Minggu, 19 Oktober 2014

Zakat Profesi Vs Wakaf

Akhir-akhir ini ada wacana baru bernama zakat profesi. Suatu penemuan baru dalam dunia fiqih yang dikemas untuk menyalurkan harta para konglomerat yang tak terbatas kepada fakir miskin yang setiap hari jantungan memikirkan apa kiranya yang bisa dimakan esok hari.
Zakat dengan ketentuannya 2,5% dinilai tidak bisa menjawab kesenjangan sosial yang kian hari kian jauh tak terjamah.
Sangat tidak adil kiranya pengusaha yang memiliki 12 mobil, 12 rumah, 12 apartemen, tidak mendapat tanggung jawab zakat apapun selain zakat fitrah dan zakat mal. Sedang harta mereka berlipa-lipat banyaknya dibanding zakat yang tidak seberapa. Sementara petani yang berterik-terik matahari, dengan kerja keras yang tidak sebanding dengan hasilnya, dikenai zakat fitrah dan zakat pertanian. Tidak adil bukan?

Sebagian besar ulama memilih 'kontra' dengan solusi ini, dan mengatakan Islam masih mempunyai banyak cara untuk menyedot kekayaan mereka agar bisa dialirkan kepada mereka yang membutuhkan semisal Infaq, Shadaqah, Wakaf, Hibah, dan lain-lain.

Namun, para penggagas ide ini berdalih lagi, bahwa karakteristik 'ngeyel' yang menjamur di masyarakat sekarang sangat menyulitkan. Mereka cenderung tidak akan mengerjakan ibadah atau amalan jika tidak berlabel 'wajib' seperti shalat, puasa, zakat dll. Bagi mereka, yang berlabel 'sunnah' hanyalah hiasan semata yang akan dilaksanakan kapan-kapan jika ingat, jika sempat.
Jangankan untuk menyempatkan diri menoleh pada yang sunnah, mereka tidak sungkan bermain kucing-kucingan dengan hal-hal wajib semisal zakat. Mengurangi jumlah harta dengan berbagai cara agar tidak mencapai nishob dan terlepas dari kungkungan zakat.
Sungguh, padahal kematian tidak akan kucing-kucingan. Akan datang terang-terangan.

Ide ini sekilas sungguh segar di tengah sahara kemiskinan yang tidak terpecahkan. Membawa penyelesaian yang diharapkan mampu menjembatani kesenjangan sosial yang begitu memiriskan.
Bagaimana mungkin ada orang-orang yang masih berani menaiki mobil milyaran rupiah sementara tetangganya, warga kampungnya, masih ada yang kelaparan.

Tapi coba tengok lagi faktanya, sebagian besar ulama cenderung tidak setuju dengan solusi ini?
Apa gerangan yang dipermasalahkan?
Syaikh Wahbah Zuhaili contohnya. Seorang ulama fiqih kontemporer kenamaan yang menulis kitab 'Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu', mengatakan bahwa tidak ada produk baru bernama zakat profesi. Beliau mengatakannya dalam kunjungannya ke Indonesia di sebuah forum ilmiah ketika salah seorang penanya bertanya perihal zakat profesi
Kenapa? Faktanya ini untuk kemaslahatan ummat.

Ternyata solusi ini masih memiliki celah yang sangat jelas. Diantaranya :
  • Zakat dengan namanya dan konsekuensinya adalah salah satu rukun dari Rukun Islam. Memiliki peraturan dan syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya yaitu Nishab dan Haul. Dan jika 'profesi' disandarkan kepada zakat yang berkedudukan wajib, maka 'zakat profesi' menjadi wajib, tidak boleh tidak harus diterapkan, dan yang meninggalkannya akan tertimpa dosa.
    Ini menjadi kurang serasi dengan tujuan asalnya yakni pengaliran dana berlebih kepada yang membutuhkan. Dan konsekuensi dosa yang mengekor dibelakangnya seakan sebuah solusi yang mengatasi masalah dengan masalah yang lebih besar.
  • Ada pondasi zakat yang dibongkar disini yakni Nishab dan Haul. Seorang karyawan yang gaji bulanannya 10 juta per bulan dalam matematika zakat profesi menjadi terkena 'zakat', dan wajib mengeluarkan zakat dari gajinya. Padahal batas nishab adalah 85 gram emas yang jika kita misalkan sekarang 1 gram emas dengan Rp. 500.000,00 maka nishabnya adalah Rp. 42.500.000,00. (Empat puluh dua juta lima ratus ribu rupiah). Dan gaji karyawan tadi belum mencapai nishab, apalagi haul.
    Namun dipaksakan untuk terkena zakat dengan asumsi bahwa jika gajinya 10 juta per bulan maka dalam satu tahun dia akan mempunyai uang Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah).
    Pada hakikatnya jumlah itupun belum dikurangi kebutuhan hidupnya, dan masih dalam hitungan kotor yang belum pasti pula wujudnya. Tidak ada yang menjamin orang tersebut masih akan hidup setahun ke depan. Harta tersebut bahkan belum ditimbun. Apa yang ditimbun, sedang sejatinya dia belum ada dalam genggaman. Sementara ayat yang menyerukan kepada zakat maal menggunakan kata (كنز) kanzun yang artinya menimbun. Dalam hal ini terkesan sedikit dipaksakan.
Wacana ini diibaratkan seperti mengacak-acak kembali tatanan yang sudah pas. Men-'dedel' kembali jahitan yang sudah rampung.

Lalu apakah Islam tidak mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari? Berasumsi bahwa zakat tidak menjawab tantangan zaman seakan mengatakan bahwa agama ini belum sempurna.
Mari kita berpaling pandang sedikit pada jajaran lain dari aliran harta semisal wakaf.
Mungkin di negara kita sistem wakaf ini belum terlalu banyak diminati dan kurang familiar. Namun ada satu contoh nyata hal ini sukses berlaku di Indonesia dan menjadi jembatan kokoh yang menyambungkan si kaya dan si miskin. Pondok Modern Gontor, yang sudah masyhur dengan kemegahannya, salah satu yang menerapkan sistem ini. Bukan sekedar sumbangan bulanan yang membuat pesantren ini mampu berdiri tegak. Ada wakaf produktif yang menopang kehidupan 'kota' Gontor. Wakaf sawah, peternakan, kebun.
Sejatinya wakaf adalah sesuatu lahan, bisnis, atau properti yang produktif yang diserahkan pemiliknya untuk Allah yang mana hasilnya digunakan untuk kemaslahatan ummat.

Contoh nyata lain dari kesuksesan wakaf adalah Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir yang mampu memberi beasiswa penuh kepada seluruh mahasiswanya yang berjumlah ribuan tak terhitung.
Azhar memiliki perusahaan-perusahaan besar dan saham-saham kuat yang menopang kekuatannya untuk bertahan hingga saat ini.

Bagaimana asal mula wakaf?
Pada masa Rasulullah, fenomena wakaf ini bermula pada kisah seorang shahabat mulia Umar bin Khattab. Pada perang Khaibar, shahabat Umar bin Khattab mendapat ghanimah sebidang kebun Kurma Ajwa. Kurma Ajwa adalah kurma ternaik yang harganya sangat mahal dan bervariasi. Di masa sekarang, satu kilogram Kurma Ajwa harganya dari 250 ribu - 450 ribu. Satu pohon Kurma Ajwa jika dipanen mencapai berat 500 kilogram. Jika kita misalkan satu kilogram kurma 300 ribu kali 500 kg, maka satu pohon Kurma Ajwa seharga 150 juta rupiah!!!
Bayangkan, shahabat Umar bin Khattab mendapat satu kebun! Beliau menjadi milyader mendadak.
Namun, jiwa shahabat yang berhati-hati kepada dunia membuatnya mengadu pada Rasulullah, hendak diapakan harta sebanyak ini?
Maka Rasulullah memberi saran kepada Umar agar mewakafkannya dan tidak boleh menjualnya. Sedang hasilnya diserahkan seluruhnya untuk kepentingan ummat.
See?

Pada dasarnya Syariat Islam telah memberikan sedetail mungkin solusi yang bisa diterapkan disemua zaman. Pada masa Umar bin Abdul Aziz yang karena makmurnya, sulit mendapatkan mustahiq zakat, mereka hanya berpegang teguh pada produk lama racikan asli syariat Islam.
Pengotak-atikan bangunan zakat sebenarnya meresahkan, karena ditakutkan malah merusak tatanan dan menimbulkan ketidak seimbangan yang lebih besar.
Mungkin jika zakat disini hanya tempelan agar menarik orang agar mengluarkan hartanya untuk yang membutuhkan, tidak ada masalah. Sayangnya zakat bukan perangko.
Ada aturan-aturan main yang harus diikuti.
Meski tidak dipungkiri, sistem ini sedikit banyak memberi efek yang positif. Namun, ada celah konsekuensi yang tidak bisa dijawab disini.

Bagaimana dengan 'ngeyel' yang menjamur?
Mungkin dunia sekarang sudah mendewakan 'kemasan' daripada isi. Maka tugas kita untuk mengemas wakaf, infaq, dan shadaqah agar lebih 'eye catching' dan 'kena' di hati. Hati-hati ngeyel inilah yang harusnya dibenahi agar lebih ringan membuka dompet kepada sesama.
Kita beralih dari bank-bank yang ada dunia, kepada bank akhirat yang 'bunga'nya jauh lebih tinggi dan tidak akan habis tujuh turunan.
Wallahu a'lam bish Showab.



Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompor Bermerek 'Rumah Fiqih'


Lagi dan lagi..
Kami dibakar habis-habisan dengan tikaman demi tikaman kata yang kami sangat tahu kebenarannya. 
Dan mirisnya, kami sangat tahu jika kami sangat salah dalam hal ini. 
Ibarat oven, kami dipanaskan sampai ke tulang-tulang. Lunak dan leleh betul. 
Hanya dengan sebuah pernyataan : Istiqomah dengan jalan Fiqih sampai mati.
Serasa sebuah gunung ditimpakan di pundak kami. Ada amanah yang harus disampaikan, Ada tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas diri. Ada begitu banyak hal yang dikorbankan. Hari-hari yang akan sangat akrab dengan perjuangan dan kepayahan.

Terkurung dalam gua...
Kedengarannya seperti kera sakti. Kami mengurung diri kami dalam gua terpencil yang kami bangun sendiri. Dihiasi dengan aura kesesatan berfikir yang menyelimuti. Entah tawadhu' yang kebablasan, atau minder yang mencari pembenaran. Entah ketidak percayaan diri yang dipelihara, atau sikap hati-hati yang tidak pada tempatnya. 
Tapi kalimat sederhana tadi, yang diteriakkan dengan sangat halus, melempar kami dari pertapaan abadi di dalam tempurung.  Hancur sudah, berkeping-keping. Kesadaran yang sangat menyadarkan. (Semoga bukan kesadaran sambal!) 

Tameng yang salah tempat...
Ada sebuah ayat yang menjadi tameng kuat untuk membenarkan kediaman kami. Sebuah ayat yang mengecam para penyampai ilmu, mengajak kepada kebenaran, namun mereka sendiri tidak mngerjakan apa yang mereka serukan. Celakalah! Celakalah!
Di neraka kelak mereka diseret ke neraka dengan isi perut yang memburai. Menelan ludah sendiri, istilah kerennya. 
Tameng yang kuat bukan? 
Lihat betapa para shahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan ajaran agama. Lebih baik diam jika tidak tahu pasti kebenarannya. 
Tapi lihat lagi, telaah lagi, perhatikan lagi, mereka memilih sikap itu karena mereka tinggal dikalangan para shahabat yang kualitas keshalihannya tidak diragukan. Kondisi pada masa itu aman. Konsumsi masyarakatnya adalah iman dan imu. Jika seorang shahabat memilih diam, maka masih ada banyak shahabat lain dengan kapasitas ilmu yang mumpuni untuk memberi pencerahan. 
Pertanyaannya adalah, apakah kondisi itu bisa disamakan dengan keadaan kita sekarang? Ketika kerusakan karena pelanggaran syariah bukan lagi barang baru di tengah-tengah kita. 
Mari jawab dalam hati masing-masing. 

First step it's always difficult...
Sudah mejadi rumus umum, langkah awal memang selalu sangat berat. Langkah pertama dari langkah ke-seribu. Pasti pesimis yang lebih dulu muncul. Tapi yang sering kita lupa, langkah ke-seribu ada karena kita menapaki langkah satu demi satu. Selangkah demi selangkah. Tidak ada kesuksesan yang instan. Boleh cek disemua supermarket, tidak akan ada! 
Hati kecil kami selalu seakan bermimpi ketika melihat orang-orang hebat. Dalam benak selalu bertanya 'Kapan kami akan sampai disana?' 
Tapi kami lupa bahwa mereka pun berawal dari tempat dan start yang sama seperti kami-kami ini. Bedanya, mereka melangkah tanpa mempertanyakan apa yang akan ada di depan. Sedangkan kami bertanya-tanya di garis start, dimana finishnya, tanpa berani melangkah. 
Bedanya, mau ke garis finish atau tidak? 
Jangan dilihat kesuksesan mereka sekarang, tapi lihatlah apa yang telah mereka lalui dan korbankan untuk mencapai titik ini.

Akan selalu tersandung...
Tersandung ada berbagai macam jenis. Tersandung yang menjatuhkan, dan memalingkan. Tersandung yang menjatuhkan bisa karena faktor pribadi yang lemah tekad, atau mungkin faktor eksternal yang tidak bisa disebutkan banyaknya. Membuat kita serasa ingin berhenti di tengah jalan. Menyerah!
Tersandung yang memalingkan, yang banyak terjadi adalah kebutuhan hidup. Menjadi pengemban ilmu, tidak bisa dikomersilkan. Khususnya ilmu agama. Serasa tidak layak ilmu agama dikaitkan dengan ukuran duniawi. Tapi hidup di dunia tetap harus berjalan. Akhirnya memilih untuk bergeser ke persimpangan lain. Menjalani aktifitas yang jauh dari ilmu yang dipelajari. Ilmunya menjadi stag, tidak tersalurkan. 
Namun sandungan sendiri ada fungsinya. Agar melihat ke bawah. Umumnya orang tersandung akan melihat ke bawah. Introspeksi, rem sebentar, berfikir ulang. Ada strategi yang harus diganti. Ada teguran yang mendewsakan. Ada peringatan bahwa di atas  langit masih ada langit, jangan merasa puas diri. 

The right man in the right place... 
Kebanyakan dari kami berada di tempat ini karena kecelakaan yang membawa anugerah. Hingga kami masih merasa seakan tersasar di jalan yang benar. Melaluinya dengan tanpa target karena merasa 'salah jurusan' atau punya ketertarikan di bidang lain.
Namun sepertinya sudah bukan masanya lagi kita memikirkan diri sendiri, memikirkan kepuasan dan kehobian yang tidak kesampaian ketika ada tanggung jawab di depan mata. 
Hiduplah untuk Allah, Allah akan membuka semua jalan untukmu. 
Kesimpulannya, kami tidak tersasar, kami dipilih! 
Maka pantaskanlah diri dijajaran yang terpilih! 

Permisalan...
Logika kami masih ingin mencari pengecualian rasanya. Namun kelu sudah ketika dihajar oleh permisalan yang menampar! 
Jika ada seorang dokter yang dihadapkan dengan pasien yang sekarat. Dia tahu bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Namun memilih diam, karena takut salah bertindak. Tidak ingin mengambil resiko. Lalu menyaksikan sang pasien mati begitu saja dihadapannya. Padahal jika dia bertindak, kemungkinan selamatnya lebih besar. Bukankah dokter itu secara tidak langsung menghantarkan sang pasien kepada ajalnya? 
'Itulah kalian, Seorang yang tau ilmunya, tapi diam saja ketika orang lain butuh, dan membiarkan mereka dalam kesesatannya, dan masih bisa tidur nyenyak, tidak ambil pusing.'
Jleb! Oh maaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!!!!!!! rasanya, ingin sembunyi ke dasar bumi sejenak!!!

Rabbi tunjuki kami...
Kami sudah di garis start, entah menunggu aba-aba, atau belum kuat tekad untuk memulai, atau bahkan tidak tahu harus memulai darimana. (Melangkah sajaa....!!! Banyak alasan!)
Tunjuki kami kebenaran, dan anugerahi kemampuan untuk menjalankannya, mudahkan...
Tunjuki kami kebathilan, dan jauhkan kami sejauh-jauhnya...

HHG (Hangat-hangat Gosong) #BukanJudulSinetron

Rabu, 15 Oktober 2014

'Kiamat' Kecil

Kita tidak punya kuasa, untuk tahu apa yang akan terjadi esok, satu jam kemudian, atau bahkan sekedar 5 detik ke depan.
Pengetahuan tentang waktu hanya Allah yang tahu.

Mungkin ini kejadian yang sudah sangat akrab di telinga. Biasa saja. Sangat Familiar. Tapi kali ini lebih ini istimewa dan 'kena' banget karena saya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Bukan sekedar menonton dari kotak segi empat.

Jum'at, 26 September 2014
Malam itu tenang, hening, tidak ada perasaan apapun akan terjadi sesatu yang 'so panic'. Manusia-manusia sibuk dengan rencananya, menyusun agenda beberapa jam ke depan. Akan begini, akan begitu, seakan itu akan sangat mungkin terlaksana. Sekitar jam 21.00 WIB, seorang teman yang kebetulan sedang mengerjakan tugas di kos kami mencium bau asap, seperti sesuatu terbakar. Kami yang merupakan penghuni menanggapi santai, karena memang sudah biasa ada yang bakar sampah di jam-jam segitu.
Saya sendiri sedang menyusun rencana, akan mngerjakan tugas tengah malam, dan berencana tidur dulu sejenak.

Hening, sepi. Malam dengan ketenangannya meraja.
Pukul 23.00 kira-kira, ada suara kecil, 'KEBAKARAAANN'... Saya yang waktu itu belum terpejam, setengah tidak percaya. Barangkali isengnya tukang sebelah rumah saja. Kebetulan sebelah rumah kami sedang renovasi rumah dan tukang-tukangya suka nyapa-nyapa tidak penting.
Masih bersantai ria, tiba-tiba teman dari kamar lain berteriak.. "Teman-temann... keluaarrr.. kebakaraannn..!!!"
Saya keluar kamar untuk meyakinkan. Semua sibuk berpakaian rapi, membawa barang berharga yang bisa dijangkau. Saya masih bengong-bengong entah apa yang akan dilakukan. Kaki serasa terpaku di ubin. Dalam benak masih bertanya, "Dimana sih kebakarannya? Kok tidak ada ramai suara warga."
Semua teman-teman sudah keluar, sibuk dengan diri masing-masing.
Tak lama kemudian warga berdatangan, saya sudah panik, karena sudah tinggal sendirian saja di dalam rumah. Menyambar yang terdekat yang bisa dipakai, Mukenah. Menyambar handphone, bergegas keluar.
Ternyata  rumah di samping tetangga saya sudah dikuasai api. Sudah sampai atap, dan hampir mencolek rumah tetangga pas saya. Entah apa penyebabnya, saya bergegas mematikan Meteran Listrik. Waspada jika penyebabnya adalah arus pendek.
Saya lihat teman-teman membawa ransel berisi barang-barang berharga. Hanya saya yang keluar rumah dengan tangan kosong. Akhirnya saya masuk lagi, meraba-raba dalam gelap, menyelamatkan yang bisa diselamatkan.

Di tengah kekacauan itu, semua sibuk dengan diri masing-masing. Di tengah kepanikan itu, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Komentar-komentar yang terlontar spontan, semuanya begitu alami. Menggambarkan karakter pribadi-pribadi malam itu dengan sebenarnya, tanpa polesan.
Tiba-tiba saya terfikir, ini baru kebakaran rumah. Rumah tetangga, bukan rumah sendiri. Sudah begini paniknya. Bagaimana jika kiamat nanti?
Ketika Ibu lupa Anaknya, Anak lupa Ibunya, Suami Istri pun seperti asing, Ayah pun lari menyelamatkan diri sendiri. Tidak ingat apapun kecuali diri sendiri.
Selama ini segenting apapun kejadian yang ada, entah tsunami, gempa bumi, kita masih mendengar kisah, bagaimana ibu berkorban untuk anaknya, dan sebagainya.
Kiranya kondisi macam apa yang bisa membuat pertalian darah menguap seakan tak ada harganya?
Segenting apakah kondisi yang akan menanti?
Langit di gulung, bagaimana bentuknya? Bumi mengeluarkan isinya? Gunung-gunung seperti anai-anai? Kondisi yang 'out of imagination'.

Entah bagaimana kejadian itu seperti sebuah peringatan nyata bagi jiwa-jiwa yang lalai. Seperti gema yang berteriak di dalam hati, 'waktunya sudah semakin dekat'. Ketika dosa-dosa masih mungkin untuk dihapus, sebelum matahari pindah terbit dari barat. Ketika masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, menyiapkan bekal menuju kampung halaman.
Yuk mari,, semakin merapat pada-Nya.
Jika bukan karena rahmat-Nya, karena kasih sayang-Nya..
Kita hanya makhluk-makhluk hampa tanpa cahaya.
Namun Allah beri kita lentera iman yang menerangi jalan menuju kampung akhirat yang kekal.
Maka jangan sia-siakan.  Yuk, bersama, berjamaah menuju kebaikan.

#introspeksi-say'No'toTaubatSambal