Tampilkan postingan dengan label tasaro dan andrea di singapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasaro dan andrea di singapura. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2013

My Two Top Writer

Ini postingan kang Tasaro tentang pertemuannya dengan penulis 'Laskar Pelangi' bang Andrea Hirata :

Kawans, yang mengikuti berita dan dunia maya, mungkin sempat menyimak kontroversi lelaki di bawah ini. Saya ingin bercerita, tiga hari saya dengan dia, di Singapura, sisi lain yang tak terbaca, karena kebanyakan orang memahami dia dari jarak yang jauh atau melalui media semata.
Bahwa setiap orang punya titik rentan. Baik dalam berbicara, mengungkapkan siapa dirinya, membahasakan tubuhnya, dan lain-lain, siapakah yang tidak? Tapi saya ingin bercerita bagaimana tiga hari itu mengubah, menambah, dan menyalakan sesuatu dalam diri saya.

Saya ke Singapura sebenarnya hanya karena diajak oleh Chief Editor Bentang Pustaka, Mas Imam Risdiyanto. Mungkin dia sebal karena Muhammad 3: Sang Pewaris Hujan belum juga bisa kita luncurkan. hehehe...jadi saya diajak menengok Singapore's Writer Festival yang di acara ini, Bang Andrea Hirata menjadi pembicara.

Lalu berangkatlan kami. Cerita perjalanannya menjadi hal lain yang banyak memberi inspirasi. Tapi, agar kisah kita fokus, saya gerakkan alurnya langsung ke malam Singapore's Writer Festival di Art House yang prestisius itu.
Tiketnya 25 Dollar, Sodara-Sodara...itu sekitar 200 ribu kuranglah. Sampai di sini juga saya sudah mak "DEG". Itu bule-bule, muka india, melayu, sampai Tionghoa, antre masuk ruangan bertarif lumayan, untuk mendengarkan seorang Indonesia bercerita tentang kampung halamannya.
Maka masuklah kami. Film Laskar Pelangi diputar lagi. Dulu sewaktu menonton saya merasa terharu, tapi kemarin, di Art House Singapore itu, saya benar-benar menahan tangis habis-habisan. Mungkin bukan karena filmnya semata, tapi oleh karena apresiasi penonton yang tertawa. menangis, sesuai adegan yang tertayang. Sobat, itu perasaan yang sangat dalam. Ini bukan lagi Andrea Hirata, Mira Lesmana, atau Riri Riza...ini INDONESIA.
Ketika film selesai ditayang dan tepuk tangan memenuhi ruangan, Bang Andrea muncul di pintu. Saya tidak menyapa buru-buru. Karena saya punya sedikit kenangan asam dengan dia...hahahahah.... Rumus saya, mendekat kalau memang beliau ingin saya mendekat. Tak lah untuk sok dekat-dekat. Lalu diskusi dimulai. Pertanyaan tak habis-habis. Moderator yang ber Singapura English tak harus bekerja keras. Pertanyaan sambung menyambung.
Sampai kemudian, sebuah pertanyaan seorang Bule soal pengaruh Laskar Pelangi terhadap sastra Indonesia dijawab oleh Bang Andrea dengan jawaban yang bagi saya cukup mengejutkan. Dia tidak sibuk dengan bukunya sendiri. Dia, secara implisit dan eksplisit secara berurutan, menyatakan Laskar Pelangi hanya satu di antara karya hebat anak-anak negeri. Lalu dia menyebut sederet penulis Indonesia yang dia banggakan. Sekali lagi ini bukan lagi tentang nama-nama...ini tentang INDONESIA.

Usai acara itu, agak larut, saya berpikir, kami segera kembali ke hotel. Lalu dua hari sisanya akan kami isi dengan bernorak-norak keliling Singapura. Foto2 di sana-sini. Mencicipi MRT yang didambakan Jakarta. Ke Universal Studio dan mejeng di patung Singa berlatar belakang Marina Bay. Tapi tidak....

Bang Andrea dan manajernya yang juga seniman bersuara "astaga": Meda mengajak kami ngopi di Esplanade, gedung beratap "durian" yang megah dan prestisius sebagai hadiah SIngapura terhadap seni itu.
Lalu peribcangan itu dimulai. Meski saya tidak terlau mengikuti keguncanagan sastra belakangan ini terkait statment Andrea di media massa, saya tahu sedikit. Kesepakatannya kemudian adalah: penulis teruslah berkarya, biarlah kemudian karya itu menjadi milik publik dan diapresiasi sebagaimaa mestinya. Sekeras apa pun, kritik selalu membawa manfaat. Saya setuju, karena saya sangat berpengalaman tentang itu. De Javu dengan novel Muhammad yang pernah membanting saya benar-benar....dan semua kembali ke relnya ketika saya memilih diam.

Hal yang lebih menarik malam itu adalah energi Bang Andrea ini....energi yang tersalurkan. Sesuatu yang kemudian mengubah pandangan saya tentanG Agnez Monica (HAAA???)

Bahwa, sudah waktunya, para pegiat seni Indonesia memunculkan diri ke dunia. Ketika publik dunia sudah terang-terangan menghargai karya kita, mengapa kita harus malu-malu?
Andrea mengatakan itu sembari memperlihatkan terjemahan terbaru Laskar Pelango oleh Random House....penerbit Asutralian yang ASTAGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA itu.
 Itu bisa jadi sebuah adegan pamer kedigdayaan jika saya berpikir negatif. Tapi, hal yang menggejolak di dada saya sama dengan apa yang ke luar dari lisan Bang Andrea,"Saya kangen ada penulis Indonesia lain yang menempuh jalur ini, Tasaro."

Ketika kami berbincang di tempat yang menawan itu, di seberang Sungai Singapore yang membentangkan pusat kota Singapore dengan keindahannya, buku Laskar Pelangi telah resmi terbit dengan 78 bahasa, 78 negara. Lalu apa yang membuat kita tidak berkata "Luar biasa!" ?

Ini bukan lagi tentang Andrea...sebab, buku itu berbicara tentang Indonesia. Hari ini, Andrea sedang membincangkan "INDONESIA" di Australia. Dilanjut Jerman, Bulgaria, Portugal, dan beberapa negara lain yang saya bahkan tak menghafalnya....
Bagi saya, ini sudah bukan lagi perihal Andrea...ini tentang negeri yang lebih sering kita caci sendiri. Lalu, sebuah buku berjudul Laskar Pelangi mengambil "TOA" dan berteriak ke negeri-negeri yang jauh bahwa ada keindahan di tanah kita. Ada semengat, ada Bu Muslimah, ada mimpi....ada Laskar Pelangi.

Keesokan harinya, kami lagi-lagi janjian di Esplanade. Bang Andrea diwawancara media lokal. Sesuatu yang lagi-lagi membuat saya berdegup jantung. Indonesia menemukan pengeras suaranya. Kami berjalan-jalan ke banyak tempat hari itu. Pergi ke perpustakan Esplanade. Di situs saya cukup syok karena buku-buku saya ada di deretan rak-raknya. Lalu ke Kampung Arab dan shalat di Masjid Sultan. Makan masakan minang dan minum kepala muda, ketika segerombolan orang lokal, para pelancong dari Indonesia, sampai warga permanent resident yang berhenti sejenak dan meminta foto bersama dengan Andrea.

Saya sukarela menjadi juru foto dadakan. Bagi saya...ini bukan sekadar Andrea....ini...INDONESIA.

Hari terakhir, hari ketiga adalah puncak kebanggaan saya. Bang Andrea menyertakan saya ke rombongan yang diundang sokolah putri Cedar, salah satu sekolah SMP terbaik se Singapura. Kami mengisi sesi pelatihan menulis di sana. Saya dan Mas Imam dipaksa maju dan berbincara. Dasar banci panggung...hahaha...saya memang suka mengajar. Jadilah asyik sesi itu. Inggris pas-pasan, Melayu ipin-upin, dan Indonesia kami pakai untuk menyampaikan apa yang saya sampaikan juga di kelas malam minggu kita.

Hasilnya.....murid2 cerdas itu sangat gembira...guru-guru mereka pun bersuka cita...Dan...apalah lagi yang kita sampaikan jika bukan tentang Indonesia?


 Terlalu singkat cerita ini, tapi saya ingin berbagi optimisme kepada Kawans semua, Indonesia adalah sebuah permata. Lalu, dunia yang semakin mengglobal ini adalah panggung besar yang menunggu karya-karya kita....siapa tahu kita memulainya dari kelas maya ini...dari kesungguhan dan niat baik kita. Amin.



Sabtu, 26 Januari 2013

Resume Kelas Menulis 5+1 dg Tasaro GK, 26 januari

KONEKSITAS



nah, kita lanjutkan obrolan minggu lalu yaaa....Jadi dalam materi #5plus1 Kita, 5 elemen sudah kita bahas ya...semoga juga dilatih oleh kawans di rumah...Sekarang kita mau membahas elemen "+1" nya... Siaaap?

Kalau lima elemen sebelumnya adalah aplikasi dari lima pancaidera, maka elemen "+1" adalah pengikat seluruhnya yakniiiiiiiii....indera keenam ...hihihi...kira-kira apa itu?

kami menyebutnya......"koneksitas"

Perhatikan deh, bagaimana penulis-penulis terkenal membuat naskah mereka yang tampak "sederhana" kok keren bangeeets...kadang2 kita malah bingung, apa ya, yang bikin bagus.

Nah, selain berhubungan dengan lima indera, koneksitas ini memperlihatkan seberapa banyak buku yang dibaca oleh penulis, berapa film yang ditonton, berapa luas pengetahuannya.

kita nih, mau menceritakan kisah remaja sekarang, coba deh. rata-rata kalo kisah remaja pan hadeeeuh....bintang sekolah pacaran ma jago basket, saingan ama anak yang punya yayasan.

Nah, kalau kita nih penulis yang punya kemampuan "koneksitas" bagus, mau cerita seklise ini pun akan jadi menarik. Ceritanya dengan memasukkan data-data yang tidak biasa ke dalam alur cerita, sehingga konflik di antara si Jago Basket, bintang Sekolah, dan anak Ketua Yayasan jadi lebih menarik.

Ingat "ADA APA DENGAN CINTA?"

hayooo....kira-kira...elemen apa di luar konflik khas remaja yang muncul dalam cerita AADC dan membuat cerita itu tampak jadi kereeeen bangets?

elemen dunia sastra, politik

pintarnya script-writer masukin Aku-nya Chairil, tokohnya AADC jadi cerdas dari perspektif sastra

Jadi, unsur sastra menjadi "alien" dalam kisah cinta remaja itu dan jadi "SSSSSSSSSSESUATUK" bandingkan dengan sinetron2 atau FTV yang bertema serupa, tapi unsur "koneksitasnya" justru soal harta, dll....contoh : Bawang Merah Bawah Putih (alamak jadulnya)

Nah, "HUKUM" koneksitas itu tidak hanya berlaku dalam alur dan unsur cerita yang memperkaya cerita, tapi juga sebaiknya kita masukkan dalam kalimat.....hayoooo mau contoh?

CONTOH KOMPARASI

PENULIS BIASA

Sari mendatangi kios kelontong itu pagi tadi, membelanjakan seluruh gaji suaminya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

PENULIS ber-KONEKSITAS

Sari pening kepalanya, ketika Bu Maman, pemilik kelontong tetangga rumahnya, menyorongkan sekeresek belanjaan berisi sekilo cabai, lima liter beras, dan tiga ikat sayuran. Cabai besar Rp1000 rupiah per satunya. Itu menghabiskan hampir setengah gaji suaminya...

COBA BANDINGKAN KAWANS.... siapa yang bisa menengarai nilai koneksitas di contoh kedua?
Kira-kira, apakah semua penulis tahu berapa harga CABAI BESAR hari ini? atau hanya penulis yang melakukan KONEKSI? yang ngecek harga ke Warung? yang Googling, atau setidaknya nanya ibunya? Heheheeh

PENULIS BIASA: Seorang penulis seperti Angga, sepanjang hidupnya lebih suka kesendirian, membaca banyak buku, menuliskan idenya ke dalam tulisna.

PENULIS BERKONEKSITAS: Sari memahami kehidupannya sebagai penulis seperti ibu yang mengandung bakal anaknya. Setiap hari memberinya gizi yang baik, sabar menunggu si jabang bayi menyempurna di dalam rahimnya.

HAYOOO.... apa bedanya? Ada nilai KONEKSITAS apa di dalam naskah PENULIS BERKONEKSITAS?

pertanyaannya, apakah SEMUA PENULIS mengetahui bagaimana proses janin bertumbuh di dalam RAHIM? Ataukah hanya penulis yang membaca buku tentang proses kehamilan, Googling tentang kehamilan, atau bertanya kepaa ibunya? hayooo.....INILAH kekuatan KONEKSITAS.....menghubungkan dua, tiga data yang secara langsung tidak berhubungan, tapi punya kemampuan untuk memperkaya naskah, memberi nilai plus kepada PEMBACA. asyik, ya?

jadi mau kisah cinta, sejarah, cerita anak, apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa pun...dengan KONEKSITAS, nilanya akan lebih tinggi dibanding kisah biasa.
Anne Adzkia Indriani mau tanya, bagaimana tipsnya kita bisa menciptakan koneksitas yg tepat? misalnya pd contoh ttg penulis tadi. kok kepikiran menganalogikannya dgn kehidupan rahim? aku gak kepikiran sejauh itu ;p
Anne Adzkia Indriani: nah, itulah kenapa tadi, KONEKSITAS, hanya dimiliki penulis YANG BANYAK BACA.....BANYAK NGOBROL, BANYAK JALAN-JALAN....ketika kita tahu rasanya menulis, terus kita tahu proses janin dalam perut, kita akan menemukan persamaan. SAMA-SAMA nggak bisa dipaksain lahir sebelum waktunya SAMA-SAMA butuh asupan GIZI yang baik...SAMA-SAMA bertumbuh dengan waktu....nah, KLIK...langsung deh...kita sandingkan.

supaya tak berkesan laporan ilmiah gimana ya mas?

GAMPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG! bayangin aja kita lagi ngegosip...hahahaha. Coba deh...kalo lagi ngegosip kan lompat-lompat tuh....gak kerasa kita nih menghubungkan banyaaaaaaaaaaak hal dalam satu bahasan. haha...tapi mesti dikendalikan biar tidak ke mana-mana.

kapan saat koneksitas muncul kapan ga perlu mas ?

pertanyaan baguuuus.ss......jadi koneksitas itu untuk memperkaya naskah, bukan mendominasi...jadi kita menambahinya sebagai bonus....jangan diseluruh tubuh naskah...cukup pada hal2 yang tidak biasa dan tidak diketahui kebanyakan pembaca saja.

ksimpulannya, koneksitas itu sperti membuat jaringan sebanyak mungkin untuk menggambarkan satu hal?

boleh dibilang begitu...tapiiii jangan pula kebanyakan...jadi buat bonus aja bagi pembaca...jangan habis pulak satu paragraf sama bonus...nanti istilahnya bukan bonus lagi dooong.

atau boleh dikatakan bahwa koneksitas adalah kemampuan penulis untuk memjaga keyterkaitan antar unsur- unsur dalam cerita, dan tidak menjadikan unsur itu sekedar tempelan belaka, bagaimana menurutmu mas?

Asyeeeeeeeeeeeeek......bener gitu..jangan jadi TEMPELAN...harus menyatu.....tidak terasa oleh pembaca.

jadi, kita menambahkan "koneksitas" ini pada bagian-bagian yang termasuk ke dalam cerita atau tambahan sebagai 'pemanis' aja? *apa ya istilah dalam kepenulisannya*

BONUS...kalo pemanis...nanti jadi tempelan, Mbak...jangan juga. Bedanya BONUS sama TEMPELAN, ada pada keseriusan pembaca mendalaminya...memberi informasinya secara utuh kepada PEMBACA.

boleh minta contoh yang bentuknya tempelan, Mas?

Sari menyetel TV dan menyadari gambar di layar plasma itu tak sempurna. Seperti efek CMYK tak sempurna pada mesin pencetak kertas....(udah...si penulis tidak menjelaskan lagi apa itu CMYK...bagaimana kinerja mesin cetak)

KAWAAAAAAAAAAAAAAANS!!!!!!! Bisa diterima yaaaaa? Hadeeeuh...#5plus1 udah tersampaikan semua....kuasai ini saja, tulisan kita akan MANTAP DIJE bener....naaaaaaaah...karena malam ini banyak temen2 dari Tasaro Gk Dua tidak bisa menyimak acara kita, mulaiminggu depan, kita pindah channel ke Tasaro GK Juru Dongeng yaaaaaaaaa...biar semua bisa gabung....nah minggu depan tema kita PENGALAMAN, RISET, dan IMAJINASI....pukul 20:00 teng kita mulai....

by : Hairi Yanti