Rabu, 26 Desember 2012

Dewata Island


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46)
Sekelumit kata dari Kitab Sempurna Tanpa Cela. Sebuah permulaan yang manis yang menjodohkan saya dengan sebuah hobi berjudul jalan-jalan. Sebuah perintah bahwa berjalan itu bukan sekedar melihat, melainkan memahami dan mendengar. Bahwa berjalan dapat membuka pikiran dan menambah wawasan. Bahkan dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa air yang mengalir itu akan selalu jernih, sedang air yang diam itu akan keruh dan rusak. Maka sudah pasti, begitu pula manusia. Bukankah tujuh puluh persen diri kita adalah air?
Dan lagi, kalimat sakti itu kutemukan di dalam lembaran mulia.
“Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Al Hujurat : 13)
Bulatlah sudah tekadku untuk membuat kaki kecil ini menapak seluruh permukaan bumi. Mataku gatal ingin melihat dari dekat rupa-rupa keunikan yang tercipta. Telingaku rindu mendengar nyanyian alam. Aminkan, tolong aminkan.

Sebuah nikmat yang tak bisa didustakan bahwa saya terlahir di tanah surga bagi para pejalan. Alam sejuta pesona yang menyihir mata dengan keelokannya tanpa buatan. Dimana? Indonesia! Ketika kita menyusuri negara lain, satu negara mungkin hanya memiliki  beberapa dialek (bukan bahasa), tarian, beberapa macam makanan, tempat wisata yang mungkin sudah dipoles dan adat masyarakat setempat lalu khatam!
Bandingkan dengan ibu pertiwi ini. Tak kurang tiga belas ribuan pulau berbaris sepanjang katulistiwa. Terkubur di dalamnya sejarah peradaban sejak sebelum masehi bersama kisah raja-rajanya, kekejian penjajahan, euforia kemerdekaan, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tak kurang dari 1.128 suku dari berbagai pulau yang melahirkan kurang lebih 700 bahasa daerah. Belum lagi tari-tarian, lagu-lagu, makanan khas, pakaian, rumah adat, pertunjukan, cerita rakyat, peninggalan sejarah, upacara adat, tumbuhan khas, binatang khas, kerajaan-kerajaan masa lampau dan banyak lagi. Cukupkah sekedar kata ‘wow’ untuk semua ini? Tidak akan! Jika ada seseorang yang mungkin tergila-gila dengan Indonesia yang mana di setiap nadinya tertulis kata Indonesia dan terobsesi membukukan segala hal tentang Indonesia dengan lengkap, terperinci, dan akurat dan parahnya jika dia adalah perfeksionis, saya yakin hasilnya adalah ensiklopedi berat, berjilid-jilid, yang memakan waktu dan membutuhkan riset, dan tentu saja perjalanan ‘real’ ke seluruh nusantara.

Adalah sebuah pertunangan yang cantik ketika hobi berjalan ini tumbuh di pulau kecil yang terselempit, namun elok dan tersohor sejagad. Sejak kecil, kecantikan alamnya telah membuat setiap sel ini ingin selekasnya tumbuh besar agar dapat segera merasakan wangi angin dan indahnya langit. Ingatan ini mungkin telah tua, tetapi kenangannya sangat terasa. Ketika kecil dulu, saya pernah diajak ke sebuah dataran tinggi di Pulau Dewata yang dikenal dengan nama Bedugul. Kami sekeluarga pergi ke tepian danau, yang setelah besar baru saya tahu bahwa namanya adalah Danau Batur.  Danau yang berkabut dan luas. Ditengahnya ada pulau kecil yaitu Pulau Trunyan. Hal yang paling digemari dari tempat ini adalah memancing, dan menyewa kapal ‘boat’ untuk mengitari Pulau tersebut. Konon, masyarakat di pulau tidak pernah menguburkan sanak keluarganya yang telah meninggal. Mereka hanya meletakkan jenazahnya di bawah pohon begitu saja dan hebatnya malah bukan berbau busuk, jenazah tersebut malah mengeluarkan aroma wangi.
Kuliner khas ketika berkunjung ke daerah ini adalah sate kelincinya yang lezat dan buah markisa. Sungguh! Keramahan dan pelayanan dari masyarakat sekitar memberi andil besar yang membuat turis domestik maupun mancanegara begitu tergila-gila dan rela ‘membuang’ uang mereka untuk menikmati. Terlihat rambut-rambut pirang dan kulit-kulit merah ikut berkeliaran di jalanan dan berbelanja aneka panganan dan souvenir. Maka pulau ini di hati saya telah mendapatkan ruangan khusus sebagai tanah kelahiran dan kampung yang menawan.

Nantinya, kemanapun kaki ini melangkah,, tempat ini akan selalu menjadi kampung halaman yg memberi kerinduan...

Sumpah Habibi

,,Sumpahku,,

Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!
Ibu Pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji pusaka dan sakti
Tanah tumpah darahku makmur dan suci
.........
Hancur badan!
Tetap berjalan!
Jiwa besar dan suci
Membawa aku PADAMU

Membaca sumpah Habibi, menamatkan buku beliau "Habibi Ainun" yang begitu menggetarkan hati, membuat saya berfikir, inilah hidup yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang mengkritisi, kenapa ibu Ainun sampai akhir hayatnya tidak berhijab dan sebagainya,,
tapi lihat,, amalan beliau melebihi kaum berhijab dengan keikhlasan yang tak dibuat-buat. Amalan tahajud, puasa senin kamis, tilawah minimal satu juz, melafadzkan Al Qur'an pada setiap peristiwa hidupnya baik sulit maupun senang, menjadi istri yg setia dan taat pada suami hingga akhir hayatnya, dan berbakti pada masyarakat luas, hingga bahkan meski beliau sudah meninggal, semua jasanya masih hidup mewakilinya. Lalu, sudahkah kita yang berhijab ini beramal seperti itu? Mampukah kita seperti itu?

Mengapa Pak Habibi memiliki perasaan yang begitu mendalam pada Bu Ainun dan begitu juga sebaliknya?
Jawabannya sangat simpel, karena Bu Ainun menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai istri dan ibu, merelakan karirnya sebagai dokter demi mengurusi rumah dan anak-anak dan mendampingi lelaki hebat dalam setiap detiknya dengan tegar dan tanpa mengeluh. Begitupun Pak Habibi yang bekerja dengan seluruh tubuhnya demi keluarga, menjadi suami dan ayah yang sebisa mungkin memberi kebahagiaan bagi kelarga, memberi manfaat bagi masyarakat, menyumbang hal-hal positif dan inovatif dan berbakti pada tanah air tercinta.

Ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah hidup beliau berdua, namun yang paling berkesan buat saya, adalah manusia itu diciptakan untuk sepenuhnya mengabdi kepada Khaliqnya tanpa syarat, dari manapun dia berasal, tanpa perbedaan. Bahwa sebagai manusia sudah selayaknya bersyukur dengan anugerah akal yang diberikan kepada kita dengan belajar sekeras-kerasnya, apapun, dan sampai akhir hayat dan menggunakan ilmu itu untuk memberi manfaat yang seluas-luasnya. Betapa pak Habibi dengan otaknya yang jenius itu, yang tidak butuh waktu lama untuk belajar sesuatu, menghabiskan 21 jam dalam sehari dan hanya tidur 3 jam. Sedang kita?

Dan lagi, ketika waktunya datang, dan kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi partner kita seumur hidup, maka itu bukanlah akhir melainkan awal untuk memulai perjuangan yang lebih berat lagi. Bukan seperti yang ada di televisi, yang menggambarkan romantisme dan lain sebagainya. Itu adalah waktu untuk berjuang ke lompatan yang lebih tinggi, dan itu adalah realita. Maka pastikan kita memilih seseorang yang memiliki daya juang dan bercita-cita tinggi, dengan menjadikan akhlaq dan ilmu sebagai tolak ukur utama.

Dan bahwa, kematian adalah sebuah panggilan pasti dan akhir yang merupakan awal bagi setiap insan yang bernyawa. Kematian adalah kenyataan yang pahit tetapi jujur yang harus dipersiapkan. Semoga kita bisa meneladani kisah beliau berdua dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi tanah air, dari bidang manapun kita berjalan dan berjuang.

Senin, 24 Desember 2012

Imam Nawawi dan Riyadus Shalihin

Kisah ini dilontarkan di akhir-akhir pertemuan maddah adab.
Masih bersama ustadz 'menawan'
Ini harus segera ditulis sebelum lupa, agar dikoreksi, dan jarang yang mengetahui.

Kitab Riyadus Shalihin, karya fenomenal sejak abad ke 6 hijriah karya Imam Nawawi, siapa yang tidak tahu minimal judulnya. Masyhur, penuh ilmu. Apa rahasianya?

Tersebutlah, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi  lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits. Telah khatam menghafal Al Qur'an sebelum mencapai baligh. Zuhud dan dalam ilmunya.
Beliau menyusun kitab Riyadush Shalihin agar orang-orang yang membacanya dapat mengambil manfaat darinya. Rampung sudah penulisan kitab tersebut, siap naik cetak (memang jaman sekarang?)
Bukan dibawa ke penerbit, (jaman itu belum ada saudara!!) beliau membawa kitab berjilid-jilid itu ke tepian sungai.
Tiba disana, dengan hati yang khusyu' beliau berkata :
"Ya Allah, jika aku menyusun kitab ini hanya untuk riya' dan pujian, meskipun itu sedikit, maka tenggelamkanlah kitab ini. Namun, jika aku menyusun kitab ini dengan sebenar-benar ikhlas hanya mengharap ridhoMu, maka selamatkanlah."

Rabb! Bergetar, merinding!
Seperti kita tahu, kitab jaman dahulu kala, ditulis tangan, di atas kertas, dijilid sendiri, lalu tintanya, jika terkena air maka hilanglah sudah semua itu tanpa bekas.
Bayangkan!!! Kerja keras selama berbulan-bulan, riset, siang malam menulis tangan (belum jaman sekertaris, jasa mengetik atau mesin ketik) bisa lenyap hanya dalam sedetik!!
Tapi kehendak Allah, kita harus membaca tulisan beliau . Bak peti bayi Musa, dia mengambang ke tepian dan tetap ada dari zaman ke zaman.
Bagaimana tidak? Ditulis dengan royalti surga yang tak tertandingi. Jika ada anugrah nobel, pulitzer atau apalah, bukankah seharusnya kitab-kitab seperti yang seharusnya masuk nominasi?
Keikhlasan adalah sesuatu yang tak bisa diselami dengan rumus apapun. Wallahu a'lam

Sabtu, 22 Desember 2012

22 desember 2012, ibu professional

22 desember 2012 
aury fithree 

@america seminar with pak rheinald kasali 
ekonom ui

kalo indonesia dah maju,,,
anak saya, saya n kluarga saya hrus jdi pemain,,,

sukses itu harus didekati,,,
dan berawal dari mimpi - dikerjakan

vanda, 14 thun d amerika, n anak 4 laki2 home schooling smua,,

kehebatan itu gak bisa diajarkan,,
tpi kehebatan itu ditularkan,,

stockholm, swedia,,
beda 6 jam
dpet gaji 80% meskipun cuti melahirkan dan dpet libur 18 bulan

harus melangkah dri hal yg paling simple dulu,,

extended self,,
bungkus, pager diri
orng bisa dilihat, atau dinilai dari luarnya.

dibedong, digendong, dituntun? 
pinter di masyarakat,,, ngafal smua? mati saja,,

mengamati,, amati apapun,, dan ambil hikmahnya,,

self passanger to self driver
passanger g brani ambil resiko,
critical thingking : winner 
gak penting siapa anda, tpi yg pnting akan jdi apa anda
blajarlah melihat dri sisi yg baik, yg jarang orang lihat

masaru emoto, massages from water

looser : making excuses
winner : making solution

pergi ke depan kaca (self talk)
sering kali kita memberi nasihat, padahal yg pling butuh nasihat adalah diri kita sendiri,
manusia berpengetahuan,,pasti hebat

mimpi - realita
jika lingkungan gak mndukung, kluar!
gapai!





Rabu, 12 Desember 2012

this night with '57'


bener2 hari ini, terpaksa melewati jalur yg gak pernah sama sekali kulewati sejak dua tahun bercokol d tanah ini, gara2 busway arah dukuh atas gak beroperasi,,
sempet ada rasa gentar, naik angkot? sendirian? semalam ini?? huft,,!
jd inget my mom yg sll berpetuah tiap nelpon 'jgn keluar sendiri, bahaya,,'
penjelajah takut?? ketawa mari ketawa!!
okelah, sll ada dua sisi kan? (alasan orang ngeyel plus bandel, please dn't be angry with me mom)  akhirnya jdi tahu wajah lain ibukota, dgn angkotnya yg 'luarrr biasa',  bhkan smpet djdikan bantal oleh ibu2 yg ngntuk berat, nglewatin cipinang, kebon jeruk, smpe rs. medistra tmpatnya artis2 disuntik,, oh ya ada trans7 jga, coba tdi mampir ya,,he

lucunya pas nyampe mampang yg sll padat merayap, nunggu angkot 75 d pinggir jalan, ada serombongan bapak ibu2 dan anak2 yg juga lg nunggu angkot,
ibu : aduh macet gini, males mau naik angkot, sesak, panas lgi, pasti gak dpet tmpat duduk,,
bapak : yaudah naik taksi saja, bu,,
ibu : ya rugilah naik taksi macet gini, mahal argonya!
(dlm diam aku mikir, trus maunya naik apa bu??)

masih dg nunggu angkot, lewat lagi sekeluarga dg kendaraan mereka, sang bapak menyetir, lalu ibu santai di belakang menggendong bayi, sedang dua anak tertidur pulas di atas kardus2,,
kendaraan roda 4 yg berbahan bakar tenaga manusia,,
tepat di depanku bapak itu berhenti, memungut gelas aqua, lalu mengorek2 tmpat smpah beberapa meter dari tmpatku berdiri,,
sungguh, dunia apa ini??
sedang disampingnya mobil2 macam2 merek mulus mengkilap (bahkan jerawat bisa malu jika berkaca disana) lewat tanpa pernah tahu bhwa gerobak itu adlh kendaraan, toko, sekaligus rumah mreka,

detik itu, saat itu, aku hnya bisa menatap,,(iyakah?)
tapi suatu saat nanti, smg aq bsa berbuat sesuatu, tak hanya jdi penonton,, atau hanya menjdi pemimpi,,

Minggu, 09 Desember 2012

yg Pergi tak Kembali


Setiap insan pasti merasa
Saat perpisahan terakhir
Dunia yang fana akan ditinggalkan
Hanya amalan yang akan dibawa

Terdengar sayup surah dibaca
Sayunya alunan suara
Cemas di dada lemah tak bermaya
Terbuka hijab di depan mata

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baikkah atau sebaliknya

Amalan dan taqwa jadi bekalan
Sejahtera, bahagia pulang...kesana

Sekujur badan berselimut putih
Rebah bersemadi sendiri
Mengharap kasih anak dan isteri
Apa mungkin pahala dikirim

Terbaring sempit seluas pusara
Soal bicara terus bermula
Sesal dan insaf tak berguna lagi
Hancurlah jasad dimamah bumi

Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi

(Rabbani punya)

tiba2 teringat lagu ini, searching, posting,,
pertama denger lagu ini, merinding,,
banjirnya nasyid sekarang yg mulai gak jelas, (gak smua)
kembali ke tempo doeloe saja,,
'taste'nya cmplong bget,,

apapun masalah, sandungan, gundah, apalagi galau,,
kalah keren klo pembandingnya adalah mati..
tamat sudah riwayat, putus amal (kcuali 3)
ini sudah akhir, bangun! bangun! bangun!

Sabtu, 08 Desember 2012

13 Juni 2010

sudah lama topik ini mengendap di kepalaku. aq lupa dmana menemukan kalimat ini, tpi termaktub dsana, jika kita ingin mengungkapkan sesuatu, lalu menahannya maka dia akan jdi bisul d pkiranmu yg hanya akan menunggu wktu untuk meledak.

setiap kali aku merasa spertinya aku 'SALAH' melangkah. atau ktika ingin berteriak 'AKU LELAH!'. pun stiap kali langkahku berkata 'STOP HERE', selalu ingatan tentangnya membuatku terdiam, dan menyerah. (menyerah? itu kata2 terlarang!)

Dia. yang telah berbahagia (Allah, ridhoi amalnya, dan berikan tempat terindah untuknya).
tanggal dan hari yg tek pernah terlupa, 13 Juni 2010. minggu ktika aku akan brangkat ke kota ini, tes lanjut kuliah.
Dia telah pergi dengan berkarung2 amal baiknya, dihantar doa ratusan orang. bersama senyum yg tak pernah terlupa. bagi kami dia adalah tiang rumah kami. Dia tak pernah banyak bicara, lelaki yg kuat dan berprinsip. keras, sekaligus penyayang. saban pagi dia pergi ke pasar, saban magrib dia temui anaknya satu2, saban subuh dia mengaji. dulu ketika kecil, aku ditimangnya, 'cucu pertama' ungkap sayangnya.

Minggu keberangkatanku itu, dia pergi tanpa sempat kutemui wajah terakhirnya, tanpa sempat kucium tangannya seperti biasa, tanpa sempat kulihat senyum di wajahnya. hanya doa itu yg mampir d lisanku, Rabb, selama hidupnya, dia meletakkan aturanmu di atas talam dan menjunjungnya, sekarang letakkan dia disisiMu,  Ar Rahmaan, Ar Rahiim.

Singkat kata, aku lolos seleksi, kuliah. petuahnya berseliweran d kepalaku, dalam dua tahun ini, ktika aku merasa tersesat, dia seperti tersenyum padaku. teringat betapa senang hatinya ktika tahu bahwa aku akan mengmbil jurusan ini, maka stiap kali itu aku berfikir, aku dsini sbgai permintaan trakhirnya, menyenagkan hatinya.

bahkan dalam ujian kenaikan tingkat, saat kita dipaksa msuk dalam lubang sempit sebagai penyaringan, dgn ushaku slama ini yg tdak maksimal, berdebar menunggu hasil kelulusan. dia menghampiriku, di bangkuku, ini mimpi, aku memang sedang bermimpi saat itu. dengan kaos oblong putih favoritnya, wajahnya yg berseri, dia datang memelukku, aq bergetar, lalu bersandar, ingin berkata 'kuatkan kakiku, aku hampir terjatuh'.
dia hanya diam, menepuk pundakku, dan menatap. aku tahu matanya begitu bangga.
dia bilang, aku lulus. bhkan ktika terbangun, mataku telah basah. tolong jngn tinggalkan aku bgini!!
dan itu menjadi nyata. di dpan papan pengumuman itu aku terpaku, ini pasti bagian dari doamu kan? juga, sbgtu inginkah kau melihatku dsni smpai akhir?

dan sekarang ini, saat ktika aku ingin lenyap saja dri jalan ini, aq berada lg d titik itu. titik waktu ktika senyum berseri wajahmu hadir di depanku. kau gunakan semua sisi tubuhmu untuk bekerja selama umurmu ada. kau sembahkan bagi kami pengbdian tanpa batas, lalu aku tersentak, apa hanya karena ini aku harus pasrah?

ingatan tentang senyummu, yg selama ini mampu membuatku berjalan terus. aq tahu aq dilahirkan untuk terus berjalan. sampai akhir, tolong kuatkan aku.
Rabbi, tolong bahagiakan dia sebahagia-bahagianya..




Jumat, 07 Desember 2012

-sekilas-

benar adanya jika membaca adalah sumber. kisah orang2 itu, yang katanya sudah di negri ini, yg pernah melihat itu, yg sudah sampai sini, smua tentang petualangan, membuat nyawaku tak genap dan satunya kabur entah kmana mencari tjuannya. mereka membuatku ingin terbang, bahkan rasanya aku ingin ke pluto jalan kaki meski jika nyawaku habis sebelum aku smpai sana.

arai bilang 'Tuhan akan memeluk mimpi2'. bondan bilang 'hidup berawal dari mimpi'. mimpiku??? aku ingin kakiku menjejak setiap jengkal bumi. mimpi? mimpi! itu mimpi!!!
bertemu banyak orang, blajar banyak budaya dan sejarah,, bertemu dgn orang2 hebat. (aq makin tak terdefinisi, sebut saja aku sedang membual atau ngelindur)

soal orang2 hebat (yg benar2 hebat) mereka punya amunisi yg tak pernah habis tentang hrapan, kerja keras, dan doa. ada satu ruang dalam hati mereka, tempat mereka menyimpan sebuah pelita. cahaya kecil yg mampu menaungi mimpi2 mreka dan membuatnya nyata. cahaya itu tauhid!

Minggu, 02 Desember 2012

Al 'Ashr


Ini adalah surat yang terpendek, tapi seperti tersebut dalam tanda kemukjizatan, bahwa satu kata dalam Al-Qur’an bermakna seribu kali lebih dalam. Dipilih dan diletakkan hati-hati, dengan bahasa yang mudah tanpa meninggalkan sisi ‘elok’. Tiga ayat sederhana ini adalah kunci sukses meluncur dengan selamat sampai ke akhirat.

Allah membukanya denga sumpah! Kita tahu tabiat sumpah bahwa itu menunjukkan kepada kesungguhan sang pembicara terhadap perkatannya. Maka jika Allah bersumpah, maka itu pasti sesuatu yang maha penting yang selalu dan selalu manusia lalai di dalamnya. Sesuatu yang tak dapat dibeli, yang begitu dekat sekaligus begitu jauh. Demi masa!

Kenapa waktu? Karena waktu adalah dua sisi pedang yang bisa membunuh atau menyebabkan terbunuh. Jika dia ada dalam genggaman tangan sang ahli maka tebasannya mematikan, jika dia bermain-main, maka dialah yang akan mati di tangan senjatanya. Begitulah waktu di tangan yang mengisinya dengan kebaikan, dan yang menyia-nyiakannya.
Dia Sang Maha Pencipta yang menciptakan manusia seluruhnya, mengetahui bahwa tabiat yang ada dalam diri kita akan membawa kita dalam kerugian. Itu adalah hukum pasti, tak terbantahkan.

Pengecualiannya hanya ada pada 4 bibit yang jika ditumbuhkan, maka selamatlah sang empunya. Dua bibit untuk diri sendiri, dan dua bibit untuk orang lain.
1. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.
Ini adalah kalimat yang jelas, yang beriman dari hati yang terdalam, tanpa keraguan, dan dengan pembenaran yang pasti. Jika iman itu telah berakar kuat maka amal sholeh akan tumbuh di atasnya sebagai bagian yang tak terpisahkan. Iman dan amal sholeh, seperti magnet yang tarik-menarik. Bagi yang sudah lolos dalam kategori ini, maka dia sudah termasuk pribadi yang selamat. Tapi apakah itu saja cukup?
2. Dan nasihat menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran.
Bagian dari tabiat lain manusia adalah mudah terpengaruh, maka untuk beramal sholih secara konsisten, kita butuh lingkungan yang mendukung agar selalu ada yang mengingatkan. Diciptakan dengan nasihat, dengan bertahap, dengan kalimat yang baik, mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu tidak sholih. Dalam prosesnya, ada kesabaran yang perlu dilatih baik dalam menyampaikan maupun dalam mengatasi hawa nafsu yang terkadang khilaf dan silau ketika melihat pemandangan dunia yang indah. Wallahu a’lam. Semoga dimudahkan jalan kita menuju syurgaNya.

Alfaatihah

Seperti layaknya setiap buku yang tertulis, selalu ada pembuka entah itu bernama muqaddimah, kata pengantar, selayang pandang atau apa saja. Dan lazim pula ada penutup yang berisi kesimpulan bertujuan untuk memberi gambaran universal tentang inti sebuah buku.

Maka Al Qur’an dengan kedudukannya sebagai kitab suci paling utama, dan undang-undang berbahasa indah, juga buku sakti dari kalam Sang Pencipta Alam pun dibuka dengan tujuh kalimat singkat yang berfungsi ganda sebagai pembuka sekaligus kesimpulan. Tak panjang kata tetapi dalam makna.

1. Kalimat ini mungkin sederhana, familiar, dan jika diperhatikan dalam setiap buku, sebelum ada satu hurufpun diketik kalimat ini pasti sudah bertengger dengan berupa-rupa bentuk yang cantik, entah disudut, tengah, atau di bagian atas sebelum kalimat syukur dan pujian. Tata cara ini diadopsi oleh semua ummat dari Al Qur’an yang terlebih dahulu mencantumkan ‘Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’ dalam baris pertama di pembukaan suratnya.
2. Ketika seorang penulis memulai muqaddimah maka hal pertama yang akan dia tulis adalah ucapan syukur kepada Rabbnya yang telah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan buku yang ditulisnya. Tapi karena ini adalah Kitab yang Mu’jiz maka redaksinya menjadi pembaca ‘memuja’ Sang Pemilik Kalam dengan pujian yang sempurna.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
3. Memperkenalkan siapa dan seperti apa Rabb semesta Alam itu? Maka (Ar-rahmaan) dan (Ar-rahiim) adalah nama dan sifat Allah yang menggambarkan bagaimana Dia yang begitu berkuasa dan berkehendak menyayangi hambaNya, mencukupkan rezeki, memfasilitasi sarana hidup gratis beserta tuntunan ‘cara hidup bahagia’ dan ‘selamat di akhirat’, bahkan jika yang diberi nikmat bersikap kufur, meniadakan, sombong dengan dirinya yang begitu lemah, lihatlah! Allah masih memberinya kemewahan dalam kedurhakannya. Allah itu Ar-rahmaan kepada seluruh makhluknya dan Ar-rahiim kepada hambaNya yang beriman.
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Dia adalah Rabb yang berkuasa ketika tak ada lagi yg bermanfaat di hari penghisaban kecuali agama yang melekat pada diri setiap orang. Hari ini dinamai dengan berupa nama sebagai penggambaran. Maka ad-Din (yaumid diin) yang bermakna ‘taat’ menunjukkan bahwa pada hari itu ketaatanlah yang paling menguntungkan pemiliknya. Ad-Din yang bermakna ‘agama’ berarti agama yang diterima hanyalah Islam saja.
Yang menguasai hari pembalasan.
5. Jika mengikuti tata bahasa standard, maka redaksi kalimat ayat ini berbunyi : Kami menyembah hanya kepadaMu (Subjek-Predikat-Objek). Namun jika dikedepankan apa yang seharusnya dibelakang dan berbunyi : Hanya kepadaMu kami menyembah, maka dalam balaghoh ini adalah pengecualian, pengukuhan, dan penetapan bahwa yang berhak diibadahi dan yang haq adalah Allah semata dan sesembahan selainNya adalah bathil. Jelas, pasti, kokoh, tanpa basa-basi, tetapi cantik dan meresap di hati. Dan begitu pula kaidah ini bekerja pada kalimat setelahnya (Dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan).
‘Kami’ adalah hamba-hambaMu yang tak mampu hidup sendiri, dan kadar keimanan kami juga naik dan turun maka kami butuh beribadah secara berjamaah agar ada yang mengingatkan kami ketika futur dan tak bersemangat. Kami menyembah dan meminta bersama, bukan aku seorang diri.
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan.
6. Kami meminta pertolongan kepadaMu ya Rabb, tolong tunjukkan, tolong takdirkan, tolong mudahkan. Tolong hantar dan ridhoi kami di jalan yang lurus, aman, dan pasti. Jalan hidup yang kau janjikan keselamatan dan kebahagiaan bagi yang berjalan di atasnya.
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
7. JalanMu yang dulu ditaati oleh para NabiMu, lalu yang membenarkan agamaMu, yang rela mati di jalanMu, dan yang mengamalkan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Tunjuki, takdirkan, dan mudahkan ya Rabb.
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.
Jangan biarkan kami tersesat di jalan yang Engkau murkai. Jalan kaum yang tertulis oleh tinta hitam dalam semua kitab suci (Yahudi). Jangan pula kau biarkan kami tersesat dari tuntunan pasti yang telah Kau wahyukan. Seperti nashrani yang mengubah kitab layaknya mainan.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.

especially for miefta el-jann n' ulia zakira,,
lama gak nulis sswt yg butuh rujukan,,
ini bnar2 krena klian,,