Tampilkan postingan dengan label memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memory. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Dewata Island


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46)
Sekelumit kata dari Kitab Sempurna Tanpa Cela. Sebuah permulaan yang manis yang menjodohkan saya dengan sebuah hobi berjudul jalan-jalan. Sebuah perintah bahwa berjalan itu bukan sekedar melihat, melainkan memahami dan mendengar. Bahwa berjalan dapat membuka pikiran dan menambah wawasan. Bahkan dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa air yang mengalir itu akan selalu jernih, sedang air yang diam itu akan keruh dan rusak. Maka sudah pasti, begitu pula manusia. Bukankah tujuh puluh persen diri kita adalah air?
Dan lagi, kalimat sakti itu kutemukan di dalam lembaran mulia.
“Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Bulatlah sudah tekadku untuk membuat kaki kecil ini menapak seluruh permukaan bumi. Mataku gatal ingin melihat dari dekat rupa-rupa keunikan yang tercipta. Telingaku rindu mendengar nyanyian alam. Aminkan, tolong aminkan.

Sebuah nikmat yang tak bisa didustakan bahwa saya terlahir di tanah surga bagi para pejalan. Alam sejuta pesona yang menyihir mata dengan keelokannya tanpa buatan. Dimana? Indonesia! Ketika kita menyusuri negara lain, satu negara mungkin hanya memiliki  beberapa dialek (bukan bahasa), tarian, beberapa macam makanan, tempat wisata yang mungkin sudah dipoles dan adat masyarakat setempat lalu khatam!
Bandingkan dengan ibu pertiwi ini. Tak kurang tiga belas ribuan pulau berbaris sepanjang katulistiwa. Terkubur di dalamnya sejarah peradaban sejak sebelum masehi bersama kisah raja-rajanya, kekejian penjajahan, euforia kemerdekaan, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tak kurang dari 1.128 suku dari berbagai pulau yang melahirkan kurang lebih 700 bahasa daerah. Belum lagi tari-tarian, lagu-lagu, makanan khas, pakaian, rumah adat, pertunjukan, cerita rakyat, peninggalan sejarah, upacara adat, tumbuhan khas, binatang khas, kerajaan-kerajaan masa lampau dan banyak lagi. Cukupkah sekedar kata ‘wow’ untuk semua ini? Tidak akan! Jika ada seseorang yang mungkin tergila-gila dengan Indonesia yang mana di setiap nadinya tertulis kata Indonesia dan terobsesi membukukan segala hal tentang Indonesia dengan lengkap, terperinci, dan akurat dan parahnya jika dia adalah perfeksionis, saya yakin hasilnya adalah ensiklopedi berat, berjilid-jilid, yang memakan waktu dan membutuhkan riset, dan tentu saja perjalanan ‘real’ ke seluruh nusantara.

Adalah sebuah pertunangan yang cantik ketika hobi berjalan ini tumbuh di pulau kecil yang terselempit, namun elok dan tersohor sejagad. Sejak kecil, kecantikan alamnya telah membuat setiap sel ini ingin selekasnya tumbuh besar agar dapat segera merasakan wangi angin dan indahnya langit. Ingatan ini mungkin telah tua, tetapi kenangannya sangat terasa. Ketika kecil dulu, saya pernah diajak ke sebuah dataran tinggi di Pulau Dewata yang dikenal dengan nama Bedugul. Kami sekeluarga pergi ke tepian danau, yang setelah besar baru saya tahu bahwa namanya adalah Danau Batur.  Danau yang berkabut dan luas. Ditengahnya ada pulau kecil yaitu Pulau Trunyan. Hal yang paling digemari dari tempat ini adalah memancing, dan menyewa kapal ‘boat’ untuk mengitari Pulau tersebut. Konon, masyarakat di pulau tidak pernah menguburkan sanak keluarganya yang telah meninggal. Mereka hanya meletakkan jenazahnya di bawah pohon begitu saja dan hebatnya malah bukan berbau busuk, jenazah tersebut malah mengeluarkan aroma wangi.
Kuliner khas ketika berkunjung ke daerah ini adalah sate kelincinya yang lezat dan buah markisa. Sungguh! Keramahan dan pelayanan dari masyarakat sekitar memberi andil besar yang membuat turis domestik maupun mancanegara begitu tergila-gila dan rela ‘membuang’ uang mereka untuk menikmati. Terlihat rambut-rambut pirang dan kulit-kulit merah ikut berkeliaran di jalanan dan berbelanja aneka panganan dan souvenir. Maka pulau ini di hati saya telah mendapatkan ruangan khusus sebagai tanah kelahiran dan kampung yang menawan.

Nantinya, kemanapun kaki ini melangkah,, tempat ini akan selalu menjadi kampung halaman yg memberi kerinduan...

Minggu, 09 Desember 2012

yg Pergi tak Kembali


Setiap insan pasti merasa
Saat perpisahan terakhir
Dunia yang fana akan ditinggalkan
Hanya amalan yang akan dibawa

Terdengar sayup surah dibaca
Sayunya alunan suara
Cemas di dada lemah tak bermaya
Terbuka hijab di depan mata

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baikkah atau sebaliknya

Amalan dan taqwa jadi bekalan
Sejahtera, bahagia pulang...kesana

Sekujur badan berselimut putih
Rebah bersemadi sendiri
Mengharap kasih anak dan isteri
Apa mungkin pahala dikirim

Terbaring sempit seluas pusara
Soal bicara terus bermula
Sesal dan insaf tak berguna lagi
Hancurlah jasad dimamah bumi

Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi

(Rabbani punya)

tiba2 teringat lagu ini, searching, posting,,
pertama denger lagu ini, merinding,,
banjirnya nasyid sekarang yg mulai gak jelas, (gak smua)
kembali ke tempo doeloe saja,,
'taste'nya cmplong bget,,

apapun masalah, sandungan, gundah, apalagi galau,,
kalah keren klo pembandingnya adalah mati..
tamat sudah riwayat, putus amal (kcuali 3)
ini sudah akhir, bangun! bangun! bangun!