sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.
setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)
Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.
Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu, Ar Rahmaan, Ar Rahiim.
Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.
bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?
dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?
ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..
setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)
Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.
Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu, Ar Rahmaan, Ar Rahiim.
Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.
bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?
dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?
ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar