Baru-baru ini dirilis serial live action dari Samurai X yang
‘Wow’ banget. Meskipun biasanya film yg diadaptasi dari komik pasti
menimbulkan kritik dari penikmatnya karena kurang merasakan ‘feel’ yg greget,
atau ada beberapa scene yg berubah dari cerita asal. Tapi terlepas dari itu
semua, film ini sukses menggiring emosi dan imajinasi penonton ke era samurai
yg menyeramkan.
Koreo pedang yg disuguhkan film ini begitu memukau.
Kecepatan dan kelincahan permainan pedang dari para samurai membuat mulut
menganga. Zaman itu memang pernah ada.
Dari tiga serial yang saya tonton, hal yg paling mengharukan
ketika sang Guru dari pembunuh legendaris muncul dan turut andil dalam
menyelamatkan dan membantu sang ‘Battosai’ untuk mengalahkan musuhnya. Sebuah
jalinan emosi yg unik dan mengharukan. Entah kenapa tanpa sadar saya menitikkan
air mata.
Sebuah pertanyaan terbersit. ‘Kenapa ada murid yg luar biasa
hebat?’
Jawabannya hanya satu. Karena ada guru-guru hebat di belakang
mereka. Yang mendidik dengan hati. Saya benar-benar spechless dengan metode
sang Guru ketika mengajarkan jurus ‘High Heaven’. Dialog-dialog yang
membangkitkan jati diri. Ketegasan, ketulusan, ketajaman. Saya selalu mengagumi
tiga perpaduan itu. Seseorang berjiwa petualang, petarung, tapi lembut hati.
Cool!
Apalagi pada adegan ketika Kenshin telah menyelesaikan
pelajaran jurus terakhirnya, dan berpamitan pada sang Guru untuk menghadapi
musuh yg sangat kuat. Entah dia sanggup menghadapinya atau tidak. Dari semua
sakit, perih dan kedisiplinan yang sudah dia pelajari. Dari semua pengalaman
dan perjalanan yg ia lalui bertahun-tahun. Ini akan menjadi yg terakhir dan
terberat.
Gurunya hanya berpesan, “Stay Alive.” Melepas murid
satu-satunya yg telah mewarisi semua ilmunya. Melepas seseorang yg telah ia
tempa sejak belia. Dengan raut wajah yg tak bisa diartikan. Dengan berat hati. Sukses
sudah dia meluncurkan air mata saya. So sweet sekali.
Jurus High Heaven, kata kuncinya adalah bertahan hidup
apapun yg terjadi dan jangan pernah berfikir menyerah dan menganggap waktu
kematian telah datang. Bertahan hidup. Nyawamu sangat berharga.
Terkadang jurus-jurus tingkat tertinggi hanyalah prinsip
pelengkap yg merupakan aplikasi, bukan teori. Karena sebanyak apapun teori, dia
tetap perlu diasah dengan pengalaman dan kematangan.
Menonton film ini membuat saya sadar, tidak ada pencapaian
apapun yg instan. Ke-instan-an tak pernah menjanjikan apapun. Perlu darah,
keringat, luka, jatuh untuk bisa menjadi ‘tangguh’.
Semangat dan kegigihan yg tak kenal menyerah.
Mengapa tak lagi di zaman ini kita temui murid-murid yg
tangguh?
Karena semakin kesini guru-guru yg tulus sudah hampir punah.
Niat yg mulia tergadaikan dg gaji. Tanpa peduli apakah muridnya telah menyerap
apa yg ia sampaikan.
Ilmu yg terucap hanya bersumber dari lisan. Bukan lagi
komunikasi hati ke hati. Padahal prinsipnya, apa yg dari hati, akan sampai ke
hati.
Kita bisa lihat betapa zaman dahulu hidup para ilmuwan,
ulama besar. Tujuan akhir pencarian ilmu mereka bukan selembar ijazah yg
dilaminating, tapi bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam membentuk
peradaban.
Ah.. betapa rindunya kita pada pencari ilmu,,,
Betapa rindunya pada sosok guru yg tulus dan bijak,,,
Semoga suatu saat, rindu itu terobati.