Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Menguji Hafalan Abu Hurairah

Siapa kiranya yang tak mengenal kesohoran Abu Hurairah. Beliau adalah Abdurrahman bin Shakr Ad Dausi yang hatinya terbuka pada Islam di abad 7H.  Tak tanggung-tanggung hadits yang diriwayatkan darinya sekitar 5300 hadits dalam masa keislamannya yang hanya 4 tahun. Singkatnya masa dengan hasil yang luar biasa inilah yang secara akal mustahil bahkan dikalangan para shahabat sendiri.

Maka adalah Marwan bin Hakim salah seorang shahabat tergerak untuk menguji, seperti apa sih kapasitas hafalan seorang Abu Hurairah??
Diundanglah Sang Masterpiece Hadits ini oleh Marwan bin Hakim ke kediamannya untuk membacakan satu hadits setiap harinya. Dan tanpa sepengetahuannya di balik tempatnya membacakan hadits, Marwan memerintahkan kepada sekretarisnya untuk mencatat apa-apa yang diucapkan Abu Hurairah sampai akhirnya tuntas sudah apa yang dimilikinya dari Nabi.
Pada satu hari yang bersejarah, ada meriwayatkan hari itu terhitung satu tahun dari hari pertama Abu Hurairah mulai rutin mendatangi kediaman Marwan bin Hakim.
Diujilah kekuatan hafalan Abu Hurairah yang mana Marwan memintanya menyebutkan semua hadits yang telah dibacakannya dulu dalam satu hari.
Sang Penguji yakni Marwan telah siap dengan sekretarisnya yang menggenggam naskah hadits yang dia tulis dari Abu Hurairah. Sekretarisnya diam di satu tempat tersembunyi untuk mengoreksi dan Abu Hurairah dengan tanpa risau kembali membacakan -kalau boleh dibilang menuangkan isi kepalanya- dengan teratur.
Setelah selesai, Marwan bertanya pendapat sekretarisnya. Sang sekretaris dengan takjub mengatakan bahwa Abu Hurairah mengulangi apa yang telah dikatakannya tanpa melewatkan satu hurufpun!! Bahkan dengan urutan yang sama persis dari hadits yang pertama disebutkan hingga hadits terakhir seakan-akan itu adalah urutan yang beliau hafal dari Nabi. Hafal perkataannya lengkap dengan urutan waktunya.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Dan keberkahan bagi yang mensyukuri nikmatNya dengan mengoptimalkannya.

Minggu, 21 Juli 2013

Ritual 13 Juni -the story of my grandma n grandpa-

Jika ada seribu tetes peluh yang terkucur,,
Itu pasti peluhmu untuk sebelas anakmu,,
Jika ada seribu uban yang bersinar,,
Itu pasti karena khawatir akan masa depan keturunanmu,,
Wajahmu, senyummu, teduhmu,,
Walau berbilang masa telah dan akan terus berlalu,,
Auramu akan tetap lekat seperti adanya dulu,,
Bagiku, kaulah yang terhebat,,

Romantisme masa kini sudah seperti debu. Amat amat sangat mudah didapat, dangkal dan tak berharga. Terucap di lisan namun  hati beku tak bergetar. Pengorbanan pun tak beda pasal. Berbusa-busa berjanji akan berjuang demi bla bla bla, nyatanya kosong belaka. 
Cerita-cerita tentang generasi-generasi lampau membuka mataku esensi dari berbagai rasa itu sendiri. Contoh realnya kakek nenekku yang cintanya masih awet sampai beda dunia. Begitu beragam cara orang mengartikan, menyikapi, memaknai, dan memperlakukan cinta. Kisah ini murni bukan kisah romance, hanya semacam memoar '13 Juni' tentang sosok yang sangat penting buatku,, 
13 Juni 2010 lalu, Kakekku tercinta tutup usia,,

Begitu banyak kisah-kisah beliau yang baru terkuak setelah beliau tiada. Tak ada yang spesial sebenarnya dari kisah hidupnya. Hanya seorang anak yang terbiasa hidup keras sejak muda. Yang hatinya tertempa bagai baja. Seorang yatim yang hanya makan bangku SD atau SMP kala itu aku lupa. Dia terbiasa dan diharuskan bekerja jika ingin makan, yang berarti tidak bekerja berarti tidak makan. Bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Kala siang terik matahari membakar kaki yang tak beralas, melihat anak-anak lalu lalang berseragam dengan sepatu yang nyaman rasanya lebih panas membakar hati dibanding sengat matahari dan beban barang yang dipangkul. Mungkin pola itulah yang membentuk sosok setangguh beliau. Yang tetap kuat dihantam cobaan, tetap tawakkal dan tak putus yakin. Hingga akhirnya mengayomi kakak dan adiknya sampai akhir hayat. 

Mulanya pengantar barang adalah profesi, namun selanjutnya, menjadi hoby yang bagai candu bagi darah muda. Tiap kali ada job mengantar barang ke satu toko istimewa pasti beliau berbaris paling depan, semangat mengantar barang. Bukan karena bayarannya besar, tapi karena pemilik toko mempunyai seorang anak gadis yang ternyata separuh jiwanya. Beliau mengajarinya cahaya, membawa gadis itu lari dari kegelapan keyakinannya yang lampau hingga kini rela memeluk Islam. Membuatnya merindu hingga ke sum-sum tulang bahkan selepas tiga tahun ditinggal pergi. 

Mungkin kisah ini hanya terjadi pada pasangan-pasangan jaman dulu, bahwa istri harus duduk di depan suaminya ketika makan, menyiapkan dari nasi sampai air putih rapi di depan jarinya. Duduk sampai tetes terakhir dari gelasnya habis. Sungguh aku belum mendapati cerita macam ini sekarang. 
Ironisnya itu membuat nenekku tak bisa pergi kemanapun lebih dari jam makan. Pernah sekali waktu meminta izin tiga hari ke Jakarta yang hanya dijawab dengan bungkam. Hingga hari H akan berangkat, hanya meng'iya'kan dalam diam dan hanya diizinkan dua hari. Ketika baru tiba di Jakarta, telepon sudah berdering, "Kapan pulang? Tak bisa makan!" Tak ada ucap kangen atau sederet rayu, tapi itulah 'sesuatu' yang seakan bermakna "aku tak bisa tanpamu walau hanya sehari". 
Sampai akhirnya esok hari disusul ke Jakarta dan dijemput pulang. 

Itu hanya sedikit kisah uniknya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana rasa digendong dan dipangku olehnya, cara khasnya memukul kepalaku karena gemas, posisi duduknya setiap sore, caranya dia memanggil. 
Tahun ini, dia datang lagi di mimpiku, ketika aku sedang berlari di jalan yang begitu panjang. Dari jauh cahaya baju putihnya tampak, dan dia tersenyum sumringah. Dia melewatiku menyalamiku lalu pergi, hilang. 
Sungguh tanpanya, aku seperti boneka kayu yang tak tahu arah menganut apa saja yang diperintahkan. 
Sekarang dan sampai akhir, wejangan-wejangannya selalu terngiang-ngiang. 

210713.04.07,ram_yog_aury

Jumat, 10 Mei 2013

Sholat Jum'at

Ini kisah benar yang saya alami sendiri. Ketika siang sudah membara, pulang kuliah, lapar pasti tidak tertanggungkan. Celingak-celinguk cari makan siang, akhirnya bertemu deretan gerobak yang parkir di sekitar masjid. Mulut sudah hendak memesan, perut sudah teriak segera, lalu teringat hari ini jum'at. Ingat bahwa tidak boleh berjual beli, akhirnya menunggu. Takbir di masjid sudah dimulai. Sedang abang penjual ini masih sibuk dengan para pembelinya. Ketika dia bertanya apa yang ingin kami beli, kami jawab akan menunggu, silahkan sholat jum'at dulu, karena sudah lewat satu rokaat. Sang abang ini hanya tersenyum sambil merasa tidak enak hati, dan kami duduk. Berharap dia segera berlari ke masjid yang hanya 3 meter kurang barangkali. Imam sudah rukuk di rakaat kedua dan dia masih merapikan uangnya yang berceceran di rombongnya. Ketika akhirnya dia berlari ke masjid, jamaah sudah duduk tahiyat terakhir, hendak salam. Dan tidak sampai 5 menit dia kembali dan tidak jadi sholat jum'at lantaran sudah selesai.

Kami hanya geleng-geleng kepala. Ya Rabb, ini salah kami juga yang tidak menyuruhnya segera berlari dan meninggalkan duit-duit itu. Melihatnya lalai di depan mata tanpa menegurnya. Sungguh betapa berat dosa meninggalkan sholat jum'at bagi laki-laki tanpa alasan syar'i. Sungguh rejeki itu tidak akan lari, hanya untuk sholat yang tidak sampai setengah jam. Semoga kamipun termasuk yang diingatkan ketika lalai.


Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, 
maka Allah akan mengunci mati hatinya.” 

Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15072), Abu Dawud (no. 1052), at-Tirmidzi (no. 500), an-Nasa-i (no. 1369), Ibnu Majah (no. 1125). Dan at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan.”


Rabu, 10 April 2013

Ustadz 'Anonim'

Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.

Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.

Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.



TERNYATA,,,

Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian. 

Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun. 
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"

Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?" 
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu. 
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?" 
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.

Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya. 
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.

Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah. 


 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah 
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari

Sabtu, 08 Desember 2012

13 Juni 2010

sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.

setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)

Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.

Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu,  Ar Rahmaan, Ar Rahiim.

Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.

bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?

dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?

ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..




Selasa, 31 Mei 2011

Nafas Jakarta


Tahukah Anda nafas Jakarta? Ya, ‘Macet’. Macet adalah nafas, ciri khas dan mantra Jakarta. Bahkan slogannya, ‘kalau gak macet bukan jakarta namanya’. Dibanding semua permasalahan yang lahir di Ibukota, ‘macet’ adalah yang paling populer karena dialami semua lapisan masyarakat. Dari Pejabat sampai rakyat jelata, dari mobil mewah sampai pengayuh sepeda. Kelihatannya memang remeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Waktu produktif terbuang, pemborosan bahan bakar, sampai ancaman kesehatan fisik (polusi) dan pikiran (stress). Dinas Perhubungan mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai 35 triliun rupiah per tahun. Ini sungguh jumlah menakjubkan. Jika masalah ini bisa ditangani, bukankah Indonesia bisa sedikit bernafas dari lilitan hutang? Bukankah kita bisa lebih berhemat dengan sumber daya alam?
Berjalanlah di setiap sudut mana saja di kota Jakarta, hanya satu dari seratus jalur yang tidak dipadati kendaraan. Udara menjadi sangat tidak sehat untuk dikonsumsi. Kendalanya sungguh sangat terasa bagi pemakai jalan. Jangan tanya cara untuk menyiasati, semua pengendara telah melampaui profesor, berkerut kening mencari jalan alternatif paling lengang. Nihil!
Bisa kita tonton barisan mobil setiap harinya menyemut, dan jika kita perhatikan mobil-mobil mewah tersebut berpenumpang paling banyak tiga orang, jarang lebih. Jalan-jalan Jakarta yang sempit tak mampu menampung sekitar 6 juta mobil per harinya. Pendirian flyover juga tidak memberikan kontribusi yang berarti karena setiap jalan baru resmi beroperasi, mobil-mobil sudah lebih dulu bertambah.  Sebagian besar orang yang sudah ‘sadar’ macet berusaha beralih ke transportasi umum. Namun ini tidak menjanjikan ketepatan waktu. Metro mini dan angkot misalnya, tak  bisa menjadi solusi karena jalur perjalanannya padat merayap. Belum lagi sebagian besar ‘ngetem’ dan istirahat di tepi jalan yang sudah sempit dan semakin mempersempit. Lalu hadirlah Busway yang diharap bisa menjadi penyelamat, namun jam kedatangan yang sangat memakan waktu membuat orang-orang yang nyaman bermobil semakin tak mau berkorban untuk beralih dan berpartisipasi untuk ‘mengurangi’ macet. 
Kehidupan ekonomi yang melarat menuntut perjuangan yang lebih gigih dalam mencari sesuap nasi. Maka bisa kita lihat di badan jalan, berjubel pedagang berteriak meminta pertolongan dan belas kasihan. Keadaan yang serba salah. Jika dibiarkan, maka klakson tak akan selesai berbunyi, namun jika ditertibkan, berapa kepala lagi yang akan kelaparan? Penyebabnya karena penertiban itu tidak memberi ganti tempat usaha yang strategis. Belum lagi di pasar-pasar, para pedagang yang menggunakan jalan membiarkan sampah bekas usaha mereka menjadi tumpukan polusi. Berkali lipat kerugiannya.
Lalu kepada siapa kita berlari? Alih-alih mencari siapa yang patut disalahkan, semua rakyat mengawasi gerak-gerik pemerintah sebagai yang dianggap paling bisa memberi solusi. Berbagai cara telah dicoba. Lihatlah para pejabat telah rontok rambutnya mencari solusi keluar dari bahaya macet. Pada 2 September 2010 lalu, di Kantor Wakil Presiden (Wapres) Boediono kemarin, rapat telah merumuskan 17 Langkah Mengatasi Macet. Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimeso, Dirjen Perkeretaapian Tunjung Indriawan, dan Dirjen  Bina Marga Kemen PU Djoko Murjanto, Dirlantas Mabes Polri Brigjen Djoko Susilo, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, serta Direktur PT  Mass Rapid Transit (MRT) Tribudi Rahardjo. Secara garis besar, 17 langkah tersebut sangat efisien, seperti penambahan armada Busway, peremajaan angkot-angkot tua, upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menaikkan harga BBM, dan pengoprasian  Electronic Road Pricing (ERP). Tapi sampai kapan kita harus menunggu perealisasian dari butir-butir langkah itu? Karena setelah hampir setahun berjalan, masih tak terlihat kemacetan mau mengalah.
Untuk keluar dari kondisi yang menyesakkan semua orang dan semua golongan ini, maka kita perlu menggerakkan semua orang yang terkait. Pemerintah, pejabat, pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, pedagang, aparat lalu lintas, pelajar, dan semua orang yang memakai jalan. Hanya dengan satu kata yaitu ‘Sabar’, maka semua masalah akan mudah diselesaikan. Sudah lelah rakyat mendengar janji dan apalagi pemerintah lebih lelah lagi mencari solusi. Maka semua hanya perlu bersabar dan bergerak. Bergerak serentak dan sekarang. Mengapa bersabar? Dan seperti apa sabar yang dimaksud?
·         Pemerintah dan pelayan masyarakat bersabar dalam mengemban tanggung jawab, bersabar ketika melihat uang rakyat yang berlimpah, bersabar menghadapi kritikan demi kritikan, bersabar mengayomi rakyat, karena pada dasarnya para atasan yang duduk di kursi terhormat itu adalah pelayan masyarakat. Jika lapisan pemerintah bisa bersabar dalam hal ini, maka pembangunan jalan, pengadaan transportasi, dan sebagainya akan lancar karena perencanaan dan alokasi dana akan sesuai.
·         Para karyawan dan pekerja pun bisa berpartisipasi dalam gerakan sabar dengan rela untuk menyimpan kendaraannya di garasi rumah. Turut serta membiarkan jalan bernafas dan udara menjadi sedikit lebih segar.
·         Para pedagang yang menjadi pagar jalan sabar mencari tempat lain untuk mencari nafkah karena para pemakai jalan yang tergganggu itu juga sedang dalam perjalanan mencari nafkah. Dengan adanya toleransi, akan tercipta saling menghargai. Rejeki ada dimanapun ada usaha.
·         Kaum pelajar adalah yang paling penting untuk bersabar, karena jika para pemuda Indonesia menguasai teknologi, bukan mustahil kita mampu memproduksi transportasi dengan tangan sendiri tanpa harus bergantung produk luar negri yang tentunya memakan  biaya lebih besar.
Jadi, jika semua berpartisipasi untuk lepas dari belenggu kemacetan, dan bersabar menanggulanginya, dan bergerak sekarang, semua bisa diatasi. Sementara ini, penambahan jalan, jalur KRL, dan Underpass sebaiknya diperhitungkan dulu karena seperti yang bisa kita lihat, pembangunan yang memakan dana triliunan juta itu tidak bisa menjawab apa yang kita butuhkan. Jadi lebih baik memperbaiki apa yang ada sebelum menambah hal baru yang belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada ketegasan dari aparat dan alternatif yang menguntungkan untuk setiap tindakan yang akan dilaksanakan dan juga kerjasama total dari seluruh warga yang ingin terlepas dari jerat kemacetan. Siap berpisah dengan macet sekarang?

Rabu, 20 April 2011

jam 14.43

sebuah kata  yang telah tua
q temukan lagi d dasar
antara mimpi buruk dan duka
ah,,,, aku sedang benar benar merasakan sakit yang amat sangat
kau memergikan dirimu
aq memalukan diriku