Senin, 24 Desember 2012

Imam Nawawi dan Riyadus Shalihin

Kisah ini dilontarkan di akhir-akhir pertemuan maddah adab.
Masih bersama ustadz 'menawan'
Ini harus segera ditulis sebelum lupa, agar dikoreksi, dan jarang yang mengetahui.

Kitab Riyadus Shalihin, karya fenomenal sejak abad ke 6 hijriah karya Imam Nawawi, siapa yang tidak tahu minimal judulnya. Masyhur, penuh ilmu. Apa rahasianya?

Tersebutlah, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi  lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits. Telah khatam menghafal Al Qur'an sebelum mencapai baligh. Zuhud dan dalam ilmunya.
Beliau menyusun kitab Riyadush Shalihin agar orang-orang yang membacanya dapat mengambil manfaat darinya. Rampung sudah penulisan kitab tersebut, siap naik cetak (memang jaman sekarang?)
Bukan dibawa ke penerbit, (jaman itu belum ada saudara!!) beliau membawa kitab berjilid-jilid itu ke tepian sungai.
Tiba disana, dengan hati yang khusyu' beliau berkata :
"Ya Allah, jika aku menyusun kitab ini hanya untuk riya' dan pujian, meskipun itu sedikit, maka tenggelamkanlah kitab ini. Namun, jika aku menyusun kitab ini dengan sebenar-benar ikhlas hanya mengharap ridhoMu, maka selamatkanlah."

Rabb! Bergetar, merinding!
Seperti kita tahu, kitab jaman dahulu kala, ditulis tangan, di atas kertas, dijilid sendiri, lalu tintanya, jika terkena air maka hilanglah sudah semua itu tanpa bekas.
Bayangkan!!! Kerja keras selama berbulan-bulan, riset, siang malam menulis tangan (belum jaman sekertaris, jasa mengetik atau mesin ketik) bisa lenyap hanya dalam sedetik!!
Tapi kehendak Allah, kita harus membaca tulisan beliau . Bak peti bayi Musa, dia mengambang ke tepian dan tetap ada dari zaman ke zaman.
Bagaimana tidak? Ditulis dengan royalti surga yang tak tertandingi. Jika ada anugrah nobel, pulitzer atau apalah, bukankah seharusnya kitab-kitab seperti yang seharusnya masuk nominasi?
Keikhlasan adalah sesuatu yang tak bisa diselami dengan rumus apapun. Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar