Tahukah Anda nafas Jakarta? Ya, ‘Macet’. Macet adalah nafas, ciri khas dan mantra Jakarta. Bahkan slogannya, ‘kalau gak macet bukan jakarta namanya’. Dibanding semua permasalahan yang lahir di Ibukota, ‘macet’ adalah yang paling populer karena dialami semua lapisan masyarakat. Dari Pejabat sampai rakyat jelata, dari mobil mewah sampai pengayuh sepeda. Kelihatannya memang remeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Waktu produktif terbuang, pemborosan bahan bakar, sampai ancaman kesehatan fisik (polusi) dan pikiran (stress). Dinas Perhubungan mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai 35 triliun rupiah per tahun. Ini sungguh jumlah menakjubkan. Jika masalah ini bisa ditangani, bukankah Indonesia bisa sedikit bernafas dari lilitan hutang? Bukankah kita bisa lebih berhemat dengan sumber daya alam?
Berjalanlah di setiap sudut mana saja di kota Jakarta, hanya satu dari seratus jalur yang tidak dipadati kendaraan. Udara menjadi sangat tidak sehat untuk dikonsumsi. Kendalanya sungguh sangat terasa bagi pemakai jalan. Jangan tanya cara untuk menyiasati, semua pengendara telah melampaui profesor, berkerut kening mencari jalan alternatif paling lengang. Nihil!
Bisa kita tonton barisan mobil setiap harinya menyemut, dan jika kita perhatikan mobil-mobil mewah tersebut berpenumpang paling banyak tiga orang, jarang lebih. Jalan-jalan Jakarta yang sempit tak mampu menampung sekitar 6 juta mobil per harinya. Pendirian flyover juga tidak memberikan kontribusi yang berarti karena setiap jalan baru resmi beroperasi, mobil-mobil sudah lebih dulu bertambah. Sebagian besar orang yang sudah ‘sadar’ macet berusaha beralih ke transportasi umum. Namun ini tidak menjanjikan ketepatan waktu. Metro mini dan angkot misalnya, tak bisa menjadi solusi karena jalur perjalanannya padat merayap. Belum lagi sebagian besar ‘ngetem’ dan istirahat di tepi jalan yang sudah sempit dan semakin mempersempit. Lalu hadirlah Busway yang diharap bisa menjadi penyelamat, namun jam kedatangan yang sangat memakan waktu membuat orang-orang yang nyaman bermobil semakin tak mau berkorban untuk beralih dan berpartisipasi untuk ‘mengurangi’ macet.
Kehidupan ekonomi yang melarat menuntut perjuangan yang lebih gigih dalam mencari sesuap nasi. Maka bisa kita lihat di badan jalan, berjubel pedagang berteriak meminta pertolongan dan belas kasihan. Keadaan yang serba salah. Jika dibiarkan, maka klakson tak akan selesai berbunyi, namun jika ditertibkan, berapa kepala lagi yang akan kelaparan? Penyebabnya karena penertiban itu tidak memberi ganti tempat usaha yang strategis. Belum lagi di pasar-pasar, para pedagang yang menggunakan jalan membiarkan sampah bekas usaha mereka menjadi tumpukan polusi. Berkali lipat kerugiannya.
Lalu kepada siapa kita berlari? Alih-alih mencari siapa yang patut disalahkan, semua rakyat mengawasi gerak-gerik pemerintah sebagai yang dianggap paling bisa memberi solusi. Berbagai cara telah dicoba. Lihatlah para pejabat telah rontok rambutnya mencari solusi keluar dari bahaya macet. Pada 2 September 2010 lalu, di Kantor Wakil Presiden (Wapres) Boediono kemarin, rapat telah merumuskan 17 Langkah Mengatasi Macet. Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimeso, Dirjen Perkeretaapian Tunjung Indriawan, dan Dirjen Bina Marga Kemen PU Djoko Murjanto, Dirlantas Mabes Polri Brigjen Djoko Susilo, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, serta Direktur PT Mass Rapid Transit (MRT) Tribudi Rahardjo. Secara garis besar, 17 langkah tersebut sangat efisien, seperti penambahan armada Busway, peremajaan angkot-angkot tua, upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menaikkan harga BBM, dan pengoprasian Electronic Road Pricing (ERP). Tapi sampai kapan kita harus menunggu perealisasian dari butir-butir langkah itu? Karena setelah hampir setahun berjalan, masih tak terlihat kemacetan mau mengalah.
Untuk keluar dari kondisi yang menyesakkan semua orang dan semua golongan ini, maka kita perlu menggerakkan semua orang yang terkait. Pemerintah, pejabat, pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, pedagang, aparat lalu lintas, pelajar, dan semua orang yang memakai jalan. Hanya dengan satu kata yaitu ‘Sabar’, maka semua masalah akan mudah diselesaikan. Sudah lelah rakyat mendengar janji dan apalagi pemerintah lebih lelah lagi mencari solusi. Maka semua hanya perlu bersabar dan bergerak. Bergerak serentak dan sekarang. Mengapa bersabar? Dan seperti apa sabar yang dimaksud?
· Pemerintah dan pelayan masyarakat bersabar dalam mengemban tanggung jawab, bersabar ketika melihat uang rakyat yang berlimpah, bersabar menghadapi kritikan demi kritikan, bersabar mengayomi rakyat, karena pada dasarnya para atasan yang duduk di kursi terhormat itu adalah pelayan masyarakat. Jika lapisan pemerintah bisa bersabar dalam hal ini, maka pembangunan jalan, pengadaan transportasi, dan sebagainya akan lancar karena perencanaan dan alokasi dana akan sesuai.
· Para karyawan dan pekerja pun bisa berpartisipasi dalam gerakan sabar dengan rela untuk menyimpan kendaraannya di garasi rumah. Turut serta membiarkan jalan bernafas dan udara menjadi sedikit lebih segar.
· Para pedagang yang menjadi pagar jalan sabar mencari tempat lain untuk mencari nafkah karena para pemakai jalan yang tergganggu itu juga sedang dalam perjalanan mencari nafkah. Dengan adanya toleransi, akan tercipta saling menghargai. Rejeki ada dimanapun ada usaha.
· Kaum pelajar adalah yang paling penting untuk bersabar, karena jika para pemuda Indonesia menguasai teknologi, bukan mustahil kita mampu memproduksi transportasi dengan tangan sendiri tanpa harus bergantung produk luar negri yang tentunya memakan biaya lebih besar.
Jadi, jika semua berpartisipasi untuk lepas dari belenggu kemacetan, dan bersabar menanggulanginya, dan bergerak sekarang, semua bisa diatasi. Sementara ini, penambahan jalan, jalur KRL, dan Underpass sebaiknya diperhitungkan dulu karena seperti yang bisa kita lihat, pembangunan yang memakan dana triliunan juta itu tidak bisa menjawab apa yang kita butuhkan. Jadi lebih baik memperbaiki apa yang ada sebelum menambah hal baru yang belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada ketegasan dari aparat dan alternatif yang menguntungkan untuk setiap tindakan yang akan dilaksanakan dan juga kerjasama total dari seluruh warga yang ingin terlepas dari jerat kemacetan. Siap berpisah dengan macet sekarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar