Rabu, 24 Juli 2013

Ramadhan kali ini,,

Ramadhan kali ini rasanya benar-benar sesuatu banget,,,
Diluar keberkahan berlimpah yang dibawa bulan seribu bulan,, rasanya nikmat tak terperi ketika bisa berkunjung ke salah satu negeri yang bernafaskan Islam.
Namun yang istimewa bukan bepergian itu sendiri tetapi kejadian-kejadian yang terjadi. 

1. Seberapapun kita mempersiapkan suatu hal, dengan amat sangat matang, tetap kita hanya hamba yang berikhtiar yang segala keputusan hanyalah di tangan-Nya. Saya sendiri yang memang hoby banget travelling udah prepare segala hal sampe yang terkecil setiap mau bepergian. Bikin check list agar tak ada yang tertinggal. Yang terpenting kondisi badan yang fit dan kaki direparasi dulu sebelum dibawa jalan jauh. 
Qodarullah, hari ke-empat di Malaysia cacar mengobrak-abrik segala rencana jalan-jalan. Manusiawi saya kesal, menggugat, kenapa harus sekarang??
Tapi dalam sayup-sayup, saya sadar semua ini sudah tertulis dan pasti ada hikmahnya. Bukankah ujian itu seperti tangga, jika sabar maka kita naik ke tangga berikutnya. Akhirnya saya suggesti pikiran bahwa apapun itu, tidak akan membuat saya menyerah. Sebenarnya ketakutan itu bukan kepada diri sendiri, hanya takut orang-orang sekitar tertular penyakit ini. Browsing singkat tentang cacar, akhirnya istirahat sehari, mempersiapkan perbekalan dan proteksi. Untungnya sudah terbiasa kemana-mana membawa masker, akhirnya saya kenakan masker rapat-rapat (karena virus cacar menyebar melalui udara dan sentuhan). At least, saya tetap menikmati keindahan Kuala Lumpur layaknya orang sehat. 
Pada akhirnya saya bersyukur, mungkin ini cara Allah mendidik saya untuk menghadapi hal-hal lain yang lebih berat di kemudian hari. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya. 

2. Sangat mudah mengucap kata ikhlas, tapi jika kita dihadapkan pada sesuatu yang membutuhkan ikhlas kita sedalam samudra, di detik-detik pertama, ikhlas 100% itu pasti bukan hal yang mudah. Baru-baru ini saya kehilangan benda kesayangan yang berharga bukan dari harganya (meskipun tidak bisa dibilang murah), tapi lebih kepada karena itu pemberian dari Ibu saya. Ketika tahu bahwa benda itu hilang, rasanya seperti kaget, sejenak lalu rasanya baru ada di tangan. Maha Kuasa Allah yang mampu mengambil apapun yang Dia inginkan dengan skenario yang tak pernah kita duga. Ada rasa 'seandainya', pun ada keyakinan 'aku harus menemukannya kembali'. Seakan-akan tak rela jika benda itu benar-benar hilang. 
Lagi-lagi termenung, betapa hebatnya para sahabat yang dahulu tak pernah berfikir dua kali merelakan hal-hal berharga mereka untuk Islam. Keluarga, harta benda, bahkan nyawa direlakan tanpa berfikir dua kali. Yakin bahwa hidup di dunia ini hanya butuh Allah saja. Ya Rabb, sungguh pantas mereka jika diganjar surga yang luasnya sejauh mata memandang dan dibawahnya mengalir sungai-sungai. 
Saya tersenyum akhirnya, mungkin saya tak lulus ujian keikhlasan di episode sebelumnya, maka dari itu sekarang harus remidi. Semoga kali ini lulus, agar segera naik tingkat. Barangkali jika benda itu di tangan saya sampai saat ini malah membawa mudhorot yang lebih besar lagi.

Ini bukan diary keluh kesah. Sekedar share, apapun yang kita hadapi dalam hidup kita, husnudzon (prasangka baik) kepada Allah itu perlu. Apapun yang Allah takdirkan, itu pasti baik. Bisa jadi itu teguran, ujian, atau penggugur dosa.

