Tampilkan postingan dengan label to know. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label to know. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Mei 2013

Puasa Khusus di Bulan Rajab, adakah???



APAKAH BERPUASA PADA BULAN RAJAB MEMILIKI KEUTAMAAN TERNTENTU?

JAWABAN:
Segala puji bagi Allah subhaanahu wa ta’alaa Salawat serta salam atas baginda Rasulullah SHALLALLAHU A’ALIHI WA SALLAM
Pertama:
Kita mengetahui bahwa bulan Rajab termasuk salah satu dari 4 bulan haram, di mana Allah berfirman:
"إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" التوبة: 36
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”
Adapun bulan-bulan haram yang dimaksud adalah: Rajab, Dzulqa`sah, Dzulhijjah, dan Muharam.
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Bakrah radliyallahu `anhu dari nabi shallallahu a’alihi wa sallam Beliau bersabda: “Dalam setahun ada 12 bulan, di antaranya ada bulan-bulan haram, 3 di antaranya berturut-turut yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharam, serta bulan Rajab yang berada di antara bulan Jumadi Ata-tsani dan Syaban” (HSR Imam Al-Bukhari [4662] dan Muslim [1679])
Sebab dinamakannya bulan-bulan tersebut dengan bulan haram:
1. Karena pada bulan tersebut diharamkan berperang, kecuali jika yang memulai peperangan adalah musuh-musuh orang Islam.
2. Karena melakukan perbuatan yang diharamkan pada bulan-bulan tersebut, lebih dikecam dari pada melakukan perbuatan yang diharamkan pada bulan-bulan lainya.
Karenanya Allah melarang kita melakukan perbuatan maksiat dalam bulan ini, Allah berfirman: “Maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan (haram) tersebut”, walaupun sebenarnya kita diharamkan melakukan maksiat pada bulan apapun, namun perbuatan maksiat dalam bulan-bulan ini lebih diharamkan.
Kedua:
Tentang berpuasa di bulan Rajab,
Adapun berpuasa di bulan Rajab, TIDAK ADA HADIS SAHIH SATU PUN YANG MENUNJUKKAN KEUTAMAAN BERPUASA PADA BULAN RAJAB SECARA KHUSUS.
Sedangkan yang dilakukan sebagian orang berupa mengkhususkan puasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab dan meyakini bahwa berpuasa di hari-hari tersebut memiliki keutamaan melebihi keutamaan berpuasa pada hari-hari yang lainnya, semua itu tidak landasannya dalam Syariah Islam (tidak ada dalil akan hal itu).
Akan tetapi ada riwayat dari Rasulullah shallallahu a’alihi wa sallam Yang menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan haram (sebagaimana kita mengetahui bahwa Rajab termasuk dari bulan-bulan haram), Rasulullah shallallahu a’alihi wa sallam Bersabda:
"صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ" رواه أبو داود (2428) وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود
“Berpuasalah di sebagian bulan-bulan haram, serta tinggalkanlah (di sebagian yang lain).” (HR. Abu Daud [2428] dan hadis ini DIHUKUMI LEMAH OLEH SYAIKH NASHIRUDDIN AL-ABÂNI)
Maksudnya: Rasulullah menganjurkan berpuasa beberapa hari pada bulan-bulan haram tanpa menjelaskan waktu-waktu tertentu, yang dimaksud di sini adalah memperbanyak berpuasa dengan cara sehari berpuasa dan sehari berbuka.
Hadis ini (jika hadis ini sahih) menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan haram, jika seseorang berpuasa pada bulan Rajab karena adanya hadis ini, serta berpuasa pada bulan-bulan haram lainnya (selain Rajab) maka hal itu tidak menjadi masalah, akan tetapi mengkhususkan puasa pada bulan Rajab saja, itu tidak boleh. (sekali lagi, jika hadis ini sahih)
- Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmû` fatâwâ (25/290):

“Adapun berpuasa khusus pada bulan Rajab, semua hadis (tentang hal itu) LEMAH, bahkan PALSU, para ulama’ tidak menggunakan sedikit pun dari hadis-hadis tersebut sebagai sandaran/landasan, serta hadis-hadis tersebut tidak termasuk hadis lemah yang diriwayatkan mengenai keutamaan-keutamaan sebuah amalan (karena ada sebagian hadis lemah yang boleh diamalkan jika hadis lemah tersebut tentang keutamaan-keutamaan amalan, dengan syarat-syarat tertentu, namun hadis tentang ini keutamaan berpuasa di bulan Rajab ini tidak termasuk hadis lemah yang boleh diamalkan, karena tidak memenuhi syarat [Penj]). Bahkan hadis-hadis tentang keutamaan bulan berpuasa pada bulan Rajab ini MAYORITAS ADALAH HADIS PALSU DAN DUSTA”
dalam kitab Musnad imam Ahmad dan beberapa kitab lainnya terdapat riwayat dari Nabi shallallahu a’alihi wa sallam Bahwasanya beliau memerintahkan kita untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, yaitu bulan Rajab, Dzulqa`dah, Dzhulhijja, dan Muharam; akan tetapi hadis ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada semua bulan haram, dan tidak menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Rajab secara khusus.

- Ibnul-Qayyim Al-Jauziyyah rahmatullah `alaihi berkata:

“Semua hadis yang menjelaskan tentang (keutamaan) berpuasa pada bulan Rajab, serta shalat malam pada malam-malam tertentu di bulan Rajab, SEMUA ITU DUSTA DAN DIBUAT-BUAT.” (kitab Al-Mannâr Al-Munîf: 96)

- Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyînul-`ujb (11)

“Tidak ada dalil yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab, berpuasa di bulan Rajab, atau mengkhususkan hari-hari tertentu di bulan Rajab untuk berpuasa, dan juga tidak ada dalil tentang keutamaan melakukan shalat malam secara khusus dalam bulan Rajab, tidak ada dalil sahih yang layak untuk dijadikan landasan (akan semua itu)”

- Syaikh Sayyid Sâbiq berkata dalam kitab Fiqh as-Sunnah (1:383):

“Puasa pada bulan Rajab tidak memiliki keutamaan lebih dari puasa di bulan-bulan yang lainnya, akan tetapi Rajab itu termasuk dari bulan-bulan haram, dan tidak ada riwayat yang sahih satu pun yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Rajab secara khusus, riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada bulan Rajab tidak ada yang layak untuk dijadikan sandaran/landasan”

- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin ditanya tentang hukum berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab, dan melakukan shalat malam di malam tersebut, lalu beliau menjawab:
“Berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab, shalat malam di malam tersebut, serta mengkhususkan bulan Rajab (dari bulan-bulan lainnya) ADALAH PERKARA BID’AH, DAN SETIAP PERBUATAN BID’AH ITU SESAT.”

- Ibnu Subkiy meriwatkan dari Muhammad bin Manshur as-Sam’ani bahwasanya dia berkata:

“Tidak ada dalil sahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Rajab secara khusus, hadis-hadis yang diriwayatkan yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada bulan Rajab semuanya sangat lemah, seorang yang berilmu tidak akan peduli akan hadis-hadis tersebut”

- Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Mushannaf, bahwa Umar berkata: “Makanlah! Sesungguhnya bulan itu (Rajab) adalah bulan yang diagung-agungkan oleh orang jahiliah”


oleh_M. Ridwanullah_

Rabu, 10 April 2013

Ustadz 'Anonim'

Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.

Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.

Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.



TERNYATA,,,

Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian. 

Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun. 
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"

Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?" 
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu. 
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?" 
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.

Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya. 
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.

Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah. 


 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah 
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari

Senin, 01 April 2013

Benci jadi Suka

2 : 261 { عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم }


Membaca dan mengalami memang dua hal yang sangat berbeda. Membacanya boleh jadi sudah berkali-kali, bisa berpengaruh bisa tidak. Tetapi mengalami sendiri memberi rasa yang 'Wah', dalam, dan cess! Kena!
Dalam kebaikan bolehlah prinsip ini dipakai, tapi jangan diterapkan dalam hal-hal yang buruk semisal kecanduan obat-obatan dan hal negatif lainnya. Menganut asas coba-coba agar tau rasanya dan benar-benar jera lalu berharap bisa terlepas dari jeratnya setelah itu dan bertobat. Kalau iya, kalau tidak? Kalau ternyata umur kita tidak sampai di masa bertobat? Buruklah jadinya. 

Kembali ke topik. Ceritanya..
Saya adalah pecandu novel terutama novel berat ber-genre sejarah, petualangan, science fiction, fantasi, yang diksinya sedikit nyastra, dalem, sampai rasanya tenggelam berenang-renang dalam baris kalimat demi kalimat. Membaca dengan telinga yang disumpal headset, ditemani secangkir kopi atau teh, dikesegaran udara pagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih indah dari ini? (kategori jajaran hobi versi saya, jangan dibandingkan dengan cita rasa ketika tilawah atau ibadah lainnya, beda kategori)
Termasuk penulis yang masuk kategori 'favorit' saya dari jajaran penulis indo ada bang 'Tasaro GK' dengan 'galaksi Kinanthi' yang pertama kali kenal langsung bikin jatuh hati ditambah lagi setelah membaca 'Pitaloka', 'Takhta Nirwana', 'Muhammad' dan yang lainnya. 
Adalagi bang Andrea Hirata yang fenomenal dengan 'Laskar Pelangi' yang mendunia dan seri ceritanya yang semuanya teliti, fakta, kocak, dan melayu sangat. 
Dan lain-lain penulis secara umum yang saya suka secara moody. 

Nah, saking sukanya dengan novel, semua jenis terkadang saya tabrak, dari yang temanya 'saya banget' atau 'bukan saya banget'. TAPI, ada satu penulis yang semua orang berkomentar 'bagus', 'bukunya keren', 'bikin terharu', gak pernah menarik minat saya untuk nyentuh, noleh, atau bahkan ingin tahu 'apa sih isinya?'. Saya yakin semua tahu kan dengan karya bang 'Tere Liye'
Faktor ke-tidak sukaan saya waktu itu sebenarnya karena temanya yang sangat sederhana dan saya pikir paling sama saja dengan novel-novel 'sinetron' lain yang hanya bercerita kehidupan sehari-hari yang bisa menghabiskan setengah halaman hanya untuk menggambarkan 'saya sedang duduk dan menikmati pemandangan'. Hal yang sangat berbeda ketika kita membaca novel-novel terjemahan yang rata-rata temponya cepat dan bisa berpindah-pindah dalam satu halaman.
Juga dengan quotes-nya yang terkadang terlalu blak-blakan dan sangat tegas apalagi kalau yang 'pas' banget dengan hal kita saat ini. Hewm, maknyes dah! Lalu??

Dalam hal ini benar adanya 'tak kenal maka tak sayang'. Pun benar juga "jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan atau menyukai sesuatu secara berlebihan'. 
Entah apa awalnya, saya mulai suka membaca postingan-postingan beliau di page, intip-intip bukunya, dan seperti bunglon, hati saya langsung berkata, 'wah ini keren banget!'. 
Kata-katanya memang sederhana, bidikannya memang semua umur dan keluarga sehingga dibuat sesederhana mungkin agar pesannya sampai kepada pembaca. Intinya, ada ciri khas tersendiri dan tulisannya punya orientasi positif yang mengikuti trend apa yang sedang marak dan perlu diluruskan. Sangat terkesan dengan prinsipnya 'tulislah apa yang perlu orang lain baca, bukan apa yang orang lain suka'. Menjadikan menulis sebagai sarana untuk tujuan menasihati dalam kebaikan. Baik, bagus, dan tegas yang mungkin tidak semua orang suka dengan cara ini. Yang pasti, setiap penulis punya ciri khas tersendiri yang membuat tulisannya mengena dan dicintai oleh pembacanya dan membuatnya selalu ditunggu-tunggu.

Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.

Sekilas saja untuk gambaran,,, ini murni pendapat versi saya..
Gaya tulisan kang Tasaro itu meledak-ledak, mungkin dilatar belakangi profesi beliau yang dulunya jurnalis. Dan temanya selalu berbeda. Hari ini menulis tentang sejarah, besok komedi, lalu kisah cinta. Segar dan cerdas. Seperti Salad.
Kalau bang Andrea, kata-kata seperti telah menyatu di lidah, tangan, dan fikirannya. Tanpa banyak polesan menulis seperti memang mengalir di darahnya. Bahasanya unik, khas, dan 'uuuhhh'. Saya sangat suka filosofi kopinya bang Andrea. Kira-kira perlu pengamatan berapa lama coba untuk menyimpulkan seperti itu? Atau pernahkah kita tertarik memperhatikan hal-hal sederhana dikeseharian kita? Cita rasa bang Andrea itu seperti Rendang, legendaris, dalam, dan Indonesia banget. 
Nah, kalau bang Tere? karena saya penggemar baru, dan belum menamatkan satu bukupun karya beliau, buat saya bang Tere seperti obat. Pahit, tapi memang harus diminum. Karena apa yang disampaikan memang apa adanya, blak-blakan, dan 'plash!' 

Hahay, tujuan saya menulis ini bukan ajang promosi penulis, karena tidak ada yang mensponsori tulisan ini tapi titik tekannya pada : Hal apa yang kita tidak sukai bisa jadi suatu saat kita bela mati-matian begitu juga hal yang kita sukai bisa jadi tidak ingin kita lihat lagi setelah itu. Dan tentu saja kaca mata yang kita pakai untuk menilai mana yang baik dan buruk, yang kita suka atau tidak, haruslah kaca mata yang dibuat dari ilmu Al Qur'an dan Hadits. Wallahu a'lam.

,,^_^,, 






Sabtu, 02 Maret 2013

Perumpamaan Shalat

Ini sebenarnya pelajaran Ushul hari ini, tetapi begitu penting sehingga saya tuliskan sebelum terlupa..

Kelas kami sedang membahas tentang rukhshoh (keringanan) dan mengambil shalat sebagai contoh.
Kasusnya pada orang sakit boleh melakukan sholat dengan duduk, berbaring dan tidur.
Lalu tiba2 ustadzah meminjam sapu tangan dari seseorang yang duduk di depan, lalu berkata :

"Ibaratkan sapu tangan ini adalah Islam dan lima tangan saya yang memegang ini adalah 5 rukun islam."

Sambil menggenggam sapu tangan itu kalam dilanjutkan.

" Lihat sapu tangan ini, tergenggam kuat, ibarat muslim. Jika dia tidak berhaji, (melepas jari kelingking) sapu tangan masih tetap tidak jatuh. Jika dia tidak zakat (melepas jari manis) sapu tangan masih tidak jatuh. jika dia tidak puasa pun, lihat,, (melepas jari tengah) masih belum jatuh. Jika dia tidak shalat? (melepas jari telunjuk) seketika lepas sapu tangan, seperti seorang muslim yg tdak shalat, maka apa yg membedakan dia dengan seseorang yg kafir? Sudah lepas keislamannya seperti sapu tangan yg jatuh tadi."

Kami sekelas merenung, terdiam. Merinding.

Perkataan di atas bukan berarti kita boleh mengkafirkan seseorang ketika dia tidak shalat karena kata2 Laa ilaaha illa Allah tetap merupakan timbangan terberat, namun yg dimaksud, secara umum bukankah tidak ada bedanya? Bukankah Islam itu amalan hati dan perbuatan secara bersamaan?
Sebuah hadits berbunyi "Shalat itu membedakan antara yg mukmin dan kafir"
Begitu pentingnya shalat hingga ktika sakit pun shalat tetap harus ditegakkan meskipun hanya dengan kedipan mata. Wallahu a'lam.

Ini benar2 taujih buat kami yg tadi mendengarkan dengan melongo saking seringnya lalai dari hal penting ini.

Rabu, 26 Desember 2012

Sumpah Habibi

,,Sumpahku,,

Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu Pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci
.........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa besar dan suci
Membawa aku PADAMU

Membaca sumpah Habibi, menamatkan buku beliau "Habibi Ainun" yang begitu menggetarkan hati, membuat saya berfikir, inilah hidup yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang mengkritisi, kenapa ibu Ainun sampai akhir hayatnya tidak berhijab dan sebagainya,,
tapi lihat,, amalan beliau melebihi kaum berhijab dengan keikhlasan yang tak dibuat-buat. Amalan tahajud, puasa senin kamis, tilawah minimal satu juz, melafadzkan Al Qur'an pada setiap peristiwa hidupnya baik sulit maupun senang, menjadi istri yg setia dan taat pada suami hingga akhir hayatnya, dan berbakti pada masyarakat luas, hingga bahkan meski beliau sudah meninggal, semua jasanya masih hidup mewakilinya. Lalu, sudahkah kita yang berhijab ini beramal seperti itu? Mampukah kita seperti itu?

Mengapa Pak Habibi memiliki perasaan yang begitu mendalam pada Bu Ainun dan begitu juga sebaliknya?
Jawabannya sangat simpel, karena Bu Ainun menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai istri dan ibu, merelakan karirnya sebagai dokter demi mengurusi rumah dan anak-anak dan mendampingi lelaki hebat dalam setiap detiknya dengan tegar dan tanpa mengeluh. Begitupun Pak Habibi yang bekerja dengan seluruh tubuhnya demi keluarga, menjadi suami dan ayah yang sebisa mungkin memberi kebahagiaan bagi kelarga, memberi manfaat bagi masyarakat, menyumbang hal-hal positif dan inovatif dan berbakti pada tanah air tercinta.

Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup beliau berdua, namun yang paling berkesan buat saya, adalah manusia itu diciptakan untuk sepenuhnya mengabdi kepada Khaliqnya tanpa syarat, dari manapun dia berasal, tanpa perbedaan. Bahwa sebagai manusia sudah selayaknya bersyukur dengan anugerah akal yang diberikan kepada kita dengan belajar sekeras-kerasnya, apapun, dan sampai akhir hayat dan menggunakan ilmu itu untuk memberi manfaat yang seluas-luasnya. Betapa pak Habibi dengan otaknya yang jenius itu, yang tidak butuh waktu lama untuk belajar sesuatu, menghabiskan 21 jam dalam sehari dan hanya tidur 3 jam. Sedang kita?

Dan lagi, ketika waktunya datang, dan kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi partner kita seumur hidup, maka itu bukanlah akhir melainkan awal untuk memulai perjuangan yang lebih berat lagi. Bukan seperti yang ada di televisi, yang menggambarkan romantisme dan lain sebagainya. Itu adalah waktu untuk berjuang ke lompatan yang lebih tinggi, dan itu adalah realita. Maka pastikan kita memilih seseorang yang memiliki daya juang dan bercita-cita tinggi, dengan menjadikan akhlaq dan ilmu sebagai tolak ukur utama.

Dan bahwa, kematian adalah sebuah panggilan pasti dan akhir yang merupakan awal bagi setiap insan yang bernyawa. Kematian adalah kenyataan yang pahit tetapi jujur yang harus dipersiapkan. Semoga kita bisa meneladani kisah beliau berdua dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi tanah air, dari bidang manapun kita berjalan dan berjuang.

Senin, 24 Desember 2012

Imam Nawawi dan Riyadus Shalihin

Kisah ini dilontarkan di akhir-akhir pertemuan maddah adab.
Masih bersama ustadz 'menawan'
Ini harus segera ditulis sebelum lupa, agar dikoreksi, dan jarang yang mengetahui.

Kitab Riyadus Shalihin, karya fenomenal sejak abad ke 6 hijriah karya Imam Nawawi, siapa yang tidak tahu minimal judulnya. Masyhur, penuh ilmu. Apa rahasianya?

Tersebutlah, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi  lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits. Telah khatam menghafal Al Qur'an sebelum mencapai baligh. Zuhud dan dalam ilmunya.
Beliau menyusun kitab Riyadush Shalihin agar orang-orang yang membacanya dapat mengambil manfaat darinya. Rampung sudah penulisan kitab tersebut, siap naik cetak (memang jaman sekarang?)
Bukan dibawa ke penerbit, (jaman itu belum ada saudara!!) beliau membawa kitab berjilid-jilid itu ke tepian sungai.
Tiba disana, dengan hati yang khusyu' beliau berkata :
"Ya Allah, jika aku menyusun kitab ini hanya untuk riya' dan pujian, meskipun itu sedikit, maka tenggelamkanlah kitab ini. Namun, jika aku menyusun kitab ini dengan sebenar-benar ikhlas hanya mengharap ridhoMu, maka selamatkanlah."

Rabb! Bergetar, merinding!
Seperti kita tahu, kitab jaman dahulu kala, ditulis tangan, di atas kertas, dijilid sendiri, lalu tintanya, jika terkena air maka hilanglah sudah semua itu tanpa bekas.
Bayangkan!!! Kerja keras selama berbulan-bulan, riset, siang malam menulis tangan (belum jaman sekertaris, jasa mengetik atau mesin ketik) bisa lenyap hanya dalam sedetik!!
Tapi kehendak Allah, kita harus membaca tulisan beliau . Bak peti bayi Musa, dia mengambang ke tepian dan tetap ada dari zaman ke zaman.
Bagaimana tidak? Ditulis dengan royalti surga yang tak tertandingi. Jika ada anugrah nobel, pulitzer atau apalah, bukankah seharusnya kitab-kitab seperti yang seharusnya masuk nominasi?
Keikhlasan adalah sesuatu yang tak bisa diselami dengan rumus apapun. Wallahu a'lam

Selasa, 31 Mei 2011

Nafas Jakarta


Tahukah Anda nafas Jakarta? Ya, ‘Macet’. Macet adalah nafas, ciri khas dan mantra Jakarta. Bahkan slogannya, ‘kalau gak macet bukan jakarta namanya’. Dibanding semua permasalahan yang lahir di Ibukota, ‘macet’ adalah yang paling populer karena dialami semua lapisan masyarakat. Dari Pejabat sampai rakyat jelata, dari mobil mewah sampai pengayuh sepeda. Kelihatannya memang remeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Waktu produktif terbuang, pemborosan bahan bakar, sampai ancaman kesehatan fisik (polusi) dan pikiran (stress). Dinas Perhubungan mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai 35 triliun rupiah per tahun. Ini sungguh jumlah menakjubkan. Jika masalah ini bisa ditangani, bukankah Indonesia bisa sedikit bernafas dari lilitan hutang? Bukankah kita bisa lebih berhemat dengan sumber daya alam?
Berjalanlah di setiap sudut mana saja di kota Jakarta, hanya satu dari seratus jalur yang tidak dipadati kendaraan. Udara menjadi sangat tidak sehat untuk dikonsumsi. Kendalanya sungguh sangat terasa bagi pemakai jalan. Jangan tanya cara untuk menyiasati, semua pengendara telah melampaui profesor, berkerut kening mencari jalan alternatif paling lengang. Nihil!
Bisa kita tonton barisan mobil setiap harinya menyemut, dan jika kita perhatikan mobil-mobil mewah tersebut berpenumpang paling banyak tiga orang, jarang lebih. Jalan-jalan Jakarta yang sempit tak mampu menampung sekitar 6 juta mobil per harinya. Pendirian flyover juga tidak memberikan kontribusi yang berarti karena setiap jalan baru resmi beroperasi, mobil-mobil sudah lebih dulu bertambah.  Sebagian besar orang yang sudah ‘sadar’ macet berusaha beralih ke transportasi umum. Namun ini tidak menjanjikan ketepatan waktu. Metro mini dan angkot misalnya, tak  bisa menjadi solusi karena jalur perjalanannya padat merayap. Belum lagi sebagian besar ‘ngetem’ dan istirahat di tepi jalan yang sudah sempit dan semakin mempersempit. Lalu hadirlah Busway yang diharap bisa menjadi penyelamat, namun jam kedatangan yang sangat memakan waktu membuat orang-orang yang nyaman bermobil semakin tak mau berkorban untuk beralih dan berpartisipasi untuk ‘mengurangi’ macet. 
Kehidupan ekonomi yang melarat menuntut perjuangan yang lebih gigih dalam mencari sesuap nasi. Maka bisa kita lihat di badan jalan, berjubel pedagang berteriak meminta pertolongan dan belas kasihan. Keadaan yang serba salah. Jika dibiarkan, maka klakson tak akan selesai berbunyi, namun jika ditertibkan, berapa kepala lagi yang akan kelaparan? Penyebabnya karena penertiban itu tidak memberi ganti tempat usaha yang strategis. Belum lagi di pasar-pasar, para pedagang yang menggunakan jalan membiarkan sampah bekas usaha mereka menjadi tumpukan polusi. Berkali lipat kerugiannya.
Lalu kepada siapa kita berlari? Alih-alih mencari siapa yang patut disalahkan, semua rakyat mengawasi gerak-gerik pemerintah sebagai yang dianggap paling bisa memberi solusi. Berbagai cara telah dicoba. Lihatlah para pejabat telah rontok rambutnya mencari solusi keluar dari bahaya macet. Pada 2 September 2010 lalu, di Kantor Wakil Presiden (Wapres) Boediono kemarin, rapat telah merumuskan 17 Langkah Mengatasi Macet. Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimeso, Dirjen Perkeretaapian Tunjung Indriawan, dan Dirjen  Bina Marga Kemen PU Djoko Murjanto, Dirlantas Mabes Polri Brigjen Djoko Susilo, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, serta Direktur PT  Mass Rapid Transit (MRT) Tribudi Rahardjo. Secara garis besar, 17 langkah tersebut sangat efisien, seperti penambahan armada Busway, peremajaan angkot-angkot tua, upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menaikkan harga BBM, dan pengoprasian  Electronic Road Pricing (ERP). Tapi sampai kapan kita harus menunggu perealisasian dari butir-butir langkah itu? Karena setelah hampir setahun berjalan, masih tak terlihat kemacetan mau mengalah.
Untuk keluar dari kondisi yang menyesakkan semua orang dan semua golongan ini, maka kita perlu menggerakkan semua orang yang terkait. Pemerintah, pejabat, pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, pedagang, aparat lalu lintas, pelajar, dan semua orang yang memakai jalan. Hanya dengan satu kata yaitu ‘Sabar’, maka semua masalah akan mudah diselesaikan. Sudah lelah rakyat mendengar janji dan apalagi pemerintah lebih lelah lagi mencari solusi. Maka semua hanya perlu bersabar dan bergerak. Bergerak serentak dan sekarang. Mengapa bersabar? Dan seperti apa sabar yang dimaksud?
·         Pemerintah dan pelayan masyarakat bersabar dalam mengemban tanggung jawab, bersabar ketika melihat uang rakyat yang berlimpah, bersabar menghadapi kritikan demi kritikan, bersabar mengayomi rakyat, karena pada dasarnya para atasan yang duduk di kursi terhormat itu adalah pelayan masyarakat. Jika lapisan pemerintah bisa bersabar dalam hal ini, maka pembangunan jalan, pengadaan transportasi, dan sebagainya akan lancar karena perencanaan dan alokasi dana akan sesuai.
·         Para karyawan dan pekerja pun bisa berpartisipasi dalam gerakan sabar dengan rela untuk menyimpan kendaraannya di garasi rumah. Turut serta membiarkan jalan bernafas dan udara menjadi sedikit lebih segar.
·         Para pedagang yang menjadi pagar jalan sabar mencari tempat lain untuk mencari nafkah karena para pemakai jalan yang tergganggu itu juga sedang dalam perjalanan mencari nafkah. Dengan adanya toleransi, akan tercipta saling menghargai. Rejeki ada dimanapun ada usaha.
·         Kaum pelajar adalah yang paling penting untuk bersabar, karena jika para pemuda Indonesia menguasai teknologi, bukan mustahil kita mampu memproduksi transportasi dengan tangan sendiri tanpa harus bergantung produk luar negri yang tentunya memakan  biaya lebih besar.
Jadi, jika semua berpartisipasi untuk lepas dari belenggu kemacetan, dan bersabar menanggulanginya, dan bergerak sekarang, semua bisa diatasi. Sementara ini, penambahan jalan, jalur KRL, dan Underpass sebaiknya diperhitungkan dulu karena seperti yang bisa kita lihat, pembangunan yang memakan dana triliunan juta itu tidak bisa menjawab apa yang kita butuhkan. Jadi lebih baik memperbaiki apa yang ada sebelum menambah hal baru yang belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada ketegasan dari aparat dan alternatif yang menguntungkan untuk setiap tindakan yang akan dilaksanakan dan juga kerjasama total dari seluruh warga yang ingin terlepas dari jerat kemacetan. Siap berpisah dengan macet sekarang?

Jumat, 31 Desember 2010

ISLAM MENGAJARKAN KEBAIKAN

Engkau tahu bahwa hidupQ sangat sulit. Setiap kali aku melihat orang-orang kaya mengendarai kuda-kuda istimewa, mengenakan pakaian mewah, dan memasuki rumah megah. Aku jadi bertanya untuk apa sebenarnya Tuhan menciptakan aku ini?
Aku tidak bisa menikmati hidup kecuali untuk bekerja kerras dan makan sehari-hari. Aku tidak tahu setelah aku mati akan kemana aku pergi. Sungguh sulit rasanya menjadi orang yang berharga  dan mulia.

Namun kemudian islam datang,,,
dan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada tumpukan emas dan perak kita. Melainkan pada sebanyak apa kebaikan yang kita buat. Islam tidak melarang perdagangan dan orang menjadi kaya. Tetapi islam mengajarkan bahwa nilai persaudaraan, cinta kasih, tolong menolong dan kebersamaan berada jauh di atas nilai setumpuk harta

Dan setelah islam datang,,,
Aku merasa menjadi manusia yang berarti dari sebelumnya. Islam mengenalkan aku kepada siapa sebenarnya pencipta alam yang patut disembah. Bukan berhala-berhala yang tidak bisa apa-apa. Melainkan ALLAH.

Harta Abu Bakar

Awalnya Harta Abu Bakar 50.000 dirham. Digunakan untuk membebaskan budak 400 dirham per orang hingga jumlahnya 2800 dirham. Dan ketika Hijrah ke Madinah tinggal 4000 dirham. Kemungkinan besar untuk menghidupi orang muslim selama 3 tahun ketika di Syi'ib Abu thalib. ABU BAKAR the Best!
Sudahkan kita berlomba untuk shadaqah?