut berkeliaran di jalanan dan berbelanja aneka panganan dan souvenir. Maka pulau ini di hati saya telah mendapatkan ruangan khusus sebagai tanah kelahiran dan kampung yang menawan.

Nantinya, kemanapun kaki ini melangkah,, tempat ini akan selalu menjadi kampung halaman yg memberi kerinduan...

Sumpah Habibi

,,Sumpahku,,

Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu Pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci
.........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa besar dan suci
Membawa aku PADAMU

Membaca sumpah Habibi, menamatkan buku beliau "Habibi Ainun" yang begitu menggetarkan hati, membuat saya berfikir, inilah hidup yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang mengkritisi, kenapa ibu Ainun sampai akhir hayatnya tidak berhijab dan sebagainya,,
tapi lihat,, amalan beliau melebihi kaum berhijab dengan keikhlasan yang tak dibuat-buat. Amalan tahajud, puasa senin kamis, tilawah minimal satu juz, melafadzkan Al Qur'an pada setiap peristiwa hidupnya baik sulit maupun senang, menjadi istri yg setia dan taat pada suami hingga akhir hayatnya, dan berbakti pada masyarakat luas, hingga bahkan meski beliau sudah meninggal, semua jasanya masih hidup mewakilinya. Lalu, sudahkah kita yang berhijab ini beramal seperti itu? Mampukah kita seperti itu?

Mengapa Pak Habibi memiliki perasaan yang begitu mendalam pada Bu Ainun dan begitu juga sebaliknya?
Jawabannya sangat simpel, karena Bu Ainun menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai istri dan ibu, merelakan karirnya sebagai dokter demi mengurusi rumah dan anak-anak dan mendampingi lelaki hebat dalam setiap detiknya dengan tegar dan tanpa mengeluh. Begitupun Pak Habibi yang bekerja dengan seluruh tubuhnya demi keluarga, menjadi suami dan ayah yang sebisa mungkin memberi kebahagiaan bagi kelarga, memberi manfaat bagi masyarakat, menyumbang hal-hal positif dan inovatif dan berbakti pada tanah air tercinta.

Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup beliau berdua, namun yang paling berkesan buat saya, adalah manusia itu diciptakan untuk sepenuhnya mengabdi kepada Khaliqnya tanpa syarat, dari manapun dia berasal, tanpa perbedaan. Bahwa sebagai manusia sudah selayaknya bersyukur dengan anugerah akal yang diberikan kepada kita dengan belajar sekeras-kerasnya, apapun, dan sampai akhir hayat dan menggunakan ilmu itu untuk memberi manfaat yang seluas-luasnya. Betapa pak Habibi dengan otaknya yang jenius itu, yang tidak butuh waktu lama untuk belajar sesuatu, menghabiskan 21 jam dalam sehari dan hanya tidur 3 jam. Sedang kita?

Dan lagi, ketika waktunya datang, dan kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi partner kita seumur hidup, maka itu bukanlah akhir melainkan awal untuk memulai perjuangan yang lebih berat lagi. Bukan seperti yang ada di televisi, yang menggambarkan romantisme dan lain sebagainya. Itu adalah waktu untuk berjuang ke lompatan yang lebih tinggi, dan itu adalah realita. Maka pastikan kita memilih seseorang yang memiliki daya juang dan bercita-cita tinggi, dengan menjadikan akhlaq dan ilmu sebagai tolak ukur utama.

Dan bahwa, kematian adalah sebuah panggilan pasti dan akhir yang merupakan awal bagi setiap insan yang bernyawa. Kematian adalah kenyataan yang pahit tetapi jujur yang harus dipersiapkan. Semoga kita bisa meneladani kisah beliau berdua dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi tanah air, dari bidang manapun kita berjalan dan berjuang.

Senin, 24 Desember 2012

Imam Nawawi dan Riyadus Shalihin

Kisah ini dilontarkan di akhir-akhir pertemuan maddah adab.
Masih bersama ustadz 'menawan'
Ini harus segera ditulis sebelum lupa, agar dikoreksi, dan jarang yang mengetahui.

Kitab Riyadus Shalihin, karya fenomenal sejak abad ke 6 hijriah karya Imam Nawawi, siapa yang tidak tahu minimal judulnya. Masyhur, penuh ilmu. Apa rahasianya?

Tersebutlah, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi  lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits. Telah khatam menghafal Al Qur'an sebelum mencapai baligh. Zuhud dan dalam ilmunya.
Beliau menyusun kitab Riyadush Shalihin agar orang-orang yang membacanya dapat mengambil manfaat darinya. Rampung sudah penulisan kitab tersebut, siap naik cetak (memang jaman sekarang?)
Bukan dibawa ke penerbit, (jaman itu belum ada saudara!!) beliau membawa kitab berjilid-jilid itu ke tepian sungai.
Tiba disana, dengan hati yang khusyu' beliau berkata :
"Ya Allah, jika aku menyusun kitab ini hanya untuk riya' dan pujian, meskipun itu sedikit, maka tenggelamkanlah kitab ini. Namun, jika aku menyusun kitab ini dengan sebenar-benar ikhlas hanya mengharap ridhoMu, maka selamatkanlah."

Rabb! Bergetar, merinding!
Seperti kita tahu, kitab jaman dahulu kala, ditulis tangan, di atas kertas, dijilid sendiri, lalu tintanya, jika terkena air maka hilanglah sudah semua itu tanpa bekas.
Bayangkan!!! Kerja keras selama berbulan-bulan, riset, siang malam menulis tangan (belum jaman sekertaris, jasa mengetik atau mesin ketik) bisa lenyap hanya dalam sedetik!!
Tapi kehendak Allah, kita harus membaca tulisan beliau . Bak peti bayi Musa, dia mengambang ke tepian dan tetap ada dari zaman ke zaman.
Bagaimana tidak? Ditulis dengan royalti surga yang tak tertandingi. Jika ada anugrah nobel, pulitzer atau apalah, bukankah seharusnya kitab-kitab seperti yang seharusnya masuk nominasi?
Keikhlasan adalah sesuatu yang tak bisa diselami dengan rumus apapun. Wallahu a'lam

Sabtu, 22 Desember 2012

22 desember 2012, ibu professional

22 desember 2012 
aury fithree 

@america seminar with pak rheinald kasali 
ekonom ui

kalo indonesia dah maju,,,
anak saya, saya n kluarga saya hrus jdi pemain,,,

sukses itu harus didekati,,,
dan berawal dari mimpi - dikerjakan

vanda, 14 thun d amerika, n anak 4 laki2 home schooling smua,,

kehebatan itu gak bisa diajarkan,,
tpi kehebatan itu ditularkan,,

stockholm, swedia,,
beda 6 jam
dpet gaji 80% meskipun cuti melahirkan dan dpet libur 18 bulan

harus melangkah dri hal yg paling simple dulu,,

extended self,,
bungkus, pager diri
orng bisa dilihat, atau dinilai dari luarnya.

dibedong, digendong, dituntun? 
pinter di masyarakat,,, ngafal smua? mati saja,,

mengamati,, amati apapun,, dan ambil hikmahnya,,

self passanger to self driver
passanger g brani ambil resiko,
critical thingking : winner 
gak penting siapa anda, tpi yg pnting akan jdi apa anda
blajarlah melihat dri sisi yg baik, yg jarang orang lihat

masaru emoto, massages from water

looser : making excuses
winner : making solution

pergi ke depan kaca (self talk)
sering kali kita memberi nasihat, padahal yg pling butuh nasihat adalah diri kita sendiri,
manusia berpengetahuan,,pasti hebat

mimpi - realita
jika lingkungan gak mndukung, kluar!
gapai!





Rabu, 12 Desember 2012

this night with '57'


bener2 hari ini, terpaksa melewati jalur yg gak pernah sama sekali kulewati sejak dua tahun bercokol d tanah ini, gara2 busway arah dukuh atas gak beroperasi,,
sempet ada rasa gentar, naik angkot? sendirian? semalam ini?? huft,,!
jd inget my mom yg sll berpetuah tiap nelpon 'jgn keluar sendiri, bahaya,,'
penjelajah takut?? ketawa mari ketawa!!
okelah, sll ada dua sisi kan? (alasan orang ngeyel plus bandel, please dn't be angry with me mom)  akhirnya jdi tahu wajah lain ibukota, dgn angkotnya yg 'luarrr biasa',  bhkan smpet djdikan bantal oleh ibu2 yg ngntuk berat, nglewatin cipinang, kebon jeruk, smpe rs. medistra tmpatnya artis2 disuntik,, oh ya ada trans7 jga, coba tdi mampir ya,,he

lucunya pas nyampe mampang yg sll padat merayap, nunggu angkot 75 d pinggir jalan, ada serombongan bapak ibu2 dan anak2 yg juga lg nunggu angkot,
ibu : aduh macet gini, males mau naik angkot, sesak, panas lgi, pasti gak dpet tmpat duduk,,
bapak : yaudah naik taksi saja, bu,,
ibu : ya rugilah naik taksi macet gini, mahal argonya!
(dlm diam aku mikir, trus maunya naik apa bu??)

masih dg nunggu angkot, lewat lagi sekeluarga dg kendaraan mereka, sang bapak menyetir, lalu ibu santai di belakang menggendong bayi, sedang dua anak tertidur pulas di atas kardus2,,
kendaraan roda 4 yg berbahan bakar tenaga manusia,,
tepat di depanku bapak itu berhenti, memungut gelas aqua, lalu mengorek2 tmpat smpah beberapa meter dari tmpatku berdiri,,
sungguh, dunia apa ini??
sedang disampingnya mobil2 macam2 merek mulus mengkilap (bahkan jerawat bisa malu jika berkaca disana) lewat tanpa pernah tahu bhwa gerobak itu adlh kendaraan, toko, sekaligus rumah mreka,

detik itu, saat itu, aku hnya bisa menatap,,(iyakah?)
tapi suatu saat nanti, smg aq bsa berbuat sesuatu, tak hanya jdi penonton,, atau hanya menjdi pemimpi,,

Minggu, 09 Desember 2012

yg Pergi tak Kembali


Setiap insan pasti merasa
Saat perpisahan terakhir
Dunia yang fana akan ditinggalkan
Hanya amalan yang akan dibawa

Terdengar sayup surah dibaca
Sayunya alunan suara
Cemas di dada lemah tak bermaya
Terbuka hijab di depan mata

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baikkah atau sebaliknya

Amalan dan taqwa jadi bekalan
Sejahtera, bahagia pulang...kesana

Sekujur badan berselimut putih
Rebah bersemadi sendiri
Mengharap kasih anak dan isteri
Apa mungkin pahala dikirim

Terbaring sempit seluas pusara
Soal bicara terus bermula
Sesal dan insaf tak berguna lagi
Hancurlah jasad dimamah bumi

Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi

(Rabbani punya)

tiba2 teringat lagu ini, searching, posting,,
pertama denger lagu ini, merinding,,
banjirnya nasyid sekarang yg mulai gak jelas, (gak smua)
kembali ke tempo doeloe saja,,
'taste'nya cmplong bget,,

apapun masalah, sandungan, gundah, apalagi galau,,
kalah keren klo pembandingnya adalah mati..
tamat sudah riwayat, putus amal (kcuali 3)
ini sudah akhir, bangun! bangun! bangun!