Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 November 2014

Something from Kenshin




Baru-baru ini dirilis serial live action dari Samurai X yang ‘Wow’ banget. Meskipun biasanya film yg diadaptasi dari komik pasti menimbulkan kritik dari penikmatnya karena kurang merasakan ‘feel’ yg greget, atau ada beberapa scene yg berubah dari cerita asal. Tapi terlepas dari itu semua, film ini sukses menggiring emosi dan imajinasi penonton ke era samurai yg menyeramkan.
Koreo pedang yg disuguhkan film ini begitu memukau. Kecepatan dan kelincahan permainan pedang dari para samurai membuat mulut menganga. Zaman itu memang pernah ada.
Dari tiga serial yang saya tonton, hal yg paling mengharukan ketika sang Guru dari pembunuh legendaris muncul dan turut andil dalam menyelamatkan dan membantu sang ‘Battosai’ untuk mengalahkan musuhnya. Sebuah jalinan emosi yg unik dan mengharukan. Entah kenapa tanpa sadar saya menitikkan air mata.
Sebuah pertanyaan terbersit. ‘Kenapa ada murid yg luar biasa hebat?’
Jawabannya hanya satu. Karena ada guru-guru hebat di belakang mereka. Yang mendidik dengan hati. Saya benar-benar spechless dengan metode sang Guru ketika mengajarkan jurus ‘High Heaven’. Dialog-dialog yang membangkitkan jati diri. Ketegasan, ketulusan, ketajaman. Saya selalu mengagumi tiga perpaduan itu. Seseorang berjiwa petualang, petarung, tapi lembut hati. Cool!
Apalagi pada adegan ketika Kenshin telah menyelesaikan pelajaran jurus terakhirnya, dan berpamitan pada sang Guru untuk menghadapi musuh yg sangat kuat. Entah dia sanggup menghadapinya atau tidak. Dari semua sakit, perih dan kedisiplinan yang sudah dia pelajari. Dari semua pengalaman dan perjalanan yg ia lalui bertahun-tahun. Ini akan menjadi yg terakhir dan terberat.
Gurunya hanya berpesan, “Stay Alive.” Melepas murid satu-satunya yg telah mewarisi semua ilmunya. Melepas seseorang yg telah ia tempa sejak belia. Dengan raut wajah yg tak bisa diartikan. Dengan berat hati. Sukses sudah dia meluncurkan air mata saya. So sweet sekali.
Jurus High Heaven, kata kuncinya adalah bertahan hidup apapun yg terjadi dan jangan pernah berfikir menyerah dan menganggap waktu kematian telah datang. Bertahan hidup. Nyawamu sangat berharga.
Terkadang jurus-jurus tingkat tertinggi hanyalah prinsip pelengkap yg merupakan aplikasi, bukan teori. Karena sebanyak apapun teori, dia tetap perlu diasah dengan pengalaman dan kematangan.
Menonton film ini membuat saya sadar, tidak ada pencapaian apapun yg instan. Ke-instan-an tak pernah menjanjikan apapun. Perlu darah, keringat, luka, jatuh untuk bisa menjadi ‘tangguh’.
Semangat dan kegigihan yg tak kenal menyerah.

Mengapa tak lagi di zaman ini kita temui murid-murid yg tangguh?
Karena semakin kesini guru-guru yg tulus sudah hampir punah. Niat yg mulia tergadaikan dg gaji. Tanpa peduli apakah muridnya telah menyerap apa yg ia sampaikan.
Ilmu yg terucap hanya bersumber dari lisan. Bukan lagi komunikasi hati ke hati. Padahal prinsipnya, apa yg dari hati, akan sampai ke hati.
Kita bisa lihat betapa zaman dahulu hidup para ilmuwan, ulama besar. Tujuan akhir pencarian ilmu mereka bukan selembar ijazah yg dilaminating, tapi bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam membentuk peradaban.
Ah.. betapa rindunya kita pada pencari ilmu,,,
Betapa rindunya pada sosok guru yg tulus dan bijak,,,
Semoga suatu saat, rindu itu terobati.

Jumat, 10 Mei 2013

Sholat Jum'at

Ini kisah benar yang saya alami sendiri. Ketika siang sudah membara, pulang kuliah, lapar pasti tidak tertanggungkan. Celingak-celinguk cari makan siang, akhirnya bertemu deretan gerobak yang parkir di sekitar masjid. Mulut sudah hendak memesan, perut sudah teriak segera, lalu teringat hari ini jum'at. Ingat bahwa tidak boleh berjual beli, akhirnya menunggu. Takbir di masjid sudah dimulai. Sedang abang penjual ini masih sibuk dengan para pembelinya. Ketika dia bertanya apa yang ingin kami beli, kami jawab akan menunggu, silahkan sholat jum'at dulu, karena sudah lewat satu rokaat. Sang abang ini hanya tersenyum sambil merasa tidak enak hati, dan kami duduk. Berharap dia segera berlari ke masjid yang hanya 3 meter kurang barangkali. Imam sudah rukuk di rakaat kedua dan dia masih merapikan uangnya yang berceceran di rombongnya. Ketika akhirnya dia berlari ke masjid, jamaah sudah duduk tahiyat terakhir, hendak salam. Dan tidak sampai 5 menit dia kembali dan tidak jadi sholat jum'at lantaran sudah selesai.

Kami hanya geleng-geleng kepala. Ya Rabb, ini salah kami juga yang tidak menyuruhnya segera berlari dan meninggalkan duit-duit itu. Melihatnya lalai di depan mata tanpa menegurnya. Sungguh betapa berat dosa meninggalkan sholat jum'at bagi laki-laki tanpa alasan syar'i. Sungguh rejeki itu tidak akan lari, hanya untuk sholat yang tidak sampai setengah jam. Semoga kamipun termasuk yang diingatkan ketika lalai.


Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, 
maka Allah akan mengunci mati hatinya.” 

Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15072), Abu Dawud (no. 1052), at-Tirmidzi (no. 500), an-Nasa-i (no. 1369), Ibnu Majah (no. 1125). Dan at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan.”