Selasa, 31 Mei 2011

Nafas Jakarta


Tahukah Anda nafas Jakarta? Ya, ‘Macet’. Macet adalah nafas, ciri khas dan mantra Jakarta. Bahkan slogannya, ‘kalau gak macet bukan jakarta namanya’. Dibanding semua permasalahan yang lahir di Ibukota, ‘macet’ adalah yang paling populer karena dialami semua lapisan masyarakat. Dari Pejabat sampai rakyat jelata, dari mobil mewah sampai pengayuh sepeda. Kelihatannya memang remeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Waktu produktif terbuang, pemborosan bahan bakar, sampai ancaman kesehatan fisik (polusi) dan pikiran (stress). Dinas Perhubungan mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai 35 triliun rupiah per tahun. Ini sungguh jumlah menakjubkan. Jika masalah ini bisa ditangani, bukankah Indonesia bisa sedikit bernafas dari lilitan hutang? Bukankah kita bisa lebih berhemat dengan sumber daya alam?
Berjalanlah di setiap sudut mana saja di kota Jakarta, hanya satu dari seratus jalur yang tidak dipadati kendaraan. Udara menjadi sangat tidak sehat untuk dikonsumsi. Kendalanya sungguh sangat terasa bagi pemakai jalan. Jangan tanya cara untuk menyiasati, semua pengendara telah melampaui profesor, berkerut kening mencari jalan alternatif paling lengang. Nihil!
Bisa kita tonton barisan mobil setiap harinya menyemut, dan jika kita perhatikan mobil-mobil mewah tersebut berpenumpang paling banyak tiga orang, jarang lebih. Jalan-jalan Jakarta yang sempit tak mampu menampung sekitar 6 juta mobil per harinya. Pendirian flyover juga tidak memberikan kontribusi yang berarti karena setiap jalan baru resmi beroperasi, mobil-mobil sudah lebih dulu bertambah.  Sebagian besar orang yang sudah ‘sadar’ macet berusaha beralih ke transportasi umum. Namun ini tidak menjanjikan ketepatan waktu. Metro mini dan angkot misalnya, tak  bisa menjadi solusi karena jalur perjalanannya padat merayap. Belum lagi sebagian besar ‘ngetem’ dan istirahat di tepi jalan yang sudah sempit dan semakin mempersempit. Lalu hadirlah Busway yang diharap bisa menjadi penyelamat, namun jam kedatangan yang sangat memakan waktu membuat orang-orang yang nyaman bermobil semakin tak mau berkorban untuk beralih dan berpartisipasi untuk ‘mengurangi’ macet. 
Kehidupan ekonomi yang melarat menuntut perjuangan yang lebih gigih dalam mencari sesuap nasi. Maka bisa kita lihat di badan jalan, berjubel pedagang berteriak meminta pertolongan dan belas kasihan. Keadaan yang serba salah. Jika dibiarkan, maka klakson tak akan selesai berbunyi, namun jika ditertibkan, berapa kepala lagi yang akan kelaparan? Penyebabnya karena penertiban itu tidak memberi ganti tempat usaha yang strategis. Belum lagi di pasar-pasar, para pedagang yang menggunakan jalan membiarkan sampah bekas usaha mereka menjadi tumpukan polusi. Berkali lipat kerugiannya.
Lalu kepada siapa kita berlari? Alih-alih mencari siapa yang patut disalahkan, semua rakyat mengawasi gerak-gerik pemerintah sebagai yang dianggap paling bisa memberi solusi. Berbagai cara telah dicoba. Lihatlah para pejabat telah rontok rambutnya mencari solusi keluar dari bahaya macet. Pada 2 September 2010 lalu, di Kantor Wakil Presiden (Wapres) Boediono kemarin, rapat telah merumuskan 17 Langkah Mengatasi Macet. Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimeso, Dirjen Perkeretaapian Tunjung Indriawan, dan Dirjen  Bina Marga Kemen PU Djoko Murjanto, Dirlantas Mabes Polri Brigjen Djoko Susilo, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, serta Direktur PT  Mass Rapid Transit (MRT) Tribudi Rahardjo. Secara garis besar, 17 langkah tersebut sangat efisien, seperti penambahan armada Busway, peremajaan angkot-angkot tua, upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menaikkan harga BBM, dan pengoprasian  Electronic Road Pricing (ERP). Tapi sampai kapan kita harus menunggu perealisasian dari butir-butir langkah itu? Karena setelah hampir setahun berjalan, masih tak terlihat kemacetan mau mengalah.
Untuk keluar dari kondisi yang menyesakkan semua orang dan semua golongan ini, maka kita perlu menggerakkan semua orang yang terkait. Pemerintah, pejabat, pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, pedagang, aparat lalu lintas, pelajar, dan semua orang yang memakai jalan. Hanya dengan satu kata yaitu ‘Sabar’, maka semua masalah akan mudah diselesaikan. Sudah lelah rakyat mendengar janji dan apalagi pemerintah lebih lelah lagi mencari solusi. Maka semua hanya perlu bersabar dan bergerak. Bergerak serentak dan sekarang. Mengapa bersabar? Dan seperti apa sabar yang dimaksud?
·         Pemerintah dan pelayan masyarakat bersabar dalam mengemban tanggung jawab, bersabar ketika melihat uang rakyat yang berlimpah, bersabar menghadapi kritikan demi kritikan, bersabar mengayomi rakyat, karena pada dasarnya para atasan yang duduk di kursi terhormat itu adalah pelayan masyarakat. Jika lapisan pemerintah bisa bersabar dalam hal ini, maka pembangunan jalan, pengadaan transportasi, dan sebagainya akan lancar karena perencanaan dan alokasi dana akan sesuai.
·         Para karyawan dan pekerja pun bisa berpartisipasi dalam gerakan sabar dengan rela untuk menyimpan kendaraannya di garasi rumah. Turut serta membiarkan jalan bernafas dan udara menjadi sedikit lebih segar.
·         Para pedagang yang menjadi pagar jalan sabar mencari tempat lain untuk mencari nafkah karena para pemakai jalan yang tergganggu itu juga sedang dalam perjalanan mencari nafkah. Dengan adanya toleransi, akan tercipta saling menghargai. Rejeki ada dimanapun ada usaha.
·         Kaum pelajar adalah yang paling penting untuk bersabar, karena jika para pemuda Indonesia menguasai teknologi, bukan mustahil kita mampu memproduksi transportasi dengan tangan sendiri tanpa harus bergantung produk luar negri yang tentunya memakan  biaya lebih besar.
Jadi, jika semua berpartisipasi untuk lepas dari belenggu kemacetan, dan bersabar menanggulanginya, dan bergerak sekarang, semua bisa diatasi. Sementara ini, penambahan jalan, jalur KRL, dan Underpass sebaiknya diperhitungkan dulu karena seperti yang bisa kita lihat, pembangunan yang memakan dana triliunan juta itu tidak bisa menjawab apa yang kita butuhkan. Jadi lebih baik memperbaiki apa yang ada sebelum menambah hal baru yang belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada ketegasan dari aparat dan alternatif yang menguntungkan untuk setiap tindakan yang akan dilaksanakan dan juga kerjasama total dari seluruh warga yang ingin terlepas dari jerat kemacetan. Siap berpisah dengan macet sekarang?

Rabu, 11 Mei 2011

Qaari'ah,,,

Qaari'ah ....
dinamakan begitu krena pada hari itu dan perkara tentang itu selalu membuat jantung berdetak copot,,,krena ketakutan yang sangat. Diulang samapi tiga kali, ditnyakan apakah ada yang tahu???
Karena itu adalah hari yang sangat penting dan semua manusia berhidung harus tahu apa itu hari kiamat yang membuat hati mau copot.
Deskripsinya ,,,
Manusia sibuk masing-masing dengan amal yang akan ditimbangkan pada hari itu. Orang-orang yang mengaku atheis pun akan gemetar menggelepar melihat apa yang mereka tentang itu nyata senyata mata yang membelalak.
Mereka berpencar sibuk menghitung seperti debu yang berputar di sekeliling asap api. Salbut!!
Berlari melebihi batas kewarasan akal. Dan akan kita lihat pada hari itu gunung2 rehat setelah lama duduk. Mereka berubah bentuk dan bertabrakan, bermain. Suaranya akan menambah kekalutan. Bersiap2lah,,
Undang2nya,,,
Barang siapa yang bertauhid dengan benar, amalnya baik dan berat, setiap bagian tubuhnya beribadah, maka timbangan baiknya berat dan tiket bebas menuju syurga. Hidupnya diridhoi n diberkati.
Yang sebaliknya, rajin beramal buruk, bangga beramal buruk, menyembunyikan amal buruk, maka timbangan akan berat pada api neraka yang sangat panas (Hawiyah).
Kiat,,,
sebutlah banyak2 ,,, Subhaanallah wa bihamdihi,, Subhaanallahil 'Adziem,,,
Semoga Allah akan memberatkan timbngan kebaikan kita d akhirat kelak, di hari yang akan membuat jantung cenat-cenut.
{Bilang sama S****h klo yg bikin hati cenat-cenut itu adalah hari kiamat,,
bukan klo ketemu kamu,,,ganti ya lagunya,,,}

pelajaran Qur'an,,
termenung sejenak

Rabu, 20 April 2011

jam 14.43

sebuah kata  yang telah tua
q temukan lagi d dasar
antara mimpi buruk dan duka
ah,,,, aku sedang benar benar merasakan sakit yang amat sangat
kau memergikan dirimu
aq memalukan diriku

Selasa, 19 April 2011

refleksi gambar

Bisakah kau lihat malam dengan bulanmu?
Yang redup dan suram
Merapat pada kulit kayu
Yang membajui batang kokoh
Menaungi bulan
ada laut terhampar
Sepanjang mata mampu berlari
Sepanjang telinga mampu menyusuri
Ombak yang mendesah, Pasir yang tertawa
Kapal-kapal berpesta
Aku masih menempel pada pohon yang menaungi bulan
Menunggu,,,
Sekedar penjaga waktu
Yang terlelap lalai karena lelah
Aku ingin kembali ke masa lalu
Saat hidupku adalah malam, dan laut, dan ombak, dan sunyi

di kelas mati lampu,,,

Hari ini di kelas mati lampu,,,

Ada yang mati di tengah ramai
Angannya berkelana di debur ombak
Pada malam-malam yang gemintang

Ada yang diam dari obrolan
Mulutnya bernada pilu tahun lalu

Gelap hilang sudah
Tapi dy blum utuh
Tak ada pimtu pulang ke alam fakta

Di kelas setelah mati lampu 11.42
Aq sedang menunggu sesuatu yang lebih terang dari cahaya lampu

Tadribat selalu memberiku ruang untuk pergi
Aq diam

Minggu, 17 April 2011

Lintasan jam 00.30

Gak bisa tidur,,,
Perut lapar,,,
Q putuskan untuk menyambung huruf
Dan Q mulai dengan kata APA..

Apa itu hidup???
Saat malam kau tak bisa tidur coba rasakan denyut nadi
Dan u akan tahu bahwa ada yang hidup dan menghidupkan
Seperti jaring menjaring
Ada bagian dalam tubuh yang tak pernah tidur
Yang hanya bisa dibuat oleh yang paling berkuasa
Hidup itu seperti sandiwara,,,,,seperti mimpi,,,yang menyata
apa itu kematian, apa itu kehidupan, apa pula kehidupan kubur dan setelah mati
Semua gelap tak ada yang tahu
Apa yang musti dicapai di kehidupan dunia atau apa yang musti dibawa di keabadian kelak?
Semua itu berjawab pasti tapi gaib,,,
Akal lumpuh,,,hanya iman dan keyakinan yang merasa

Malam yang sepi,,
Semua terbuai mimpi
Hanya mataku menatap cahaya lampu menggantung
Oh,,,, hari esok,,,
Tampakkan wajahmu dalam sinar
Aku benar2 merasa tersesat dalam jalan yang pasti
Dan tak q pahami
Seperti adanya takdir tapi ada kemauan
Ada Tuhan dan ada akal
ada murka dalam kemuliaan
Rahasia dan teka-teki bermain anyam

Selasa, 05 April 2011

Raja

Hidup ada dalam jarum yang bergerak
Mengelilingi pusat dan terikat
Memutuskan hal penting sampai yang tak penting

Bukan jarum yang menusuk
Meski tetap bernama jarum
Tajam seperti pedang

Membunuh kemalasan
Mengagungkan kedisiplinan
Melayani konsekuen

Raja yang berdua pengawal
Tinggi pendek
Jarum detik dalam kerajaan waktu yang berkuasa

04 April 2011- menghilangkan ngantuk di kelas mapel tadribat