Minggu, 21 Juli 2013

Ritual 13 Juni -the story of my grandma n grandpa-

Jika ada seribu tetes peluh yang terkucur,,
Itu pasti peluhmu untuk sebelas anakmu,,
Jika ada seribu uban yang bersinar,,
Itu pasti karena khawatir akan masa depan keturunanmu,,
Wajahmu, senyummu, teduhmu,,
Walau berbilang masa telah dan akan terus berlalu,,
Auramu akan tetap lekat seperti adanya dulu,,
Bagiku, kaulah yang terhebat,,

Romantisme masa kini sudah seperti debu. Amat amat sangat mudah didapat, dangkal dan tak berharga. Terucap di lisan namun  hati beku tak bergetar. Pengorbanan pun tak beda pasal. Berbusa-busa berjanji akan berjuang demi bla bla bla, nyatanya kosong belaka. 
Cerita-cerita tentang generasi-generasi lampau membuka mataku esensi dari berbagai rasa itu sendiri. Contoh realnya kakek nenekku yang cintanya masih awet sampai beda dunia. Begitu beragam cara orang mengartikan, menyikapi, memaknai, dan memperlakukan cinta. Kisah ini murni bukan kisah romance, hanya semacam memoar '13 Juni' tentang sosok yang sangat penting buatku,, 
13 Juni 2010 lalu, Kakekku tercinta tutup usia,,

Begitu banyak kisah-kisah beliau yang baru terkuak setelah beliau tiada. Tak ada yang spesial sebenarnya dari kisah hidupnya. Hanya seorang anak yang terbiasa hidup keras sejak muda. Yang hatinya tertempa bagai baja. Seorang yatim yang hanya makan bangku SD atau SMP kala itu aku lupa. Dia terbiasa dan diharuskan bekerja jika ingin makan, yang berarti tidak bekerja berarti tidak makan. Bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Kala siang terik matahari membakar kaki yang tak beralas, melihat anak-anak lalu lalang berseragam dengan sepatu yang nyaman rasanya lebih panas membakar hati dibanding sengat matahari dan beban barang yang dipangkul. Mungkin pola itulah yang membentuk sosok setangguh beliau. Yang tetap kuat dihantam cobaan, tetap tawakkal dan tak putus yakin. Hingga akhirnya mengayomi kakak dan adiknya sampai akhir hayat. 

Mulanya pengantar barang adalah profesi, namun selanjutnya, menjadi hoby yang bagai candu bagi darah muda. Tiap kali ada job mengantar barang ke satu toko istimewa pasti beliau berbaris paling depan, semangat mengantar barang. Bukan karena bayarannya besar, tapi karena pemilik toko mempunyai seorang anak gadis yang ternyata separuh jiwanya. Beliau mengajarinya cahaya, membawa gadis itu lari dari kegelapan keyakinannya yang lampau hingga kini rela memeluk Islam. Membuatnya merindu hingga ke sum-sum tulang bahkan selepas tiga tahun ditinggal pergi. 

Mungkin kisah ini hanya terjadi pada pasangan-pasangan jaman dulu, bahwa istri harus duduk di depan suaminya ketika makan, menyiapkan dari nasi sampai air putih rapi di depan jarinya. Duduk sampai tetes terakhir dari gelasnya habis. Sungguh aku belum mendapati cerita macam ini sekarang. 
Ironisnya itu membuat nenekku tak bisa pergi kemanapun lebih dari jam makan. Pernah sekali waktu meminta izin tiga hari ke Jakarta yang hanya dijawab dengan bungkam. Hingga hari H akan berangkat, hanya meng'iya'kan dalam diam dan hanya diizinkan dua hari. Ketika baru tiba di Jakarta, telepon sudah berdering, "Kapan pulang? Tak bisa makan!" Tak ada ucap kangen atau sederet rayu, tapi itulah 'sesuatu' yang seakan bermakna "aku tak bisa tanpamu walau hanya sehari". 
Sampai akhirnya esok hari disusul ke Jakarta dan dijemput pulang. 

Itu hanya sedikit kisah uniknya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana rasa digendong dan dipangku olehnya, cara khasnya memukul kepalaku karena gemas, posisi duduknya setiap sore, caranya dia memanggil. 
Tahun ini, dia datang lagi di mimpiku, ketika aku sedang berlari di jalan yang begitu panjang. Dari jauh cahaya baju putihnya tampak, dan dia tersenyum sumringah. Dia melewatiku menyalamiku lalu pergi, hilang. 
Sungguh tanpanya, aku seperti boneka kayu yang tak tahu arah menganut apa saja yang diperintahkan. 
Sekarang dan sampai akhir, wejangan-wejangannya selalu terngiang-ngiang. 

210713.04.07,ram_yog_aury

Senin, 13 Mei 2013

My Trip_hari yang keren_

Malam jum'at yang entah ada apanya, saya terilhami untuk mengunjungi tempat favorit yang sudah lama tak disapa. Kampus Depok yang pernah jadi tempat impian namun tidak kesampaian. Sekalian refresh otak sebelum perang 'besar' yang akan berkecamuk tanggal 22 Mei nanti. Berbekal setumpuk buku, bekal, headset, dan masker. Tas ransel sudah siap untuk pergi. Tiba-tiba,, oh No! tak ada duit seribu pun di dompet. Kalap, rogoh kantong tas sana sini, buka lemari, cari di ujung-ujung kotak, berharap menemukan seribuan atau lima ribuan. Dan memang sudah rejekinya, akhirnya menemukan delapan ribu rupiah dan sekeping lima ratusan. Okeh, cukuplah! Susun strategi gimana dengan uang itu cukup untuk pulang pergi Ps. Minggu-Depok. Dan pilihannya hanya kereta ekonomi harga 1.500. Bismillah!

Hari H. Sabtu 110513.
Sudah siap sejak pagi-pagi sampai orang-orang bengong. Gak biasanya putri kasur ini pagi-pagi sudah rapi. Hahaha.. okeh berangkat!!
Pelajaran pertama : Jika ingin naik kereta ekonomi, cari tau jam keberangkatan.
Saya baru tiga kali naik kereta jenis ini, dan itupun minta ditemani, karena berjubelnya orang yang ingin menikmati fasilitas murah, meriah, dan tanpa macet model ini. Dan tanpa tahu juga bahwa ekonomi ada jamnya, tidak seperti commuter line yang hampir tiap 15 menit sekali ada. ekonomi hanya datang per 2 jam sekali kurang lebih (kalau sabtu ahad). Pas sekali ketika saya beli karcis, kereta baru berangkat. Dan baru datang lagi jam setengah sepuluh. Saya lirik jam, baru 08.20!! Menunggu satu jam??
Tak ada pilihan, naik angkot lain duit tak cukup, ya sudah, apa boleh buat. Menunggu pun tidak ada ruginya. Belajar hal lain dari mengamati sekitar. Tempat yang paling menarik untuk mengamati salah satunya stasiun. Orang dari berbagai jenis, berbagai profesi, berbagai keperluan mondar mandir. Ditemani balaghoh, akhirnya satu jam tak terasa juga. Bahkan bukan satu jam lagi,, satu setengah jam!
Padahal jika ditempuh, perjalanan Ps. Minggu-Depok dengan kereta hanya 15 menit kurang.

Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menginjak tempat ini. Asri, hijau, dan sangat segar. Baru-baru ini saya membiasakan diri dengan masker. Baru terasa dampak polusi Jakarta yang sudah keterlaluan terhadap pernafasan. Rasanya kepala pepat dengan asap kendaraan yang minta ampun.
Jalan-jalan sebentar, mampir sana sini, cari tempat yang nyaman, dan beraksi. Sejak jam sebelas pagi hingga sore menjelang magrib. Jika bukan karena matahari yang akan pamit pulang, rasanya enggan kembali. Karena tugas yang belum selesai, juga karena tempat yang kelewat nyaman. Hanya,,, hari sabtu kampus terasa sangat sepi, dan tidak yakin akan menemukan jalan pulang jika hari gelap karena begitu besarnya universitas ini, dan begitu berkelok. Entah ada di tikungan mana dan distrik mana saya berpijak, yang jelas harus bertemu stasiun semula jika ingin pulang dengan selamat.

Sembari menyusuri jalan pulang, melewati fakultas teknik, arsitektur, budaya, psikologi. Tempat idaman yang tidak kesampaian dan mungkin tak akan kesampaian. Melihat mahasiswa yang lalu lalang dengan seragam laboratorium, layaknya profesor. Entah mengapa mereka begitu keren. Berkumpul membahas masa depan, sibuk dengan setumpuk paper, berpendapat, dan ekspresif.
Terkadang ada pikiran, apakah jika disini tempatku sejak awal, hal-hal baik itu akan datang seperti yang kudapat sekarang? Tak ada jaminan tapi sekali waktu, keinginan itu sangat kuat. Sekedar untuk pembuktian atau entah apa.

Di tengah jalanan yang menggelap, akhirnya ketemu juga dengan arah menuju stasiun. Entah ada apa hujan mengguyur deras dengan tiba-tiba. Terhentilah kaki ini di jembatan 'Texas' ala kampus ini. Di bawanya mengalir semacam sungai lebar. Di kejauhan burung-burung bermain layangan plastik merah lalu melemparnya ke air. Semacam jas hujan burung barangkali.
Pelajaran Kedua : Sembari berteduh, melewati segerombolan anak fotografi, menikmati angin yang bertiup sangat sejuk melewati jembatan, hujan seakan berbisik, "Apa kamu lihat tadi di tempat parkir? Gedung untuk kelas internasional? Keren kan? Apa bedanya mereka dengan yang lain? Karena mereka dibimbing langsung oleh dosen luar negeri. Lalu apa bedanya denganmu? Bukankah semua dosenmu dari luar negeri? Berbicara dengan bahasa Arab? Mengajarimu mencerna ribetnya sastra arab dengan bahasa yang bukan bahasa ibumu sehingga kepalamu pusing dibuatnya. Kurang apalagi?"
Seperti menamparku bisikan itu datang bersama hujan yang menderas. Kutatap tetes air yang berguguran dari tangkainya. Dia mengikuti perintah yang ada tanpa bertanya, kenapa aku harus turun ke bumi sekarang. Berjalan sesuai ketentuan dengan segenap yakin bahwa itulah yang terbaik. Seketika aku tersenyum, memang benar selalu ada pelangi setelah hujan.

Dengan segenap keriangan berlari pulang, menerobos sisa hujan. Tiba di stasiun, merogoh kantong. Ha? Gawat! Uang yang susah payah dikumpulkan, disimpan, enam ribu rupiah hilang. Dan parahnya tak ada selembarpun uang tersisa di tangan. Lalu dengan apa bisa pulang? Bongkar muatan, barangkali terselip di tempat entah dibagian sudut tas yang mana, nihil!! Bagaimana bisa pulang??
Pelajaran Ketiga :  Jangan membawa uang pas! Syukur jika di tempat ramai. Jika di tempat tak ada satupun orang? Lalu akan menyiksa kaki dengan jalan kaki sampai rumah?
Sebenarnya jika berjalan menyusuri rel kereta pasti sampai rumah juga. Sayangnya waktu tidak tepat. Celingak-celinguk sendirian di stasiun, dengan muka tak karuan, akhirnya mendekati seorang bapak yang berdiri bersama anaknya. "Maaf sekali, Pak. Apa ada uang lebih lima ribuan. Uang saya hilang dan tak ada lagi ongkos buat pulang." Dengan segenap muka topeng berkata kepada sang bapak. Untungnya bapak itu tersenyum menyodorkan selembar lima ribuan. "Cukup, Neng? Hati-hati di jalan."
Ya Allah, tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Jalan itu selalu ada. Semoga Allah saja yang membalas kebaikan hati bapak itu. Faktanya, seringkali yang lebih ringan tangan membantu orang lain bukanlah yang kaya raya, melainkan yang senasib dan cenderung pas-pasan juga.

Akhir kata, sampailah sudah di kosan tercinta dengan selamat dan lega. Membuang semua racun yang memepatkan otak, mendapat banyak pelajaran, menyelesaikan tugas. Betapa nikmat yang begitu besar.
Ya Rabb, masukkan kami dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur. 

Minggu, 12 Mei 2013

Puasa Khusus di Bulan Rajab, adakah???



APAKAH BERPUASA PADA BULAN RAJAB MEMILIKI KEUTAMAAN TERNTENTU?

JAWABAN:
Segala puji bagi Allah subhaanahu wa ta’alaa Salawat serta salam atas baginda Rasulullah SHALLALLAHU A’ALIHI WA SALLAM
Pertama:
Kita mengetahui bahwa bulan Rajab termasuk salah satu dari 4 bulan haram, di mana Allah berfirman:
"إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" التوبة: 36
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”
Adapun bulan-bulan haram yang dimaksud adalah: Rajab, Dzulqa`sah, Dzulhijjah, dan Muharam.
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Bakrah radliyallahu `anhu dari nabi shallallahu a’alihi wa sallam Beliau bersabda: “Dalam setahun ada 12 bulan, di antaranya ada bulan-bulan haram, 3 di antaranya berturut-turut yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharam, serta bulan Rajab yang berada di antara bulan Jumadi Ata-tsani dan Syaban” (HSR Imam Al-Bukhari [4662] dan Muslim [1679])
Sebab dinamakannya bulan-bulan tersebut dengan bulan haram:
1. Karena pada bulan tersebut diharamkan berperang, kecuali jika yang memulai peperangan adalah musuh-musuh orang Islam.
2. Karena melakukan perbuatan yang diharamkan pada bulan-bulan tersebut, lebih dikecam dari pada melakukan perbuatan yang diharamkan pada bulan-bulan lainya.
Karenanya Allah melarang kita melakukan perbuatan maksiat dalam bulan ini, Allah berfirman: “Maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan (haram) tersebut”, walaupun sebenarnya kita diharamkan melakukan maksiat pada bulan apapun, namun perbuatan maksiat dalam bulan-bulan ini lebih diharamkan.
Kedua:
Tentang berpuasa di bulan Rajab,
Adapun berpuasa di bulan Rajab, TIDAK ADA HADIS SAHIH SATU PUN YANG MENUNJUKKAN KEUTAMAAN BERPUASA PADA BULAN RAJAB SECARA KHUSUS.
Sedangkan yang dilakukan sebagian orang berupa mengkhususkan puasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab dan meyakini bahwa berpuasa di hari-hari tersebut memiliki keutamaan melebihi keutamaan berpuasa pada hari-hari yang lainnya, semua itu tidak landasannya dalam Syariah Islam (tidak ada dalil akan hal itu).
Akan tetapi ada riwayat dari Rasulullah shallallahu a’alihi wa sallam Yang menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan haram (sebagaimana kita mengetahui bahwa Rajab termasuk dari bulan-bulan haram), Rasulullah shallallahu a’alihi wa sallam Bersabda:
"صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ" رواه أبو داود (2428) وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود
“Berpuasalah di sebagian bulan-bulan haram, serta tinggalkanlah (di sebagian yang lain).” (HR. Abu Daud [2428] dan hadis ini DIHUKUMI LEMAH OLEH SYAIKH NASHIRUDDIN AL-ABÂNI)
Maksudnya: Rasulullah menganjurkan berpuasa beberapa hari pada bulan-bulan haram tanpa menjelaskan waktu-waktu tertentu, yang dimaksud di sini adalah memperbanyak berpuasa dengan cara sehari berpuasa dan sehari berbuka.
Hadis ini (jika hadis ini sahih) menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan-bulan haram, jika seseorang berpuasa pada bulan Rajab karena adanya hadis ini, serta berpuasa pada bulan-bulan haram lainnya (selain Rajab) maka hal itu tidak menjadi masalah, akan tetapi mengkhususkan puasa pada bulan Rajab saja, itu tidak boleh. (sekali lagi, jika hadis ini sahih)
- Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmû` fatâwâ (25/290):

“Adapun berpuasa khusus pada bulan Rajab, semua hadis (tentang hal itu) LEMAH, bahkan PALSU, para ulama’ tidak menggunakan sedikit pun dari hadis-hadis tersebut sebagai sandaran/landasan, serta hadis-hadis tersebut tidak termasuk hadis lemah yang diriwayatkan mengenai keutamaan-keutamaan sebuah amalan (karena ada sebagian hadis lemah yang boleh diamalkan jika hadis lemah tersebut tentang keutamaan-keutamaan amalan, dengan syarat-syarat tertentu, namun hadis tentang ini keutamaan berpuasa di bulan Rajab ini tidak termasuk hadis lemah yang boleh diamalkan, karena tidak memenuhi syarat [Penj]). Bahkan hadis-hadis tentang keutamaan bulan berpuasa pada bulan Rajab ini MAYORITAS ADALAH HADIS PALSU DAN DUSTA”
dalam kitab Musnad imam Ahmad dan beberapa kitab lainnya terdapat riwayat dari Nabi shallallahu a’alihi wa sallam Bahwasanya beliau memerintahkan kita untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, yaitu bulan Rajab, Dzulqa`dah, Dzhulhijja, dan Muharam; akan tetapi hadis ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada semua bulan haram, dan tidak menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Rajab secara khusus.

- Ibnul-Qayyim Al-Jauziyyah rahmatullah `alaihi berkata:

“Semua hadis yang menjelaskan tentang (keutamaan) berpuasa pada bulan Rajab, serta shalat malam pada malam-malam tertentu di bulan Rajab, SEMUA ITU DUSTA DAN DIBUAT-BUAT.” (kitab Al-Mannâr Al-Munîf: 96)

- Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tabyînul-`ujb (11)

“Tidak ada dalil yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab, berpuasa di bulan Rajab, atau mengkhususkan hari-hari tertentu di bulan Rajab untuk berpuasa, dan juga tidak ada dalil tentang keutamaan melakukan shalat malam secara khusus dalam bulan Rajab, tidak ada dalil sahih yang layak untuk dijadikan landasan (akan semua itu)”

- Syaikh Sayyid Sâbiq berkata dalam kitab Fiqh as-Sunnah (1:383):

“Puasa pada bulan Rajab tidak memiliki keutamaan lebih dari puasa di bulan-bulan yang lainnya, akan tetapi Rajab itu termasuk dari bulan-bulan haram, dan tidak ada riwayat yang sahih satu pun yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Rajab secara khusus, riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada bulan Rajab tidak ada yang layak untuk dijadikan sandaran/landasan”

- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin ditanya tentang hukum berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab, dan melakukan shalat malam di malam tersebut, lalu beliau menjawab:
“Berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab, shalat malam di malam tersebut, serta mengkhususkan bulan Rajab (dari bulan-bulan lainnya) ADALAH PERKARA BID’AH, DAN SETIAP PERBUATAN BID’AH ITU SESAT.”

- Ibnu Subkiy meriwatkan dari Muhammad bin Manshur as-Sam’ani bahwasanya dia berkata:

“Tidak ada dalil sahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada bulan Rajab secara khusus, hadis-hadis yang diriwayatkan yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada bulan Rajab semuanya sangat lemah, seorang yang berilmu tidak akan peduli akan hadis-hadis tersebut”

- Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Mushannaf, bahwa Umar berkata: “Makanlah! Sesungguhnya bulan itu (Rajab) adalah bulan yang diagung-agungkan oleh orang jahiliah”


oleh_M. Ridwanullah_

aLL about raiN


hujan blum mengguyur kotaku,,
sejak kulangkahkan kakiku dsana,,

Kemarin hujan merintik,,
ternyata itu pertanda rejeki datang,,

kenapa tiba2 malam ini,,
telingaku bgitu merindu rintiknya,,
mata ingin menghitung tetesnya,,
hati ingin luruh bersamanya,,
melebur dan meresap dalam kegelapan malam,,


aq ingin berlari bersama hujan seperti pesawat yg melaju dri landsannya,,
jauhhhh,,,,,, tinggii,,,,, ke sumber hujan yg menggluduk di gumpalan hitam,,,
menggantungkan mimpi2 dsna layaknya anggrek gantung,,
agar hujan mnyiraminya,,,
agar hujan menyatakannya,,,
menumbuhkannya menjadi tangga demi tangga untuk menggapai apa yg selama ini hanya bisa dilihat,,,
menjdi apa yg bisa di genggam,,


aq ingin mengundang hujan ke berandaku malam ini,,
barangkali kita bisa mnum teh bersama dan mengatur jadwal turunnya hujan,,
mungkin smbil memohon padanya agar dia membawaku pulang,,



Jumat, 10 Mei 2013

Sholat Jum'at

Ini kisah benar yang saya alami sendiri. Ketika siang sudah membara, pulang kuliah, lapar pasti tidak tertanggungkan. Celingak-celinguk cari makan siang, akhirnya bertemu deretan gerobak yang parkir di sekitar masjid. Mulut sudah hendak memesan, perut sudah teriak segera, lalu teringat hari ini jum'at. Ingat bahwa tidak boleh berjual beli, akhirnya menunggu. Takbir di masjid sudah dimulai. Sedang abang penjual ini masih sibuk dengan para pembelinya. Ketika dia bertanya apa yang ingin kami beli, kami jawab akan menunggu, silahkan sholat jum'at dulu, karena sudah lewat satu rokaat. Sang abang ini hanya tersenyum sambil merasa tidak enak hati, dan kami duduk. Berharap dia segera berlari ke masjid yang hanya 3 meter kurang barangkali. Imam sudah rukuk di rakaat kedua dan dia masih merapikan uangnya yang berceceran di rombongnya. Ketika akhirnya dia berlari ke masjid, jamaah sudah duduk tahiyat terakhir, hendak salam. Dan tidak sampai 5 menit dia kembali dan tidak jadi sholat jum'at lantaran sudah selesai.

Kami hanya geleng-geleng kepala. Ya Rabb, ini salah kami juga yang tidak menyuruhnya segera berlari dan meninggalkan duit-duit itu. Melihatnya lalai di depan mata tanpa menegurnya. Sungguh betapa berat dosa meninggalkan sholat jum'at bagi laki-laki tanpa alasan syar'i. Sungguh rejeki itu tidak akan lari, hanya untuk sholat yang tidak sampai setengah jam. Semoga kamipun termasuk yang diingatkan ketika lalai.


Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, 
maka Allah akan mengunci mati hatinya.” 

Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15072), Abu Dawud (no. 1052), at-Tirmidzi (no. 500), an-Nasa-i (no. 1369), Ibnu Majah (no. 1125). Dan at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan.”


Selasa, 30 April 2013

Pemimpin Yang Adil


Munsyid : Nadamurni

pemimpin yang adil sangat dikehendaki
penyelamat umat dunia dan akhirat
tiada keadilan umat kan huru hara
pemimpin menanggung dosa rakyatnya

pemimpin yg adil orgnya tawaddu'
boleh duduk sama dgn rakyat-rakyatnya
kehidupannya tidak jauh beza dgn rakyatnya
kepentingan rakyat lebih utama

dia boleh ditegur oleh rakyat-rakyatnya
kasih sayang teserlah di mukanya
sombong dan takabur tiada pada dirinya
rakyat taat dan sayang padanya

kepentingan rakyat sangat dijaga
wang rakyat dan negara tidak disalah guna
rasuah dan kemungkaran sangat dijauhinya
rakyat diajak mentaati Allah

pemimpin yang adil mengutamakan akhirat
mengingatkan rakyat tipu dunia
akhlak yang mulia pakaian dirinya
rakyat hormat bukan takut padanya

pemimpin-pemimpin di akhir zaman
kebanyakkan pencetus huru hara
untuk melindungi kesalahan dirinya
dia tuduh orang melakukannya

mana nak dicari pemimpin yang begini


notes:
sedikit nostalgia dengan pesantren,,
teringat bait-bait ini,,

Senin, 29 April 2013

Surat Al Ahzab ayat 69-73

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ ءَاذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِندَ اللهِ وَجِيهًا {69}
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70}
 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {71}
 إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72} لِّيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَىالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {73}


1. Ayat 69

Pada ayat (كَالَّذِينَ ءَاذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا) 
[seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan]

Nabi Musa adalah Nabi yang sangat sabar, karena kaum yang dihadapinya sungguh bukan kaum main-main melainkan Bani Israil yang banyak membantah. Bukankah masyhur istilah orang yang suka membantah dimisalkan dengan Bani Israil? Beliau juga (ستيراً) tidak pernah menampakkan auratnya di depan orang lain. Disebutkan bahwa dahulu kaum Bani Israil menyebarkan gosip bahwa pada tubuh nabi Musa terdapat penyakit kulit yang membuat Nabi Musa tak pernah menampakkan anggota tubuhnya kepada orang lain. Mereka menyakiti nabi Musa dengan kabar bohong tersebut. Maka Allah lepaskan Nabi Musa dari tuduhan itu dengan kuasa-Nya. Pada suatu hari ketika Nabi Musa sedang meletakkan bajunya di tepi sungai. Sebuah batu membawa lari pakaian Nabi Musa sehingga tampaklah betapa Allah menciptakan Nabi Musa dengan sebaik-baik bentuk. Tak ada satupun penyakit kulit menempel padanya. dan jelaslah kebohongan berita-berita itu.

2. Ayat 70 & 71

Ayat ini adalah jawaban bagi manusia yang bertanya-tanya dalam perjalan kehidupannya kiranya kenapa hidup ini begitu sulit? Ayat ini menjawab dan memberi solusi jitu. 
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70}
 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {71}
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS. 33:70)
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. 33:71)

Jika kita bertanya mengapa hidup ini sulit? Maka jawabannya, apakah kamu sudah bertaqwa? Apakah kamu sudah mengatakan hal yang benar?
Karena jaminannnya adalah : Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu, mengampuni bagimu dosa-dosamu. 
Undang-undangnya : Jika kita mentaati Allah dan Rasul-Nya maka kita termasuk orang-orang yang menang. dan kemenangan itu adalah kemenangan di dunia dan di akhirat. 
Seperti apakah kemenangan di dunia? Apakah hanya berupa kebahagiaan seperti yang tampak?
Sesungguhnya kemenangan itu berupa kemudahan urusan di dunia. Jika ditimpa musibah, dia mampu bersabar. Dan jika diberi nikmat dia bersyukur. Dan sesungguhnya kebahagiaan itu jika kita tidak bisa memasukinya di dunia maka kita tidak akan bisa memasukinya di akhirat kelak.

3. Ayat 72

 إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72} 
لِّيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَىالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {73}
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)
sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:73)

Tidak ada makhluk ciptaan Allah manapun yang mau dan mampu mengemban beratnya amanah kecuali manusia. Telah ditanyakan kesanggupan gunung, langit, bumi, dan tak ada satupun yang menerima beratnya amanah. Jika begitu, kenapa di akhir ayat manusia disifati dengan zalim dan amat bodoh? 
Karena memang sifat kebanyakan manusia zalim dan bodoh. Mereka lupa bahwa di pundaknya terletak amanah. Mereka lupa bahwa sekecil apapun amanah bahkan hanya sekedar menyampaikan salam adalah amanah yang akan dihisab jika tidak disampaikan. Mereka hidup hanya untuk tujuan duniawi (makan, minum, tidur, mati).

Dengan adanya amanah ini maka jenis manusia dibagi tiga berdasarkan sikap mereka terhadap amanah : 
# Munafik : Menunaikan amanah hanya secara lahir saja tidak dari dalam hati.
# Musyrik : Meninggalkan amanah baik lahir maupun batin.
# Mu'min : Menunaikan amanah lahir dan batin.
Balasan untuk kelompok pertama dan kedua adalah adzab Allah seperti yang disebutkan ayat di atas, sedang bagi orang mu'min maka bagi mereka taubat terbuka lebar. 


Penutup :

# العقل خادم لك ليس أنت الذي خادما له
Akal itu adalah budakmu bukan kamu yang menjadi budaknya. 
Kita jangan terkecoh dengan pemikiran akal semata yang membebaskan eksplorasi terutama dalam hal-hal ibadah yang memang sudah pasti dan tidak bisa dinalar. Seperti dalam hal mengusap khuf bagi musafir. Secara akal kita bertanya-tanya kenapa bagian atas khuf yang di usap? Bukan bagian bawahnya? 
Itu sudah merupakan ta'abbudiyah yang mana kita sebagai hamba hanya perlu mendengar dan mengerjakan tanpa mempertanyakan. 
Tidak ada yang salah ketika kita menggunakan akal dan mempertanyakan kenapa ada syariat ini? Kenapa ada hukum itu? Karena semua hal yang diatur oleh Islam pasti benar dan ada hikmahnya. Namun hal itu tetaplah dalam koridor aqidah yang benar dan terjaga. 
# Manusia jika melihat musibah yang menimpa orang lain maka mereka akan bisa bersabar. tapi jika hanya sibuk dengan musibah yang menimpa dirinya maka sepanjang hidup hanya akan hobi mengeluh. 


_Ustadzah Jihan_