Seperti layaknya setiap buku yang tertulis, selalu ada pembuka entah itu bernama muqaddimah, kata pengantar, selayang pandang atau apa saja. Dan lazim pula ada penutup yang berisi kesimpulan bertujuan untuk memberi gambaran universal tentang inti sebuah buku.
Maka Al Qur’an dengan kedudukannya sebagai kitab suci paling utama, dan undang-undang berbahasa indah, juga buku sakti dari kalam Sang Pencipta Alam pun dibuka dengan tujuh kalimat singkat yang berfungsi ganda sebagai pembuka sekaligus kesimpulan. Tak panjang kata tetapi dalam makna.
1. Kalimat ini mungkin sederhana, familiar, dan jika diperhatikan dalam setiap buku, sebelum ada satu hurufpun diketik kalimat ini pasti sudah bertengger dengan berupa-rupa bentuk yang cantik, entah disudut, tengah, atau di bagian atas sebelum kalimat syukur dan pujian. Tata cara ini diadopsi oleh semua ummat dari Al Qur’an yang terlebih dahulu mencantumkan ‘Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’ dalam baris pertama di pembukaan suratnya.
2. Ketika seorang penulis memulai muqaddimah maka hal pertama yang akan dia tulis adalah ucapan syukur kepada Rabbnya yang telah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan buku yang ditulisnya. Tapi karena ini adalah Kitab yang Mu’jiz maka redaksinya menjadi pembaca ‘memuja’ Sang Pemilik Kalam dengan pujian yang sempurna.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
3. Memperkenalkan siapa dan seperti apa Rabb semesta Alam itu? Maka (Ar-rahmaan) dan (Ar-rahiim) adalah nama dan sifat Allah yang menggambarkan bagaimana Dia yang begitu berkuasa dan berkehendak menyayangi hambaNya, mencukupkan rezeki, memfasilitasi sarana hidup gratis beserta tuntunan ‘cara hidup bahagia’ dan ‘selamat di akhirat’, bahkan jika yang diberi nikmat bersikap kufur, meniadakan, sombong dengan dirinya yang begitu lemah, lihatlah! Allah masih memberinya kemewahan dalam kedurhakannya. Allah itu Ar-rahmaan kepada seluruh makhluknya dan Ar-rahiim kepada hambaNya yang beriman.
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Dia adalah Rabb yang berkuasa ketika tak ada lagi yg bermanfaat di hari penghisaban kecuali agama yang melekat pada diri setiap orang. Hari ini dinamai dengan berupa nama sebagai penggambaran. Maka ad-Din (yaumid diin) yang bermakna ‘taat’ menunjukkan bahwa pada hari itu ketaatanlah yang paling menguntungkan pemiliknya. Ad-Din yang bermakna ‘agama’ berarti agama yang diterima hanyalah Islam saja.
Yang menguasai hari pembalasan.
5. Jika mengikuti tata bahasa standard, maka redaksi kalimat ayat ini berbunyi : Kami menyembah hanya kepadaMu (Subjek-Predikat-Objek). Namun jika dikedepankan apa yang seharusnya dibelakang dan berbunyi : Hanya kepadaMu kami menyembah, maka dalam balaghoh ini adalah pengecualian, pengukuhan, dan penetapan bahwa yang berhak diibadahi dan yang haq adalah Allah semata dan sesembahan selainNya adalah bathil. Jelas, pasti, kokoh, tanpa basa-basi, tetapi cantik dan meresap di hati. Dan begitu pula kaidah ini bekerja pada kalimat setelahnya (Dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan).
‘Kami’ adalah hamba-hambaMu yang tak mampu hidup sendiri, dan kadar keimanan kami juga naik dan turun maka kami butuh beribadah secara berjamaah agar ada yang mengingatkan kami ketika futur dan tak bersemangat. Kami menyembah dan meminta bersama, bukan aku seorang diri.
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.
6. Kami meminta pertolongan kepadaMu ya Rabb, tolong tunjukkan, tolong takdirkan, tolong mudahkan. Tolong hantar dan ridhoi kami di jalan yang lurus, aman, dan pasti. Jalan hidup yang kau janjikan keselamatan dan kebahagiaan bagi yang berjalan di atasnya.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
7. JalanMu yang dulu ditaati oleh para NabiMu, lalu yang membenarkan agamaMu, yang rela mati di jalanMu, dan yang mengamalkan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Tunjuki, takdirkan, dan mudahkan ya Rabb.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Jangan biarkan kami tersesat di jalan yang Engkau murkai. Jalan kaum yang tertulis oleh tinta hitam dalam semua kitab suci (Yahudi). Jangan pula kau biarkan kami tersesat dari tuntunan pasti yang telah Kau wahyukan. Seperti nashrani yang mengubah kitab layaknya mainan.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.
especially for miefta el-jann n' ulia zakira,,
lama gak nulis sswt yg butuh rujukan,,
ini bnar2 krena klian,,
Maka Al Qur’an dengan kedudukannya sebagai kitab suci paling utama, dan undang-undang berbahasa indah, juga buku sakti dari kalam Sang Pencipta Alam pun dibuka dengan tujuh kalimat singkat yang berfungsi ganda sebagai pembuka sekaligus kesimpulan. Tak panjang kata tetapi dalam makna.
1. Kalimat ini mungkin sederhana, familiar, dan jika diperhatikan dalam setiap buku, sebelum ada satu hurufpun diketik kalimat ini pasti sudah bertengger dengan berupa-rupa bentuk yang cantik, entah disudut, tengah, atau di bagian atas sebelum kalimat syukur dan pujian. Tata cara ini diadopsi oleh semua ummat dari Al Qur’an yang terlebih dahulu mencantumkan ‘Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’ dalam baris pertama di pembukaan suratnya.
2. Ketika seorang penulis memulai muqaddimah maka hal pertama yang akan dia tulis adalah ucapan syukur kepada Rabbnya yang telah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan buku yang ditulisnya. Tapi karena ini adalah Kitab yang Mu’jiz maka redaksinya menjadi pembaca ‘memuja’ Sang Pemilik Kalam dengan pujian yang sempurna.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
3. Memperkenalkan siapa dan seperti apa Rabb semesta Alam itu? Maka (Ar-rahmaan) dan (Ar-rahiim) adalah nama dan sifat Allah yang menggambarkan bagaimana Dia yang begitu berkuasa dan berkehendak menyayangi hambaNya, mencukupkan rezeki, memfasilitasi sarana hidup gratis beserta tuntunan ‘cara hidup bahagia’ dan ‘selamat di akhirat’, bahkan jika yang diberi nikmat bersikap kufur, meniadakan, sombong dengan dirinya yang begitu lemah, lihatlah! Allah masih memberinya kemewahan dalam kedurhakannya. Allah itu Ar-rahmaan kepada seluruh makhluknya dan Ar-rahiim kepada hambaNya yang beriman.
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Dia adalah Rabb yang berkuasa ketika tak ada lagi yg bermanfaat di hari penghisaban kecuali agama yang melekat pada diri setiap orang. Hari ini dinamai dengan berupa nama sebagai penggambaran. Maka ad-Din (yaumid diin) yang bermakna ‘taat’ menunjukkan bahwa pada hari itu ketaatanlah yang paling menguntungkan pemiliknya. Ad-Din yang bermakna ‘agama’ berarti agama yang diterima hanyalah Islam saja.
Yang menguasai hari pembalasan.
5. Jika mengikuti tata bahasa standard, maka redaksi kalimat ayat ini berbunyi : Kami menyembah hanya kepadaMu (Subjek-Predikat-Objek). Namun jika dikedepankan apa yang seharusnya dibelakang dan berbunyi : Hanya kepadaMu kami menyembah, maka dalam balaghoh ini adalah pengecualian, pengukuhan, dan penetapan bahwa yang berhak diibadahi dan yang haq adalah Allah semata dan sesembahan selainNya adalah bathil. Jelas, pasti, kokoh, tanpa basa-basi, tetapi cantik dan meresap di hati. Dan begitu pula kaidah ini bekerja pada kalimat setelahnya (Dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan).
‘Kami’ adalah hamba-hambaMu yang tak mampu hidup sendiri, dan kadar keimanan kami juga naik dan turun maka kami butuh beribadah secara berjamaah agar ada yang mengingatkan kami ketika futur dan tak bersemangat. Kami menyembah dan meminta bersama, bukan aku seorang diri.
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.
6. Kami meminta pertolongan kepadaMu ya Rabb, tolong tunjukkan, tolong takdirkan, tolong mudahkan. Tolong hantar dan ridhoi kami di jalan yang lurus, aman, dan pasti. Jalan hidup yang kau janjikan keselamatan dan kebahagiaan bagi yang berjalan di atasnya.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
7. JalanMu yang dulu ditaati oleh para NabiMu, lalu yang membenarkan agamaMu, yang rela mati di jalanMu, dan yang mengamalkan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Tunjuki, takdirkan, dan mudahkan ya Rabb.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Jangan biarkan kami tersesat di jalan yang Engkau murkai. Jalan kaum yang tertulis oleh tinta hitam dalam semua kitab suci (Yahudi). Jangan pula kau biarkan kami tersesat dari tuntunan pasti yang telah Kau wahyukan. Seperti nashrani yang mengubah kitab layaknya mainan.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.
especially for miefta el-jann n' ulia zakira,,
lama gak nulis sswt yg butuh rujukan,,
ini bnar2 krena klian,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar