Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian.
Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun.
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"
Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?"
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu.
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?"
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.
Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya.
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.
Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar