2 : 261 { عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم }
Membaca dan mengalami memang dua hal yang sangat berbeda. Membacanya boleh jadi sudah berkali-kali, bisa berpengaruh bisa tidak. Tetapi mengalami sendiri memberi rasa yang 'Wah', dalam, dan cess! Kena!
Dalam kebaikan bolehlah prinsip ini dipakai, tapi jangan diterapkan dalam hal-hal yang buruk semisal kecanduan obat-obatan dan hal negatif lainnya. Menganut asas coba-coba agar tau rasanya dan benar-benar jera lalu berharap bisa terlepas dari jeratnya setelah itu dan bertobat. Kalau iya, kalau tidak? Kalau ternyata umur kita tidak sampai di masa bertobat? Buruklah jadinya.
Kembali ke topik. Ceritanya..
Saya adalah pecandu novel terutama novel berat ber-genre sejarah, petualangan, science fiction, fantasi, yang diksinya sedikit nyastra, dalem, sampai rasanya tenggelam berenang-renang dalam baris kalimat demi kalimat. Membaca dengan telinga yang disumpal headset, ditemani secangkir kopi atau teh, dikesegaran udara pagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih indah dari ini? (kategori jajaran hobi versi saya, jangan dibandingkan dengan cita rasa ketika tilawah atau ibadah lainnya, beda kategori)
Termasuk penulis yang masuk kategori 'favorit' saya dari jajaran penulis indo ada bang 'Tasaro GK' dengan 'galaksi Kinanthi' yang pertama kali kenal langsung bikin jatuh hati ditambah lagi setelah membaca 'Pitaloka', 'Takhta Nirwana', 'Muhammad' dan yang lainnya.
Adalagi bang Andrea Hirata yang fenomenal dengan 'Laskar Pelangi' yang mendunia dan seri ceritanya yang semuanya teliti, fakta, kocak, dan melayu sangat.
Dan lain-lain penulis secara umum yang saya suka secara moody.
Nah, saking sukanya dengan novel, semua jenis terkadang saya tabrak, dari yang temanya 'saya banget' atau 'bukan saya banget'. TAPI, ada satu penulis yang semua orang berkomentar 'bagus', 'bukunya keren', 'bikin terharu', gak pernah menarik minat saya untuk nyentuh, noleh, atau bahkan ingin tahu 'apa sih isinya?'. Saya yakin semua tahu kan dengan karya bang 'Tere Liye'?
Faktor ke-tidak sukaan saya waktu itu sebenarnya karena temanya yang sangat sederhana dan saya pikir paling sama saja dengan novel-novel 'sinetron' lain yang hanya bercerita kehidupan sehari-hari yang bisa menghabiskan setengah halaman hanya untuk menggambarkan 'saya sedang duduk dan menikmati pemandangan'. Hal yang sangat berbeda ketika kita membaca novel-novel terjemahan yang rata-rata temponya cepat dan bisa berpindah-pindah dalam satu halaman.
Juga dengan quotes-nya yang terkadang terlalu blak-blakan dan sangat tegas apalagi kalau yang 'pas' banget dengan hal kita saat ini. Hewm, maknyes dah! Lalu??
Dalam hal ini benar adanya 'tak kenal maka tak sayang'. Pun benar juga "jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan atau menyukai sesuatu secara berlebihan'.
Entah apa awalnya, saya mulai suka membaca postingan-postingan beliau di page, intip-intip bukunya, dan seperti bunglon, hati saya langsung berkata, 'wah ini keren banget!'.
Kata-katanya memang sederhana, bidikannya memang semua umur dan keluarga sehingga dibuat sesederhana mungkin agar pesannya sampai kepada pembaca. Intinya, ada ciri khas tersendiri dan tulisannya punya orientasi positif yang mengikuti trend apa yang sedang marak dan perlu diluruskan. Sangat terkesan dengan prinsipnya 'tulislah apa yang perlu orang lain baca, bukan apa yang orang lain suka'. Menjadikan menulis sebagai sarana untuk tujuan menasihati dalam kebaikan. Baik, bagus, dan tegas yang mungkin tidak semua orang suka dengan cara ini. Yang pasti, setiap penulis punya ciri khas tersendiri yang membuat tulisannya mengena dan dicintai oleh pembacanya dan membuatnya selalu ditunggu-tunggu.
Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.
Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.
Sekilas saja untuk gambaran,,, ini murni pendapat versi saya..
Gaya tulisan kang Tasaro itu meledak-ledak, mungkin dilatar belakangi profesi beliau yang dulunya jurnalis. Dan temanya selalu berbeda. Hari ini menulis tentang sejarah, besok komedi, lalu kisah cinta. Segar dan cerdas. Seperti Salad.
Kalau bang Andrea, kata-kata seperti telah menyatu di lidah, tangan, dan fikirannya. Tanpa banyak polesan menulis seperti memang mengalir di darahnya. Bahasanya unik, khas, dan 'uuuhhh'. Saya sangat suka filosofi kopinya bang Andrea. Kira-kira perlu pengamatan berapa lama coba untuk menyimpulkan seperti itu? Atau pernahkah kita tertarik memperhatikan hal-hal sederhana dikeseharian kita? Cita rasa bang Andrea itu seperti Rendang, legendaris, dalam, dan Indonesia banget.
Nah, kalau bang Tere? karena saya penggemar baru, dan belum menamatkan satu bukupun karya beliau, buat saya bang Tere seperti obat. Pahit, tapi memang harus diminum. Karena apa yang disampaikan memang apa adanya, blak-blakan, dan 'plash!'
Hahay, tujuan saya menulis ini bukan ajang promosi penulis, karena tidak ada yang mensponsori tulisan ini tapi titik tekannya pada : Hal apa yang kita tidak sukai bisa jadi suatu saat kita bela mati-matian begitu juga hal yang kita sukai bisa jadi tidak ingin kita lihat lagi setelah itu. Dan tentu saja kaca mata yang kita pakai untuk menilai mana yang baik dan buruk, yang kita suka atau tidak, haruslah kaca mata yang dibuat dari ilmu Al Qur'an dan Hadits. Wallahu a'lam.
,,^_^,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar