Jika ada seribu tetes peluh yang terkucur,,
Itu pasti peluhmu untuk sebelas anakmu,,
Jika ada seribu uban yang bersinar,,
Itu pasti karena khawatir akan masa depan keturunanmu,,
Wajahmu, senyummu, teduhmu,,
Walau berbilang masa telah dan akan terus berlalu,,
Auramu akan tetap lekat seperti adanya dulu,,
Bagiku, kaulah yang terhebat,,
Romantisme masa kini sudah seperti debu. Amat amat sangat mudah didapat, dangkal dan tak berharga. Terucap di lisan namun hati beku tak bergetar. Pengorbanan pun tak beda pasal. Berbusa-busa berjanji akan berjuang demi bla bla bla, nyatanya kosong belaka.
Cerita-cerita tentang generasi-generasi lampau membuka mataku esensi dari berbagai rasa itu sendiri. Contoh realnya kakek nenekku yang cintanya masih awet sampai beda dunia. Begitu beragam cara orang mengartikan, menyikapi, memaknai, dan memperlakukan cinta. Kisah ini murni bukan kisah romance, hanya semacam memoar '13 Juni' tentang sosok yang sangat penting buatku,,
13 Juni 2010 lalu, Kakekku tercinta tutup usia,,
Begitu banyak kisah-kisah beliau yang baru terkuak setelah beliau tiada. Tak ada yang spesial sebenarnya dari kisah hidupnya. Hanya seorang anak yang terbiasa hidup keras sejak muda. Yang hatinya tertempa bagai baja. Seorang yatim yang hanya makan bangku SD atau SMP kala itu aku lupa. Dia terbiasa dan diharuskan bekerja jika ingin makan, yang berarti tidak bekerja berarti tidak makan. Bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Kala siang terik matahari membakar kaki yang tak beralas, melihat anak-anak lalu lalang berseragam dengan sepatu yang nyaman rasanya lebih panas membakar hati dibanding sengat matahari dan beban barang yang dipangkul. Mungkin pola itulah yang membentuk sosok setangguh beliau. Yang tetap kuat dihantam cobaan, tetap tawakkal dan tak putus yakin. Hingga akhirnya mengayomi kakak dan adiknya sampai akhir hayat.
Mulanya pengantar barang adalah profesi, namun selanjutnya, menjadi hoby yang bagai candu bagi darah muda. Tiap kali ada job mengantar barang ke satu toko istimewa pasti beliau berbaris paling depan, semangat mengantar barang. Bukan karena bayarannya besar, tapi karena pemilik toko mempunyai seorang anak gadis yang ternyata separuh jiwanya. Beliau mengajarinya cahaya, membawa gadis itu lari dari kegelapan keyakinannya yang lampau hingga kini rela memeluk Islam. Membuatnya merindu hingga ke sum-sum tulang bahkan selepas tiga tahun ditinggal pergi.
Mungkin kisah ini hanya terjadi pada pasangan-pasangan jaman dulu, bahwa istri harus duduk di depan suaminya ketika makan, menyiapkan dari nasi sampai air putih rapi di depan jarinya. Duduk sampai tetes terakhir dari gelasnya habis. Sungguh aku belum mendapati cerita macam ini sekarang.
Ironisnya itu membuat nenekku tak bisa pergi kemanapun lebih dari jam makan. Pernah sekali waktu meminta izin tiga hari ke Jakarta yang hanya dijawab dengan bungkam. Hingga hari H akan berangkat, hanya meng'iya'kan dalam diam dan hanya diizinkan dua hari. Ketika baru tiba di Jakarta, telepon sudah berdering, "Kapan pulang? Tak bisa makan!" Tak ada ucap kangen atau sederet rayu, tapi itulah 'sesuatu' yang seakan bermakna "aku tak bisa tanpamu walau hanya sehari".
Sampai akhirnya esok hari disusul ke Jakarta dan dijemput pulang.
Itu hanya sedikit kisah uniknya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana rasa digendong dan dipangku olehnya, cara khasnya memukul kepalaku karena gemas, posisi duduknya setiap sore, caranya dia memanggil.
Tahun ini, dia datang lagi di mimpiku, ketika aku sedang berlari di jalan yang begitu panjang. Dari jauh cahaya baju putihnya tampak, dan dia tersenyum sumringah. Dia melewatiku menyalamiku lalu pergi, hilang.
Sungguh tanpanya, aku seperti boneka kayu yang tak tahu arah menganut apa saja yang diperintahkan.
Sekarang dan sampai akhir, wejangan-wejangannya selalu terngiang-ngiang.
210713.04.07,ram_yog_aury
Tidak ada komentar:
Posting Komentar