Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

'Kiamat' Kecil

Kita tidak punya kuasa, untuk tahu apa yang akan terjadi esok, satu jam kemudian, atau bahkan sekedar 5 detik ke depan.
Pengetahuan tentang waktu hanya Allah yang tahu.

Mungkin ini kejadian yang sudah sangat akrab di telinga. Biasa saja. Sangat Familiar. Tapi kali ini lebih ini istimewa dan 'kena' banget karena saya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Bukan sekedar menonton dari kotak segi empat.

Jum'at, 26 September 2014
Malam itu tenang, hening, tidak ada perasaan apapun akan terjadi sesatu yang 'so panic'. Manusia-manusia sibuk dengan rencananya, menyusun agenda beberapa jam ke depan. Akan begini, akan begitu, seakan itu akan sangat mungkin terlaksana. Sekitar jam 21.00 WIB, seorang teman yang kebetulan sedang mengerjakan tugas di kos kami mencium bau asap, seperti sesuatu terbakar. Kami yang merupakan penghuni menanggapi santai, karena memang sudah biasa ada yang bakar sampah di jam-jam segitu.
Saya sendiri sedang menyusun rencana, akan mngerjakan tugas tengah malam, dan berencana tidur dulu sejenak.

Hening, sepi. Malam dengan ketenangannya meraja.
Pukul 23.00 kira-kira, ada suara kecil, 'KEBAKARAAANN'... Saya yang waktu itu belum terpejam, setengah tidak percaya. Barangkali isengnya tukang sebelah rumah saja. Kebetulan sebelah rumah kami sedang renovasi rumah dan tukang-tukangya suka nyapa-nyapa tidak penting.
Masih bersantai ria, tiba-tiba teman dari kamar lain berteriak.. "Teman-temann... keluaarrr.. kebakaraannn..!!!"
Saya keluar kamar untuk meyakinkan. Semua sibuk berpakaian rapi, membawa barang berharga yang bisa dijangkau. Saya masih bengong-bengong entah apa yang akan dilakukan. Kaki serasa terpaku di ubin. Dalam benak masih bertanya, "Dimana sih kebakarannya? Kok tidak ada ramai suara warga."
Semua teman-teman sudah keluar, sibuk dengan diri masing-masing.
Tak lama kemudian warga berdatangan, saya sudah panik, karena sudah tinggal sendirian saja di dalam rumah. Menyambar yang terdekat yang bisa dipakai, Mukenah. Menyambar handphone, bergegas keluar.
Ternyata  rumah di samping tetangga saya sudah dikuasai api. Sudah sampai atap, dan hampir mencolek rumah tetangga pas saya. Entah apa penyebabnya, saya bergegas mematikan Meteran Listrik. Waspada jika penyebabnya adalah arus pendek.
Saya lihat teman-teman membawa ransel berisi barang-barang berharga. Hanya saya yang keluar rumah dengan tangan kosong. Akhirnya saya masuk lagi, meraba-raba dalam gelap, menyelamatkan yang bisa diselamatkan.

Di tengah kekacauan itu, semua sibuk dengan diri masing-masing. Di tengah kepanikan itu, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Komentar-komentar yang terlontar spontan, semuanya begitu alami. Menggambarkan karakter pribadi-pribadi malam itu dengan sebenarnya, tanpa polesan.
Tiba-tiba saya terfikir, ini baru kebakaran rumah. Rumah tetangga, bukan rumah sendiri. Sudah begini paniknya. Bagaimana jika kiamat nanti?
Ketika Ibu lupa Anaknya, Anak lupa Ibunya, Suami Istri pun seperti asing, Ayah pun lari menyelamatkan diri sendiri. Tidak ingat apapun kecuali diri sendiri.
Selama ini segenting apapun kejadian yang ada, entah tsunami, gempa bumi, kita masih mendengar kisah, bagaimana ibu berkorban untuk anaknya, dan sebagainya.
Kiranya kondisi macam apa yang bisa membuat pertalian darah menguap seakan tak ada harganya?
Segenting apakah kondisi yang akan menanti?
Langit di gulung, bagaimana bentuknya? Bumi mengeluarkan isinya? Gunung-gunung seperti anai-anai? Kondisi yang 'out of imagination'.

Entah bagaimana kejadian itu seperti sebuah peringatan nyata bagi jiwa-jiwa yang lalai. Seperti gema yang berteriak di dalam hati, 'waktunya sudah semakin dekat'. Ketika dosa-dosa masih mungkin untuk dihapus, sebelum matahari pindah terbit dari barat. Ketika masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, menyiapkan bekal menuju kampung halaman.
Yuk mari,, semakin merapat pada-Nya.
Jika bukan karena rahmat-Nya, karena kasih sayang-Nya..
Kita hanya makhluk-makhluk hampa tanpa cahaya.
Namun Allah beri kita lentera iman yang menerangi jalan menuju kampung akhirat yang kekal.
Maka jangan sia-siakan.  Yuk, bersama, berjamaah menuju kebaikan.

#introspeksi-say'No'toTaubatSambal

Selasa, 22 Oktober 2013

YAKIN!!!

Ada banyak cara Allah memberi tahu, mendidik hamba Nya, menegur,,
Dengan ujian, nikmat, kekayaan, dan segudang yang lain yang pastinya sesuai dengan kepribadian hambaNya..
Dan mungkin karena saya adalah seorang pemimpi kelas akut (kena virus Andrea Hirata). Saya selalu memimpikan sesuatu yang oleh Allah selalu diberi. Ketika saya berdiri di waktu ini, saya baru menyadari, bahwa ini adalah refleksi dari apa yang pernah saya pikirkan dulu.

Sederhana sebenarnya, karena saya besar di lingkungan pesantren, yang kata orang penjara suci dengan tembok putih gagahnya segi empat. Waktu itu selintas saya berfikir, kuliah nanti saya ingin bebas menjelajah banyak tempat. Dan beginilah adanya, saya tersesat di kota hedon paling sibuk dan paling update, tanpa keluarga, dan bisa menjelajah tempat manapun yang saya inginkan. Cukup mengagetkan sebenarnya untuk ukuran ibu saya yang super duper protektif. Tapi begitulah cara Allah membolak - balikkan hati. Memberi bingkisan kecil dari apa yang selalu saya yakini, 'tak ada doa yang tak terjawab.' Dan satu lagi, saya ingin kuliah di tempat dingin (haha,, karena dulu pesantren saya di madura yang panas). Tapi untuk keinginan yang ini sepertinya sedikit melenceng. Jakarta memang tidak dingin, tapi alhamdulilllah selalu ada kipas angin yang menemani 24 jam. Dan menurut pengamatan saya, cuaca dan suhu jakarta membuat kulit semakin cerah, entah ini mungkin butuh riset yang lebih dalam, tapi dari apa yang saya perhatikan tak ada orang jakarta yang wajahnya kusam, kucel. Begitu juga teman - teman kampus, ketika kembali dari kampung. Wajahnya yang kusam di panggang terik pedesaan, kembali cerah dipoles udara jakarta.
Begitu juga ketika saya bertekad sejak dulu bahwa kuliah tidak boleh dengan biaya orang tua. Allah menjawabnya, selalu menjawabnya.

Kebetulan beberapa hari ini saya sedang resah karena satu hal. Sangat 'gak banget' rasanya di usia seperti ini masih bergantung uang jajan dari ortu. Saya meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Rezeki itu sudah diatur, tinggal dijemput dengan sungguh2. Selalu ada jalan, bla bla bla. Segudang kata mutiara sudah saya bebalkan ke dalam pikiran, mensugesti, tapi nihil. Tetap resah.
Untuk ukuran jakarta yang notabene semua harga sudah mencapai planet pluto (sudah bukan selangit lagi) mampukah saya mandiri sepenuhnya secara finansial? Mampu. Bisa. Jawaban retoris. Tapi tetap resah.

Disini intinya, di dalam tidur saya yang dipenuhi kekacauan (kacau karena sedang resah, juga karena tidur diantara benda2 yang berserakan), saya bermimpi sedang ikut acara tantangan semacam Benteng Takeshi yang lucunya pesertanya hanya tiga orang. Lucunya kami bukannya bersaing malah saling membantu. Tak ada penonton, tak ada pembawa acara. Hanya terdampar di dataran aneh yang sepi. Seperti hutan, seperti lembah, seperti dataran terjal. Kami melewati tantangan satu demi satu. Hingga akhirnya sudah tak ada hambatan lagi. Kami melintasi tepian sungai yang tenang, namun ketenangannya menipu. Apa yang kami sangka sudah selesai ternyata baru dimulai. Semakin lama jalan tepian sungai itu semakin miring, menanjak. Sepatu kami bukan sepatu pendaki. Entah kenapa disitu, kami yang awalnya saling mendukung mulai berjalan sendiri-sendiri. Jalanan yang sudah miring positif itu mulai dialiri air yang santai, tapi membuat pijakan semakin licin. Kami tetap berjalan meski tak tahu apa ujungnya. Sampai ketika kami melihat tembok vertikal yang lurus tegak seratus persen dan berair, dan itulah tantangan utamanya. Kami memijak di pijakan pertama dengan ragu namun ternyata tetap berjalan dan tak jatuh. Oke, ini pertanda baik, tapi tembok itu sangat tinggi, mencapai langit dan tak tahu apa kaki ini sanggup mendakinya. Dua teman saya mulai menutup mata, berjalan tanpa melihat ke bawah, tanpa berfikir, hanya berjalan.Saya masih melangkah namun tetap menengok ujung atas. Sampaikah kaki ini ke atas? Ketika sudah setengah perjalanan, terbersit sedikit ragu. dan kaki ini hampir tergelincir. Saya toleh teman sebelah, mereka masih berjalan dengan pasrah, tenang, mantap. Saya berfikir, saya tak mau menjadi satu2nya yang jatuh dalam tantangan ini. Saya tutup mata, pijakan itu erat seketika, saya mulai berjalan dengan menutup mata, pasrah dengan ujung yang tinggi itu entah kapan akan diraih. Saya mulai menikmati ritme itu. Jalan yang tadinya tak terjangkau menjadi begitu jelas. Begitu indah, menapaki setapak demi setapak batu yang dialiri air. Lupa jika itu adalah dinding vertikal tegak. Tiba2saja, tangan ini sudah tak menyentuh tembok, melainkan udara terbuka, saya naik, saya naik!! melewatinya. Kami bertiga berpandangan, tersenyum dan rebah. Rebah karena tak percaya, karena lega, karena sensasi yang 'WOW'. Tanpa sadar kami hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kami berteriak sepuasnya. Kerasss!! Sampai alam mendengarnya. Saya tercekat melihat pemandangan ini. 'AMAZING!' dari ketinggian ini, melihat air yang mengalir, pepohonan yang hijau, langit biru yang memayungi, udara yang begitu segar. Ah, nikmat mana lagi yang ingin kamu dustakan setelah apa yang kamu alami, lihat, dan rasakan??

Mimpi itu terasa begitu singkat, dan ketika terbangun, sensasinya masih terasa, serasa begitu nyata. Tapi ternyata itu bukan dunia nyata yang sesungguhnya, karena ternyata saya terbangun di alam mimpi. Seperti mimpi berlapis. Dan akhirnya ketika bangun di dunia yang sesungguhnya, seperti gadget yang baru di charge. Ada perasaan ringan, ada keyakinan yang baru. Benar2,, Masya Allah!!

Ya Rabb, jangan kau buang aku dari jalanMu, jika Engkau yang mendepakku dari jalan ini, siapa lagi yang akan menyesatkan aku di jalanMu yang indah dan damai??


Senin, 13 Mei 2013

My Trip_hari yang keren_

Malam jum'at yang entah ada apanya, saya terilhami untuk mengunjungi tempat favorit yang sudah lama tak disapa. Kampus Depok yang pernah jadi tempat impian namun tidak kesampaian. Sekalian refresh otak sebelum perang 'besar' yang akan berkecamuk tanggal 22 Mei nanti. Berbekal setumpuk buku, bekal, headset, dan masker. Tas ransel sudah siap untuk pergi. Tiba-tiba,, oh No! tak ada duit seribu pun di dompet. Kalap, rogoh kantong tas sana sini, buka lemari, cari di ujung-ujung kotak, berharap menemukan seribuan atau lima ribuan. Dan memang sudah rejekinya, akhirnya menemukan delapan ribu rupiah dan sekeping lima ratusan. Okeh, cukuplah! Susun strategi gimana dengan uang itu cukup untuk pulang pergi Ps. Minggu-Depok. Dan pilihannya hanya kereta ekonomi harga 1.500. Bismillah!

Hari H. Sabtu 110513.
Sudah siap sejak pagi-pagi sampai orang-orang bengong. Gak biasanya putri kasur ini pagi-pagi sudah rapi. Hahaha.. okeh berangkat!!
Pelajaran pertama : Jika ingin naik kereta ekonomi, cari tau jam keberangkatan.
Saya baru tiga kali naik kereta jenis ini, dan itupun minta ditemani, karena berjubelnya orang yang ingin menikmati fasilitas murah, meriah, dan tanpa macet model ini. Dan tanpa tahu juga bahwa ekonomi ada jamnya, tidak seperti commuter line yang hampir tiap 15 menit sekali ada. ekonomi hanya datang per 2 jam sekali kurang lebih (kalau sabtu ahad). Pas sekali ketika saya beli karcis, kereta baru berangkat. Dan baru datang lagi jam setengah sepuluh. Saya lirik jam, baru 08.20!! Menunggu satu jam??
Tak ada pilihan, naik angkot lain duit tak cukup, ya sudah, apa boleh buat. Menunggu pun tidak ada ruginya. Belajar hal lain dari mengamati sekitar. Tempat yang paling menarik untuk mengamati salah satunya stasiun. Orang dari berbagai jenis, berbagai profesi, berbagai keperluan mondar mandir. Ditemani balaghoh, akhirnya satu jam tak terasa juga. Bahkan bukan satu jam lagi,, satu setengah jam!
Padahal jika ditempuh, perjalanan Ps. Minggu-Depok dengan kereta hanya 15 menit kurang.

Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menginjak tempat ini. Asri, hijau, dan sangat segar. Baru-baru ini saya membiasakan diri dengan masker. Baru terasa dampak polusi Jakarta yang sudah keterlaluan terhadap pernafasan. Rasanya kepala pepat dengan asap kendaraan yang minta ampun.
Jalan-jalan sebentar, mampir sana sini, cari tempat yang nyaman, dan beraksi. Sejak jam sebelas pagi hingga sore menjelang magrib. Jika bukan karena matahari yang akan pamit pulang, rasanya enggan kembali. Karena tugas yang belum selesai, juga karena tempat yang kelewat nyaman. Hanya,,, hari sabtu kampus terasa sangat sepi, dan tidak yakin akan menemukan jalan pulang jika hari gelap karena begitu besarnya universitas ini, dan begitu berkelok. Entah ada di tikungan mana dan distrik mana saya berpijak, yang jelas harus bertemu stasiun semula jika ingin pulang dengan selamat.

Sembari menyusuri jalan pulang, melewati fakultas teknik, arsitektur, budaya, psikologi. Tempat idaman yang tidak kesampaian dan mungkin tak akan kesampaian. Melihat mahasiswa yang lalu lalang dengan seragam laboratorium, layaknya profesor. Entah mengapa mereka begitu keren. Berkumpul membahas masa depan, sibuk dengan setumpuk paper, berpendapat, dan ekspresif.
Terkadang ada pikiran, apakah jika disini tempatku sejak awal, hal-hal baik itu akan datang seperti yang kudapat sekarang? Tak ada jaminan tapi sekali waktu, keinginan itu sangat kuat. Sekedar untuk pembuktian atau entah apa.

Di tengah jalanan yang menggelap, akhirnya ketemu juga dengan arah menuju stasiun. Entah ada apa hujan mengguyur deras dengan tiba-tiba. Terhentilah kaki ini di jembatan 'Texas' ala kampus ini. Di bawanya mengalir semacam sungai lebar. Di kejauhan burung-burung bermain layangan plastik merah lalu melemparnya ke air. Semacam jas hujan burung barangkali.
Pelajaran Kedua : Sembari berteduh, melewati segerombolan anak fotografi, menikmati angin yang bertiup sangat sejuk melewati jembatan, hujan seakan berbisik, "Apa kamu lihat tadi di tempat parkir? Gedung untuk kelas internasional? Keren kan? Apa bedanya mereka dengan yang lain? Karena mereka dibimbing langsung oleh dosen luar negeri. Lalu apa bedanya denganmu? Bukankah semua dosenmu dari luar negeri? Berbicara dengan bahasa Arab? Mengajarimu mencerna ribetnya sastra arab dengan bahasa yang bukan bahasa ibumu sehingga kepalamu pusing dibuatnya. Kurang apalagi?"
Seperti menamparku bisikan itu datang bersama hujan yang menderas. Kutatap tetes air yang berguguran dari tangkainya. Dia mengikuti perintah yang ada tanpa bertanya, kenapa aku harus turun ke bumi sekarang. Berjalan sesuai ketentuan dengan segenap yakin bahwa itulah yang terbaik. Seketika aku tersenyum, memang benar selalu ada pelangi setelah hujan.

Dengan segenap keriangan berlari pulang, menerobos sisa hujan. Tiba di stasiun, merogoh kantong. Ha? Gawat! Uang yang susah payah dikumpulkan, disimpan, enam ribu rupiah hilang. Dan parahnya tak ada selembarpun uang tersisa di tangan. Lalu dengan apa bisa pulang? Bongkar muatan, barangkali terselip di tempat entah dibagian sudut tas yang mana, nihil!! Bagaimana bisa pulang??
Pelajaran Ketiga :  Jangan membawa uang pas! Syukur jika di tempat ramai. Jika di tempat tak ada satupun orang? Lalu akan menyiksa kaki dengan jalan kaki sampai rumah?
Sebenarnya jika berjalan menyusuri rel kereta pasti sampai rumah juga. Sayangnya waktu tidak tepat. Celingak-celinguk sendirian di stasiun, dengan muka tak karuan, akhirnya mendekati seorang bapak yang berdiri bersama anaknya. "Maaf sekali, Pak. Apa ada uang lebih lima ribuan. Uang saya hilang dan tak ada lagi ongkos buat pulang." Dengan segenap muka topeng berkata kepada sang bapak. Untungnya bapak itu tersenyum menyodorkan selembar lima ribuan. "Cukup, Neng? Hati-hati di jalan."
Ya Allah, tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Jalan itu selalu ada. Semoga Allah saja yang membalas kebaikan hati bapak itu. Faktanya, seringkali yang lebih ringan tangan membantu orang lain bukanlah yang kaya raya, melainkan yang senasib dan cenderung pas-pasan juga.

Akhir kata, sampailah sudah di kosan tercinta dengan selamat dan lega. Membuang semua racun yang memepatkan otak, mendapat banyak pelajaran, menyelesaikan tugas. Betapa nikmat yang begitu besar.
Ya Rabb, masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur. 

Jumat, 10 Mei 2013

Sholat Jum'at

Ini kisah benar yang saya alami sendiri. Ketika siang sudah membara, pulang kuliah, lapar pasti tidak tertanggungkan. Celingak-celinguk cari makan siang, akhirnya bertemu deretan gerobak yang parkir di sekitar masjid. Mulut sudah hendak memesan, perut sudah teriak segera, lalu teringat hari ini jum'at. Ingat bahwa tidak boleh berjual beli, akhirnya menunggu. Takbir di masjid sudah dimulai. Sedang abang penjual ini masih sibuk dengan para pembelinya. Ketika dia bertanya apa yang ingin kami beli, kami jawab akan menunggu, silahkan sholat jum'at dulu, karena sudah lewat satu rokaat. Sang abang ini hanya tersenyum sambil merasa tidak enak hati, dan kami duduk. Berharap dia segera berlari ke masjid yang hanya 3 meter kurang barangkali. Imam sudah rukuk di rakaat kedua dan dia masih merapikan uangnya yang berceceran di rombongnya. Ketika akhirnya dia berlari ke masjid, jamaah sudah duduk tahiyat terakhir, hendak salam. Dan tidak sampai 5 menit dia kembali dan tidak jadi sholat jum'at lantaran sudah selesai.

Kami hanya geleng-geleng kepala. Ya Rabb, ini salah kami juga yang tidak menyuruhnya segera berlari dan meninggalkan duit-duit itu. Melihatnya lalai di depan mata tanpa menegurnya. Sungguh betapa berat dosa meninggalkan sholat jum'at bagi laki-laki tanpa alasan syar'i. Sungguh rejeki itu tidak akan lari, hanya untuk sholat yang tidak sampai setengah jam. Semoga kamipun termasuk yang diingatkan ketika lalai.


Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, 
maka Allah akan mengunci mati hatinya.” 

Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15072), Abu Dawud (no. 1052), at-Tirmidzi (no. 500), an-Nasa-i (no. 1369), Ibnu Majah (no. 1125). Dan at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan.”


Rabu, 10 April 2013

Ustadz 'Anonim'

Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.

Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.

Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.



TERNYATA,,,

Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian. 

Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun. 
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"

Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?" 
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu. 
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?" 
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.

Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya. 
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.

Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah. 


 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah 
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari

Rabu, 26 Desember 2012

Dewata Island


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46)
Sekelumit kata dari Kitab Sempurna Tanpa Cela. Sebuah permulaan yang manis yang menjodohkan saya dengan sebuah hobi berjudul jalan-jalan. Sebuah perintah bahwa berjalan itu bukan sekedar melihat, melainkan memahami dan mendengar. Bahwa berjalan dapat membuka pikiran dan menambah wawasan. Bahkan dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa air yang mengalir itu akan selalu jernih, sedang air yang diam itu akan keruh dan rusak. Maka sudah pasti, begitu pula manusia. Bukankah tujuh puluh persen diri kita adalah air?
Dan lagi, kalimat sakti itu kutemukan di dalam lembaran mulia.
“Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Bulatlah sudah tekadku untuk membuat kaki kecil ini menapak seluruh permukaan bumi. Mataku gatal ingin melihat dari dekat rupa-rupa keunikan yang tercipta. Telingaku rindu mendengar nyanyian alam. Aminkan, tolong aminkan.

Sebuah nikmat yang tak bisa didustakan bahwa saya terlahir di tanah surga bagi para pejalan. Alam sejuta pesona yang menyihir mata dengan keelokannya tanpa buatan. Dimana? Indonesia! Ketika kita menyusuri negara lain, satu negara mungkin hanya memiliki  beberapa dialek (bukan bahasa), tarian, beberapa macam makanan, tempat wisata yang mungkin sudah dipoles dan adat masyarakat setempat lalu khatam!
Bandingkan dengan ibu pertiwi ini. Tak kurang tiga belas ribuan pulau berbaris sepanjang katulistiwa. Terkubur di dalamnya sejarah peradaban sejak sebelum masehi bersama kisah raja-rajanya, kekejian penjajahan, euforia kemerdekaan, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tak kurang dari 1.128 suku dari berbagai pulau yang melahirkan kurang lebih 700 bahasa daerah. Belum lagi tari-tarian, lagu-lagu, makanan khas, pakaian, rumah adat, pertunjukan, cerita rakyat, peninggalan sejarah, upacara adat, tumbuhan khas, binatang khas, kerajaan-kerajaan masa lampau dan banyak lagi. Cukupkah sekedar kata ‘wow’ untuk semua ini? Tidak akan! Jika ada seseorang yang mungkin tergila-gila dengan Indonesia yang mana di setiap nadinya tertulis kata Indonesia dan terobsesi membukukan segala hal tentang Indonesia dengan lengkap, terperinci, dan akurat dan parahnya jika dia adalah perfeksionis, saya yakin hasilnya adalah ensiklopedi berat, berjilid-jilid, yang memakan waktu dan membutuhkan riset, dan tentu saja perjalanan ‘real’ ke seluruh nusantara.

Adalah sebuah pertunangan yang cantik ketika hobi berjalan ini tumbuh di pulau kecil yang terselempit, namun elok dan tersohor sejagad. Sejak kecil, kecantikan alamnya telah membuat setiap sel ini ingin selekasnya tumbuh besar agar dapat segera merasakan wangi angin dan indahnya langit. Ingatan ini mungkin telah tua, tetapi kenangannya sangat terasa. Ketika kecil dulu, saya pernah diajak ke sebuah dataran tinggi di Pulau Dewata yang dikenal dengan nama Bedugul. Kami sekeluarga pergi ke tepian danau, yang setelah besar baru saya tahu bahwa namanya adalah Danau Batur.  Danau yang berkabut dan luas. Ditengahnya ada pulau kecil yaitu Pulau Trunyan. Hal yang paling digemari dari tempat ini adalah memancing, dan menyewa kapal ‘boat’ untuk mengitari Pulau tersebut. Konon, masyarakat di pulau tidak pernah menguburkan sanak keluarganya yang telah meninggal. Mereka hanya meletakkan jenazahnya di bawah pohon begitu saja dan hebatnya malah bukan berbau busuk, jenazah tersebut malah mengeluarkan aroma wangi.
Kuliner khas ketika berkunjung ke daerah ini adalah sate kelincinya yang lezat dan buah markisa. Sungguh! Keramahan dan pelayanan dari masyarakat sekitar memberi andil besar yang membuat turis domestik maupun mancanegara begitu tergila-gila dan rela ‘membuang’ uang mereka untuk menikmati. Terlihat rambut-rambut pirang dan kulit-kulit merah ikut berkeliaran di jalanan dan berbelanja aneka panganan dan souvenir. Maka pulau ini di hati saya telah mendapatkan ruangan khusus sebagai tanah kelahiran dan kampung yang menawan.

Nantinya, kemanapun kaki ini melangkah,, tempat ini akan selalu menjadi kampung halaman yg memberi kerinduan...

Rabu, 12 Desember 2012

this night with '57'


bener2 hari ini, terpaksa melewati jalur yg gak pernah sama sekali kulewati sejak dua tahun bercokol d tanah ini, gara2 busway arah dukuh atas gak beroperasi,,
sempet ada rasa gentar, naik angkot? sendirian? semalam ini?? huft,,!
jd inget my mom yg sll berpetuah tiap nelpon 'jgn keluar sendiri, bahaya,,'
penjelajah takut?? ketawa mari ketawa!!
okelah, sll ada dua sisi kan? (alasan orang ngeyel plus bandel, please dn't be angry with me mom)  akhirnya jdi tahu wajah lain ibukota, dgn angkotnya yg 'luarrr biasa',  bhkan smpet djdikan bantal oleh ibu2 yg ngntuk berat, nglewatin cipinang, kebon jeruk, smpe rs. medistra tmpatnya artis2 disuntik,, oh ya ada trans7 jga, coba tdi mampir ya,,he

lucunya pas nyampe mampang yg sll padat merayap, nunggu angkot 75 d pinggir jalan, ada serombongan bapak ibu2 dan anak2 yg juga lg nunggu angkot,
ibu : aduh macet gini, males mau naik angkot, sesak, panas lgi, pasti gak dpet tmpat duduk,,
bapak : yaudah naik taksi saja, bu,,
ibu : ya rugilah naik taksi macet gini, mahal argonya!
(dlm diam aku mikir, trus maunya naik apa bu??)

masih dg nunggu angkot, lewat lagi sekeluarga dg kendaraan mereka, sang bapak menyetir, lalu ibu santai di belakang menggendong bayi, sedang dua anak tertidur pulas di atas kardus2,,
kendaraan roda 4 yg berbahan bakar tenaga manusia,,
tepat di depanku bapak itu berhenti, memungut gelas aqua, lalu mengorek2 tmpat smpah beberapa meter dari tmpatku berdiri,,
sungguh, dunia apa ini??
sedang disampingnya mobil2 macam2 merek mulus mengkilap (bahkan jerawat bisa malu jika berkaca disana) lewat tanpa pernah tahu bhwa gerobak itu adlh kendaraan, toko, sekaligus rumah mreka,

detik itu, saat itu, aku hnya bisa menatap,,(iyakah?)
tapi suatu saat nanti, smg aq bsa berbuat sesuatu, tak hanya jdi penonton,, atau hanya menjdi pemimpi,,

Sabtu, 08 Desember 2012

13 Juni 2010

sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.

setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)

Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.

Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu,  Ar Rahmaan, Ar Rahiim.

Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.

bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?

dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?

ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..




Rabu, 28 November 2012

Anak cewek itu,,,

“Anak cewek itu harus gesit, tangguh, cekatan, rajin dan sifat yg lebih mendasar lainnya. Kalau cuma imut, lucu, menggemaskan, warna-warni, saya rasa boneka barbie juga punya sifat artifisial seperti itu. Jadilah anak cewek yang mandiri, punya cita-cita, dan bisa diandalkan.” 

ini kalimat punya bang tere liye. Dan tiap kali membaca ini, selalu rasanya,, 'sesuatu' gtu..
hanya perlu satu kalimat,, "it must be me" amien

athlub minkum ad du'aa..