Rabu, 07 Agustus 2013

my grandpa -2-


Semakin hari stelah kepergiannya kisah-kisah tentangnya bukannya lenyap, malah  semakin bermuculan. Membuat rindu seperti luka yg disiram air garam.

Siapapun  yg kutemui,, yang pernah mengenalnya,, pasti memberi cerita baru dan baru lagi tentangnya.
Sore hari seperti biasa kami menunggu buka selepas sibuk di dapur. Ibuku lalu mengenangnya, teringat dan bercerita.

1. "Jidi (kakek) kau itu, tak pernah absen puasa ayamul bidh. Kau tahu kan itu, puasa 3 hari tiap bulan tanggal 13,14,15 menurut kalender hijriah. Makanya lihat, badannya segar sampai tua. Anak muda sekarang mana, baru 20 tahun sudah layu macam daun salam."

2. "Besok kau cari suami, cari yg peduli keluarga. Jidi kau memang pekerja keras tapi setiap jam 5 sore pasti sudah di rumah. Cari uang cukup dari habis subuh sampai sore. Lepas tu, keluarga pun butuh dibimbing. Diminta nanti pertanggung jawabannya di akhirat. Dulu pamanmu ada yg kerja di hotel, design interior. Pulang jam 12 malam. Ketahuan jidi langsung kena marah, "Berapa milyar kau dapat duit kalau kerja lembur? Kasihan anak kau seperti tak ada ayah."
Kalau Jidi wajib setiap habis magrib di rumah, manggil satu-satu kesebelas anaknya, diseritin (cari kutu).
Biar laki-laki, Jidi telaten merawat anak perempuan, anak perempuan di rumah rambutnya  harus panjang, di rawat pakai lidah buaya biar tebal."
Ibuku masih semangat berapi-api. Adzan masih sepuluh menit lagi.

3. "Kau berapa tahun di pesantren? Jidi biar bukan orang pesantren. Tau agama sekedarnya. Tapi setiap hari lunas satu juz. Sholat malam pun bgtu, sehari bisa satu juz sambil baca karna tak hafal. Setiap jam 3 pasti bangun rutin. Kau tahu, orang mati itu membawa amal apa yg dia tekuni. Jidi itu meninggal jam 3 malam ya pas lagi sholat tahajjud.Makanya Jidi keras sama anak-anaknya, semua harus masuk pesantren, belajar agama, supaya tak bodoh agama."

4. " Dulu, Jidi kau itu perokok berat! Sehari bukan berapa batang lagi, bisa beberapa kotak. Sampai jidah (nenek) kau kalau belikan rokok satu bal besar, biar tak bolak-balik belanja. Keras, tau itu tak baik, tapi tetep. Sampai pas cari barang ke jawa, nginep di losmen. Tiba-tiba dadanya sesak, tak bisa nafas. Seperti mimpi buruk dikira bakal mati hari itu juga. Saat itu juga dia remas itu rokok di tangannya. Dibuang! Benci sebenci-bencinya. Yang ada dipikirannya, kalau mati tak mau mati karena rokok. Anak sebelas juga masih kecil-kecil. Siapa yang mau tanggung? Kalau ada perokok berat terapi berbulan-bulan untuk berhenti rokok, Jidi kau langsung saat itu juga berhenti total. Makanya kalau ada anak lelakinya dekat-dekat rokok langsung dipecut!
Seakan-akan buruknya sama seperti zina. Dekat saja tak boleh lebih apalagi."

5. "Makanya pas meninggal, kita ndak tau darimana orang tau kabar, banyaknya yg nyolatin dan ngantar ke kuburan. Padahal ndak diumumin di masjid, bukan pas waktu sholat dan bukan pas sholat jum'at. Tapi yg ngantar banyaknyaaa, sampai jalan penuh kyk ndak habis-habis orang yg jalan."
Adzan berkumanddang, kalau tidak, mungkin critanya masih berlanjut,,
Tapi kerinduan padanya seperti rumput liar yg tanpa disirampun tumbuh menyebar,,
Tapi begitulah hakikat rindu, semakin ditahan semain meluas, semakin menyiksa semakin bertambah rindu,,
Buatku, the treal man is my grandpa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar