Sabtu, 08 Desember 2012

13 Juni 2010

sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.

setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)

Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.

Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu,  Ar Rahmaan, Ar Rahiim.

Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.

bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?

dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?

ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..




Jumat, 07 Desember 2012

-sekilas-

benar adanya jika membaca adalah sumber. kisah orang2 itu, yang katanya sudah di negri ini, yg pernah melihat itu, yg sudah sampai sini, smua tentang petualangan, membuat nyawaku tak genap dan satunya kabur entah kmana mencari tjuannya. mereka membuatku ingin terbang, bahkan rasanya aku ingin ke pluto jalan kaki meski jika nyawaku habis sebelum aku smpai sana.

arai bilang 'Tuhan akan memeluk mimpi2'. bondan bilang 'hidup berawal dari mimpi'. mimpiku??? aku ingin kakiku menjejak setiap jengkal bumi. mimpi? mimpi! itu mimpi!!!
bertemu banyak orang, blajar banyak budaya dan sejarah,, bertemu dgn orang2 hebat. (aq makin tak terdefinisi, sebut saja aku sedang membual atau ngelindur)

soal orang2 hebat (yg benar2 hebat) mereka punya amunisi yg tak pernah habis tentang hrapan, kerja keras, dan doa. ada satu ruang dalam hati mereka, tempat mereka menyimpan sebuah pelita. cahaya kecil yg mampu menaungi mimpi2 mreka dan membuatnya nyata. cahaya itu tauhid!

Minggu, 02 Desember 2012

Al 'Ashr


Ini adalah surat yang terpendek, tapi seperti tersebut dalam tanda kemukjizatan, bahwa satu kata dalam Al-Qur’an bermakna seribu kali lebih dalam. Dipilih dan diletakkan hati-hati, dengan bahasa yang mudah tanpa meninggalkan sisi ‘elok’. Tiga ayat sederhana ini adalah kunci sukses meluncur dengan selamat sampai ke akhirat.

Allah membukanya denga sumpah! Kita tahu tabiat sumpah bahwa itu menunjukkan kepada kesungguhan sang pembicara terhadap perkatannya. Maka jika Allah bersumpah, maka itu pasti sesuatu yang maha penting yang selalu dan selalu manusia lalai di dalamnya. Sesuatu yang tak dapat dibeli, yang begitu dekat sekaligus begitu jauh. Demi masa!

Kenapa waktu? Karena waktu adalah dua sisi pedang yang bisa membunuh atau menyebabkan terbunuh. Jika dia ada dalam genggaman tangan sang ahli maka tebasannya mematikan, jika dia bermain-main, maka dialah yang akan mati di tangan senjatanya. Begitulah waktu di tangan yang mengisinya dengan kebaikan, dan yang menyia-nyiakannya.
Dia Sang Maha Pencipta yang menciptakan manusia seluruhnya, mengetahui bahwa tabiat yang ada dalam diri kita akan membawa kita dalam kerugian. Itu adalah hukum pasti, tak terbantahkan.

Pengecualiannya hanya ada pada 4 bibit yang jika ditumbuhkan, maka selamatlah sang empunya. Dua bibit untuk diri sendiri, dan dua bibit untuk orang lain.
1. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.
Ini adalah kalimat yang jelas, yang beriman dari hati yang terdalam, tanpa keraguan, dan dengan pembenaran yang pasti. Jika iman itu telah berakar kuat maka amal sholeh akan tumbuh di atasnya sebagai bagian yang tak terpisahkan. Iman dan amal sholeh, seperti magnet yang tarik-menarik. Bagi yang sudah lolos dalam kategori ini, maka dia sudah termasuk pribadi yang selamat. Tapi apakah itu saja cukup?
2. Dan nasihat menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran.
Bagian dari tabiat lain manusia adalah mudah terpengaruh, maka untuk beramal sholih secara konsisten, kita butuh lingkungan yang mendukung agar selalu ada yang mengingatkan. Diciptakan dengan nasihat, dengan bertahap, dengan kalimat yang baik, mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu tidak sholih. Dalam prosesnya, ada kesabaran yang perlu dilatih baik dalam menyampaikan maupun dalam mengatasi hawa nafsu yang terkadang khilaf dan silau ketika melihat pemandangan dunia yang indah. Wallahu a’lam. Semoga dimudahkan jalan kita menuju syurgaNya.

Alfaatihah

Seperti layaknya setiap buku yang tertulis, selalu ada pembuka entah itu bernama muqaddimah, kata pengantar, selayang pandang atau apa saja. Dan lazim pula ada penutup yang berisi kesimpulan bertujuan untuk memberi gambaran universal tentang inti sebuah buku.

Maka Al Qur’an dengan kedudukannya sebagai kitab suci paling utama, dan undang-undang berbahasa indah, juga buku sakti dari kalam Sang Pencipta Alam pun dibuka dengan tujuh kalimat singkat yang berfungsi ganda sebagai pembuka sekaligus kesimpulan. Tak panjang kata tetapi dalam makna.

1. Kalimat ini mungkin sederhana, familiar, dan jika diperhatikan dalam setiap buku, sebelum ada satu hurufpun diketik kalimat ini pasti sudah bertengger dengan berupa-rupa bentuk yang cantik, entah disudut, tengah, atau di bagian atas sebelum kalimat syukur dan pujian. Tata cara ini diadopsi oleh semua ummat dari Al Qur’an yang terlebih dahulu mencantumkan ‘Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’ dalam baris pertama di pembukaan suratnya.
2. Ketika seorang penulis memulai muqaddimah maka hal pertama yang akan dia tulis adalah ucapan syukur kepada Rabbnya yang telah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan buku yang ditulisnya. Tapi karena ini adalah Kitab yang Mu’jiz maka redaksinya menjadi pembaca ‘memuja’ Sang Pemilik Kalam dengan pujian yang sempurna.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
3. Memperkenalkan siapa dan seperti apa Rabb semesta Alam itu? Maka (Ar-rahmaan) dan (Ar-rahiim) adalah nama dan sifat Allah yang menggambarkan bagaimana Dia yang begitu berkuasa dan berkehendak menyayangi hambaNya, mencukupkan rezeki, memfasilitasi sarana hidup gratis beserta tuntunan ‘cara hidup bahagia’ dan ‘selamat di akhirat’, bahkan jika yang diberi nikmat bersikap kufur, meniadakan, sombong dengan dirinya yang begitu lemah, lihatlah! Allah masih memberinya kemewahan dalam kedurhakannya. Allah itu Ar-rahmaan kepada seluruh makhluknya dan Ar-rahiim kepada hambaNya yang beriman.
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Dia adalah Rabb yang berkuasa ketika tak ada lagi yg bermanfaat di hari penghisaban kecuali agama yang melekat pada diri setiap orang. Hari ini dinamai dengan berupa nama sebagai penggambaran. Maka ad-Din (yaumid diin) yang bermakna ‘taat’ menunjukkan bahwa pada hari itu ketaatanlah yang paling menguntungkan pemiliknya. Ad-Din yang bermakna ‘agama’ berarti agama yang diterima hanyalah Islam saja.
Yang menguasai hari pembalasan.
5. Jika mengikuti tata bahasa standard, maka redaksi kalimat ayat ini berbunyi : Kami menyembah hanya kepadaMu (Subjek-Predikat-Objek). Namun jika dikedepankan apa yang seharusnya dibelakang dan berbunyi : Hanya kepadaMu kami menyembah, maka dalam balaghoh ini adalah pengecualian, pengukuhan, dan penetapan bahwa yang berhak diibadahi dan yang haq adalah Allah semata dan sesembahan selainNya adalah bathil. Jelas, pasti, kokoh, tanpa basa-basi, tetapi cantik dan meresap di hati. Dan begitu pula kaidah ini bekerja pada kalimat setelahnya (Dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan).
‘Kami’ adalah hamba-hambaMu yang tak mampu hidup sendiri, dan kadar keimanan kami juga naik dan turun maka kami butuh beribadah secara berjamaah agar ada yang mengingatkan kami ketika futur dan tak bersemangat. Kami menyembah dan meminta bersama, bukan aku seorang diri.
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.
6. Kami meminta pertolongan kepadaMu ya Rabb, tolong tunjukkan, tolong takdirkan, tolong mudahkan. Tolong hantar dan ridhoi kami di jalan yang lurus, aman, dan pasti. Jalan hidup yang kau janjikan keselamatan dan kebahagiaan bagi yang berjalan di atasnya.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
7. JalanMu yang dulu ditaati oleh para NabiMu, lalu yang membenarkan agamaMu, yang rela mati di jalanMu, dan yang mengamalkan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Tunjuki, takdirkan, dan mudahkan ya Rabb.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Jangan biarkan kami tersesat di jalan yang Engkau murkai. Jalan kaum yang tertulis oleh tinta hitam dalam semua kitab suci (Yahudi). Jangan pula kau biarkan kami tersesat dari tuntunan pasti yang telah Kau wahyukan. Seperti nashrani yang mengubah kitab layaknya mainan.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.

especially for miefta el-jann n' ulia zakira,,
lama gak nulis sswt yg butuh rujukan,,
ini bnar2 krena klian,,

Rabu, 28 November 2012

Anak cewek itu,,,

“Anak cewek itu harus gesit, tangguh, cekatan, rajin dan sifat yg lebih mendasar lainnya. Kalau cuma imut, lucu, menggemaskan, warna-warni, saya rasa boneka barbie juga punya sifat artifisial seperti itu. Jadilah anak cewek yang mandiri, punya cita-cita, dan bisa diandalkan.” 

ini kalimat punya bang tere liye. Dan tiap kali membaca ini, selalu rasanya,, 'sesuatu' gtu..
hanya perlu satu kalimat,, "it must be me" amien

athlub minkum ad du'aa..

Senin, 27 Februari 2012

Book, my true love

Abu Musa 'Amru bin Bahr al Kinani, Bashrah ( 779-868 M)

Buku adalah...
Teman duduk yang tidak memujimu...
Teman yang tidak merayumu kepada keburukan...
Teman bicara yang tak akan membosankan...
Tetangga yang tak akan mengabaikanmu...
Teman sejati yang tak akan mengelabuimu...
Tidak menyesatkanmu dengan berpura-pura manis...
Dan tak akan pernah membohongimu...

Buku adalah...
Sebaik-baik hiburan ketika sendiri...
Sebaik-baik tempat informasi, penunjuk arah, dan pemandu...

Buku adalah...
Bejana yang penuh berisi ilmu...
Amplop yang berisi humor...
Dan nampan dimana ada tawa dan kesungguhan..

Pernahkah kau lihat kebun yang disimpan dalam lengan?
Dan taman yang diletakkan di atas pangkuan?
Dan narasumber yang menceritakan orang-orang yang telah tiada?
Dan mengabarkan hal-hal mereka yang masih hidup?

Dan adakah bagimu teman yang tidak tidur kecuali engkau sudah tidur?
Dan tidak berbicara kecuali apa yang kamu sukai?
Yang paling terpercaya di dunia?
Dan yang paling bisa menjaga rahasia?

Hishshoh Adab
27 Feb'12
Aury Edogawa Fithree

Selasa, 31 Mei 2011

Nafas Jakarta


Tahukah Anda nafas Jakarta? Ya, ‘Macet’. Macet adalah nafas, ciri khas dan mantra Jakarta. Bahkan slogannya, ‘kalau gak macet bukan jakarta namanya’. Dibanding semua permasalahan yang lahir di Ibukota, ‘macet’ adalah yang paling populer karena dialami semua lapisan masyarakat. Dari Pejabat sampai rakyat jelata, dari mobil mewah sampai pengayuh sepeda. Kelihatannya memang remeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Waktu produktif terbuang, pemborosan bahan bakar, sampai ancaman kesehatan fisik (polusi) dan pikiran (stress). Dinas Perhubungan mengatakan, kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan mencapai 35 triliun rupiah per tahun. Ini sungguh jumlah menakjubkan. Jika masalah ini bisa ditangani, bukankah Indonesia bisa sedikit bernafas dari lilitan hutang? Bukankah kita bisa lebih berhemat dengan sumber daya alam?
Berjalanlah di setiap sudut mana saja di kota Jakarta, hanya satu dari seratus jalur yang tidak dipadati kendaraan. Udara menjadi sangat tidak sehat untuk dikonsumsi. Kendalanya sungguh sangat terasa bagi pemakai jalan. Jangan tanya cara untuk menyiasati, semua pengendara telah melampaui profesor, berkerut kening mencari jalan alternatif paling lengang. Nihil!
Bisa kita tonton barisan mobil setiap harinya menyemut, dan jika kita perhatikan mobil-mobil mewah tersebut berpenumpang paling banyak tiga orang, jarang lebih. Jalan-jalan Jakarta yang sempit tak mampu menampung sekitar 6 juta mobil per harinya. Pendirian flyover juga tidak memberikan kontribusi yang berarti karena setiap jalan baru resmi beroperasi, mobil-mobil sudah lebih dulu bertambah.  Sebagian besar orang yang sudah ‘sadar’ macet berusaha beralih ke transportasi umum. Namun ini tidak menjanjikan ketepatan waktu. Metro mini dan angkot misalnya, tak  bisa menjadi solusi karena jalur perjalanannya padat merayap. Belum lagi sebagian besar ‘ngetem’ dan istirahat di tepi jalan yang sudah sempit dan semakin mempersempit. Lalu hadirlah Busway yang diharap bisa menjadi penyelamat, namun jam kedatangan yang sangat memakan waktu membuat orang-orang yang nyaman bermobil semakin tak mau berkorban untuk beralih dan berpartisipasi untuk ‘mengurangi’ macet. 
Kehidupan ekonomi yang melarat menuntut perjuangan yang lebih gigih dalam mencari sesuap nasi. Maka bisa kita lihat di badan jalan, berjubel pedagang berteriak meminta pertolongan dan belas kasihan. Keadaan yang serba salah. Jika dibiarkan, maka klakson tak akan selesai berbunyi, namun jika ditertibkan, berapa kepala lagi yang akan kelaparan? Penyebabnya karena penertiban itu tidak memberi ganti tempat usaha yang strategis. Belum lagi di pasar-pasar, para pedagang yang menggunakan jalan membiarkan sampah bekas usaha mereka menjadi tumpukan polusi. Berkali lipat kerugiannya.
Lalu kepada siapa kita berlari? Alih-alih mencari siapa yang patut disalahkan, semua rakyat mengawasi gerak-gerik pemerintah sebagai yang dianggap paling bisa memberi solusi. Berbagai cara telah dicoba. Lihatlah para pejabat telah rontok rambutnya mencari solusi keluar dari bahaya macet. Pada 2 September 2010 lalu, di Kantor Wakil Presiden (Wapres) Boediono kemarin, rapat telah merumuskan 17 Langkah Mengatasi Macet. Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimeso, Dirjen Perkeretaapian Tunjung Indriawan, dan Dirjen  Bina Marga Kemen PU Djoko Murjanto, Dirlantas Mabes Polri Brigjen Djoko Susilo, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, serta Direktur PT  Mass Rapid Transit (MRT) Tribudi Rahardjo. Secara garis besar, 17 langkah tersebut sangat efisien, seperti penambahan armada Busway, peremajaan angkot-angkot tua, upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan menaikkan harga BBM, dan pengoprasian  Electronic Road Pricing (ERP). Tapi sampai kapan kita harus menunggu perealisasian dari butir-butir langkah itu? Karena setelah hampir setahun berjalan, masih tak terlihat kemacetan mau mengalah.
Untuk keluar dari kondisi yang menyesakkan semua orang dan semua golongan ini, maka kita perlu menggerakkan semua orang yang terkait. Pemerintah, pejabat, pekerja, karyawan, pegawai, pelajar, pedagang, aparat lalu lintas, pelajar, dan semua orang yang memakai jalan. Hanya dengan satu kata yaitu ‘Sabar’, maka semua masalah akan mudah diselesaikan. Sudah lelah rakyat mendengar janji dan apalagi pemerintah lebih lelah lagi mencari solusi. Maka semua hanya perlu bersabar dan bergerak. Bergerak serentak dan sekarang. Mengapa bersabar? Dan seperti apa sabar yang dimaksud?
·         Pemerintah dan pelayan masyarakat bersabar dalam mengemban tanggung jawab, bersabar ketika melihat uang rakyat yang berlimpah, bersabar menghadapi kritikan demi kritikan, bersabar mengayomi rakyat, karena pada dasarnya para atasan yang duduk di kursi terhormat itu adalah pelayan masyarakat. Jika lapisan pemerintah bisa bersabar dalam hal ini, maka pembangunan jalan, pengadaan transportasi, dan sebagainya akan lancar karena perencanaan dan alokasi dana akan sesuai.
·         Para karyawan dan pekerja pun bisa berpartisipasi dalam gerakan sabar dengan rela untuk menyimpan kendaraannya di garasi rumah. Turut serta membiarkan jalan bernafas dan udara menjadi sedikit lebih segar.
·         Para pedagang yang menjadi pagar jalan sabar mencari tempat lain untuk mencari nafkah karena para pemakai jalan yang tergganggu itu juga sedang dalam perjalanan mencari nafkah. Dengan adanya toleransi, akan tercipta saling menghargai. Rejeki ada dimanapun ada usaha.
·         Kaum pelajar adalah yang paling penting untuk bersabar, karena jika para pemuda Indonesia menguasai teknologi, bukan mustahil kita mampu memproduksi transportasi dengan tangan sendiri tanpa harus bergantung produk luar negri yang tentunya memakan  biaya lebih besar.
Jadi, jika semua berpartisipasi untuk lepas dari belenggu kemacetan, dan bersabar menanggulanginya, dan bergerak sekarang, semua bisa diatasi. Sementara ini, penambahan jalan, jalur KRL, dan Underpass sebaiknya diperhitungkan dulu karena seperti yang bisa kita lihat, pembangunan yang memakan dana triliunan juta itu tidak bisa menjawab apa yang kita butuhkan. Jadi lebih baik memperbaiki apa yang ada sebelum menambah hal baru yang belum tentu membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada ketegasan dari aparat dan alternatif yang menguntungkan untuk setiap tindakan yang akan dilaksanakan dan juga kerjasama total dari seluruh warga yang ingin terlepas dari jerat kemacetan. Siap berpisah dengan macet sekarang?