Minggu, 19 Oktober 2014

Zakat Profesi Vs Wakaf

Akhir-akhir ini ada wacana baru bernama zakat profesi. Suatu penemuan baru dalam dunia fiqih yang dikemas untuk menyalurkan harta para konglomerat yang tak terbatas kepada fakir miskin yang setiap hari jantungan memikirkan apa kiranya yang bisa dimakan esok hari.
Zakat dengan ketentuannya 2,5% dinilai tidak bisa menjawab kesenjangan sosial yang kian hari kian jauh tak terjamah.
Sangat tidak adil kiranya pengusaha yang memiliki 12 mobil, 12 rumah, 12 apartemen, tidak mendapat tanggung jawab zakat apapun selain zakat fitrah dan zakat mal. Sedang harta mereka berlipa-lipat banyaknya dibanding zakat yang tidak seberapa. Sementara petani yang berterik-terik matahari, dengan kerja keras yang tidak sebanding dengan hasilnya, dikenai zakat fitrah dan zakat pertanian. Tidak adil bukan?

Sebagian besar ulama memilih 'kontra' dengan solusi ini, dan mengatakan Islam masih mempunyai banyak cara untuk menyedot kekayaan mereka agar bisa dialirkan kepada mereka yang membutuhkan semisal Infaq, Shadaqah, Wakaf, Hibah, dan lain-lain.

Namun, para penggagas ide ini berdalih lagi, bahwa karakteristik 'ngeyel' yang menjamur di masyarakat sekarang sangat menyulitkan. Mereka cenderung tidak akan mengerjakan ibadah atau amalan jika tidak berlabel 'wajib' seperti shalat, puasa, zakat dll. Bagi mereka, yang berlabel 'sunnah' hanyalah hiasan semata yang akan dilaksanakan kapan-kapan jika ingat, jika sempat.
Jangankan untuk menyempatkan diri menoleh pada yang sunnah, mereka tidak sungkan bermain kucing-kucingan dengan hal-hal wajib semisal zakat. Mengurangi jumlah harta dengan berbagai cara agar tidak mencapai nishob dan terlepas dari kungkungan zakat.
Sungguh, padahal kematian tidak akan kucing-kucingan. Akan datang terang-terangan.

Ide ini sekilas sungguh segar di tengah sahara kemiskinan yang tidak terpecahkan. Membawa penyelesaian yang diharapkan mampu menjembatani kesenjangan sosial yang begitu memiriskan.
Bagaimana mungkin ada orang-orang yang masih berani menaiki mobil milyaran rupiah sementara tetangganya, warga kampungnya, masih ada yang kelaparan.

Tapi coba tengok lagi faktanya, sebagian besar ulama cenderung tidak setuju dengan solusi ini?
Apa gerangan yang dipermasalahkan?
Syaikh Wahbah Zuhaili contohnya. Seorang ulama fiqih kontemporer kenamaan yang menulis kitab 'Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu', mengatakan bahwa tidak ada produk baru bernama zakat profesi. Beliau mengatakannya dalam kunjungannya ke Indonesia di sebuah forum ilmiah ketika salah seorang penanya bertanya perihal zakat profesi
Kenapa? Faktanya ini untuk kemaslahatan ummat.

Ternyata solusi ini masih memiliki celah yang sangat jelas. Diantaranya :
  • Zakat dengan namanya dan konsekuensinya adalah salah satu rukun dari Rukun Islam. Memiliki peraturan dan syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya yaitu Nishab dan Haul. Dan jika 'profesi' disandarkan kepada zakat yang berkedudukan wajib, maka 'zakat profesi' menjadi wajib, tidak boleh tidak harus diterapkan, dan yang meninggalkannya akan tertimpa dosa.
    Ini menjadi kurang serasi dengan tujuan asalnya yakni pengaliran dana berlebih kepada yang membutuhkan. Dan konsekuensi dosa yang mengekor dibelakangnya seakan sebuah solusi yang mengatasi masalah dengan masalah yang lebih besar.
  • Ada pondasi zakat yang dibongkar disini yakni Nishab dan Haul. Seorang karyawan yang gaji bulanannya 10 juta per bulan dalam matematika zakat profesi menjadi terkena 'zakat', dan wajib mengeluarkan zakat dari gajinya. Padahal batas nishab adalah 85 gram emas yang jika kita misalkan sekarang 1 gram emas dengan Rp. 500.000,00 maka nishabnya adalah Rp. 42.500.000,00. (Empat puluh dua juta lima ratus ribu rupiah). Dan gaji karyawan tadi belum mencapai nishab, apalagi haul.
    Namun dipaksakan untuk terkena zakat dengan asumsi bahwa jika gajinya 10 juta per bulan maka dalam satu tahun dia akan mempunyai uang Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah).
    Pada hakikatnya jumlah itupun belum dikurangi kebutuhan hidupnya, dan masih dalam hitungan kotor yang belum pasti pula wujudnya. Tidak ada yang menjamin orang tersebut masih akan hidup setahun ke depan. Harta tersebut bahkan belum ditimbun. Apa yang ditimbun, sedang sejatinya dia belum ada dalam genggaman. Sementara ayat yang menyerukan kepada zakat maal menggunakan kata (كنز) kanzun yang artinya menimbun. Dalam hal ini terkesan sedikit dipaksakan.
Wacana ini diibaratkan seperti mengacak-acak kembali tatanan yang sudah pas. Men-'dedel' kembali jahitan yang sudah rampung.

Lalu apakah Islam tidak mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari? Berasumsi bahwa zakat tidak menjawab tantangan zaman seakan mengatakan bahwa agama ini belum sempurna.
Mari kita berpaling pandang sedikit pada jajaran lain dari aliran harta semisal wakaf.
Mungkin di negara kita sistem wakaf ini belum terlalu banyak diminati dan kurang familiar. Namun ada satu contoh nyata hal ini sukses berlaku di Indonesia dan menjadi jembatan kokoh yang menyambungkan si kaya dan si miskin. Pondok Modern Gontor, yang sudah masyhur dengan kemegahannya, salah satu yang menerapkan sistem ini. Bukan sekedar sumbangan bulanan yang membuat pesantren ini mampu berdiri tegak. Ada wakaf produktif yang menopang kehidupan 'kota' Gontor. Wakaf sawah, peternakan, kebun.
Sejatinya wakaf adalah sesuatu lahan, bisnis, atau properti yang produktif yang diserahkan pemiliknya untuk Allah yang mana hasilnya digunakan untuk kemaslahatan ummat.

Contoh nyata lain dari kesuksesan wakaf adalah Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir yang mampu memberi beasiswa penuh kepada seluruh mahasiswanya yang berjumlah ribuan tak terhitung.
Azhar memiliki perusahaan-perusahaan besar dan saham-saham kuat yang menopang kekuatannya untuk bertahan hingga saat ini.

Bagaimana asal mula wakaf?
Pada masa Rasulullah, fenomena wakaf ini bermula pada kisah seorang shahabat mulia Umar bin Khattab. Pada perang Khaibar, shahabat Umar bin Khattab mendapat ghanimah sebidang kebun Kurma Ajwa. Kurma Ajwa adalah kurma ternaik yang harganya sangat mahal dan bervariasi. Di masa sekarang, satu kilogram Kurma Ajwa harganya dari 250 ribu - 450 ribu. Satu pohon Kurma Ajwa jika dipanen mencapai berat 500 kilogram. Jika kita misalkan satu kilogram kurma 300 ribu kali 500 kg, maka satu pohon Kurma Ajwa seharga 150 juta rupiah!!!
Bayangkan, shahabat Umar bin Khattab mendapat satu kebun! Beliau menjadi milyader mendadak.
Namun, jiwa shahabat yang berhati-hati kepada dunia membuatnya mengadu pada Rasulullah, hendak diapakan harta sebanyak ini?
Maka Rasulullah memberi saran kepada Umar agar mewakafkannya dan tidak boleh menjualnya. Sedang hasilnya diserahkan seluruhnya untuk kepentingan ummat.
See?

Pada dasarnya Syariat Islam telah memberikan sedetail mungkin solusi yang bisa diterapkan disemua zaman. Pada masa Umar bin Abdul Aziz yang karena makmurnya, sulit mendapatkan mustahiq zakat, mereka hanya berpegang teguh pada produk lama racikan asli syariat Islam.
Pengotak-atikan bangunan zakat sebenarnya meresahkan, karena ditakutkan malah merusak tatanan dan menimbulkan ketidak seimbangan yang lebih besar.
Mungkin jika zakat disini hanya tempelan agar menarik orang agar mengluarkan hartanya untuk yang membutuhkan, tidak ada masalah. Sayangnya zakat bukan perangko.
Ada aturan-aturan main yang harus diikuti.
Meski tidak dipungkiri, sistem ini sedikit banyak memberi efek yang positif. Namun, ada celah konsekuensi yang tidak bisa dijawab disini.

Bagaimana dengan 'ngeyel' yang menjamur?
Mungkin dunia sekarang sudah mendewakan 'kemasan' daripada isi. Maka tugas kita untuk mengemas wakaf, infaq, dan shadaqah agar lebih 'eye catching' dan 'kena' di hati. Hati-hati ngeyel inilah yang harusnya dibenahi agar lebih ringan membuka dompet kepada sesama.
Kita beralih dari bank-bank yang ada dunia, kepada bank akhirat yang 'bunga'nya jauh lebih tinggi dan tidak akan habis tujuh turunan.
Wallahu a'lam bish Showab.



Sabtu, 18 Oktober 2014

Kompor Bermerek 'Rumah Fiqih'


Lagi dan lagi..
Kami dibakar habis-habisan dengan tikaman demi tikaman kata yang kami sangat tahu kebenarannya. 
Dan mirisnya, kami sangat tahu jika kami sangat salah dalam hal ini. 
Ibarat oven, kami dipanaskan sampai ke tulang-tulang. Lunak dan leleh betul. 
Hanya dengan sebuah pernyataan : Istiqomah dengan jalan Fiqih sampai mati.
Serasa sebuah gunung ditimpakan di pundak kami. Ada amanah yang harus disampaikan, Ada tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas diri. Ada begitu banyak hal yang dikorbankan. Hari-hari yang akan sangat akrab dengan perjuangan dan kepayahan.

Terkurung dalam gua...
Kedengarannya seperti kera sakti. Kami mengurung diri kami dalam gua terpencil yang kami bangun sendiri. Dihiasi dengan aura kesesatan berfikir yang menyelimuti. Entah tawadhu' yang kebablasan, atau minder yang mencari pembenaran. Entah ketidak percayaan diri yang dipelihara, atau sikap hati-hati yang tidak pada tempatnya. 
Tapi kalimat sederhana tadi, yang diteriakkan dengan sangat halus, melempar kami dari pertapaan abadi di dalam tempurung.  Hancur sudah, berkeping-keping. Kesadaran yang sangat menyadarkan. (Semoga bukan kesadaran sambal!) 

Tameng yang salah tempat...
Ada sebuah ayat yang menjadi tameng kuat untuk membenarkan kediaman kami. Sebuah ayat yang mengecam para penyampai ilmu, mengajak kepada kebenaran, namun mereka sendiri tidak mngerjakan apa yang mereka serukan. Celakalah! Celakalah!
Di neraka kelak mereka diseret ke neraka dengan isi perut yang memburai. Menelan ludah sendiri, istilah kerennya. 
Tameng yang kuat bukan? 
Lihat betapa para shahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan ajaran agama. Lebih baik diam jika tidak tahu pasti kebenarannya. 
Tapi lihat lagi, telaah lagi, perhatikan lagi, mereka memilih sikap itu karena mereka tinggal dikalangan para shahabat yang kualitas keshalihannya tidak diragukan. Kondisi pada masa itu aman. Konsumsi masyarakatnya adalah iman dan imu. Jika seorang shahabat memilih diam, maka masih ada banyak shahabat lain dengan kapasitas ilmu yang mumpuni untuk memberi pencerahan. 
Pertanyaannya adalah, apakah kondisi itu bisa disamakan dengan keadaan kita sekarang? Ketika kerusakan karena pelanggaran syariah bukan lagi barang baru di tengah-tengah kita. 
Mari jawab dalam hati masing-masing. 

First step it's always difficult...
Sudah mejadi rumus umum, langkah awal memang selalu sangat berat. Langkah pertama dari langkah ke-seribu. Pasti pesimis yang lebih dulu muncul. Tapi yang sering kita lupa, langkah ke-seribu ada karena kita menapaki langkah satu demi satu. Selangkah demi selangkah. Tidak ada kesuksesan yang instan. Boleh cek disemua supermarket, tidak akan ada! 
Hati kecil kami selalu seakan bermimpi ketika melihat orang-orang hebat. Dalam benak selalu bertanya 'Kapan kami akan sampai disana?' 
Tapi kami lupa bahwa mereka pun berawal dari tempat dan start yang sama seperti kami-kami ini. Bedanya, mereka melangkah tanpa mempertanyakan apa yang akan ada di depan. Sedangkan kami bertanya-tanya di garis start, dimana finishnya, tanpa berani melangkah. 
Bedanya, mau ke garis finish atau tidak? 
Jangan dilihat kesuksesan mereka sekarang, tapi lihatlah apa yang telah mereka lalui dan korbankan untuk mencapai titik ini.

Akan selalu tersandung...
Tersandung ada berbagai macam jenis. Tersandung yang menjatuhkan, dan memalingkan. Tersandung yang menjatuhkan bisa karena faktor pribadi yang lemah tekad, atau mungkin faktor eksternal yang tidak bisa disebutkan banyaknya. Membuat kita serasa ingin berhenti di tengah jalan. Menyerah!
Tersandung yang memalingkan, yang banyak terjadi adalah kebutuhan hidup. Menjadi pengemban ilmu, tidak bisa dikomersilkan. Khususnya ilmu agama. Serasa tidak layak ilmu agama dikaitkan dengan ukuran duniawi. Tapi hidup di dunia tetap harus berjalan. Akhirnya memilih untuk bergeser ke persimpangan lain. Menjalani aktifitas yang jauh dari ilmu yang dipelajari. Ilmunya menjadi stag, tidak tersalurkan. 
Namun sandungan sendiri ada fungsinya. Agar melihat ke bawah. Umumnya orang tersandung akan melihat ke bawah. Introspeksi, rem sebentar, berfikir ulang. Ada strategi yang harus diganti. Ada teguran yang mendewsakan. Ada peringatan bahwa di atas  langit masih ada langit, jangan merasa puas diri. 

The right man in the right place... 
Kebanyakan dari kami berada di tempat ini karena kecelakaan yang membawa anugerah. Hingga kami masih merasa seakan tersasar di jalan yang benar. Melaluinya dengan tanpa target karena merasa 'salah jurusan' atau punya ketertarikan di bidang lain.
Namun sepertinya sudah bukan masanya lagi kita memikirkan diri sendiri, memikirkan kepuasan dan kehobian yang tidak kesampaian ketika ada tanggung jawab di depan mata. 
Hiduplah untuk Allah, Allah akan membuka semua jalan untukmu. 
Kesimpulannya, kami tidak tersasar, kami dipilih! 
Maka pantaskanlah diri dijajaran yang terpilih! 

Permisalan...
Logika kami masih ingin mencari pengecualian rasanya. Namun kelu sudah ketika dihajar oleh permisalan yang menampar! 
Jika ada seorang dokter yang dihadapkan dengan pasien yang sekarat. Dia tahu bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Namun memilih diam, karena takut salah bertindak. Tidak ingin mengambil resiko. Lalu menyaksikan sang pasien mati begitu saja dihadapannya. Padahal jika dia bertindak, kemungkinan selamatnya lebih besar. Bukankah dokter itu secara tidak langsung menghantarkan sang pasien kepada ajalnya? 
'Itulah kalian, Seorang yang tau ilmunya, tapi diam saja ketika orang lain butuh, dan membiarkan mereka dalam kesesatannya, dan masih bisa tidur nyenyak, tidak ambil pusing.'
Jleb! Oh maaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!!!!!!! rasanya, ingin sembunyi ke dasar bumi sejenak!!!

Rabbi tunjuki kami...
Kami sudah di garis start, entah menunggu aba-aba, atau belum kuat tekad untuk memulai, atau bahkan tidak tahu harus memulai darimana. (Melangkah sajaa....!!! Banyak alasan!)
Tunjuki kami kebenaran, dan anugerahi kemampuan untuk menjalankannya, mudahkan...
Tunjuki kami kebathilan, dan jauhkan kami sejauh-jauhnya...

HHG (Hangat-hangat Gosong) #BukanJudulSinetron

Rabu, 15 Oktober 2014

'Kiamat' Kecil

Kita tidak punya kuasa, untuk tahu apa yang akan terjadi esok, satu jam kemudian, atau bahkan sekedar 5 detik ke depan.
Pengetahuan tentang waktu hanya Allah yang tahu.

Mungkin ini kejadian yang sudah sangat akrab di telinga. Biasa saja. Sangat Familiar. Tapi kali ini lebih ini istimewa dan 'kena' banget karena saya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Bukan sekedar menonton dari kotak segi empat.

Jum'at, 26 September 2014
Malam itu tenang, hening, tidak ada perasaan apapun akan terjadi sesatu yang 'so panic'. Manusia-manusia sibuk dengan rencananya, menyusun agenda beberapa jam ke depan. Akan begini, akan begitu, seakan itu akan sangat mungkin terlaksana. Sekitar jam 21.00 WIB, seorang teman yang kebetulan sedang mengerjakan tugas di kos kami mencium bau asap, seperti sesuatu terbakar. Kami yang merupakan penghuni menanggapi santai, karena memang sudah biasa ada yang bakar sampah di jam-jam segitu.
Saya sendiri sedang menyusun rencana, akan mngerjakan tugas tengah malam, dan berencana tidur dulu sejenak.

Hening, sepi. Malam dengan ketenangannya meraja.
Pukul 23.00 kira-kira, ada suara kecil, 'KEBAKARAAANN'... Saya yang waktu itu belum terpejam, setengah tidak percaya. Barangkali isengnya tukang sebelah rumah saja. Kebetulan sebelah rumah kami sedang renovasi rumah dan tukang-tukangya suka nyapa-nyapa tidak penting.
Masih bersantai ria, tiba-tiba teman dari kamar lain berteriak.. "Teman-temann... keluaarrr.. kebakaraannn..!!!"
Saya keluar kamar untuk meyakinkan. Semua sibuk berpakaian rapi, membawa barang berharga yang bisa dijangkau. Saya masih bengong-bengong entah apa yang akan dilakukan. Kaki serasa terpaku di ubin. Dalam benak masih bertanya, "Dimana sih kebakarannya? Kok tidak ada ramai suara warga."
Semua teman-teman sudah keluar, sibuk dengan diri masing-masing.
Tak lama kemudian warga berdatangan, saya sudah panik, karena sudah tinggal sendirian saja di dalam rumah. Menyambar yang terdekat yang bisa dipakai, Mukenah. Menyambar handphone, bergegas keluar.
Ternyata  rumah di samping tetangga saya sudah dikuasai api. Sudah sampai atap, dan hampir mencolek rumah tetangga pas saya. Entah apa penyebabnya, saya bergegas mematikan Meteran Listrik. Waspada jika penyebabnya adalah arus pendek.
Saya lihat teman-teman membawa ransel berisi barang-barang berharga. Hanya saya yang keluar rumah dengan tangan kosong. Akhirnya saya masuk lagi, meraba-raba dalam gelap, menyelamatkan yang bisa diselamatkan.

Di tengah kekacauan itu, semua sibuk dengan diri masing-masing. Di tengah kepanikan itu, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Komentar-komentar yang terlontar spontan, semuanya begitu alami. Menggambarkan karakter pribadi-pribadi malam itu dengan sebenarnya, tanpa polesan.
Tiba-tiba saya terfikir, ini baru kebakaran rumah. Rumah tetangga, bukan rumah sendiri. Sudah begini paniknya. Bagaimana jika kiamat nanti?
Ketika Ibu lupa Anaknya, Anak lupa Ibunya, Suami Istri pun seperti asing, Ayah pun lari menyelamatkan diri sendiri. Tidak ingat apapun kecuali diri sendiri.
Selama ini segenting apapun kejadian yang ada, entah tsunami, gempa bumi, kita masih mendengar kisah, bagaimana ibu berkorban untuk anaknya, dan sebagainya.
Kiranya kondisi macam apa yang bisa membuat pertalian darah menguap seakan tak ada harganya?
Segenting apakah kondisi yang akan menanti?
Langit di gulung, bagaimana bentuknya? Bumi mengeluarkan isinya? Gunung-gunung seperti anai-anai? Kondisi yang 'out of imagination'.

Entah bagaimana kejadian itu seperti sebuah peringatan nyata bagi jiwa-jiwa yang lalai. Seperti gema yang berteriak di dalam hati, 'waktunya sudah semakin dekat'. Ketika dosa-dosa masih mungkin untuk dihapus, sebelum matahari pindah terbit dari barat. Ketika masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, menyiapkan bekal menuju kampung halaman.
Yuk mari,, semakin merapat pada-Nya.
Jika bukan karena rahmat-Nya, karena kasih sayang-Nya..
Kita hanya makhluk-makhluk hampa tanpa cahaya.
Namun Allah beri kita lentera iman yang menerangi jalan menuju kampung akhirat yang kekal.
Maka jangan sia-siakan.  Yuk, bersama, berjamaah menuju kebaikan.

#introspeksi-say'No'toTaubatSambal

Rabu, 23 April 2014

Realisasi Yakin

Sepertinya sudah lama sekali tidak ngopi disini. Entah bumi yang berputar terlalu cepat atau memang hari semakin pendek, atau jadwal saya yang sekarang makin padat. (halah gaya!)
Yang pasti ngerumpi bagi perempuan adalah kewajiban yang tidak mengenal usia. Tinggal ditilik sekarang ngerumpinya soal apa. Ngerumpi harga sayuran yang makin melangit, model baju terbaru, arisan, jadwal pengajian, bahkan  ngobrolin berita tivi yang makin hari makin gak jelas.  Atau mulai pindah ke topik-topik yang sedikit agak berat. (biar ibu-ibu tetap gak bolek ketinggalan jaman ya!)
FYI_saya belum ibu-ibu dan udah kegandrungan ngerumpi :)

Beberapa waktu lalu saya pernah cerita tentang 'visi' aneh ketika mendaki dataran lurus licin yang mustahil dijangkau. (bisa di cek tulisan sebelumnya yang berjudul 'yakin')
Boleh dibilang saya merasakan 'sense' dari mimpi itu akhir-akhir ini. Ketika saya mengenal jurusan yang saya anut ini, saya merasa mustahil untuk ukuran dan standar diri yang ugal-ugalan menyelami mata kuliah maha berat yang rasanya kalau saya pikul langsung kena encok stadium akut dalam beberapa detik.
Saya mulai meraung-raung di depan diktat-diktat kuliah yang saking tebalnya bisa buat nimpuk maling. Belajar segan, tidur tak tenang, perut mual-mual dan gejala kronis lain yang turut mengekor.

Ketika saya duduk di sudut kelas (tempat favorit saya) melihat semua orang mengangguk-angguk tersenyum penuh cinta membuat saya bertanya-tanya, kenapa baris-baris kata ini begitu mudahnya masuk ke kepala mereka??? Sementara kepala saya melihat itu seperti virus yang ketika belum masuk saja sudah dikarantina duluan dan siap-siap untuk di buang.
Jelas saja saya nyasar di kuliah syariah yang semua dosennya ngoceh bahasa Arab sedangkan bahasa Arab saya amat sangat payah sampai tahap mengerikan. Bagaimana tidak stress??

Entah salah makan apa, berjalannya waktu tampaknya memberi perubahan. Atau benar kata pepatah cinta itu ada karena terbiasa. Diktat penimpuk maling itu sepertinya bertransformasi menjadi kepingan mozaik yang ketika kita menemukan satu kepingan, kita semakin penasaran untuk segera menemukan kepingan agar teka-tekinya segera terungkap. Seperti habis memakan makanan asin, saya ketagihan meminumnya, dan tidak merasa puas.
Awalnya belajar terasa mustahil, namun ketika saya mengabaikan hal-hal tidak penting seperti kecemasan akan ujian, tugas, dan semuanya, saya justru menikmati itu.
Ujian tetap menjadi fase yang paling serius dalam hari-hari saya tapi tidak membuat saya pusing apa hasilnya. Biarlah ujian hanya sistem seperti umumnya sistem pendidikan yang mewajibkan muridnya lulus mata pelajaran sesuai nilai standar yang ditentukan. Buat saya yang penting proses belajarnya, toh ujian tidak menentukan kesuksesan hidup seseorang. Kalau perlu saya pingin membuat sekolah yang tidak perlu ada ujiannya, tapi murid diajari bagaimana mencintai ilmu. Bukankah cinta itu punya kekuatan yang mampu membuat air laut terasa seperti es teh??

Dan saya merasakan perasaan itu. Mendaki kemustahilan dengan mata tertutup dan menikmati ritmenya. Peduli apa dengan apa yang menunggu di depan sana, saya percaya usaha yang baik akan menghasilkan hal-hal yang baik. Kalaupun  nantinya ada kegagalan, itu semua proses pembelajaran. Karena kematangan sikap dan sifat tidak bisa didapatkan di bangku sekolah, melainkan dari kerasnya alam. Tidak bisa secara instan, diseduh, lalu selesai siap dinikmati. Butuh puluhan tahun untuk menjadi bijak dalam bersikap, berfikir, dan bertutur.

Dan yang paling menyenangkan, saya menemukan cahaya warna-warni disekitar saya yang membuat hidup terasa begitu ringan. Membuat kebaikan terasa mungkin. Mungkin saya hanya bulan bagi matahari yang hanya memantulkan cahaya, tidak bercahaya dari asalnya. Namun apapun itu, semuanya tetap indah. Kami bersama-sama menuju lebih baik. Bukankah ketika ingin lebih baik kita butuh lingkungan dan teman-teman yang baik?
Saya menikmati setiap detik, semuanya.
Saya pikir ini bisa diterapkan untuk teman-teman, bebaskan semua beban, lepaskan, apapun yang ada di depan mata nikmati, hadapi. Jika tidak sekarang, suatu saat pasti ada hikmahnya.

Alhamdulillah 'ala kulli haal

Jadi ibu-ibu, siap untuk meng-Upgrade tema ngerumpi kita?






Islam Agama yang Sempurna

Tidak ada dan tidak pernah ada syariat, hukum, undang-undang atau apapun yang lebih sempurna, tegas sekaligus lunak, dan sesuai dengan semua zaman, tempat, dan waktu, selain Syariat Islam.
Dari hal-hal yg menyangkut ibadah, cara bersosialisasi, norma dan sopan santun, peran wanita dan laki-laki, adab sehari-hari, bahkan hingga yang kecil-kecil dan remeh-remeh, semua ada.
Bahkan soal travelling yang termasuk dalam kategori refreshing juga disebutkan.

Islam juga tidak pernah menggambarkan muslim sebagai seorang hamba yang hanya beribadah saja sehari semalam dan mengacuhkan sekitar, melainkan muslim hendaknya membawa kebaikan bagi dirinya dan sekitarnya. Beribadah sebagai tujuan utama penciptaan memang kedudukannya tak tergantikan, tapi ada dampak dari keshalihan diri yang tak bisa dipungkiri yakni pribadinya memberi manfaat yang luas.
Pun Islam bukan agama ritual yang hanya menuntut ketaatan mutlak. Bisa kita lihat banyaknya ayat yang mengajak kita berfikir tentang kesempurnaan dan keharmonisan alam raya yang diciptakan oleh yang Maha Sempurna. Fakta-fakta ilmiah dalam al Quran yang tak terbantahkan, seperti petunjuk penggunaan pemakaian dari pencipta barang bagi konsumennya.

Maka nikmat mana lagi yang mau dipungkiri? Nikmat Islam ini begitu indah. Membuat hidup kita terang dan terarah, sehingga kita tidak meraba-raba dalam kegelapan, 'Hidup seperti apa ini? Untuk apa? Harus bagaimana? Apa akhirnya?'
Alhamdulillah 'ala ni'mal iman wal islam.

Sabtu, 07 Desember 2013

Menguji Hafalan Abu Hurairah

Siapa kiranya yang tak mengenal kesohoran Abu Hurairah. Beliau adalah Abdurrahman bin Shakr Ad Dausi yang hatinya terbuka pada Islam di abad 7H.  Tak tanggung-tanggung hadits yang diriwayatkan darinya sekitar 5300 hadits dalam masa keislamannya yang hanya 4 tahun. Singkatnya masa dengan hasil yang luar biasa inilah yang secara akal mustahil bahkan dikalangan para shahabat sendiri.

Maka adalah Marwan bin Hakim salah seorang shahabat tergerak untuk menguji, seperti apa sih kapasitas hafalan seorang Abu Hurairah??
Diundanglah Sang Masterpiece Hadits ini oleh Marwan bin Hakim ke kediamannya untuk membacakan satu hadits setiap harinya. Dan tanpa sepengetahuannya di balik tempatnya membacakan hadits, Marwan memerintahkan kepada sekretarisnya untuk mencatat apa-apa yang diucapkan Abu Hurairah sampai akhirnya tuntas sudah apa yang dimilikinya dari Nabi.
Pada satu hari yang bersejarah, ada meriwayatkan hari itu terhitung satu tahun dari hari pertama Abu Hurairah mulai rutin mendatangi kediaman Marwan bin Hakim.
Diujilah kekuatan hafalan Abu Hurairah yang mana Marwan memintanya menyebutkan semua hadits yang telah dibacakannya dulu dalam satu hari.
Sang Penguji yakni Marwan telah siap dengan sekretarisnya yang menggenggam naskah hadits yang dia tulis dari Abu Hurairah. Sekretarisnya diam di satu tempat tersembunyi untuk mengoreksi dan Abu Hurairah dengan tanpa risau kembali membacakan -kalau boleh dibilang menuangkan isi kepalanya- dengan teratur.
Setelah selesai, Marwan bertanya pendapat sekretarisnya. Sang sekretaris dengan takjub mengatakan bahwa Abu Hurairah mengulangi apa yang telah dikatakannya tanpa melewatkan satu hurufpun!! Bahkan dengan urutan yang sama persis dari hadits yang pertama disebutkan hingga hadits terakhir seakan-akan itu adalah urutan yang beliau hafal dari Nabi. Hafal perkataannya lengkap dengan urutan waktunya.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Dan keberkahan bagi yang mensyukuri nikmatNya dengan mengoptimalkannya.

Selasa, 22 Oktober 2013

YAKIN!!!

Ada banyak cara Allah memberi tahu, mendidik hamba Nya, menegur,,
Dengan ujian, nikmat, kekayaan, dan segudang yang lain yang pastinya sesuai dengan kepribadian hambaNya..
Dan mungkin karena saya adalah seorang pemimpi kelas akut (kena virus Andrea Hirata). Saya selalu memimpikan sesuatu yang oleh Allah selalu diberi. Ketika saya berdiri di waktu ini, saya baru menyadari, bahwa ini adalah refleksi dari apa yang pernah saya pikirkan dulu.

Sederhana sebenarnya, karena saya besar di lingkungan pesantren, yang kata orang penjara suci dengan tembok putih gagahnya segi empat. Waktu itu selintas saya berfikir, kuliah nanti saya ingin bebas menjelajah banyak tempat. Dan beginilah adanya, saya tersesat di kota hedon paling sibuk dan paling update, tanpa keluarga, dan bisa menjelajah tempat manapun yang saya inginkan. Cukup mengagetkan sebenarnya untuk ukuran ibu saya yang super duper protektif. Tapi begitulah cara Allah membolak - balikkan hati. Memberi bingkisan kecil dari apa yang selalu saya yakini, 'tak ada doa yang tak terjawab.' Dan satu lagi, saya ingin kuliah di tempat dingin (haha,, karena dulu pesantren saya di madura yang panas). Tapi untuk keinginan yang ini sepertinya sedikit melenceng. Jakarta memang tidak dingin, tapi alhamdulilllah selalu ada kipas angin yang menemani 24 jam. Dan menurut pengamatan saya, cuaca dan suhu jakarta membuat kulit semakin cerah, entah ini mungkin butuh riset yang lebih dalam, tapi dari apa yang saya perhatikan tak ada orang jakarta yang wajahnya kusam, kucel. Begitu juga teman - teman kampus, ketika kembali dari kampung. Wajahnya yang kusam di panggang terik pedesaan, kembali cerah dipoles udara jakarta.
Begitu juga ketika saya bertekad sejak dulu bahwa kuliah tidak boleh dengan biaya orang tua. Allah menjawabnya, selalu menjawabnya.

Kebetulan beberapa hari ini saya sedang resah karena satu hal. Sangat 'gak banget' rasanya di usia seperti ini masih bergantung uang jajan dari ortu. Saya meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Rezeki itu sudah diatur, tinggal dijemput dengan sungguh2. Selalu ada jalan, bla bla bla. Segudang kata mutiara sudah saya bebalkan ke dalam pikiran, mensugesti, tapi nihil. Tetap resah.
Untuk ukuran jakarta yang notabene semua harga sudah mencapai planet pluto (sudah bukan selangit lagi) mampukah saya mandiri sepenuhnya secara finansial? Mampu. Bisa. Jawaban retoris. Tapi tetap resah.

Disini intinya, di dalam tidur saya yang dipenuhi kekacauan (kacau karena sedang resah, juga karena tidur diantara benda2 yang berserakan), saya bermimpi sedang ikut acara tantangan semacam Benteng Takeshi yang lucunya pesertanya hanya tiga orang. Lucunya kami bukannya bersaing malah saling membantu. Tak ada penonton, tak ada pembawa acara. Hanya terdampar di dataran aneh yang sepi. Seperti hutan, seperti lembah, seperti dataran terjal. Kami melewati tantangan satu demi satu. Hingga akhirnya sudah tak ada hambatan lagi. Kami melintasi tepian sungai yang tenang, namun ketenangannya menipu. Apa yang kami sangka sudah selesai ternyata baru dimulai. Semakin lama jalan tepian sungai itu semakin miring, menanjak. Sepatu kami bukan sepatu pendaki. Entah kenapa disitu, kami yang awalnya saling mendukung mulai berjalan sendiri-sendiri. Jalanan yang sudah miring positif itu mulai dialiri air yang santai, tapi membuat pijakan semakin licin. Kami tetap berjalan meski tak tahu apa ujungnya. Sampai ketika kami melihat tembok vertikal yang lurus tegak seratus persen dan berair, dan itulah tantangan utamanya. Kami memijak di pijakan pertama dengan ragu namun ternyata tetap berjalan dan tak jatuh. Oke, ini pertanda baik, tapi tembok itu sangat tinggi, mencapai langit dan tak tahu apa kaki ini sanggup mendakinya. Dua teman saya mulai menutup mata, berjalan tanpa melihat ke bawah, tanpa berfikir, hanya berjalan.Saya masih melangkah namun tetap menengok ujung atas. Sampaikah kaki ini ke atas? Ketika sudah setengah perjalanan, terbersit sedikit ragu. dan kaki ini hampir tergelincir. Saya toleh teman sebelah, mereka masih berjalan dengan pasrah, tenang, mantap. Saya berfikir, saya tak mau menjadi satu2nya yang jatuh dalam tantangan ini. Saya tutup mata, pijakan itu erat seketika, saya mulai berjalan dengan menutup mata, pasrah dengan ujung yang tinggi itu entah kapan akan diraih. Saya mulai menikmati ritme itu. Jalan yang tadinya tak terjangkau menjadi begitu jelas. Begitu indah, menapaki setapak demi setapak batu yang dialiri air. Lupa jika itu adalah dinding vertikal tegak. Tiba2saja, tangan ini sudah tak menyentuh tembok, melainkan udara terbuka, saya naik, saya naik!! melewatinya. Kami bertiga berpandangan, tersenyum dan rebah. Rebah karena tak percaya, karena lega, karena sensasi yang 'WOW'. Tanpa sadar kami hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kami berteriak sepuasnya. Kerasss!! Sampai alam mendengarnya. Saya tercekat melihat pemandangan ini. 'AMAZING!' dari ketinggian ini, melihat air yang mengalir, pepohonan yang hijau, langit biru yang memayungi, udara yang begitu segar. Ah, nikmat mana lagi yang ingin kamu dustakan setelah apa yang kamu alami, lihat, dan rasakan??

Mimpi itu terasa begitu singkat, dan ketika terbangun, sensasinya masih terasa, serasa begitu nyata. Tapi ternyata itu bukan dunia nyata yang sesungguhnya, karena ternyata saya terbangun di alam mimpi. Seperti mimpi berlapis. Dan akhirnya ketika bangun di dunia yang sesungguhnya, seperti gadget yang baru di charge. Ada perasaan ringan, ada keyakinan yang baru. Benar2,, Masya Allah!!

Ya Rabb, jangan kau buang aku dari jalanMu, jika Engkau yang mendepakku dari jalan ini, siapa lagi yang akan menyesatkan aku di jalanMu yang indah dan damai??