Lagi dan lagi..
Kami dibakar
habis-habisan dengan tikaman demi tikaman kata yang kami sangat tahu
kebenarannya.
Dan mirisnya, kami
sangat tahu jika kami sangat salah dalam hal ini.
Ibarat oven, kami
dipanaskan sampai ke tulang-tulang. Lunak dan leleh betul.
Hanya dengan sebuah
pernyataan : Istiqomah dengan jalan Fiqih sampai
mati.
Serasa sebuah gunung
ditimpakan di pundak kami. Ada amanah yang harus disampaikan, Ada tanggung
jawab untuk terus meningkatkan kualitas diri. Ada begitu banyak hal yang
dikorbankan. Hari-hari yang akan sangat akrab dengan perjuangan dan kepayahan.
Terkurung dalam gua...
Kedengarannya
seperti kera sakti. Kami mengurung diri kami dalam gua terpencil yang kami
bangun sendiri. Dihiasi dengan aura kesesatan berfikir yang menyelimuti. Entah
tawadhu' yang kebablasan, atau minder yang mencari pembenaran. Entah ketidak
percayaan diri yang dipelihara, atau sikap hati-hati yang tidak pada
tempatnya.
Tapi kalimat
sederhana tadi, yang diteriakkan dengan sangat halus, melempar kami dari
pertapaan abadi di dalam tempurung. Hancur sudah, berkeping-keping.
Kesadaran yang sangat menyadarkan. (Semoga bukan kesadaran sambal!)
Tameng yang salah tempat...
Ada sebuah ayat yang
menjadi tameng kuat untuk membenarkan kediaman kami. Sebuah ayat yang mengecam
para penyampai ilmu, mengajak kepada kebenaran, namun mereka sendiri tidak
mngerjakan apa yang mereka serukan. Celakalah! Celakalah!
Di neraka kelak
mereka diseret ke neraka dengan isi perut yang memburai. Menelan ludah sendiri,
istilah kerennya.
Tameng yang kuat
bukan?
Lihat betapa para
shahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan ajaran agama. Lebih baik diam
jika tidak tahu pasti kebenarannya.
Tapi lihat lagi,
telaah lagi, perhatikan lagi, mereka memilih sikap itu karena mereka tinggal
dikalangan para shahabat yang kualitas keshalihannya tidak diragukan. Kondisi
pada masa itu aman. Konsumsi masyarakatnya adalah iman dan imu. Jika seorang
shahabat memilih diam, maka masih ada banyak shahabat lain dengan kapasitas
ilmu yang mumpuni untuk memberi pencerahan.
Pertanyaannya
adalah, apakah kondisi itu bisa disamakan dengan keadaan kita sekarang? Ketika
kerusakan karena pelanggaran syariah bukan lagi barang baru di tengah-tengah
kita.
Mari jawab dalam
hati masing-masing.
First step it's always difficult...
Sudah mejadi rumus
umum, langkah awal memang selalu sangat berat. Langkah pertama dari langkah
ke-seribu. Pasti pesimis yang lebih dulu muncul. Tapi yang sering kita lupa,
langkah ke-seribu ada karena kita menapaki langkah satu demi satu. Selangkah
demi selangkah. Tidak ada kesuksesan yang instan. Boleh cek disemua
supermarket, tidak akan ada!
Hati kecil kami
selalu seakan bermimpi ketika melihat orang-orang hebat. Dalam benak selalu
bertanya 'Kapan kami akan sampai disana?'
Tapi kami lupa bahwa
mereka pun berawal dari tempat dan start yang sama seperti kami-kami ini.
Bedanya, mereka melangkah tanpa mempertanyakan apa yang akan ada di depan.
Sedangkan kami bertanya-tanya di garis start, dimana finishnya, tanpa berani
melangkah.
Bedanya, mau ke
garis finish atau tidak?
Jangan dilihat
kesuksesan mereka sekarang, tapi lihatlah apa yang telah mereka lalui dan
korbankan untuk mencapai titik ini.
Akan selalu tersandung...
Tersandung ada
berbagai macam jenis. Tersandung yang menjatuhkan, dan memalingkan. Tersandung
yang menjatuhkan bisa karena faktor pribadi yang lemah tekad, atau mungkin
faktor eksternal yang tidak bisa disebutkan banyaknya. Membuat kita serasa
ingin berhenti di tengah jalan. Menyerah!
Tersandung yang
memalingkan, yang banyak terjadi adalah kebutuhan hidup. Menjadi pengemban
ilmu, tidak bisa dikomersilkan. Khususnya ilmu agama. Serasa tidak layak ilmu
agama dikaitkan dengan ukuran duniawi. Tapi hidup di dunia tetap harus
berjalan. Akhirnya memilih untuk bergeser ke persimpangan lain. Menjalani
aktifitas yang jauh dari ilmu yang dipelajari. Ilmunya menjadi stag, tidak
tersalurkan.
Namun sandungan
sendiri ada fungsinya. Agar melihat ke bawah. Umumnya orang tersandung akan
melihat ke bawah. Introspeksi, rem sebentar, berfikir ulang. Ada strategi yang
harus diganti. Ada teguran yang mendewsakan. Ada peringatan bahwa di atas
langit masih ada langit, jangan merasa puas diri.
The right man in the right place...
Kebanyakan dari kami
berada di tempat ini karena kecelakaan yang membawa anugerah. Hingga kami masih merasa seakan tersasar di jalan yang benar. Melaluinya dengan tanpa
target karena merasa 'salah jurusan' atau punya ketertarikan di bidang lain.
Namun sepertinya
sudah bukan masanya lagi kita memikirkan diri sendiri, memikirkan kepuasan dan
kehobian yang tidak kesampaian ketika ada tanggung jawab di depan mata.
Hiduplah untuk
Allah, Allah akan membuka semua jalan untukmu.
Kesimpulannya, kami
tidak tersasar, kami dipilih!
Maka pantaskanlah
diri dijajaran yang terpilih!
Permisalan...
Logika kami masih
ingin mencari pengecualian rasanya. Namun kelu sudah ketika dihajar oleh
permisalan yang menampar!
Jika ada seorang
dokter yang dihadapkan dengan pasien yang sekarat. Dia tahu bagaimana cara
untuk menyelamatkannya. Namun memilih diam, karena takut salah bertindak. Tidak
ingin mengambil resiko. Lalu menyaksikan sang pasien mati begitu saja
dihadapannya. Padahal jika dia bertindak, kemungkinan selamatnya lebih besar.
Bukankah dokter itu secara tidak langsung menghantarkan sang pasien kepada
ajalnya?
'Itulah kalian,
Seorang yang tau ilmunya, tapi diam saja ketika orang lain butuh, dan
membiarkan mereka dalam kesesatannya, dan masih bisa tidur nyenyak, tidak ambil
pusing.'
Jleb! Oh maaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!!!!!!! rasanya, ingin
sembunyi ke dasar bumi sejenak!!!
Rabbi tunjuki kami...
Kami sudah di garis
start, entah menunggu aba-aba, atau belum kuat tekad untuk memulai, atau bahkan
tidak tahu harus memulai darimana. (Melangkah sajaa....!!! Banyak alasan!)
Tunjuki kami kebenaran, dan anugerahi kemampuan untuk
menjalankannya, mudahkan...
Tunjuki kami kebathilan, dan jauhkan kami
sejauh-jauhnya...
HHG (Hangat-hangat Gosong) #BukanJudulSinetron
Tidak ada komentar:
Posting Komentar