Tampilkan postingan dengan label andrea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrea. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

Benci jadi Suka

2 : 261 { عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم }


Membaca dan mengalami memang dua hal yang sangat berbeda. Membacanya boleh jadi sudah berkali-kali, bisa berpengaruh bisa tidak. Tetapi mengalami sendiri memberi rasa yang 'Wah', dalam, dan cess! Kena!
Dalam kebaikan bolehlah prinsip ini dipakai, tapi jangan diterapkan dalam hal-hal yang buruk semisal kecanduan obat-obatan dan hal negatif lainnya. Menganut asas coba-coba agar tau rasanya dan benar-benar jera lalu berharap bisa terlepas dari jeratnya setelah itu dan bertobat. Kalau iya, kalau tidak? Kalau ternyata umur kita tidak sampai di masa bertobat? Buruklah jadinya. 

Kembali ke topik. Ceritanya..
Saya adalah pecandu novel terutama novel berat ber-genre sejarah, petualangan, science fiction, fantasi, yang diksinya sedikit nyastra, dalem, sampai rasanya tenggelam berenang-renang dalam baris kalimat demi kalimat. Membaca dengan telinga yang disumpal headset, ditemani secangkir kopi atau teh, dikesegaran udara pagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih indah dari ini? (kategori jajaran hobi versi saya, jangan dibandingkan dengan cita rasa ketika tilawah atau ibadah lainnya, beda kategori)
Termasuk penulis yang masuk kategori 'favorit' saya dari jajaran penulis indo ada bang 'Tasaro GK' dengan 'galaksi Kinanthi' yang pertama kali kenal langsung bikin jatuh hati ditambah lagi setelah membaca 'Pitaloka', 'Takhta Nirwana', 'Muhammad' dan yang lainnya. 
Adalagi bang Andrea Hirata yang fenomenal dengan 'Laskar Pelangi' yang mendunia dan seri ceritanya yang semuanya teliti, fakta, kocak, dan melayu sangat. 
Dan lain-lain penulis secara umum yang saya suka secara moody. 

Nah, saking sukanya dengan novel, semua jenis terkadang saya tabrak, dari yang temanya 'saya banget' atau 'bukan saya banget'. TAPI, ada satu penulis yang semua orang berkomentar 'bagus', 'bukunya keren', 'bikin terharu', gak pernah menarik minat saya untuk nyentuh, noleh, atau bahkan ingin tahu 'apa sih isinya?'. Saya yakin semua tahu kan dengan karya bang 'Tere Liye'
Faktor ke-tidak sukaan saya waktu itu sebenarnya karena temanya yang sangat sederhana dan saya pikir paling sama saja dengan novel-novel 'sinetron' lain yang hanya bercerita kehidupan sehari-hari yang bisa menghabiskan setengah halaman hanya untuk menggambarkan 'saya sedang duduk dan menikmati pemandangan'. Hal yang sangat berbeda ketika kita membaca novel-novel terjemahan yang rata-rata temponya cepat dan bisa berpindah-pindah dalam satu halaman.
Juga dengan quotes-nya yang terkadang terlalu blak-blakan dan sangat tegas apalagi kalau yang 'pas' banget dengan hal kita saat ini. Hewm, maknyes dah! Lalu??

Dalam hal ini benar adanya 'tak kenal maka tak sayang'. Pun benar juga "jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan atau menyukai sesuatu secara berlebihan'. 
Entah apa awalnya, saya mulai suka membaca postingan-postingan beliau di page, intip-intip bukunya, dan seperti bunglon, hati saya langsung berkata, 'wah ini keren banget!'. 
Kata-katanya memang sederhana, bidikannya memang semua umur dan keluarga sehingga dibuat sesederhana mungkin agar pesannya sampai kepada pembaca. Intinya, ada ciri khas tersendiri dan tulisannya punya orientasi positif yang mengikuti trend apa yang sedang marak dan perlu diluruskan. Sangat terkesan dengan prinsipnya 'tulislah apa yang perlu orang lain baca, bukan apa yang orang lain suka'. Menjadikan menulis sebagai sarana untuk tujuan menasihati dalam kebaikan. Baik, bagus, dan tegas yang mungkin tidak semua orang suka dengan cara ini. Yang pasti, setiap penulis punya ciri khas tersendiri yang membuat tulisannya mengena dan dicintai oleh pembacanya dan membuatnya selalu ditunggu-tunggu.

Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.

Sekilas saja untuk gambaran,,, ini murni pendapat versi saya..
Gaya tulisan kang Tasaro itu meledak-ledak, mungkin dilatar belakangi profesi beliau yang dulunya jurnalis. Dan temanya selalu berbeda. Hari ini menulis tentang sejarah, besok komedi, lalu kisah cinta. Segar dan cerdas. Seperti Salad.
Kalau bang Andrea, kata-kata seperti telah menyatu di lidah, tangan, dan fikirannya. Tanpa banyak polesan menulis seperti memang mengalir di darahnya. Bahasanya unik, khas, dan 'uuuhhh'. Saya sangat suka filosofi kopinya bang Andrea. Kira-kira perlu pengamatan berapa lama coba untuk menyimpulkan seperti itu? Atau pernahkah kita tertarik memperhatikan hal-hal sederhana dikeseharian kita? Cita rasa bang Andrea itu seperti Rendang, legendaris, dalam, dan Indonesia banget. 
Nah, kalau bang Tere? karena saya penggemar baru, dan belum menamatkan satu bukupun karya beliau, buat saya bang Tere seperti obat. Pahit, tapi memang harus diminum. Karena apa yang disampaikan memang apa adanya, blak-blakan, dan 'plash!' 

Hahay, tujuan saya menulis ini bukan ajang promosi penulis, karena tidak ada yang mensponsori tulisan ini tapi titik tekannya pada : Hal apa yang kita tidak sukai bisa jadi suatu saat kita bela mati-matian begitu juga hal yang kita sukai bisa jadi tidak ingin kita lihat lagi setelah itu. Dan tentu saja kaca mata yang kita pakai untuk menilai mana yang baik dan buruk, yang kita suka atau tidak, haruslah kaca mata yang dibuat dari ilmu Al Qur'an dan Hadits. Wallahu a'lam.

,,^_^,, 






Selasa, 12 Maret 2013

My Two Top Writer

Ini postingan kang Tasaro tentang pertemuannya dengan penulis 'Laskar Pelangi' bang Andrea Hirata :

Kawans, yang mengikuti berita dan dunia maya, mungkin sempat menyimak kontroversi lelaki di bawah ini. Saya ingin bercerita, tiga hari saya dengan dia, di Singapura, sisi lain yang tak terbaca, karena kebanyakan orang memahami dia dari jarak yang jauh atau melalui media semata.
Bahwa setiap orang punya titik rentan. Baik dalam berbicara, mengungkapkan siapa dirinya, membahasakan tubuhnya, dan lain-lain, siapakah yang tidak? Tapi saya ingin bercerita bagaimana tiga hari itu mengubah, menambah, dan menyalakan sesuatu dalam diri saya.

Saya ke Singapura sebenarnya hanya karena diajak oleh Chief Editor Bentang Pustaka, Mas Imam Risdiyanto. Mungkin dia sebal karena Muhammad 3: Sang Pewaris Hujan belum juga bisa kita luncurkan. hehehe...jadi saya diajak menengok Singapore's Writer Festival yang di acara ini, Bang Andrea Hirata menjadi pembicara.

Lalu berangkatlan kami. Cerita perjalanannya menjadi hal lain yang banyak memberi inspirasi. Tapi, agar kisah kita fokus, saya gerakkan alurnya langsung ke malam Singapore's Writer Festival di Art House yang prestisius itu.
Tiketnya 25 Dollar, Sodara-Sodara...itu sekitar 200 ribu kuranglah. Sampai di sini juga saya sudah mak "DEG". Itu bule-bule, muka india, melayu, sampai Tionghoa, antre masuk ruangan bertarif lumayan, untuk mendengarkan seorang Indonesia bercerita tentang kampung halamannya.
Maka masuklah kami. Film Laskar Pelangi diputar lagi. Dulu sewaktu menonton saya merasa terharu, tapi kemarin, di Art House Singapore itu, saya benar-benar menahan tangis habis-habisan. Mungkin bukan karena filmnya semata, tapi oleh karena apresiasi penonton yang tertawa. menangis, sesuai adegan yang tertayang. Sobat, itu perasaan yang sangat dalam. Ini bukan lagi Andrea Hirata, Mira Lesmana, atau Riri Riza...ini INDONESIA.
Ketika film selesai ditayang dan tepuk tangan memenuhi ruangan, Bang Andrea muncul di pintu. Saya tidak menyapa buru-buru. Karena saya punya sedikit kenangan asam dengan dia...hahahahah.... Rumus saya, mendekat kalau memang beliau ingin saya mendekat. Tak lah untuk sok dekat-dekat. Lalu diskusi dimulai. Pertanyaan tak habis-habis. Moderator yang ber Singapura English tak harus bekerja keras. Pertanyaan sambung menyambung.
Sampai kemudian, sebuah pertanyaan seorang Bule soal pengaruh Laskar Pelangi terhadap sastra Indonesia dijawab oleh Bang Andrea dengan jawaban yang bagi saya cukup mengejutkan. Dia tidak sibuk dengan bukunya sendiri. Dia, secara implisit dan eksplisit secara berurutan, menyatakan Laskar Pelangi hanya satu di antara karya hebat anak-anak negeri. Lalu dia menyebut sederet penulis Indonesia yang dia banggakan. Sekali lagi ini bukan lagi tentang nama-nama...ini tentang INDONESIA.

Usai acara itu, agak larut, saya berpikir, kami segera kembali ke hotel. Lalu dua hari sisanya akan kami isi dengan bernorak-norak keliling Singapura. Foto2 di sana-sini. Mencicipi MRT yang didambakan Jakarta. Ke Universal Studio dan mejeng di patung Singa berlatar belakang Marina Bay. Tapi tidak....

Bang Andrea dan manajernya yang juga seniman bersuara "astaga": Meda mengajak kami ngopi di Esplanade, gedung beratap "durian" yang megah dan prestisius sebagai hadiah SIngapura terhadap seni itu.
Lalu peribcangan itu dimulai. Meski saya tidak terlau mengikuti keguncanagan sastra belakangan ini terkait statment Andrea di media massa, saya tahu sedikit. Kesepakatannya kemudian adalah: penulis teruslah berkarya, biarlah kemudian karya itu menjadi milik publik dan diapresiasi sebagaimaa mestinya. Sekeras apa pun, kritik selalu membawa manfaat. Saya setuju, karena saya sangat berpengalaman tentang itu. De Javu dengan novel Muhammad yang pernah membanting saya benar-benar....dan semua kembali ke relnya ketika saya memilih diam.

Hal yang lebih menarik malam itu adalah energi Bang Andrea ini....energi yang tersalurkan. Sesuatu yang kemudian mengubah pandangan saya tentanG Agnez Monica (HAAA???)

Bahwa, sudah waktunya, para pegiat seni Indonesia memunculkan diri ke dunia. Ketika publik dunia sudah terang-terangan menghargai karya kita, mengapa kita harus malu-malu?
Andrea mengatakan itu sembari memperlihatkan terjemahan terbaru Laskar Pelango oleh Random House....penerbit Asutralian yang ASTAGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA itu.
 Itu bisa jadi sebuah adegan pamer kedigdayaan jika saya berpikir negatif. Tapi, hal yang menggejolak di dada saya sama dengan apa yang ke luar dari lisan Bang Andrea,"Saya kangen ada penulis Indonesia lain yang menempuh jalur ini, Tasaro."

Ketika kami berbincang di tempat yang menawan itu, di seberang Sungai Singapore yang membentangkan pusat kota Singapore dengan keindahannya, buku Laskar Pelangi telah resmi terbit dengan 78 bahasa, 78 negara. Lalu apa yang membuat kita tidak berkata "Luar biasa!" ?

Ini bukan lagi tentang Andrea...sebab, buku itu berbicara tentang Indonesia. Hari ini, Andrea sedang membincangkan "INDONESIA" di Australia. Dilanjut Jerman, Bulgaria, Portugal, dan beberapa negara lain yang saya bahkan tak menghafalnya....
Bagi saya, ini sudah bukan lagi perihal Andrea...ini tentang negeri yang lebih sering kita caci sendiri. Lalu, sebuah buku berjudul Laskar Pelangi mengambil "TOA" dan berteriak ke negeri-negeri yang jauh bahwa ada keindahan di tanah kita. Ada semengat, ada Bu Muslimah, ada mimpi....ada Laskar Pelangi.

Keesokan harinya, kami lagi-lagi janjian di Esplanade. Bang Andrea diwawancara media lokal. Sesuatu yang lagi-lagi membuat saya berdegup jantung. Indonesia menemukan pengeras suaranya. Kami berjalan-jalan ke banyak tempat hari itu. Pergi ke perpustakan Esplanade. Di situs saya cukup syok karena buku-buku saya ada di deretan rak-raknya. Lalu ke Kampung Arab dan shalat di Masjid Sultan. Makan masakan minang dan minum kepala muda, ketika segerombolan orang lokal, para pelancong dari Indonesia, sampai warga permanent resident yang berhenti sejenak dan meminta foto bersama dengan Andrea.

Saya sukarela menjadi juru foto dadakan. Bagi saya...ini bukan sekadar Andrea....ini...INDONESIA.

Hari terakhir, hari ketiga adalah puncak kebanggaan saya. Bang Andrea menyertakan saya ke rombongan yang diundang sokolah putri Cedar, salah satu sekolah SMP terbaik se Singapura. Kami mengisi sesi pelatihan menulis di sana. Saya dan Mas Imam dipaksa maju dan berbincara. Dasar banci panggung...hahaha...saya memang suka mengajar. Jadilah asyik sesi itu. Inggris pas-pasan, Melayu ipin-upin, dan Indonesia kami pakai untuk menyampaikan apa yang saya sampaikan juga di kelas malam minggu kita.

Hasilnya.....murid2 cerdas itu sangat gembira...guru-guru mereka pun bersuka cita...Dan...apalah lagi yang kita sampaikan jika bukan tentang Indonesia?


 Terlalu singkat cerita ini, tapi saya ingin berbagi optimisme kepada Kawans semua, Indonesia adalah sebuah permata. Lalu, dunia yang semakin mengglobal ini adalah panggung besar yang menunggu karya-karya kita....siapa tahu kita memulainya dari kelas maya ini...dari kesungguhan dan niat baik kita. Amin.