Senin, 13 Mei 2013

My Trip_hari yang keren_

Malam jum'at yang entah ada apanya, saya terilhami untuk mengunjungi tempat favorit yang sudah lama tak disapa. Kampus Depok yang pernah jadi tempat impian namun tidak kesampaian. Sekalian refresh otak sebelum perang 'besar' yang akan berkecamuk tanggal 22 Mei nanti. Berbekal setumpuk buku, bekal, headset, dan masker. Tas ransel sudah siap untuk pergi. Tiba-tiba,, oh No! tak ada duit seribu pun di dompet. Kalap, rogoh kantong tas sana sini, buka lemari, cari di ujung-ujung kotak, berharap menemukan seribuan atau lima ribuan. Dan memang sudah rejekinya, akhirnya menemukan delapan ribu rupiah dan sekeping lima ratusan. Okeh, cukuplah! Susun strategi gimana dengan uang itu cukup untuk pulang pergi Ps. Minggu-Depok. Dan pilihannya hanya kereta ekonomi harga 1.500. Bismillah!

Hari H. Sabtu 110513.
Sudah siap sejak pagi-pagi sampai orang-orang bengong. Gak biasanya putri kasur ini pagi-pagi sudah rapi. Hahaha.. okeh berangkat!!
Pelajaran pertama : Jika ingin naik kereta ekonomi, cari tau jam keberangkatan.
Saya baru tiga kali naik kereta jenis ini, dan itupun minta ditemani, karena berjubelnya orang yang ingin menikmati fasilitas murah, meriah, dan tanpa macet model ini. Dan tanpa tahu juga bahwa ekonomi ada jamnya, tidak seperti commuter line yang hampir tiap 15 menit sekali ada. ekonomi hanya datang per 2 jam sekali kurang lebih (kalau sabtu ahad). Pas sekali ketika saya beli karcis, kereta baru berangkat. Dan baru datang lagi jam setengah sepuluh. Saya lirik jam, baru 08.20!! Menunggu satu jam??
Tak ada pilihan, naik angkot lain duit tak cukup, ya sudah, apa boleh buat. Menunggu pun tidak ada ruginya. Belajar hal lain dari mengamati sekitar. Tempat yang paling menarik untuk mengamati salah satunya stasiun. Orang dari berbagai jenis, berbagai profesi, berbagai keperluan mondar mandir. Ditemani balaghoh, akhirnya satu jam tak terasa juga. Bahkan bukan satu jam lagi,, satu setengah jam!
Padahal jika ditempuh, perjalanan Ps. Minggu-Depok dengan kereta hanya 15 menit kurang.

Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menginjak tempat ini. Asri, hijau, dan sangat segar. Baru-baru ini saya membiasakan diri dengan masker. Baru terasa dampak polusi Jakarta yang sudah keterlaluan terhadap pernafasan. Rasanya kepala pepat dengan asap kendaraan yang minta ampun.
Jalan-jalan sebentar, mampir sana sini, cari tempat yang nyaman, dan beraksi. Sejak jam sebelas pagi hingga sore menjelang magrib. Jika bukan karena matahari yang akan pamit pulang, rasanya enggan kembali. Karena tugas yang belum selesai, juga karena tempat yang kelewat nyaman. Hanya,,, hari sabtu kampus terasa sangat sepi, dan tidak yakin akan menemukan jalan pulang jika hari gelap karena begitu besarnya universitas ini, dan begitu berkelok. Entah ada di tikungan mana dan distrik mana saya berpijak, yang jelas harus bertemu stasiun semula jika ingin pulang dengan selamat.

Sembari menyusuri jalan pulang, melewati fakultas teknik, arsitektur, budaya, psikologi. Tempat idaman yang tidak kesampaian dan mungkin tak akan kesampaian. Melihat mahasiswa yang lalu lalang dengan seragam laboratorium, layaknya profesor. Entah mengapa mereka begitu keren. Berkumpul membahas masa depan, sibuk dengan setumpuk paper, berpendapat, dan ekspresif.
Terkadang ada pikiran, apakah jika disini tempatku sejak awal, hal-hal baik itu akan datang seperti yang kudapat sekarang? Tak ada jaminan tapi sekali waktu, keinginan itu sangat kuat. Sekedar untuk pembuktian atau entah apa.

Di tengah jalanan yang menggelap, akhirnya ketemu juga dengan arah menuju stasiun. Entah ada apa hujan mengguyur deras dengan tiba-tiba. Terhentilah kaki ini di jembatan 'Texas' ala kampus ini. Di bawanya mengalir semacam sungai lebar. Di kejauhan burung-burung bermain layangan plastik merah lalu melemparnya ke air. Semacam jas hujan burung barangkali.
Pelajaran Kedua : Sembari berteduh, melewati segerombolan anak fotografi, menikmati angin yang bertiup sangat sejuk melewati jembatan, hujan seakan berbisik, "Apa kamu lihat tadi di tempat parkir? Gedung untuk kelas internasional? Keren kan? Apa bedanya mereka dengan yang lain? Karena mereka dibimbing langsung oleh dosen luar negeri. Lalu apa bedanya denganmu? Bukankah semua dosenmu dari luar negeri? Berbicara dengan bahasa Arab? Mengajarimu mencerna ribetnya sastra arab dengan bahasa yang bukan bahasa ibumu sehingga kepalamu pusing dibuatnya. Kurang apalagi?"
Seperti menamparku bisikan itu datang bersama hujan yang menderas. Kutatap tetes air yang berguguran dari tangkainya. Dia mengikuti perintah yang ada tanpa bertanya, kenapa aku harus turun ke bumi sekarang. Berjalan sesuai ketentuan dengan segenap yakin bahwa itulah yang terbaik. Seketika aku tersenyum, memang benar selalu ada pelangi setelah hujan.

Dengan segenap keriangan berlari pulang, menerobos sisa hujan. Tiba di stasiun, merogoh kantong. Ha? Gawat! Uang yang susah payah dikumpulkan, disimpan, enam ribu rupiah hilang. Dan parahnya tak ada selembarpun uang tersisa di tangan. Lalu dengan apa bisa pulang? Bongkar muatan, barangkali terselip di tempat entah dibagian sudut tas yang mana, nihil!! Bagaimana bisa pulang??
Pelajaran Ketiga :  Jangan membawa uang pas! Syukur jika di tempat ramai. Jika di tempat tak ada satupun orang? Lalu akan menyiksa kaki dengan jalan kaki sampai rumah?
Sebenarnya jika berjalan menyusuri rel kereta pasti sampai rumah juga. Sayangnya waktu tidak tepat. Celingak-celinguk sendirian di stasiun, dengan muka tak karuan, akhirnya mendekati seorang bapak yang berdiri bersama anaknya. "Maaf sekali, Pak. Apa ada uang lebih lima ribuan. Uang saya hilang dan tak ada lagi ongkos buat pulang." Dengan segenap muka topeng berkata kepada sang bapak. Untungnya bapak itu tersenyum menyodorkan selembar lima ribuan. "Cukup, Neng? Hati-hati di jalan."
Ya Allah, tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Jalan itu selalu ada. Semoga Allah saja yang membalas kebaikan hati bapak itu. Faktanya, seringkali yang lebih ringan tangan membantu orang lain bukanlah yang kaya raya, melainkan yang senasib dan cenderung pas-pasan juga.

Akhir kata, sampailah sudah di kosan tercinta dengan selamat dan lega. Membuang semua racun yang memepatkan otak, mendapat banyak pelajaran, menyelesaikan tugas. Betapa nikmat yang begitu besar.
Ya Rabb, masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar