Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.
Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.
Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.
Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.
Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar