Rabu, 26 Desember 2012

Sumpah Habibi

,,Sumpahku,,

Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu Pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci
.........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa besar dan suci
Membawa aku PADAMU

Membaca sumpah Habibi, menamatkan buku beliau "Habibi Ainun" yang begitu menggetarkan hati, membuat saya berfikir, inilah hidup yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang mengkritisi, kenapa ibu Ainun sampai akhir hayatnya tidak berhijab dan sebagainya,,
tapi lihat,, amalan beliau melebihi kaum berhijab dengan keikhlasan yang tak dibuat-buat. Amalan tahajud, puasa senin kamis, tilawah minimal satu juz, melafadzkan Al Qur'an pada setiap peristiwa hidupnya baik sulit maupun senang, menjadi istri yg setia dan taat pada suami hingga akhir hayatnya, dan berbakti pada masyarakat luas, hingga bahkan meski beliau sudah meninggal, semua jasanya masih hidup mewakilinya. Lalu, sudahkah kita yang berhijab ini beramal seperti itu? Mampukah kita seperti itu?

Mengapa Pak Habibi memiliki perasaan yang begitu mendalam pada Bu Ainun dan begitu juga sebaliknya?
Jawabannya sangat simpel, karena Bu Ainun menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai istri dan ibu, merelakan karirnya sebagai dokter demi mengurusi rumah dan anak-anak dan mendampingi lelaki hebat dalam setiap detiknya dengan tegar dan tanpa mengeluh. Begitupun Pak Habibi yang bekerja dengan seluruh tubuhnya demi keluarga, menjadi suami dan ayah yang sebisa mungkin memberi kebahagiaan bagi kelarga, memberi manfaat bagi masyarakat, menyumbang hal-hal positif dan inovatif dan berbakti pada tanah air tercinta.

Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup beliau berdua, namun yang paling berkesan buat saya, adalah manusia itu diciptakan untuk sepenuhnya mengabdi kepada Khaliqnya tanpa syarat, dari manapun dia berasal, tanpa perbedaan. Bahwa sebagai manusia sudah selayaknya bersyukur dengan anugerah akal yang diberikan kepada kita dengan belajar sekeras-kerasnya, apapun, dan sampai akhir hayat dan menggunakan ilmu itu untuk memberi manfaat yang seluas-luasnya. Betapa pak Habibi dengan otaknya yang jenius itu, yang tidak butuh waktu lama untuk belajar sesuatu, menghabiskan 21 jam dalam sehari dan hanya tidur 3 jam. Sedang kita?

Dan lagi, ketika waktunya datang, dan kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi partner kita seumur hidup, maka itu bukanlah akhir melainkan awal untuk memulai perjuangan yang lebih berat lagi. Bukan seperti yang ada di televisi, yang menggambarkan romantisme dan lain sebagainya. Itu adalah waktu untuk berjuang ke lompatan yang lebih tinggi, dan itu adalah realita. Maka pastikan kita memilih seseorang yang memiliki daya juang dan bercita-cita tinggi, dengan menjadikan akhlaq dan ilmu sebagai tolak ukur utama.

Dan bahwa, kematian adalah sebuah panggilan pasti dan akhir yang merupakan awal bagi setiap insan yang bernyawa. Kematian adalah kenyataan yang pahit tetapi jujur yang harus dipersiapkan. Semoga kita bisa meneladani kisah beliau berdua dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi tanah air, dari bidang manapun kita berjalan dan berjuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar