Selasa, 30 April 2013

Pemimpin Yang Adil


Munsyid : Nadamurni

pemimpin yang adil sangat dikehendaki
penyelamat umat dunia dan akhirat
tiada keadilan umat kan huru hara
pemimpin menanggung dosa rakyatnya

pemimpin yg adil orgnya tawaddu'
boleh duduk sama dgn rakyat-rakyatnya
kehidupannya tidak jauh beza dgn rakyatnya
kepentingan rakyat lebih utama

dia boleh ditegur oleh rakyat-rakyatnya
kasih sayang teserlah di mukanya
sombong dan takabur tiada pada dirinya
rakyat taat dan sayang padanya

kepentingan rakyat sangat dijaga
wang rakyat dan negara tidak disalah guna
rasuah dan kemungkaran sangat dijauhinya
rakyat diajak mentaati Allah

pemimpin yang adil mengutamakan akhirat
mengingatkan rakyat tipu dunia
akhlak yang mulia pakaian dirinya
rakyat hormat bukan takut padanya

pemimpin-pemimpin di akhir zaman
kebanyakkan pencetus huru hara
untuk melindungi kesalahan dirinya
dia tuduh orang melakukannya

mana nak dicari pemimpin yang begini


notes:
sedikit nostalgia dengan pesantren,,
teringat bait-bait ini,,

Senin, 29 April 2013

Surat Al Ahzab ayat 69-73

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ ءَاذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِندَ اللهِ وَجِيهًا {69}
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70}
 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {71}
 إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72} لِّيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَىالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {73}


1. Ayat 69

Pada ayat (كَالَّذِينَ ءَاذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا) 
[seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan]

Nabi Musa adalah Nabi yang sangat sabar, karena kaum yang dihadapinya sungguh bukan kaum main-main melainkan Bani Israil yang banyak membantah. Bukankah masyhur istilah orang yang suka membantah dimisalkan dengan Bani Israil? Beliau juga (ستيراً) tidak pernah menampakkan auratnya di depan orang lain. Disebutkan bahwa dahulu kaum Bani Israil menyebarkan gosip bahwa pada tubuh nabi Musa terdapat penyakit kulit yang membuat Nabi Musa tak pernah menampakkan anggota tubuhnya kepada orang lain. Mereka menyakiti nabi Musa dengan kabar bohong tersebut. Maka Allah lepaskan Nabi Musa dari tuduhan itu dengan kuasa-Nya. Pada suatu hari ketika Nabi Musa sedang meletakkan bajunya di tepi sungai. Sebuah batu membawa lari pakaian Nabi Musa sehingga tampaklah betapa Allah menciptakan Nabi Musa dengan sebaik-baik bentuk. Tak ada satupun penyakit kulit menempel padanya. dan jelaslah kebohongan berita-berita itu.

2. Ayat 70 & 71

Ayat ini adalah jawaban bagi manusia yang bertanya-tanya dalam perjalan kehidupannya kiranya kenapa hidup ini begitu sulit? Ayat ini menjawab dan memberi solusi jitu. 
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70}
 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {71}
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS. 33:70)
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. 33:71)

Jika kita bertanya mengapa hidup ini sulit? Maka jawabannya, apakah kamu sudah bertaqwa? Apakah kamu sudah mengatakan hal yang benar?
Karena jaminannnya adalah : Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu, mengampuni bagimu dosa-dosamu. 
Undang-undangnya : Jika kita mentaati Allah dan Rasul-Nya maka kita termasuk orang-orang yang menang. dan kemenangan itu adalah kemenangan di dunia dan di akhirat. 
Seperti apakah kemenangan di dunia? Apakah hanya berupa kebahagiaan seperti yang tampak?
Sesungguhnya kemenangan itu berupa kemudahan urusan di dunia. Jika ditimpa musibah, dia mampu bersabar. Dan jika diberi nikmat dia bersyukur. Dan sesungguhnya kebahagiaan itu jika kita tidak bisa memasukinya di dunia maka kita tidak akan bisa memasukinya di akhirat kelak.

3. Ayat 72

 إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72} 
لِّيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَىالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {73}
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)
sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:73)

Tidak ada makhluk ciptaan Allah manapun yang mau dan mampu mengemban beratnya amanah kecuali manusia. Telah ditanyakan kesanggupan gunung, langit, bumi, dan tak ada satupun yang menerima beratnya amanah. Jika begitu, kenapa di akhir ayat manusia disifati dengan zalim dan amat bodoh? 
Karena memang sifat kebanyakan manusia zalim dan bodoh. Mereka lupa bahwa di pundaknya terletak amanah. Mereka lupa bahwa sekecil apapun amanah bahkan hanya sekedar menyampaikan salam adalah amanah yang akan dihisab jika tidak disampaikan. Mereka hidup hanya untuk tujuan duniawi (makan, minum, tidur, mati).

Dengan adanya amanah ini maka jenis manusia dibagi tiga berdasarkan sikap mereka terhadap amanah : 
# Munafik : Menunaikan amanah hanya secara lahir saja tidak dari dalam hati.
# Musyrik : Meninggalkan amanah baik lahir maupun batin.
# Mu'min : Menunaikan amanah lahir dan batin.
Balasan untuk kelompok pertama dan kedua adalah adzab Allah seperti yang disebutkan ayat di atas, sedang bagi orang mu'min maka bagi mereka taubat terbuka lebar. 


Penutup :

# العقل خادم لك ليس أنت الذي خادما له
Akal itu adalah budakmu bukan kamu yang menjadi budaknya. 
Kita jangan terkecoh dengan pemikiran akal semata yang membebaskan eksplorasi terutama dalam hal-hal ibadah yang memang sudah pasti dan tidak bisa dinalar. Seperti dalam hal mengusap khuf bagi musafir. Secara akal kita bertanya-tanya kenapa bagian atas khuf yang di usap? Bukan bagian bawahnya? 
Itu sudah merupakan ta'abbudiyah yang mana kita sebagai hamba hanya perlu mendengar dan mengerjakan tanpa mempertanyakan. 
Tidak ada yang salah ketika kita menggunakan akal dan mempertanyakan kenapa ada syariat ini? Kenapa ada hukum itu? Karena semua hal yang diatur oleh Islam pasti benar dan ada hikmahnya. Namun hal itu tetaplah dalam koridor aqidah yang benar dan terjaga. 
# Manusia jika melihat musibah yang menimpa orang lain maka mereka akan bisa bersabar. tapi jika hanya sibuk dengan musibah yang menimpa dirinya maka sepanjang hidup hanya akan hobi mengeluh. 


_Ustadzah Jihan_

Rabu, 10 April 2013

Ustadz 'Anonim'

Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.

Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.

Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.



TERNYATA,,,

Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian. 

Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun. 
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"

Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?" 
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu. 
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?" 
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.

Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya. 
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.

Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah. 


 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah 
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari

Senin, 01 April 2013

Benci jadi Suka

2 : 261 { عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم }


Membaca dan mengalami memang dua hal yang sangat berbeda. Membacanya boleh jadi sudah berkali-kali, bisa berpengaruh bisa tidak. Tetapi mengalami sendiri memberi rasa yang 'Wah', dalam, dan cess! Kena!
Dalam kebaikan bolehlah prinsip ini dipakai, tapi jangan diterapkan dalam hal-hal yang buruk semisal kecanduan obat-obatan dan hal negatif lainnya. Menganut asas coba-coba agar tau rasanya dan benar-benar jera lalu berharap bisa terlepas dari jeratnya setelah itu dan bertobat. Kalau iya, kalau tidak? Kalau ternyata umur kita tidak sampai di masa bertobat? Buruklah jadinya. 

Kembali ke topik. Ceritanya..
Saya adalah pecandu novel terutama novel berat ber-genre sejarah, petualangan, science fiction, fantasi, yang diksinya sedikit nyastra, dalem, sampai rasanya tenggelam berenang-renang dalam baris kalimat demi kalimat. Membaca dengan telinga yang disumpal headset, ditemani secangkir kopi atau teh, dikesegaran udara pagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih indah dari ini? (kategori jajaran hobi versi saya, jangan dibandingkan dengan cita rasa ketika tilawah atau ibadah lainnya, beda kategori)
Termasuk penulis yang masuk kategori 'favorit' saya dari jajaran penulis indo ada bang 'Tasaro GK' dengan 'galaksi Kinanthi' yang pertama kali kenal langsung bikin jatuh hati ditambah lagi setelah membaca 'Pitaloka', 'Takhta Nirwana', 'Muhammad' dan yang lainnya. 
Adalagi bang Andrea Hirata yang fenomenal dengan 'Laskar Pelangi' yang mendunia dan seri ceritanya yang semuanya teliti, fakta, kocak, dan melayu sangat. 
Dan lain-lain penulis secara umum yang saya suka secara moody. 

Nah, saking sukanya dengan novel, semua jenis terkadang saya tabrak, dari yang temanya 'saya banget' atau 'bukan saya banget'. TAPI, ada satu penulis yang semua orang berkomentar 'bagus', 'bukunya keren', 'bikin terharu', gak pernah menarik minat saya untuk nyentuh, noleh, atau bahkan ingin tahu 'apa sih isinya?'. Saya yakin semua tahu kan dengan karya bang 'Tere Liye'
Faktor ke-tidak sukaan saya waktu itu sebenarnya karena temanya yang sangat sederhana dan saya pikir paling sama saja dengan novel-novel 'sinetron' lain yang hanya bercerita kehidupan sehari-hari yang bisa menghabiskan setengah halaman hanya untuk menggambarkan 'saya sedang duduk dan menikmati pemandangan'. Hal yang sangat berbeda ketika kita membaca novel-novel terjemahan yang rata-rata temponya cepat dan bisa berpindah-pindah dalam satu halaman.
Juga dengan quotes-nya yang terkadang terlalu blak-blakan dan sangat tegas apalagi kalau yang 'pas' banget dengan hal kita saat ini. Hewm, maknyes dah! Lalu??

Dalam hal ini benar adanya 'tak kenal maka tak sayang'. Pun benar juga "jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan atau menyukai sesuatu secara berlebihan'. 
Entah apa awalnya, saya mulai suka membaca postingan-postingan beliau di page, intip-intip bukunya, dan seperti bunglon, hati saya langsung berkata, 'wah ini keren banget!'. 
Kata-katanya memang sederhana, bidikannya memang semua umur dan keluarga sehingga dibuat sesederhana mungkin agar pesannya sampai kepada pembaca. Intinya, ada ciri khas tersendiri dan tulisannya punya orientasi positif yang mengikuti trend apa yang sedang marak dan perlu diluruskan. Sangat terkesan dengan prinsipnya 'tulislah apa yang perlu orang lain baca, bukan apa yang orang lain suka'. Menjadikan menulis sebagai sarana untuk tujuan menasihati dalam kebaikan. Baik, bagus, dan tegas yang mungkin tidak semua orang suka dengan cara ini. Yang pasti, setiap penulis punya ciri khas tersendiri yang membuat tulisannya mengena dan dicintai oleh pembacanya dan membuatnya selalu ditunggu-tunggu.

Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.

Sekilas saja untuk gambaran,,, ini murni pendapat versi saya..
Gaya tulisan kang Tasaro itu meledak-ledak, mungkin dilatar belakangi profesi beliau yang dulunya jurnalis. Dan temanya selalu berbeda. Hari ini menulis tentang sejarah, besok komedi, lalu kisah cinta. Segar dan cerdas. Seperti Salad.
Kalau bang Andrea, kata-kata seperti telah menyatu di lidah, tangan, dan fikirannya. Tanpa banyak polesan menulis seperti memang mengalir di darahnya. Bahasanya unik, khas, dan 'uuuhhh'. Saya sangat suka filosofi kopinya bang Andrea. Kira-kira perlu pengamatan berapa lama coba untuk menyimpulkan seperti itu? Atau pernahkah kita tertarik memperhatikan hal-hal sederhana dikeseharian kita? Cita rasa bang Andrea itu seperti Rendang, legendaris, dalam, dan Indonesia banget. 
Nah, kalau bang Tere? karena saya penggemar baru, dan belum menamatkan satu bukupun karya beliau, buat saya bang Tere seperti obat. Pahit, tapi memang harus diminum. Karena apa yang disampaikan memang apa adanya, blak-blakan, dan 'plash!' 

Hahay, tujuan saya menulis ini bukan ajang promosi penulis, karena tidak ada yang mensponsori tulisan ini tapi titik tekannya pada : Hal apa yang kita tidak sukai bisa jadi suatu saat kita bela mati-matian begitu juga hal yang kita sukai bisa jadi tidak ingin kita lihat lagi setelah itu. Dan tentu saja kaca mata yang kita pakai untuk menilai mana yang baik dan buruk, yang kita suka atau tidak, haruslah kaca mata yang dibuat dari ilmu Al Qur'an dan Hadits. Wallahu a'lam.

,,^_^,,