Tampilkan postingan dengan label dialog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dialog. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 April 2014

Realisasi Yakin

Sepertinya sudah lama sekali tidak ngopi disini. Entah bumi yang berputar terlalu cepat atau memang hari semakin pendek, atau jadwal saya yang sekarang makin padat. (halah gaya!)
Yang pasti ngerumpi bagi perempuan adalah kewajiban yang tidak mengenal usia. Tinggal ditilik sekarang ngerumpinya soal apa. Ngerumpi harga sayuran yang makin melangit, model baju terbaru, arisan, jadwal pengajian, bahkan  ngobrolin berita tivi yang makin hari makin gak jelas.  Atau mulai pindah ke topik-topik yang sedikit agak berat. (biar ibu-ibu tetap gak bolek ketinggalan jaman ya!)
FYI_saya belum ibu-ibu dan udah kegandrungan ngerumpi :)

Beberapa waktu lalu saya pernah cerita tentang 'visi' aneh ketika mendaki dataran lurus licin yang mustahil dijangkau. (bisa di cek tulisan sebelumnya yang berjudul 'yakin')
Boleh dibilang saya merasakan 'sense' dari mimpi itu akhir-akhir ini. Ketika saya mengenal jurusan yang saya anut ini, saya merasa mustahil untuk ukuran dan standar diri yang ugal-ugalan menyelami mata kuliah maha berat yang rasanya kalau saya pikul langsung kena encok stadium akut dalam beberapa detik.
Saya mulai meraung-raung di depan diktat-diktat kuliah yang saking tebalnya bisa buat nimpuk maling. Belajar segan, tidur tak tenang, perut mual-mual dan gejala kronis lain yang turut mengekor.

Ketika saya duduk di sudut kelas (tempat favorit saya) melihat semua orang mengangguk-angguk tersenyum penuh cinta membuat saya bertanya-tanya, kenapa baris-baris kata ini begitu mudahnya masuk ke kepala mereka??? Sementara kepala saya melihat itu seperti virus yang ketika belum masuk saja sudah dikarantina duluan dan siap-siap untuk di buang.
Jelas saja saya nyasar di kuliah syariah yang semua dosennya ngoceh bahasa Arab sedangkan bahasa Arab saya amat sangat payah sampai tahap mengerikan. Bagaimana tidak stress??

Entah salah makan apa, berjalannya waktu tampaknya memberi perubahan. Atau benar kata pepatah cinta itu ada karena terbiasa. Diktat penimpuk maling itu sepertinya bertransformasi menjadi kepingan mozaik yang ketika kita menemukan satu kepingan, kita semakin penasaran untuk segera menemukan kepingan agar teka-tekinya segera terungkap. Seperti habis memakan makanan asin, saya ketagihan meminumnya, dan tidak merasa puas.
Awalnya belajar terasa mustahil, namun ketika saya mengabaikan hal-hal tidak penting seperti kecemasan akan ujian, tugas, dan semuanya, saya justru menikmati itu.
Ujian tetap menjadi fase yang paling serius dalam hari-hari saya tapi tidak membuat saya pusing apa hasilnya. Biarlah ujian hanya sistem seperti umumnya sistem pendidikan yang mewajibkan muridnya lulus mata pelajaran sesuai nilai standar yang ditentukan. Buat saya yang penting proses belajarnya, toh ujian tidak menentukan kesuksesan hidup seseorang. Kalau perlu saya pingin membuat sekolah yang tidak perlu ada ujiannya, tapi murid diajari bagaimana mencintai ilmu. Bukankah cinta itu punya kekuatan yang mampu membuat air laut terasa seperti es teh??

Dan saya merasakan perasaan itu. Mendaki kemustahilan dengan mata tertutup dan menikmati ritmenya. Peduli apa dengan apa yang menunggu di depan sana, saya percaya usaha yang baik akan menghasilkan hal-hal yang baik. Kalaupun  nantinya ada kegagalan, itu semua proses pembelajaran. Karena kematangan sikap dan sifat tidak bisa didapatkan di bangku sekolah, melainkan dari kerasnya alam. Tidak bisa secara instan, diseduh, lalu selesai siap dinikmati. Butuh puluhan tahun untuk menjadi bijak dalam bersikap, berfikir, dan bertutur.

Dan yang paling menyenangkan, saya menemukan cahaya warna-warni disekitar saya yang membuat hidup terasa begitu ringan. Membuat kebaikan terasa mungkin. Mungkin saya hanya bulan bagi matahari yang hanya memantulkan cahaya, tidak bercahaya dari asalnya. Namun apapun itu, semuanya tetap indah. Kami bersama-sama menuju lebih baik. Bukankah ketika ingin lebih baik kita butuh lingkungan dan teman-teman yang baik?
Saya menikmati setiap detik, semuanya.
Saya pikir ini bisa diterapkan untuk teman-teman, bebaskan semua beban, lepaskan, apapun yang ada di depan mata nikmati, hadapi. Jika tidak sekarang, suatu saat pasti ada hikmahnya.

Alhamdulillah 'ala kulli haal

Jadi ibu-ibu, siap untuk meng-Upgrade tema ngerumpi kita?






Islam Agama yang Sempurna

Tidak ada dan tidak pernah ada syariat, hukum, undang-undang atau apapun yang lebih sempurna, tegas sekaligus lunak, dan sesuai dengan semua zaman, tempat, dan waktu, selain Syariat Islam.
Dari hal-hal yg menyangkut ibadah, cara bersosialisasi, norma dan sopan santun, peran wanita dan laki-laki, adab sehari-hari, bahkan hingga yang kecil-kecil dan remeh-remeh, semua ada.
Bahkan soal travelling yang termasuk dalam kategori refreshing juga disebutkan.

Islam juga tidak pernah menggambarkan muslim sebagai seorang hamba yang hanya beribadah saja sehari semalam dan mengacuhkan sekitar, melainkan muslim hendaknya membawa kebaikan bagi dirinya dan sekitarnya. Beribadah sebagai tujuan utama penciptaan memang kedudukannya tak tergantikan, tapi ada dampak dari keshalihan diri yang tak bisa dipungkiri yakni pribadinya memberi manfaat yang luas.
Pun Islam bukan agama ritual yang hanya menuntut ketaatan mutlak. Bisa kita lihat banyaknya ayat yang mengajak kita berfikir tentang kesempurnaan dan keharmonisan alam raya yang diciptakan oleh yang Maha Sempurna. Fakta-fakta ilmiah dalam al Quran yang tak terbantahkan, seperti petunjuk penggunaan pemakaian dari pencipta barang bagi konsumennya.

Maka nikmat mana lagi yang mau dipungkiri? Nikmat Islam ini begitu indah. Membuat hidup kita terang dan terarah, sehingga kita tidak meraba-raba dalam kegelapan, 'Hidup seperti apa ini? Untuk apa? Harus bagaimana? Apa akhirnya?'
Alhamdulillah 'ala ni'mal iman wal islam.

Senin, 13 Mei 2013

My Trip_hari yang keren_

Malam jum'at yang entah ada apanya, saya terilhami untuk mengunjungi tempat favorit yang sudah lama tak disapa. Kampus Depok yang pernah jadi tempat impian namun tidak kesampaian. Sekalian refresh otak sebelum perang 'besar' yang akan berkecamuk tanggal 22 Mei nanti. Berbekal setumpuk buku, bekal, headset, dan masker. Tas ransel sudah siap untuk pergi. Tiba-tiba,, oh No! tak ada duit seribu pun di dompet. Kalap, rogoh kantong tas sana sini, buka lemari, cari di ujung-ujung kotak, berharap menemukan seribuan atau lima ribuan. Dan memang sudah rejekinya, akhirnya menemukan delapan ribu rupiah dan sekeping lima ratusan. Okeh, cukuplah! Susun strategi gimana dengan uang itu cukup untuk pulang pergi Ps. Minggu-Depok. Dan pilihannya hanya kereta ekonomi harga 1.500. Bismillah!

Hari H. Sabtu 110513.
Sudah siap sejak pagi-pagi sampai orang-orang bengong. Gak biasanya putri kasur ini pagi-pagi sudah rapi. Hahaha.. okeh berangkat!!
Pelajaran pertama : Jika ingin naik kereta ekonomi, cari tau jam keberangkatan.
Saya baru tiga kali naik kereta jenis ini, dan itupun minta ditemani, karena berjubelnya orang yang ingin menikmati fasilitas murah, meriah, dan tanpa macet model ini. Dan tanpa tahu juga bahwa ekonomi ada jamnya, tidak seperti commuter line yang hampir tiap 15 menit sekali ada. ekonomi hanya datang per 2 jam sekali kurang lebih (kalau sabtu ahad). Pas sekali ketika saya beli karcis, kereta baru berangkat. Dan baru datang lagi jam setengah sepuluh. Saya lirik jam, baru 08.20!! Menunggu satu jam??
Tak ada pilihan, naik angkot lain duit tak cukup, ya sudah, apa boleh buat. Menunggu pun tidak ada ruginya. Belajar hal lain dari mengamati sekitar. Tempat yang paling menarik untuk mengamati salah satunya stasiun. Orang dari berbagai jenis, berbagai profesi, berbagai keperluan mondar mandir. Ditemani balaghoh, akhirnya satu jam tak terasa juga. Bahkan bukan satu jam lagi,, satu setengah jam!
Padahal jika ditempuh, perjalanan Ps. Minggu-Depok dengan kereta hanya 15 menit kurang.

Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menginjak tempat ini. Asri, hijau, dan sangat segar. Baru-baru ini saya membiasakan diri dengan masker. Baru terasa dampak polusi Jakarta yang sudah keterlaluan terhadap pernafasan. Rasanya kepala pepat dengan asap kendaraan yang minta ampun.
Jalan-jalan sebentar, mampir sana sini, cari tempat yang nyaman, dan beraksi. Sejak jam sebelas pagi hingga sore menjelang magrib. Jika bukan karena matahari yang akan pamit pulang, rasanya enggan kembali. Karena tugas yang belum selesai, juga karena tempat yang kelewat nyaman. Hanya,,, hari sabtu kampus terasa sangat sepi, dan tidak yakin akan menemukan jalan pulang jika hari gelap karena begitu besarnya universitas ini, dan begitu berkelok. Entah ada di tikungan mana dan distrik mana saya berpijak, yang jelas harus bertemu stasiun semula jika ingin pulang dengan selamat.

Sembari menyusuri jalan pulang, melewati fakultas teknik, arsitektur, budaya, psikologi. Tempat idaman yang tidak kesampaian dan mungkin tak akan kesampaian. Melihat mahasiswa yang lalu lalang dengan seragam laboratorium, layaknya profesor. Entah mengapa mereka begitu keren. Berkumpul membahas masa depan, sibuk dengan setumpuk paper, berpendapat, dan ekspresif.
Terkadang ada pikiran, apakah jika disini tempatku sejak awal, hal-hal baik itu akan datang seperti yang kudapat sekarang? Tak ada jaminan tapi sekali waktu, keinginan itu sangat kuat. Sekedar untuk pembuktian atau entah apa.

Di tengah jalanan yang menggelap, akhirnya ketemu juga dengan arah menuju stasiun. Entah ada apa hujan mengguyur deras dengan tiba-tiba. Terhentilah kaki ini di jembatan 'Texas' ala kampus ini. Di bawanya mengalir semacam sungai lebar. Di kejauhan burung-burung bermain layangan plastik merah lalu melemparnya ke air. Semacam jas hujan burung barangkali.
Pelajaran Kedua : Sembari berteduh, melewati segerombolan anak fotografi, menikmati angin yang bertiup sangat sejuk melewati jembatan, hujan seakan berbisik, "Apa kamu lihat tadi di tempat parkir? Gedung untuk kelas internasional? Keren kan? Apa bedanya mereka dengan yang lain? Karena mereka dibimbing langsung oleh dosen luar negeri. Lalu apa bedanya denganmu? Bukankah semua dosenmu dari luar negeri? Berbicara dengan bahasa Arab? Mengajarimu mencerna ribetnya sastra arab dengan bahasa yang bukan bahasa ibumu sehingga kepalamu pusing dibuatnya. Kurang apalagi?"
Seperti menamparku bisikan itu datang bersama hujan yang menderas. Kutatap tetes air yang berguguran dari tangkainya. Dia mengikuti perintah yang ada tanpa bertanya, kenapa aku harus turun ke bumi sekarang. Berjalan sesuai ketentuan dengan segenap yakin bahwa itulah yang terbaik. Seketika aku tersenyum, memang benar selalu ada pelangi setelah hujan.

Dengan segenap keriangan berlari pulang, menerobos sisa hujan. Tiba di stasiun, merogoh kantong. Ha? Gawat! Uang yang susah payah dikumpulkan, disimpan, enam ribu rupiah hilang. Dan parahnya tak ada selembarpun uang tersisa di tangan. Lalu dengan apa bisa pulang? Bongkar muatan, barangkali terselip di tempat entah dibagian sudut tas yang mana, nihil!! Bagaimana bisa pulang??
Pelajaran Ketiga :  Jangan membawa uang pas! Syukur jika di tempat ramai. Jika di tempat tak ada satupun orang? Lalu akan menyiksa kaki dengan jalan kaki sampai rumah?
Sebenarnya jika berjalan menyusuri rel kereta pasti sampai rumah juga. Sayangnya waktu tidak tepat. Celingak-celinguk sendirian di stasiun, dengan muka tak karuan, akhirnya mendekati seorang bapak yang berdiri bersama anaknya. "Maaf sekali, Pak. Apa ada uang lebih lima ribuan. Uang saya hilang dan tak ada lagi ongkos buat pulang." Dengan segenap muka topeng berkata kepada sang bapak. Untungnya bapak itu tersenyum menyodorkan selembar lima ribuan. "Cukup, Neng? Hati-hati di jalan."
Ya Allah, tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Jalan itu selalu ada. Semoga Allah saja yang membalas kebaikan hati bapak itu. Faktanya, seringkali yang lebih ringan tangan membantu orang lain bukanlah yang kaya raya, melainkan yang senasib dan cenderung pas-pasan juga.

Akhir kata, sampailah sudah di kosan tercinta dengan selamat dan lega. Membuang semua racun yang memepatkan otak, mendapat banyak pelajaran, menyelesaikan tugas. Betapa nikmat yang begitu besar.
Ya Rabb, masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur. 

Sabtu, 02 Maret 2013

gemuruh

ada suatu kesyahduan yg tak tertandingi
suaranya cessss,,,!!!!!
mendinginkan hal2 berasap yg nyata dan maya
sperti wajan panas menggelora yg ditetesi air,,
cesss,,!!!
rasanya dingin, dingin,,,
melenyapkan semua api yg memantik bahaya,,

adakah sbuah dunia yg membuat kita terbebas dari himpitan
seperti ktika mengeluarkan lelehan coklat
dari ujung plastik yg d gunting sangat kecil,,
dan mmmm,,,, yummy!!

Rabu, 26 Desember 2012

Dewata Island


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46)
Sekelumit kata dari Kitab Sempurna Tanpa Cela. Sebuah permulaan yang manis yang menjodohkan saya dengan sebuah hobi berjudul jalan-jalan. Sebuah perintah bahwa berjalan itu bukan sekedar melihat, melainkan memahami dan mendengar. Bahwa berjalan dapat membuka pikiran dan menambah wawasan. Bahkan dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa air yang mengalir itu akan selalu jernih, sedang air yang diam itu akan keruh dan rusak. Maka sudah pasti, begitu pula manusia. Bukankah tujuh puluh persen diri kita adalah air?
Dan lagi, kalimat sakti itu kutemukan di dalam lembaran mulia.
“Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Bulatlah sudah tekadku untuk membuat kaki kecil ini menapak seluruh permukaan bumi. Mataku gatal ingin melihat dari dekat rupa-rupa keunikan yang tercipta. Telingaku rindu mendengar nyanyian alam. Aminkan, tolong aminkan.

Sebuah nikmat yang tak bisa didustakan bahwa saya terlahir di tanah surga bagi para pejalan. Alam sejuta pesona yang menyihir mata dengan keelokannya tanpa buatan. Dimana? Indonesia! Ketika kita menyusuri negara lain, satu negara mungkin hanya memiliki  beberapa dialek (bukan bahasa), tarian, beberapa macam makanan, tempat wisata yang mungkin sudah dipoles dan adat masyarakat setempat lalu khatam!
Bandingkan dengan ibu pertiwi ini. Tak kurang tiga belas ribuan pulau berbaris sepanjang katulistiwa. Terkubur di dalamnya sejarah peradaban sejak sebelum masehi bersama kisah raja-rajanya, kekejian penjajahan, euforia kemerdekaan, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tak kurang dari 1.128 suku dari berbagai pulau yang melahirkan kurang lebih 700 bahasa daerah. Belum lagi tari-tarian, lagu-lagu, makanan khas, pakaian, rumah adat, pertunjukan, cerita rakyat, peninggalan sejarah, upacara adat, tumbuhan khas, binatang khas, kerajaan-kerajaan masa lampau dan banyak lagi. Cukupkah sekedar kata ‘wow’ untuk semua ini? Tidak akan! Jika ada seseorang yang mungkin tergila-gila dengan Indonesia yang mana di setiap nadinya tertulis kata Indonesia dan terobsesi membukukan segala hal tentang Indonesia dengan lengkap, terperinci, dan akurat dan parahnya jika dia adalah perfeksionis, saya yakin hasilnya adalah ensiklopedi berat, berjilid-jilid, yang memakan waktu dan membutuhkan riset, dan tentu saja perjalanan ‘real’ ke seluruh nusantara.

Adalah sebuah pertunangan yang cantik ketika hobi berjalan ini tumbuh di pulau kecil yang terselempit, namun elok dan tersohor sejagad. Sejak kecil, kecantikan alamnya telah membuat setiap sel ini ingin selekasnya tumbuh besar agar dapat segera merasakan wangi angin dan indahnya langit. Ingatan ini mungkin telah tua, tetapi kenangannya sangat terasa. Ketika kecil dulu, saya pernah diajak ke sebuah dataran tinggi di Pulau Dewata yang dikenal dengan nama Bedugul. Kami sekeluarga pergi ke tepian danau, yang setelah besar baru saya tahu bahwa namanya adalah Danau Batur.  Danau yang berkabut dan luas. Ditengahnya ada pulau kecil yaitu Pulau Trunyan. Hal yang paling digemari dari tempat ini adalah memancing, dan menyewa kapal ‘boat’ untuk mengitari Pulau tersebut. Konon, masyarakat di pulau tidak pernah menguburkan sanak keluarganya yang telah meninggal. Mereka hanya meletakkan jenazahnya di bawah pohon begitu saja dan hebatnya malah bukan berbau busuk, jenazah tersebut malah mengeluarkan aroma wangi.
Kuliner khas ketika berkunjung ke daerah ini adalah sate kelincinya yang lezat dan buah markisa. Sungguh! Keramahan dan pelayanan dari masyarakat sekitar memberi andil besar yang membuat turis domestik maupun mancanegara begitu tergila-gila dan rela ‘membuang’ uang mereka untuk menikmati. Terlihat rambut-rambut pirang dan kulit-kulit merah ikut berkeliaran di jalanan dan berbelanja aneka panganan dan souvenir. Maka pulau ini di hati saya telah mendapatkan ruangan khusus sebagai tanah kelahiran dan kampung yang menawan.

Nantinya, kemanapun kaki ini melangkah,, tempat ini akan selalu menjadi kampung halaman yg memberi kerinduan...

Sabtu, 08 Desember 2012

13 Juni 2010

sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.

setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)

Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.

Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu,  Ar Rahmaan, Ar Rahiim.

Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.

bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?

dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?

ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..




Jumat, 07 Desember 2012

-sekilas-

benar adanya jika membaca adalah sumber. kisah orang2 itu, yang katanya sudah di negri ini, yg pernah melihat itu, yg sudah sampai sini, smua tentang petualangan, membuat nyawaku tak genap dan satunya kabur entah kmana mencari tjuannya. mereka membuatku ingin terbang, bahkan rasanya aku ingin ke pluto jalan kaki meski jika nyawaku habis sebelum aku smpai sana.

arai bilang 'Tuhan akan memeluk mimpi2'. bondan bilang 'hidup berawal dari mimpi'. mimpiku??? aku ingin kakiku menjejak setiap jengkal bumi. mimpi? mimpi! itu mimpi!!!
bertemu banyak orang, blajar banyak budaya dan sejarah,, bertemu dgn orang2 hebat. (aq makin tak terdefinisi, sebut saja aku sedang membual atau ngelindur)

soal orang2 hebat (yg benar2 hebat) mereka punya amunisi yg tak pernah habis tentang hrapan, kerja keras, dan doa. ada satu ruang dalam hati mereka, tempat mereka menyimpan sebuah pelita. cahaya kecil yg mampu menaungi mimpi2 mreka dan membuatnya nyata. cahaya itu tauhid!

Rabu, 28 November 2012

Anak cewek itu,,,

“Anak cewek itu harus gesit, tangguh, cekatan, rajin dan sifat yg lebih mendasar lainnya. Kalau cuma imut, lucu, menggemaskan, warna-warni, saya rasa boneka barbie juga punya sifat artifisial seperti itu. Jadilah anak cewek yang mandiri, punya cita-cita, dan bisa diandalkan.” 

ini kalimat punya bang tere liye. Dan tiap kali membaca ini, selalu rasanya,, 'sesuatu' gtu..
hanya perlu satu kalimat,, "it must be me" amien

athlub minkum ad du'aa..

Rabu, 20 April 2011

jam 14.43

sebuah kata  yang telah tua
q temukan lagi d dasar
antara mimpi buruk dan duka
ah,,,, aku sedang benar benar merasakan sakit yang amat sangat
kau memergikan dirimu
aq memalukan diriku

Selasa, 19 April 2011

refleksi gambar

Bisakah kau lihat malam dengan bulanmu?
Yang redup dan suram
Merapat pada kulit kayu
Yang membajui batang kokoh
Menaungi bulan
ada laut terhampar
Sepanjang mata mampu berlari
Sepanjang telinga mampu menyusuri
Ombak yang mendesah, Pasir yang tertawa
Kapal-kapal berpesta
Aku masih menempel pada pohon yang menaungi bulan
Menunggu,,,
Sekedar penjaga waktu
Yang terlelap lalai karena lelah
Aku ingin kembali ke masa lalu
Saat hidupku adalah malam, dan laut, dan ombak, dan sunyi

di kelas mati lampu,,,

Hari ini di kelas mati lampu,,,

Ada yang mati di tengah ramai
Angannya berkelana di debur ombak
Pada malam-malam yang gemintang

Ada yang diam dari obrolan
Mulutnya bernada pilu tahun lalu

Gelap hilang sudah
Tapi dy blum utuh
Tak ada pimtu pulang ke alam fakta

Di kelas setelah mati lampu 11.42
Aq sedang menunggu sesuatu yang lebih terang dari cahaya lampu

Tadribat selalu memberiku ruang untuk pergi
Aq diam

Minggu, 17 April 2011

Lintasan jam 00.30

Gak bisa tidur,,,
Perut lapar,,,
Q putuskan untuk menyambung huruf
Dan Q mulai dengan kata APA..

Apa itu hidup???
Saat malam kau tak bisa tidur coba rasakan denyut nadi
Dan u akan tahu bahwa ada yang hidup dan menghidupkan
Seperti jaring menjaring
Ada bagian dalam tubuh yang tak pernah tidur
Yang hanya bisa dibuat oleh yang paling berkuasa
Hidup itu seperti sandiwara,,,,,seperti mimpi,,,yang menyata
apa itu kematian, apa itu kehidupan, apa pula kehidupan kubur dan setelah mati
Semua gelap tak ada yang tahu
Apa yang musti dicapai di kehidupan dunia atau apa yang musti dibawa di keabadian kelak?
Semua itu berjawab pasti tapi gaib,,,
Akal lumpuh,,,hanya iman dan keyakinan yang merasa

Malam yang sepi,,
Semua terbuai mimpi
Hanya mataku menatap cahaya lampu menggantung
Oh,,,, hari esok,,,
Tampakkan wajahmu dalam sinar
Aku benar2 merasa tersesat dalam jalan yang pasti
Dan tak q pahami
Seperti adanya takdir tapi ada kemauan
Ada Tuhan dan ada akal
ada murka dalam kemuliaan
Rahasia dan teka-teki bermain anyam

Selasa, 05 April 2011

Raja

Hidup ada dalam jarum yang bergerak
Mengelilingi pusat dan terikat
Memutuskan hal penting sampai yang tak penting

Bukan jarum yang menusuk
Meski tetap bernama jarum
Tajam seperti pedang

Membunuh kemalasan
Mengagungkan kedisiplinan
Melayani konsekuen

Raja yang berdua pengawal
Tinggi pendek
Jarum detik dalam kerajaan waktu yang berkuasa

04 April 2011- menghilangkan ngantuk di kelas mapel tadribat

Sabtu, 08 Januari 2011

TENTANG

23.20 070111

Tentang,,,
Tentang sebuah penyesalan
Yang hanya akan menjadi rengekan suram

Penyesalan karena kesia-siaan
yang bisu karena takkan berulang
Kenangan tak akan kembali serupa dendang
Dan sampai kiamat sesal akan dibelakang
Membuat kutukan diri semakin tajam

Semua andai telah tamat dikhayalkan
Namun dalam realita
Aku hanya seperti ikan geletakan
Raup-meraup kehidupan udara
Berpacu dengan waktu, manusia, zaman, kemampuan, dan kesempatan
Berjalan rasanya roda waktu mengintai
Menerkam!
Menindas semua hal bernama kesia-siaan

Jika Khairil Anwar tempo dulu berkata
Batang usiaku sudah tinggi
Diriku berkata
Nyawaku kadaluarsa