240713_02.20.ram_me_21

Minggu, 21 Juli 2013

Ritual 13 Juni -the story of my grandma n grandpa-

Jika ada seribu tetes peluh yang terkucur,,
Itu pasti peluhmu untuk sebelas anakmu,,
Jika ada seribu uban yang bersinar,,
Itu pasti karena khawatir akan masa depan keturunanmu,,
Wajahmu, senyummu, teduhmu,,
Walau berbilang masa telah dan akan terus berlalu,,
Auramu akan tetap lekat seperti adanya dulu,,
Bagiku, kaulah yang terhebat,,

Romantisme masa kini sudah seperti debu. Amat amat sangat mudah didapat, dangkal dan tak berharga. Terucap di lisan namun  hati beku tak bergetar. Pengorbanan pun tak beda pasal. Berbusa-busa berjanji akan berjuang demi bla bla bla, nyatanya kosong belaka. 
Cerita-cerita tentang generasi-generasi lampau membuka mataku esensi dari berbagai rasa itu sendiri. Contoh realnya kakek nenekku yang cintanya masih awet sampai beda dunia. Begitu beragam cara orang mengartikan, menyikapi, memaknai, dan memperlakukan cinta. Kisah ini murni bukan kisah romance, hanya semacam memoar '13 Juni' tentang sosok yang sangat penting buatku,, 
13 Juni 2010 lalu, Kakekku tercinta tutup usia,,

Begitu banyak kisah-kisah beliau yang baru terkuak setelah beliau tiada. Tak ada yang spesial sebenarnya dari kisah hidupnya. Hanya seorang anak yang terbiasa hidup keras sejak muda. Yang hatinya tertempa bagai baja. Seorang yatim yang hanya makan bangku SD atau SMP kala itu aku lupa. Dia terbiasa dan diharuskan bekerja jika ingin makan, yang berarti tidak bekerja berarti tidak makan. Bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Kala siang terik matahari membakar kaki yang tak beralas, melihat anak-anak lalu lalang berseragam dengan sepatu yang nyaman rasanya lebih panas membakar hati dibanding sengat matahari dan beban barang yang dipangkul. Mungkin pola itulah yang membentuk sosok setangguh beliau. Yang tetap kuat dihantam cobaan, tetap tawakkal dan tak putus yakin. Hingga akhirnya mengayomi kakak dan adiknya sampai akhir hayat. 

Mulanya pengantar barang adalah profesi, namun selanjutnya, menjadi hoby yang bagai candu bagi darah muda. Tiap kali ada job mengantar barang ke satu toko istimewa pasti beliau berbaris paling depan, semangat mengantar barang. Bukan karena bayarannya besar, tapi karena pemilik toko mempunyai seorang anak gadis yang ternyata separuh jiwanya. Beliau mengajarinya cahaya, membawa gadis itu lari dari kegelapan keyakinannya yang lampau hingga kini rela memeluk Islam. Membuatnya merindu hingga ke sum-sum tulang bahkan selepas tiga tahun ditinggal pergi. 

Mungkin kisah ini hanya terjadi pada pasangan-pasangan jaman dulu, bahwa istri harus duduk di depan suaminya ketika makan, menyiapkan dari nasi sampai air putih rapi di depan jarinya. Duduk sampai tetes terakhir dari gelasnya habis. Sungguh aku belum mendapati cerita macam ini sekarang. 
Ironisnya itu membuat nenekku tak bisa pergi kemanapun lebih dari jam makan. Pernah sekali waktu meminta izin tiga hari ke Jakarta yang hanya dijawab dengan bungkam. Hingga hari H akan berangkat, hanya meng'iya'kan dalam diam dan hanya diizinkan dua hari. Ketika baru tiba di Jakarta, telepon sudah berdering, "Kapan pulang? Tak bisa makan!" Tak ada ucap kangen atau sederet rayu, tapi itulah 'sesuatu' yang seakan bermakna "aku tak bisa tanpamu walau hanya sehari". 
Sampai akhirnya esok hari disusul ke Jakarta dan dijemput pulang. 

Itu hanya sedikit kisah uniknya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana rasa digendong dan dipangku olehnya, cara khasnya memukul kepalaku karena gemas, posisi duduknya setiap sore, caranya dia memanggil. 
Tahun ini, dia datang lagi di mimpiku, ketika aku sedang berlari di jalan yang begitu panjang. Dari jauh cahaya baju putihnya tampak, dan dia tersenyum sumringah. Dia melewatiku menyalamiku lalu pergi, hilang. 
Sungguh tanpanya, aku seperti boneka kayu yang tak tahu arah menganut apa saja yang diperintahkan. 
Sekarang dan sampai akhir, wejangan-wejangannya selalu terngiang-ngiang. 

210713.04.07,ram_yog_aury