Rabu, 23 April 2014

Realisasi Yakin

Sepertinya sudah lama sekali tidak ngopi disini. Entah bumi yang berputar terlalu cepat atau memang hari semakin pendek, atau jadwal saya yang sekarang makin padat. (halah gaya!)
Yang pasti ngerumpi bagi perempuan adalah kewajiban yang tidak mengenal usia. Tinggal ditilik sekarang ngerumpinya soal apa. Ngerumpi harga sayuran yang makin melangit, model baju terbaru, arisan, jadwal pengajian, bahkan  ngobrolin berita tivi yang makin hari makin gak jelas.  Atau mulai pindah ke topik-topik yang sedikit agak berat. (biar ibu-ibu tetap gak bolek ketinggalan jaman ya!)
FYI_saya belum ibu-ibu dan udah kegandrungan ngerumpi :)

Beberapa waktu lalu saya pernah cerita tentang 'visi' aneh ketika mendaki dataran lurus licin yang mustahil dijangkau. (bisa di cek tulisan sebelumnya yang berjudul 'yakin')
Boleh dibilang saya merasakan 'sense' dari mimpi itu akhir-akhir ini. Ketika saya mengenal jurusan yang saya anut ini, saya merasa mustahil untuk ukuran dan standar diri yang ugal-ugalan menyelami mata kuliah maha berat yang rasanya kalau saya pikul langsung kena encok stadium akut dalam beberapa detik.
Saya mulai meraung-raung di depan diktat-diktat kuliah yang saking tebalnya bisa buat nimpuk maling. Belajar segan, tidur tak tenang, perut mual-mual dan gejala kronis lain yang turut mengekor.

Ketika saya duduk di sudut kelas (tempat favorit saya) melihat semua orang mengangguk-angguk tersenyum penuh cinta membuat saya bertanya-tanya, kenapa baris-baris kata ini begitu mudahnya masuk ke kepala mereka??? Sementara kepala saya melihat itu seperti virus yang ketika belum masuk saja sudah dikarantina duluan dan siap-siap untuk di buang.
Jelas saja saya nyasar di kuliah syariah yang semua dosennya ngoceh bahasa Arab sedangkan bahasa Arab saya amat sangat payah sampai tahap mengerikan. Bagaimana tidak stress??

Entah salah makan apa, berjalannya waktu tampaknya memberi perubahan. Atau benar kata pepatah cinta itu ada karena terbiasa. Diktat penimpuk maling itu sepertinya bertransformasi menjadi kepingan mozaik yang ketika kita menemukan satu kepingan, kita semakin penasaran untuk segera menemukan kepingan agar teka-tekinya segera terungkap. Seperti habis memakan makanan asin, saya ketagihan meminumnya, dan tidak merasa puas.
Awalnya belajar terasa mustahil, namun ketika saya mengabaikan hal-hal tidak penting seperti kecemasan akan ujian, tugas, dan semuanya, saya justru menikmati itu.
Ujian tetap menjadi fase yang paling serius dalam hari-hari saya tapi tidak membuat saya pusing apa hasilnya. Biarlah ujian hanya sistem seperti umumnya sistem pendidikan yang mewajibkan muridnya lulus mata pelajaran sesuai nilai standar yang ditentukan. Buat saya yang penting proses belajarnya, toh ujian tidak menentukan kesuksesan hidup seseorang. Kalau perlu saya pingin membuat sekolah yang tidak perlu ada ujiannya, tapi murid diajari bagaimana mencintai ilmu. Bukankah cinta itu punya kekuatan yang mampu membuat air laut terasa seperti es teh??

Dan saya merasakan perasaan itu. Mendaki kemustahilan dengan mata tertutup dan menikmati ritmenya. Peduli apa dengan apa yang menunggu di depan sana, saya percaya usaha yang baik akan menghasilkan hal-hal yang baik. Kalaupun  nantinya ada kegagalan, itu semua proses pembelajaran. Karena kematangan sikap dan sifat tidak bisa didapatkan di bangku sekolah, melainkan dari kerasnya alam. Tidak bisa secara instan, diseduh, lalu selesai siap dinikmati. Butuh puluhan tahun untuk menjadi bijak dalam bersikap, berfikir, dan bertutur.

Dan yang paling menyenangkan, saya menemukan cahaya warna-warni disekitar saya yang membuat hidup terasa begitu ringan. Membuat kebaikan terasa mungkin. Mungkin saya hanya bulan bagi matahari yang hanya memantulkan cahaya, tidak bercahaya dari asalnya. Namun apapun itu, semuanya tetap indah. Kami bersama-sama menuju lebih baik. Bukankah ketika ingin lebih baik kita butuh lingkungan dan teman-teman yang baik?
Saya menikmati setiap detik, semuanya.
Saya pikir ini bisa diterapkan untuk teman-teman, bebaskan semua beban, lepaskan, apapun yang ada di depan mata nikmati, hadapi. Jika tidak sekarang, suatu saat pasti ada hikmahnya.

Alhamdulillah 'ala kulli haal

Jadi ibu-ibu, siap untuk meng-Upgrade tema ngerumpi kita?






Islam Agama yang Sempurna

Tidak ada dan tidak pernah ada syariat, hukum, undang-undang atau apapun yang lebih sempurna, tegas sekaligus lunak, dan sesuai dengan semua zaman, tempat, dan waktu, selain Syariat Islam.
Dari hal-hal yg menyangkut ibadah, cara bersosialisasi, norma dan sopan santun, peran wanita dan laki-laki, adab sehari-hari, bahkan hingga yang kecil-kecil dan remeh-remeh, semua ada.
Bahkan soal travelling yang termasuk dalam kategori refreshing juga disebutkan.

Islam juga tidak pernah menggambarkan muslim sebagai seorang hamba yang hanya beribadah saja sehari semalam dan mengacuhkan sekitar, melainkan muslim hendaknya membawa kebaikan bagi dirinya dan sekitarnya. Beribadah sebagai tujuan utama penciptaan memang kedudukannya tak tergantikan, tapi ada dampak dari keshalihan diri yang tak bisa dipungkiri yakni pribadinya memberi manfaat yang luas.
Pun Islam bukan agama ritual yang hanya menuntut ketaatan mutlak. Bisa kita lihat banyaknya ayat yang mengajak kita berfikir tentang kesempurnaan dan keharmonisan alam raya yang diciptakan oleh yang Maha Sempurna. Fakta-fakta ilmiah dalam al Quran yang tak terbantahkan, seperti petunjuk penggunaan pemakaian dari pencipta barang bagi konsumennya.

Maka nikmat mana lagi yang mau dipungkiri? Nikmat Islam ini begitu indah. Membuat hidup kita terang dan terarah, sehingga kita tidak meraba-raba dalam kegelapan, 'Hidup seperti apa ini? Untuk apa? Harus bagaimana? Apa akhirnya?'
Alhamdulillah 'ala ni'mal iman wal islam.

Sabtu, 07 Desember 2013

Menguji Hafalan Abu Hurairah

Siapa kiranya yang tak mengenal kesohoran Abu Hurairah. Beliau adalah Abdurrahman bin Shakr Ad Dausi yang hatinya terbuka pada Islam di abad 7H.  Tak tanggung-tanggung hadits yang diriwayatkan darinya sekitar 5300 hadits dalam masa keislamannya yang hanya 4 tahun. Singkatnya masa dengan hasil yang luar biasa inilah yang secara akal mustahil bahkan dikalangan para shahabat sendiri.

Maka adalah Marwan bin Hakim salah seorang shahabat tergerak untuk menguji, seperti apa sih kapasitas hafalan seorang Abu Hurairah??
Diundanglah Sang Masterpiece Hadits ini oleh Marwan bin Hakim ke kediamannya untuk membacakan satu hadits setiap harinya. Dan tanpa sepengetahuannya di balik tempatnya membacakan hadits, Marwan memerintahkan kepada sekretarisnya untuk mencatat apa-apa yang diucapkan Abu Hurairah sampai akhirnya tuntas sudah apa yang dimilikinya dari Nabi.
Pada satu hari yang bersejarah, ada meriwayatkan hari itu terhitung satu tahun dari hari pertama Abu Hurairah mulai rutin mendatangi kediaman Marwan bin Hakim.
Diujilah kekuatan hafalan Abu Hurairah yang mana Marwan memintanya menyebutkan semua hadits yang telah dibacakannya dulu dalam satu hari.
Sang Penguji yakni Marwan telah siap dengan sekretarisnya yang menggenggam naskah hadits yang dia tulis dari Abu Hurairah. Sekretarisnya diam di satu tempat tersembunyi untuk mengoreksi dan Abu Hurairah dengan tanpa risau kembali membacakan -kalau boleh dibilang menuangkan isi kepalanya- dengan teratur.
Setelah selesai, Marwan bertanya pendapat sekretarisnya. Sang sekretaris dengan takjub mengatakan bahwa Abu Hurairah mengulangi apa yang telah dikatakannya tanpa melewatkan satu hurufpun!! Bahkan dengan urutan yang sama persis dari hadits yang pertama disebutkan hingga hadits terakhir seakan-akan itu adalah urutan yang beliau hafal dari Nabi. Hafal perkataannya lengkap dengan urutan waktunya.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Dan keberkahan bagi yang mensyukuri nikmatNya dengan mengoptimalkannya.

Selasa, 22 Oktober 2013

YAKIN!!!

Ada banyak cara Allah memberi tahu, mendidik hamba Nya, menegur,,
Dengan ujian, nikmat, kekayaan, dan segudang yang lain yang pastinya sesuai dengan kepribadian hambaNya..
Dan mungkin karena saya adalah seorang pemimpi kelas akut (kena virus Andrea Hirata). Saya selalu memimpikan sesuatu yang oleh Allah selalu diberi. Ketika saya berdiri di waktu ini, saya baru menyadari, bahwa ini adalah refleksi dari apa yang pernah saya pikirkan dulu.

Sederhana sebenarnya, karena saya besar di lingkungan pesantren, yang kata orang penjara suci dengan tembok putih gagahnya segi empat. Waktu itu selintas saya berfikir, kuliah nanti saya ingin bebas menjelajah banyak tempat. Dan beginilah adanya, saya tersesat di kota hedon paling sibuk dan paling update, tanpa keluarga, dan bisa menjelajah tempat manapun yang saya inginkan. Cukup mengagetkan sebenarnya untuk ukuran ibu saya yang super duper protektif. Tapi begitulah cara Allah membolak - balikkan hati. Memberi bingkisan kecil dari apa yang selalu saya yakini, 'tak ada doa yang tak terjawab.' Dan satu lagi, saya ingin kuliah di tempat dingin (haha,, karena dulu pesantren saya di madura yang panas). Tapi untuk keinginan yang ini sepertinya sedikit melenceng. Jakarta memang tidak dingin, tapi alhamdulilllah selalu ada kipas angin yang menemani 24 jam. Dan menurut pengamatan saya, cuaca dan suhu jakarta membuat kulit semakin cerah, entah ini mungkin butuh riset yang lebih dalam, tapi dari apa yang saya perhatikan tak ada orang jakarta yang wajahnya kusam, kucel. Begitu juga teman - teman kampus, ketika kembali dari kampung. Wajahnya yang kusam di panggang terik pedesaan, kembali cerah dipoles udara jakarta.
Begitu juga ketika saya bertekad sejak dulu bahwa kuliah tidak boleh dengan biaya orang tua. Allah menjawabnya, selalu menjawabnya.

Kebetulan beberapa hari ini saya sedang resah karena satu hal. Sangat 'gak banget' rasanya di usia seperti ini masih bergantung uang jajan dari ortu. Saya meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Rezeki itu sudah diatur, tinggal dijemput dengan sungguh2. Selalu ada jalan, bla bla bla. Segudang kata mutiara sudah saya bebalkan ke dalam pikiran, mensugesti, tapi nihil. Tetap resah.
Untuk ukuran jakarta yang notabene semua harga sudah mencapai planet pluto (sudah bukan selangit lagi) mampukah saya mandiri sepenuhnya secara finansial? Mampu. Bisa. Jawaban retoris. Tapi tetap resah.

Disini intinya, di dalam tidur saya yang dipenuhi kekacauan (kacau karena sedang resah, juga karena tidur diantara benda2 yang berserakan), saya bermimpi sedang ikut acara tantangan semacam Benteng Takeshi yang lucunya pesertanya hanya tiga orang. Lucunya kami bukannya bersaing malah saling membantu. Tak ada penonton, tak ada pembawa acara. Hanya terdampar di dataran aneh yang sepi. Seperti hutan, seperti lembah, seperti dataran terjal. Kami melewati tantangan satu demi satu. Hingga akhirnya sudah tak ada hambatan lagi. Kami melintasi tepian sungai yang tenang, namun ketenangannya menipu. Apa yang kami sangka sudah selesai ternyata baru dimulai. Semakin lama jalan tepian sungai itu semakin miring, menanjak. Sepatu kami bukan sepatu pendaki. Entah kenapa disitu, kami yang awalnya saling mendukung mulai berjalan sendiri-sendiri. Jalanan yang sudah miring positif itu mulai dialiri air yang santai, tapi membuat pijakan semakin licin. Kami tetap berjalan meski tak tahu apa ujungnya. Sampai ketika kami melihat tembok vertikal yang lurus tegak seratus persen dan berair, dan itulah tantangan utamanya. Kami memijak di pijakan pertama dengan ragu namun ternyata tetap berjalan dan tak jatuh. Oke, ini pertanda baik, tapi tembok itu sangat tinggi, mencapai langit dan tak tahu apa kaki ini sanggup mendakinya. Dua teman saya mulai menutup mata, berjalan tanpa melihat ke bawah, tanpa berfikir, hanya berjalan.Saya masih melangkah namun tetap menengok ujung atas. Sampaikah kaki ini ke atas? Ketika sudah setengah perjalanan, terbersit sedikit ragu. dan kaki ini hampir tergelincir. Saya toleh teman sebelah, mereka masih berjalan dengan pasrah, tenang, mantap. Saya berfikir, saya tak mau menjadi satu2nya yang jatuh dalam tantangan ini. Saya tutup mata, pijakan itu erat seketika, saya mulai berjalan dengan menutup mata, pasrah dengan ujung yang tinggi itu entah kapan akan diraih. Saya mulai menikmati ritme itu. Jalan yang tadinya tak terjangkau menjadi begitu jelas. Begitu indah, menapaki setapak demi setapak batu yang dialiri air. Lupa jika itu adalah dinding vertikal tegak. Tiba2saja, tangan ini sudah tak menyentuh tembok, melainkan udara terbuka, saya naik, saya naik!! melewatinya. Kami bertiga berpandangan, tersenyum dan rebah. Rebah karena tak percaya, karena lega, karena sensasi yang 'WOW'. Tanpa sadar kami hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kami berteriak sepuasnya. Kerasss!! Sampai alam mendengarnya. Saya tercekat melihat pemandangan ini. 'AMAZING!' dari ketinggian ini, melihat air yang mengalir, pepohonan yang hijau, langit biru yang memayungi, udara yang begitu segar. Ah, nikmat mana lagi yang ingin kamu dustakan setelah apa yang kamu alami, lihat, dan rasakan??

Mimpi itu terasa begitu singkat, dan ketika terbangun, sensasinya masih terasa, serasa begitu nyata. Tapi ternyata itu bukan dunia nyata yang sesungguhnya, karena ternyata saya terbangun di alam mimpi. Seperti mimpi berlapis. Dan akhirnya ketika bangun di dunia yang sesungguhnya, seperti gadget yang baru di charge. Ada perasaan ringan, ada keyakinan yang baru. Benar2,, Masya Allah!!

Ya Rabb, jangan kau buang aku dari jalanMu, jika Engkau yang mendepakku dari jalan ini, siapa lagi yang akan menyesatkan aku di jalanMu yang indah dan damai??


Rabu, 07 Agustus 2013

my grandpa -2-


Semakin hari stelah kepergiannya kisah-kisah tentangnya bukannya lenyap, malah  semakin bermuculan. Membuat rindu seperti luka yg disiram air garam.

Siapapun  yg kutemui,, yang pernah mengenalnya,, pasti memberi cerita baru dan baru lagi tentangnya.
Sore hari seperti biasa kami menunggu buka selepas sibuk di dapur. Ibuku lalu mengenangnya, teringat dan bercerita.

1. "Jidi (kakek) kau itu, tak pernah absen puasa ayamul bidh. Kau tahu kan itu, puasa 3 hari tiap bulan tanggal 13,14,15 menurut kalender hijriah. Makanya lihat, badannya segar sampai tua. Anak muda sekarang mana, baru 20 tahun sudah layu macam daun salam."

2. "Besok kau cari suami, cari yg peduli keluarga. Jidi kau memang pekerja keras tapi setiap jam 5 sore pasti sudah di rumah. Cari uang cukup dari habis subuh sampai sore. Lepas tu, keluarga pun butuh dibimbing. Diminta nanti pertanggung jawabannya di akhirat. Dulu pamanmu ada yg kerja di hotel, design interior. Pulang jam 12 malam. Ketahuan jidi langsung kena marah, "Berapa milyar kau dapat duit kalau kerja lembur? Kasihan anak kau seperti tak ada ayah."
Kalau Jidi wajib setiap habis magrib di rumah, manggil satu-satu kesebelas anaknya, diseritin (cari kutu).
Biar laki-laki, Jidi telaten merawat anak perempuan, anak perempuan di rumah rambutnya  harus panjang, di rawat pakai lidah buaya biar tebal."
Ibuku masih semangat berapi-api. Adzan masih sepuluh menit lagi.

3. "Kau berapa tahun di pesantren? Jidi biar bukan orang pesantren. Tau agama sekedarnya. Tapi setiap hari lunas satu juz. Sholat malam pun bgtu, sehari bisa satu juz sambil baca karna tak hafal. Setiap jam 3 pasti bangun rutin. Kau tahu, orang mati itu membawa amal apa yg dia tekuni. Jidi itu meninggal jam 3 malam ya pas lagi sholat tahajjud.Makanya Jidi keras sama anak-anaknya, semua harus masuk pesantren, belajar agama, supaya tak bodoh agama."

4. " Dulu, Jidi kau itu perokok berat! Sehari bukan berapa batang lagi, bisa beberapa kotak. Sampai jidah (nenek) kau kalau belikan rokok satu bal besar, biar tak bolak-balik belanja. Keras, tau itu tak baik, tapi tetep. Sampai pas cari barang ke jawa, nginep di losmen. Tiba-tiba dadanya sesak, tak bisa nafas. Seperti mimpi buruk dikira bakal mati hari itu juga. Saat itu juga dia remas itu rokok di tangannya. Dibuang! Benci sebenci-bencinya. Yang ada dipikirannya, kalau mati tak mau mati karena rokok. Anak sebelas juga masih kecil-kecil. Siapa yang mau tanggung? Kalau ada perokok berat terapi berbulan-bulan untuk berhenti rokok, Jidi kau langsung saat itu juga berhenti total. Makanya kalau ada anak lelakinya dekat-dekat rokok langsung dipecut!
Seakan-akan buruknya sama seperti zina. Dekat saja tak boleh lebih apalagi."

5. "Makanya pas meninggal, kita ndak tau darimana orang tau kabar, banyaknya yg nyolatin dan ngantar ke kuburan. Padahal ndak diumumin di masjid, bukan pas waktu sholat dan bukan pas sholat jum'at. Tapi yg ngantar banyaknyaaa, sampai jalan penuh kyk ndak habis-habis orang yg jalan."
Adzan berkumanddang, kalau tidak, mungkin critanya masih berlanjut,,
Tapi kerinduan padanya seperti rumput liar yg tanpa disirampun tumbuh menyebar,,
Tapi begitulah hakikat rindu, semakin ditahan semain meluas, semakin menyiksa semakin bertambah rindu,,
Buatku, the treal man is my grandpa!

Rabu, 24 Juli 2013

Ramadhan kali ini,,

Ramadhan kali ini rasanya benar-benar sesuatu banget,,,
Diluar keberkahan berlimpah yang dibawa bulan seribu bulan,, rasanya nikmat tak terperi ketika bisa berkunjung ke salah satu negeri yang bernafaskan Islam.
Namun yang istimewa bukan bepergian itu sendiri tetapi kejadian-kejadian yang terjadi. 

1. Seberapapun kita mempersiapkan suatu hal, dengan amat sangat matang, tetap kita hanya hamba yang berikhtiar yang segala keputusan hanyalah di tangan-Nya. Saya sendiri yang memang hoby banget travelling udah prepare segala hal sampe yang terkecil setiap mau bepergian. Bikin check list agar tak ada yang tertinggal. Yang terpenting kondisi badan yang fit dan kaki direparasi dulu sebelum dibawa jalan jauh. 
Qodarullah, hari ke-empat di Malaysia cacar mengobrak-abrik segala rencana jalan-jalan. Manusiawi saya kesal, menggugat, kenapa harus sekarang??
Tapi dalam sayup-sayup, saya sadar semua ini sudah tertulis dan pasti ada hikmahnya. Bukankah ujian itu seperti tangga, jika sabar maka kita naik ke tangga berikutnya. Akhirnya saya suggesti pikiran bahwa apapun itu, tidak akan membuat saya menyerah. Sebenarnya ketakutan itu bukan kepada diri sendiri, hanya takut orang-orang sekitar tertular penyakit ini. Browsing singkat tentang cacar, akhirnya istirahat sehari, mempersiapkan perbekalan dan proteksi. Untungnya sudah terbiasa kemana-mana membawa masker, akhirnya saya kenakan masker rapat-rapat (karena virus cacar menyebar melalui udara dan sentuhan). At least, saya tetap menikmati keindahan Kuala Lumpur layaknya orang sehat. 
Pada akhirnya saya bersyukur, mungkin ini cara Allah mendidik saya untuk menghadapi hal-hal lain yang lebih berat di kemudian hari. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya. 

2. Sangat mudah mengucap kata ikhlas, tapi jika kita dihadapkan pada sesuatu yang membutuhkan ikhlas kita sedalam samudra, di detik-detik pertama, ikhlas 100% itu pasti bukan hal yang mudah. Baru-baru ini saya kehilangan benda kesayangan yang berharga bukan dari harganya (meskipun tidak bisa dibilang murah), tapi lebih kepada karena itu pemberian dari Ibu saya. Ketika tahu bahwa benda itu hilang, rasanya seperti kaget, sejenak lalu rasanya baru ada di tangan. Maha Kuasa Allah yang mampu mengambil apapun yang Dia inginkan dengan skenario yang tak pernah kita duga. Ada rasa 'seandainya', pun ada keyakinan 'aku harus menemukannya kembali'. Seakan-akan tak rela jika benda itu benar-benar hilang. 
Lagi-lagi termenung, betapa hebatnya para sahabat yang dahulu tak pernah berfikir dua kali merelakan hal-hal berharga mereka untuk Islam. Keluarga, harta benda, bahkan nyawa direlakan tanpa berfikir dua kali. Yakin bahwa hidup di dunia ini hanya butuh Allah saja. Ya Rabb, sungguh pantas mereka jika diganjar surga yang luasnya sejauh mata memandang dan dibawahnya mengalir sungai-sungai. 
Saya tersenyum akhirnya, mungkin saya tak lulus ujian keikhlasan di episode sebelumnya, maka dari itu sekarang harus remidi. Semoga kali ini lulus, agar segera naik tingkat. Barangkali jika benda itu di tangan saya sampai saat ini malah membawa mudhorot yang lebih besar lagi.

Ini bukan diary keluh kesah. Sekedar share, apapun yang kita hadapi dalam hidup kita, husnudzon (prasangka baik) kepada Allah itu perlu. Apapun yang Allah takdirkan, itu pasti baik. Bisa jadi itu teguran, ujian, atau penggugur dosa.

240713_02.20.ram_me_21

Minggu, 21 Juli 2013

Ritual 13 Juni -the story of my grandma n grandpa-

Jika ada seribu tetes peluh yang terkucur,,
Itu pasti peluhmu untuk sebelas anakmu,,
Jika ada seribu uban yang bersinar,,
Itu pasti karena khawatir akan masa depan keturunanmu,,
Wajahmu, senyummu, teduhmu,,
Walau berbilang masa telah dan akan terus berlalu,,
Auramu akan tetap lekat seperti adanya dulu,,
Bagiku, kaulah yang terhebat,,

Romantisme masa kini sudah seperti debu. Amat amat sangat mudah didapat, dangkal dan tak berharga. Terucap di lisan namun  hati beku tak bergetar. Pengorbanan pun tak beda pasal. Berbusa-busa berjanji akan berjuang demi bla bla bla, nyatanya kosong belaka. 
Cerita-cerita tentang generasi-generasi lampau membuka mataku esensi dari berbagai rasa itu sendiri. Contoh realnya kakek nenekku yang cintanya masih awet sampai beda dunia. Begitu beragam cara orang mengartikan, menyikapi, memaknai, dan memperlakukan cinta. Kisah ini murni bukan kisah romance, hanya semacam memoar '13 Juni' tentang sosok yang sangat penting buatku,, 
13 Juni 2010 lalu, Kakekku tercinta tutup usia,,

Begitu banyak kisah-kisah beliau yang baru terkuak setelah beliau tiada. Tak ada yang spesial sebenarnya dari kisah hidupnya. Hanya seorang anak yang terbiasa hidup keras sejak muda. Yang hatinya tertempa bagai baja. Seorang yatim yang hanya makan bangku SD atau SMP kala itu aku lupa. Dia terbiasa dan diharuskan bekerja jika ingin makan, yang berarti tidak bekerja berarti tidak makan. Bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Kala siang terik matahari membakar kaki yang tak beralas, melihat anak-anak lalu lalang berseragam dengan sepatu yang nyaman rasanya lebih panas membakar hati dibanding sengat matahari dan beban barang yang dipangkul. Mungkin pola itulah yang membentuk sosok setangguh beliau. Yang tetap kuat dihantam cobaan, tetap tawakkal dan tak putus yakin. Hingga akhirnya mengayomi kakak dan adiknya sampai akhir hayat. 

Mulanya pengantar barang adalah profesi, namun selanjutnya, menjadi hoby yang bagai candu bagi darah muda. Tiap kali ada job mengantar barang ke satu toko istimewa pasti beliau berbaris paling depan, semangat mengantar barang. Bukan karena bayarannya besar, tapi karena pemilik toko mempunyai seorang anak gadis yang ternyata separuh jiwanya. Beliau mengajarinya cahaya, membawa gadis itu lari dari kegelapan keyakinannya yang lampau hingga kini rela memeluk Islam. Membuatnya merindu hingga ke sum-sum tulang bahkan selepas tiga tahun ditinggal pergi. 

Mungkin kisah ini hanya terjadi pada pasangan-pasangan jaman dulu, bahwa istri harus duduk di depan suaminya ketika makan, menyiapkan dari nasi sampai air putih rapi di depan jarinya. Duduk sampai tetes terakhir dari gelasnya habis. Sungguh aku belum mendapati cerita macam ini sekarang. 
Ironisnya itu membuat nenekku tak bisa pergi kemanapun lebih dari jam makan. Pernah sekali waktu meminta izin tiga hari ke Jakarta yang hanya dijawab dengan bungkam. Hingga hari H akan berangkat, hanya meng'iya'kan dalam diam dan hanya diizinkan dua hari. Ketika baru tiba di Jakarta, telepon sudah berdering, "Kapan pulang? Tak bisa makan!" Tak ada ucap kangen atau sederet rayu, tapi itulah 'sesuatu' yang seakan bermakna "aku tak bisa tanpamu walau hanya sehari". 
Sampai akhirnya esok hari disusul ke Jakarta dan dijemput pulang. 

Itu hanya sedikit kisah uniknya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana rasa digendong dan dipangku olehnya, cara khasnya memukul kepalaku karena gemas, posisi duduknya setiap sore, caranya dia memanggil. 
Tahun ini, dia datang lagi di mimpiku, ketika aku sedang berlari di jalan yang begitu panjang. Dari jauh cahaya baju putihnya tampak, dan dia tersenyum sumringah. Dia melewatiku menyalamiku lalu pergi, hilang. 
Sungguh tanpanya, aku seperti boneka kayu yang tak tahu arah menganut apa saja yang diperintahkan. 
Sekarang dan sampai akhir, wejangan-wejangannya selalu terngiang-ngiang. 

210713.04.07,ram_yog_aury