Ini postingan kang Tasaro tentang pertemuannya dengan penulis 'Laskar Pelangi' bang Andrea Hirata :
Bahwa setiap orang punya titik rentan. Baik dalam berbicara, mengungkapkan siapa dirinya, membahasakan tubuhnya, dan lain-lain, siapakah yang tidak? Tapi saya ingin bercerita bagaimana tiga hari itu mengubah, menambah, dan menyalakan sesuatu dalam diri saya.
Saya ke Singapura sebenarnya hanya karena diajak oleh Chief Editor Bentang Pustaka, Mas Imam Risdiyanto. Mungkin dia sebal karena Muhammad 3: Sang Pewaris Hujan belum juga bisa kita luncurkan. hehehe...jadi saya diajak menengok Singapore's Writer Festival yang di acara ini, Bang Andrea Hirata menjadi pembicara.
Lalu berangkatlan kami. Cerita perjalanannya menjadi hal lain yang banyak memberi inspirasi. Tapi, agar kisah kita fokus, saya gerakkan alurnya langsung ke malam Singapore's Writer Festival di Art House yang prestisius itu.
Tiketnya 25 Dollar, Sodara-Sodara...itu sekitar 200 ribu kuranglah. Sampai di sini juga saya sudah mak "DEG". Itu bule-bule, muka india, melayu, sampai Tionghoa, antre masuk ruangan bertarif lumayan, untuk mendengarkan seorang Indonesia bercerita tentang kampung halamannya.
Maka masuklah kami. Film Laskar Pelangi diputar lagi. Dulu sewaktu menonton saya merasa terharu, tapi kemarin, di Art House Singapore itu, saya benar-benar menahan tangis habis-habisan. Mungkin bukan karena filmnya semata, tapi oleh karena apresiasi penonton yang tertawa. menangis, sesuai adegan yang tertayang. Sobat, itu perasaan yang sangat dalam. Ini bukan lagi Andrea Hirata, Mira Lesmana, atau Riri Riza...ini INDONESIA.
Ketika film selesai ditayang dan tepuk tangan memenuhi ruangan, Bang Andrea muncul di pintu. Saya tidak menyapa buru-buru. Karena saya punya sedikit kenangan asam dengan dia...hahahahah.... Rumus saya, mendekat kalau memang beliau ingin saya mendekat. Tak lah untuk sok dekat-dekat. Lalu diskusi dimulai. Pertanyaan tak habis-habis. Moderator yang ber Singapura English tak harus bekerja keras. Pertanyaan sambung menyambung.
Sampai kemudian, sebuah pertanyaan seorang Bule soal pengaruh Laskar Pelangi terhadap sastra Indonesia dijawab oleh Bang Andrea dengan jawaban yang bagi saya cukup mengejutkan. Dia tidak sibuk dengan bukunya sendiri. Dia, secara implisit dan eksplisit secara berurutan, menyatakan Laskar Pelangi hanya satu di antara karya hebat anak-anak negeri. Lalu dia menyebut sederet penulis Indonesia yang dia banggakan. Sekali lagi ini bukan lagi tentang nama-nama...ini tentang INDONESIA.
Usai acara itu, agak larut, saya berpikir, kami segera kembali ke hotel. Lalu dua hari sisanya akan kami isi dengan bernorak-norak keliling Singapura. Foto2 di sana-sini. Mencicipi MRT yang didambakan Jakarta. Ke Universal Studio dan mejeng di patung Singa berlatar belakang Marina Bay. Tapi tidak....
Bang Andrea dan manajernya yang juga seniman bersuara "astaga": Meda mengajak kami ngopi di Esplanade, gedung beratap "durian" yang megah dan prestisius sebagai hadiah SIngapura terhadap seni itu.
Lalu peribcangan itu dimulai. Meski saya tidak terlau mengikuti keguncanagan sastra belakangan ini terkait statment Andrea di media massa, saya tahu sedikit. Kesepakatannya kemudian adalah: penulis teruslah berkarya, biarlah kemudian karya itu menjadi milik publik dan diapresiasi sebagaimaa mestinya. Sekeras apa pun, kritik selalu membawa manfaat. Saya setuju, karena saya sangat berpengalaman tentang itu. De Javu dengan novel Muhammad yang pernah membanting saya benar-benar....dan semua kembali ke relnya ketika saya memilih diam.
Hal yang lebih menarik malam itu adalah energi Bang Andrea ini....energi yang tersalurkan. Sesuatu yang kemudian mengubah pandangan saya tentanG Agnez Monica (HAAA???)
Bahwa, sudah waktunya, para pegiat seni Indonesia memunculkan diri ke dunia. Ketika publik dunia sudah terang-terangan menghargai karya kita, mengapa kita harus malu-malu?
Andrea mengatakan itu sembari memperlihatkan terjemahan terbaru Laskar Pelango oleh Random House....penerbit Asutralian yang ASTAGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA itu.
Itu bisa jadi sebuah adegan pamer kedigdayaan jika saya berpikir negatif. Tapi, hal yang menggejolak di dada saya sama dengan apa yang ke luar dari lisan Bang Andrea,"Saya kangen ada penulis Indonesia lain yang menempuh jalur ini, Tasaro."
Ketika kami berbincang di tempat yang menawan itu, di seberang Sungai Singapore yang membentangkan pusat kota Singapore dengan keindahannya, buku Laskar Pelangi telah resmi terbit dengan 78 bahasa, 78 negara. Lalu apa yang membuat kita tidak berkata "Luar biasa!" ?
Ini bukan lagi tentang Andrea...sebab, buku itu berbicara tentang Indonesia. Hari ini, Andrea sedang membincangkan "INDONESIA" di Australia. Dilanjut Jerman, Bulgaria, Portugal, dan beberapa negara lain yang saya bahkan tak menghafalnya....
Bagi saya, ini sudah bukan lagi perihal Andrea...ini tentang negeri yang lebih sering kita caci sendiri. Lalu, sebuah buku berjudul Laskar Pelangi mengambil "TOA" dan berteriak ke negeri-negeri yang jauh bahwa ada keindahan di tanah kita. Ada semengat, ada Bu Muslimah, ada mimpi....ada Laskar Pelangi.
Keesokan harinya, kami lagi-lagi janjian di Esplanade. Bang Andrea diwawancara media lokal. Sesuatu yang lagi-lagi membuat saya berdegup jantung. Indonesia menemukan pengeras suaranya. Kami berjalan-jalan ke banyak tempat hari itu. Pergi ke perpustakan Esplanade. Di situs saya cukup syok karena buku-buku saya ada di deretan rak-raknya. Lalu ke Kampung Arab dan shalat di Masjid Sultan. Makan masakan minang dan minum kepala muda, ketika segerombolan orang lokal, para pelancong dari Indonesia, sampai warga permanent resident yang berhenti sejenak dan meminta foto bersama dengan Andrea.
Saya sukarela menjadi juru foto dadakan. Bagi saya...ini bukan sekadar Andrea....ini...INDONESIA.
Hari terakhir, hari ketiga adalah puncak kebanggaan saya. Bang Andrea menyertakan saya ke rombongan yang diundang sokolah putri Cedar, salah satu sekolah SMP terbaik se Singapura. Kami mengisi sesi pelatihan menulis di sana. Saya dan Mas Imam dipaksa maju dan berbincara. Dasar banci panggung...hahaha...saya memang suka mengajar. Jadilah asyik sesi itu. Inggris pas-pasan, Melayu ipin-upin, dan Indonesia kami pakai untuk menyampaikan apa yang saya sampaikan juga di kelas malam minggu kita.
Hasilnya.....murid2 cerdas itu sangat gembira...guru-guru mereka pun bersuka cita...Dan...apalah lagi yang kita sampaikan jika bukan tentang Indonesia?
Terlalu singkat cerita ini, tapi saya ingin berbagi optimisme kepada Kawans semua, Indonesia adalah sebuah permata. Lalu, dunia yang semakin mengglobal ini adalah panggung besar yang menunggu karya-karya kita....siapa tahu kita memulainya dari kelas maya ini...dari kesungguhan dan niat baik kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar