Rabu, 10 April 2013

Ustadz 'Anonim'

Lagi-lagi kisah. Maklum ya pemirsa, saya memang suka baca novel dan cerita-cerita jadi topiknya seputar ituuuu aja. Tapi insya Allah bisa diambil hikmahnya.
Kebetulan saya punya hobi mampir di kamar teman, berkunjung, minta minum. Ya, jadi dapat air sekalian dengerin cerita-cerita gitu. Salah satunya ini.

Ada salah seorang ustadz dulu pernah ngajar di kampus kami. Diperkirakan ketika masih awal-awal berdiri dan letak kampusnya waktu itu masih di salemba, belum di tempat yg sekarang (buncit). Beliau menyangka, Indonesia yang terkenal dengan negara berpenduduk Islam terbanyak itu suasananya seperti di Saudi. (Oh ya, lupa, beliau asli Saudi)
Tapi ternyata, semua perkiraan itu lenyap seperti debu disiram hujan. Ketika pertama kali tiba di bandara Soeta, beliau sholat di mushola. Setelah usai, keluar mushola dihadapannya ada seorang wanita yang tidak berhijab, beliau berpaling muka ke arah sebaliknya, didapati pula pemandangan yang sama. Akhirnya beliau memandang ke langit dan terus berjalan. Betapa beliau menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak benar.

Ketika sudah menetap di Indonesia pun, beliau memilih jalan kaki dari apartemennya ke kampus karena melihat angkutan umum dan bis kota tidak dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dan terlalu penuh. Apalagi harus satu bis dengan perempuan tidak berhijab. Namun bagi beliau itu justru kesempatan, ketika berjalan beliau mengulang-ngulang hafalan alfiyah (syair nahwu) dan al Qur'an. Subhanallah, sangat subhanallah.



TERNYATA,,,

Teringat kejadian beberapa waktu lalu di kelas. Kebetulan kami punya teman yang 'hobi' absen. Sedangkan 'absen' (tanpa alasan serius) di kampus kami termasuk pelanggaran, atau bahkan aib. Terancam tidak boleh mengikuti ujian di beberapa mata kuliah. Rasa-rasanya tingkat 'kesebalan' kami makin hari memang makin memuncak melihat tingkah 'nya' yang seakan seenaknya. Sebenarnya kami semua masyhur dengan kecerdasannya bahkan beberapa dosen mengakui. Hanya tetap ada pandangan adab yang seharusnya berbanding lurus dengan kapasitas ilmu. Jika absen karena sakit, atau udzur syar'i, doa-doa pasti langsung terpanjat, jika absen karena alasan malas yah beberapa kali okelah, tapi jika dua minggu tidak masuk kira-kira malas yang bagaimana? Dan ketika masuk jawabannya "Saya kira libur", dengan santainya.
Padahal sangat jelas tidak ada pengumuman libur dari pihak manapun, dan kita sedang dihantam badai ujian. 

Selidik punya selidik, itu memang kebiasaan sejak semester pertama. Ketika masuk pun bukannya mendengarkan malah membaca novel. Dan segudang cerita lain yang bikin sebal memuncak ke ubun-ubun. 
Ceritanya, semester ini kami diajar dosen baru. Beliau tegas dan langsung. Ketika melihat sesuatu yang tidak benar maka langsung saat itu juga diberi wejangan, ditegur. Tanpa basa-basi. Seperti biasa sebelum memulai pelajaran beliau mengabsen, dan seperti biasa ketika sampai disatu nama yang semua sudah mafhum maka serentak berkata "ghaaibah!!!" (absen). Ditanyalah alasan keabsenan'nya', salah seorang teman menyahut "malas!"

Sang dosen hanya diam dan melanjutkan mengabsen. Setelah selesai, beliau dengan raut muka tidak suka langsung bertanya, "Apakah begitu akhlak kalian terhadap teman? Menyakiti dari belakang? Jika kalian diposisi dia apakah tidak sedih? Di depannya kalian bermanis-manis ternyata dibelakangnya menyimpan benci?" 
Sebenarnya kami ingin menyahut dan menjelaskan bahwa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Tapi semua membisu. 
Dosen kami melanjutkan, " Bahkan meskipun dia memang benar-benar absen karena malas, apakah kalian tahu alasannya? apakah kalian pernah tinggal 40 hari dengannya atau pernah bepergian paling tidak selama 2 hari dengannya hingga berhak menghukuminya seperti itu?" 
Kami tersadar, bukankah ghibah jika hal itu memang benar, dan fitnah jika itu tidak benar? Bahkan jika itu memang benar, karena menilai dari sikap luarnya dan pernyatannya, kami tetap belum berhak menghukuminya karena belum pernah tinggal dengannya sehingga tahu karakternya luar dalam.

Lalu sang dosen melanjutkan tausiahnya.
"Kalian tahu, dulu ada seorang anak kelas 5 SD namanya Teddy. Kisah ini terjadi di Amerika. Dia terkenal diantara guru-guru sangat malas dan tidak pernah berbicara di kelas. Prestasinya sangat buruk, dan semua guru berlepas tangan darinya. Wali kelasnya bertanya-tanya tentang hal anak ini dan mencari tahu latar belakang keluarganya. Dia menemukan catatan prestasi sang anak tersebut dan terkejut ketika mendapati bahwa dia mendapat nilai tertinggi ketika kelas 1, 2, dan 3 SD. Ketika kelas 4 prestasinya menurun dan benar-benar karam ketika naik kelas 5. Dan betapa terkejutnya ketika dia tahu bahwa anak ini ditinggal ibunya di akhir kelas 3. Maka mafhumlah sang guru dengan sikapnya, dan mencoba bersahabat dengan anak tersebut. Dan prestasi anak itu menunjukkan perkembangan. Hingga tiba di akhir kelas 6, semua murid memberikan hadiah-hadiah terbaik mereka kepada wali kelas. Anak ini datang hanya dengan sebuah bungkusan kresek dan memberikan kepada guru. Dibukanya hadiah itu yang ternyata berisi parfum yang hanya tersisa sedikit sekali. Sang guru terharu membaca tulisan yang ada disitu.
Hadiah ini mungkin tidak berharga, tapi itu adalah hal paling berharga yang saya miliki, parfum peniggalan ibu saya. 
Sang guru langsung memakai parfum itu dihadapan murid-murid dan mengatakan bahwa hadiah itu sangat berharga. Setelah beberapa tahun, datanglah surat kepada guru yang dikirmkan dari murid spesialnya berisi undangan kelulusan universitas. Maka siapa yang menyangka? Anak kecil yang tampak malas menjadi seseorang berprestasi di masa depan?
Anak-anak, terkadang ada orang-orang yang menunjukkan di depan orang dlain bahwa dia baik-baik saja, tapi menyimpan luka dibaliknya. Maka kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya atau hanya dari pandangan sekilas saja"
Kelas usai, dan kami tertunduk lunglai.

Suatu hari, saya bertanya-tanya kepada teman-teman yang sudah lama kenal dengannya. Seperti apa keluarganya, latar belakangnya, dimana tempat tinggalnya. Diantara semua kisahnya, saya tertegun dengan satu hal. Ternyata,,
Dia sangat menjaga sholat sunnah rawatibnya! Ketika itu saya berfikir, mungkin inilah hal sederhana yang tak pernah ditinggalkannya dan Allah ridho dengan amalan itu. Maka Allah mudahkan segala urusan dalam hidupnya. Sejak itu kaca mata kami tentangnya sedikit berubah. 


 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Beramallah sesuai dgn sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yg dicintai oleh Allah 
adalah yg terus menerus walaupun sedikit. HR. Bukhari

Senin, 01 April 2013

Benci jadi Suka

2 : 261 { عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم }


Membaca dan mengalami memang dua hal yang sangat berbeda. Membacanya boleh jadi sudah berkali-kali, bisa berpengaruh bisa tidak. Tetapi mengalami sendiri memberi rasa yang 'Wah', dalam, dan cess! Kena!
Dalam kebaikan bolehlah prinsip ini dipakai, tapi jangan diterapkan dalam hal-hal yang buruk semisal kecanduan obat-obatan dan hal negatif lainnya. Menganut asas coba-coba agar tau rasanya dan benar-benar jera lalu berharap bisa terlepas dari jeratnya setelah itu dan bertobat. Kalau iya, kalau tidak? Kalau ternyata umur kita tidak sampai di masa bertobat? Buruklah jadinya. 

Kembali ke topik. Ceritanya..
Saya adalah pecandu novel terutama novel berat ber-genre sejarah, petualangan, science fiction, fantasi, yang diksinya sedikit nyastra, dalem, sampai rasanya tenggelam berenang-renang dalam baris kalimat demi kalimat. Membaca dengan telinga yang disumpal headset, ditemani secangkir kopi atau teh, dikesegaran udara pagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih indah dari ini? (kategori jajaran hobi versi saya, jangan dibandingkan dengan cita rasa ketika tilawah atau ibadah lainnya, beda kategori)
Termasuk penulis yang masuk kategori 'favorit' saya dari jajaran penulis indo ada bang 'Tasaro GK' dengan 'galaksi Kinanthi' yang pertama kali kenal langsung bikin jatuh hati ditambah lagi setelah membaca 'Pitaloka', 'Takhta Nirwana', 'Muhammad' dan yang lainnya. 
Adalagi bang Andrea Hirata yang fenomenal dengan 'Laskar Pelangi' yang mendunia dan seri ceritanya yang semuanya teliti, fakta, kocak, dan melayu sangat. 
Dan lain-lain penulis secara umum yang saya suka secara moody. 

Nah, saking sukanya dengan novel, semua jenis terkadang saya tabrak, dari yang temanya 'saya banget' atau 'bukan saya banget'. TAPI, ada satu penulis yang semua orang berkomentar 'bagus', 'bukunya keren', 'bikin terharu', gak pernah menarik minat saya untuk nyentuh, noleh, atau bahkan ingin tahu 'apa sih isinya?'. Saya yakin semua tahu kan dengan karya bang 'Tere Liye'
Faktor ke-tidak sukaan saya waktu itu sebenarnya karena temanya yang sangat sederhana dan saya pikir paling sama saja dengan novel-novel 'sinetron' lain yang hanya bercerita kehidupan sehari-hari yang bisa menghabiskan setengah halaman hanya untuk menggambarkan 'saya sedang duduk dan menikmati pemandangan'. Hal yang sangat berbeda ketika kita membaca novel-novel terjemahan yang rata-rata temponya cepat dan bisa berpindah-pindah dalam satu halaman.
Juga dengan quotes-nya yang terkadang terlalu blak-blakan dan sangat tegas apalagi kalau yang 'pas' banget dengan hal kita saat ini. Hewm, maknyes dah! Lalu??

Dalam hal ini benar adanya 'tak kenal maka tak sayang'. Pun benar juga "jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan atau menyukai sesuatu secara berlebihan'. 
Entah apa awalnya, saya mulai suka membaca postingan-postingan beliau di page, intip-intip bukunya, dan seperti bunglon, hati saya langsung berkata, 'wah ini keren banget!'. 
Kata-katanya memang sederhana, bidikannya memang semua umur dan keluarga sehingga dibuat sesederhana mungkin agar pesannya sampai kepada pembaca. Intinya, ada ciri khas tersendiri dan tulisannya punya orientasi positif yang mengikuti trend apa yang sedang marak dan perlu diluruskan. Sangat terkesan dengan prinsipnya 'tulislah apa yang perlu orang lain baca, bukan apa yang orang lain suka'. Menjadikan menulis sebagai sarana untuk tujuan menasihati dalam kebaikan. Baik, bagus, dan tegas yang mungkin tidak semua orang suka dengan cara ini. Yang pasti, setiap penulis punya ciri khas tersendiri yang membuat tulisannya mengena dan dicintai oleh pembacanya dan membuatnya selalu ditunggu-tunggu.

Yang paling berkesan lagi, ketika dalam suatu kesempatan di pameran buku, beliau hadir dan ikut mengisi acara. Melihat secara langsung bagaimana rupa orangnya. Sederhana. Hal pertama yang langsung orang nilai jika bertemu. Penampilannya dan gaya bicaranya biasa saja. Bahkan beliau datang dengan sandal jepit untuk acara seresmi itu. Bukan tipe yang 'ramah' dengan pembacanya dalam artian ingin dipuji, disanjung, dan dielu-elukan. Sangat sederhana dan apa adanya. Lagi-lagi teringat postingannya 'dunia ini hanya tipu-tipu saja'. Untuk apa terlihat hebat di mata manusia sedangkan semua hal yang dimata manusia mewah dan hebat itu tidak akan menemani kita ke alam kubur dan kehidupan akhirat nanti. Rasul begitu sering mengingatkan kita tentang hal ini, sedang kita terkadang masih terbuai dengan kecantikan dunia yang tidak abadi.

Sekilas saja untuk gambaran,,, ini murni pendapat versi saya..
Gaya tulisan kang Tasaro itu meledak-ledak, mungkin dilatar belakangi profesi beliau yang dulunya jurnalis. Dan temanya selalu berbeda. Hari ini menulis tentang sejarah, besok komedi, lalu kisah cinta. Segar dan cerdas. Seperti Salad.
Kalau bang Andrea, kata-kata seperti telah menyatu di lidah, tangan, dan fikirannya. Tanpa banyak polesan menulis seperti memang mengalir di darahnya. Bahasanya unik, khas, dan 'uuuhhh'. Saya sangat suka filosofi kopinya bang Andrea. Kira-kira perlu pengamatan berapa lama coba untuk menyimpulkan seperti itu? Atau pernahkah kita tertarik memperhatikan hal-hal sederhana dikeseharian kita? Cita rasa bang Andrea itu seperti Rendang, legendaris, dalam, dan Indonesia banget. 
Nah, kalau bang Tere? karena saya penggemar baru, dan belum menamatkan satu bukupun karya beliau, buat saya bang Tere seperti obat. Pahit, tapi memang harus diminum. Karena apa yang disampaikan memang apa adanya, blak-blakan, dan 'plash!' 

Hahay, tujuan saya menulis ini bukan ajang promosi penulis, karena tidak ada yang mensponsori tulisan ini tapi titik tekannya pada : Hal apa yang kita tidak sukai bisa jadi suatu saat kita bela mati-matian begitu juga hal yang kita sukai bisa jadi tidak ingin kita lihat lagi setelah itu. Dan tentu saja kaca mata yang kita pakai untuk menilai mana yang baik dan buruk, yang kita suka atau tidak, haruslah kaca mata yang dibuat dari ilmu Al Qur'an dan Hadits. Wallahu a'lam.

,,^_^,, 






Jumat, 15 Maret 2013

Alfaatihah -part 2-

Syarah yg lebih daqiq (dalam) tentang Alfaatihah hari ini di pelajaran tafsir.
oleh : Ustadzah Jihan

1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Aku mulai membaca dengan nama Allah. Mengajarkan bahwa semua hal sebaiknya dimulakan dengan basmalah. Sesuatu yg sederhana dan harus dibiasakan. Ketika memulai makan, minum, duduk, belajar atau apapun yg bernilai positif.

2. الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الْحَمْدُ : Pujian. Sesuatu yg berbeda dari syukur. Pujian lebih umum, ditujukan kepada sesuatu yg hebat dan indah, sedangkan syukur adalah rasa terimakasih atas apa yg kita dapat atau didahului oleh perbuatan. Contoh : Kita memuji Allah dengan segala kesempurnaan sifatNya dan kita bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yg telah Dia beri.
رَبِّ : Pemilik, Raja, Pendidik. Jika dita'rifkan (dimasukkan ال ) makan artinya terkhusus untuk Allah saja dan jika ingin digunakan untuk selain Allah maka harus disandarkan pada kata berikutnya. Misal : ربّ البيت (pemilik rumah).
 الْعَالَمِينَ :  Bermakna semua hal selain Allah.

3. الرحمن الرحيم
الرحمن : Rahmat yang ditujukan kepada seluruh manusia secara umum baik itu kafir maupun muslim.
الرحيم : Rahmat yang dikhusukan hanya kepada kaum muslimin saja.

4. ملك يوم الدين 
ملك :  Pada hari itu hanya Allah yang berkuasa atas hamba2Nya. Maka patut khawatirlah orang2 yang mengganggap hari akhir hanya lelucon belaka.
يوم الدين : Hari penghitungan dan pembalasan. Dimulakan dengan pengumpulan manusia seluruhnya di mahsyar, lalu ditampakkan amalan2 selama di dunia dan dihitung, lebih berat yang baikkah atau yang buruk?
Dan balasan atas amalan2 itu sangat teliti takkan terdzolimi sedikitpun. Kebaikan sekecil apapun akan dibalas begitu juga dengan keburukan.

5. إياك نعبد و إياك نستعين
Jika diperhatikan, tiga ayat di atas menggambarkan hal yang jauh dan ghaib. Tentang keagungan Allah dan berita kiamat yang tak ada seorangpun tahu. Tapi di ayat ini sudut pandangnya menjadi kami. Kenapa? Untuk menggambarkan kedekatan bahwa Allah itu selalu ada dan mendengar kita ketika berbicara denganNya. 
Kenapa redaksinya 'kami menyembah' bukan 'saya menyembah'? 
Untuk menunjukkan 'aku' itu salah satu dari 'kami' yang menggambarkan betapa sedikitnya aku diantara sekian banyak. Menggambarkan betapa rapuh, lemah, tak ada apa2nya. 
Satu lagi yang menarik dari ayat ini, tentang dikaitkannya ibadah dan meminta pertolongan. Bahwa tujuan hidup kita adalah ibadah, namun kita tidak akan bisa mencapai tujuan itu tanpa pertolongan Allah untuk menguatkan hati kita tegak beribadah melawan rasa malas yang terkadang menghampiri. Maka pertolongan Allah disini menjadi wasilah (perantara) dari tujuan utama kehidupan (ibadah). 

6. اهدنا الصراط المستقيم
Tunjukkan, bimbing, tuntun, ke jalan yang condong kepada kebenaran, yakni Islam.

7. صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Orang2 yg diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang2 yg shalih. Jadikan kami orang2 yg mngikuti jalan mereka ya Rabb, bukan jalan orang2 yahudi yang mngetahui kebenaran agamamu tetapi mereka kafir, ataupun orang2 nashrani yang tersesat dari kebenaran.

Hikmah :
Satu surat yang begitu padat bergizi dan menakjubkan ini juga mngajarkan kita adab berdoa. Seperti apa?
1. Memuji. 
    Ketika kita ingin meminta, maka sanjunglah dulu dengan sebaik2 pujian. Ini sangat efektif dalam       
    kehidupan sehari2, coba saja. (contoh ayat 2-4)
2. Merendah. Tunjukkan betapa lemah kita, dan betapa butuh akan pertolonganNya. (ayat 5)
3. The last, mintalah! Minta apapun yang ingin kita minta, secara detail, terperinci, karena Dia Maha  
    Mengabulkan doa, atau menundanya untuk waktu yang tepat, atau menggantinya dengan yang lebih baik.  
    Yang pasti, tidak akan diabaikan. Wallahu a'lam 

Selasa, 12 Maret 2013

My Two Top Writer

Ini postingan kang Tasaro tentang pertemuannya dengan penulis 'Laskar Pelangi' bang Andrea Hirata :

Kawans, yang mengikuti berita dan dunia maya, mungkin sempat menyimak kontroversi lelaki di bawah ini. Saya ingin bercerita, tiga hari saya dengan dia, di Singapura, sisi lain yang tak terbaca, karena kebanyakan orang memahami dia dari jarak yang jauh atau melalui media semata.
Bahwa setiap orang punya titik rentan. Baik dalam berbicara, mengungkapkan siapa dirinya, membahasakan tubuhnya, dan lain-lain, siapakah yang tidak? Tapi saya ingin bercerita bagaimana tiga hari itu mengubah, menambah, dan menyalakan sesuatu dalam diri saya.

Saya ke Singapura sebenarnya hanya karena diajak oleh Chief Editor Bentang Pustaka, Mas Imam Risdiyanto. Mungkin dia sebal karena Muhammad 3: Sang Pewaris Hujan belum juga bisa kita luncurkan. hehehe...jadi saya diajak menengok Singapore's Writer Festival yang di acara ini, Bang Andrea Hirata menjadi pembicara.

Lalu berangkatlan kami. Cerita perjalanannya menjadi hal lain yang banyak memberi inspirasi. Tapi, agar kisah kita fokus, saya gerakkan alurnya langsung ke malam Singapore's Writer Festival di Art House yang prestisius itu.
Tiketnya 25 Dollar, Sodara-Sodara...itu sekitar 200 ribu kuranglah. Sampai di sini juga saya sudah mak "DEG". Itu bule-bule, muka india, melayu, sampai Tionghoa, antre masuk ruangan bertarif lumayan, untuk mendengarkan seorang Indonesia bercerita tentang kampung halamannya.
Maka masuklah kami. Film Laskar Pelangi diputar lagi. Dulu sewaktu menonton saya merasa terharu, tapi kemarin, di Art House Singapore itu, saya benar-benar menahan tangis habis-habisan. Mungkin bukan karena filmnya semata, tapi oleh karena apresiasi penonton yang tertawa. menangis, sesuai adegan yang tertayang. Sobat, itu perasaan yang sangat dalam. Ini bukan lagi Andrea Hirata, Mira Lesmana, atau Riri Riza...ini INDONESIA.
Ketika film selesai ditayang dan tepuk tangan memenuhi ruangan, Bang Andrea muncul di pintu. Saya tidak menyapa buru-buru. Karena saya punya sedikit kenangan asam dengan dia...hahahahah.... Rumus saya, mendekat kalau memang beliau ingin saya mendekat. Tak lah untuk sok dekat-dekat. Lalu diskusi dimulai. Pertanyaan tak habis-habis. Moderator yang ber Singapura English tak harus bekerja keras. Pertanyaan sambung menyambung.
Sampai kemudian, sebuah pertanyaan seorang Bule soal pengaruh Laskar Pelangi terhadap sastra Indonesia dijawab oleh Bang Andrea dengan jawaban yang bagi saya cukup mengejutkan. Dia tidak sibuk dengan bukunya sendiri. Dia, secara implisit dan eksplisit secara berurutan, menyatakan Laskar Pelangi hanya satu di antara karya hebat anak-anak negeri. Lalu dia menyebut sederet penulis Indonesia yang dia banggakan. Sekali lagi ini bukan lagi tentang nama-nama...ini tentang INDONESIA.

Usai acara itu, agak larut, saya berpikir, kami segera kembali ke hotel. Lalu dua hari sisanya akan kami isi dengan bernorak-norak keliling Singapura. Foto2 di sana-sini. Mencicipi MRT yang didambakan Jakarta. Ke Universal Studio dan mejeng di patung Singa berlatar belakang Marina Bay. Tapi tidak....

Bang Andrea dan manajernya yang juga seniman bersuara "astaga": Meda mengajak kami ngopi di Esplanade, gedung beratap "durian" yang megah dan prestisius sebagai hadiah SIngapura terhadap seni itu.
Lalu peribcangan itu dimulai. Meski saya tidak terlau mengikuti keguncanagan sastra belakangan ini terkait statment Andrea di media massa, saya tahu sedikit. Kesepakatannya kemudian adalah: penulis teruslah berkarya, biarlah kemudian karya itu menjadi milik publik dan diapresiasi sebagaimaa mestinya. Sekeras apa pun, kritik selalu membawa manfaat. Saya setuju, karena saya sangat berpengalaman tentang itu. De Javu dengan novel Muhammad yang pernah membanting saya benar-benar....dan semua kembali ke relnya ketika saya memilih diam.

Hal yang lebih menarik malam itu adalah energi Bang Andrea ini....energi yang tersalurkan. Sesuatu yang kemudian mengubah pandangan saya tentanG Agnez Monica (HAAA???)

Bahwa, sudah waktunya, para pegiat seni Indonesia memunculkan diri ke dunia. Ketika publik dunia sudah terang-terangan menghargai karya kita, mengapa kita harus malu-malu?
Andrea mengatakan itu sembari memperlihatkan terjemahan terbaru Laskar Pelango oleh Random House....penerbit Asutralian yang ASTAGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA itu.
 Itu bisa jadi sebuah adegan pamer kedigdayaan jika saya berpikir negatif. Tapi, hal yang menggejolak di dada saya sama dengan apa yang ke luar dari lisan Bang Andrea,"Saya kangen ada penulis Indonesia lain yang menempuh jalur ini, Tasaro."

Ketika kami berbincang di tempat yang menawan itu, di seberang Sungai Singapore yang membentangkan pusat kota Singapore dengan keindahannya, buku Laskar Pelangi telah resmi terbit dengan 78 bahasa, 78 negara. Lalu apa yang membuat kita tidak berkata "Luar biasa!" ?

Ini bukan lagi tentang Andrea...sebab, buku itu berbicara tentang Indonesia. Hari ini, Andrea sedang membincangkan "INDONESIA" di Australia. Dilanjut Jerman, Bulgaria, Portugal, dan beberapa negara lain yang saya bahkan tak menghafalnya....
Bagi saya, ini sudah bukan lagi perihal Andrea...ini tentang negeri yang lebih sering kita caci sendiri. Lalu, sebuah buku berjudul Laskar Pelangi mengambil "TOA" dan berteriak ke negeri-negeri yang jauh bahwa ada keindahan di tanah kita. Ada semengat, ada Bu Muslimah, ada mimpi....ada Laskar Pelangi.

Keesokan harinya, kami lagi-lagi janjian di Esplanade. Bang Andrea diwawancara media lokal. Sesuatu yang lagi-lagi membuat saya berdegup jantung. Indonesia menemukan pengeras suaranya. Kami berjalan-jalan ke banyak tempat hari itu. Pergi ke perpustakan Esplanade. Di situs saya cukup syok karena buku-buku saya ada di deretan rak-raknya. Lalu ke Kampung Arab dan shalat di Masjid Sultan. Makan masakan minang dan minum kepala muda, ketika segerombolan orang lokal, para pelancong dari Indonesia, sampai warga permanent resident yang berhenti sejenak dan meminta foto bersama dengan Andrea.

Saya sukarela menjadi juru foto dadakan. Bagi saya...ini bukan sekadar Andrea....ini...INDONESIA.

Hari terakhir, hari ketiga adalah puncak kebanggaan saya. Bang Andrea menyertakan saya ke rombongan yang diundang sokolah putri Cedar, salah satu sekolah SMP terbaik se Singapura. Kami mengisi sesi pelatihan menulis di sana. Saya dan Mas Imam dipaksa maju dan berbincara. Dasar banci panggung...hahaha...saya memang suka mengajar. Jadilah asyik sesi itu. Inggris pas-pasan, Melayu ipin-upin, dan Indonesia kami pakai untuk menyampaikan apa yang saya sampaikan juga di kelas malam minggu kita.

Hasilnya.....murid2 cerdas itu sangat gembira...guru-guru mereka pun bersuka cita...Dan...apalah lagi yang kita sampaikan jika bukan tentang Indonesia?


 Terlalu singkat cerita ini, tapi saya ingin berbagi optimisme kepada Kawans semua, Indonesia adalah sebuah permata. Lalu, dunia yang semakin mengglobal ini adalah panggung besar yang menunggu karya-karya kita....siapa tahu kita memulainya dari kelas maya ini...dari kesungguhan dan niat baik kita. Amin.



Sabtu, 02 Maret 2013

Perumpamaan Shalat

Ini sebenarnya pelajaran Ushul hari ini, tetapi begitu penting sehingga saya tuliskan sebelum terlupa..

Kelas kami sedang membahas tentang rukhshoh (keringanan) dan mengambil shalat sebagai contoh.
Kasusnya pada orang sakit boleh melakukan sholat dengan duduk, berbaring dan tidur.
Lalu tiba2 ustadzah meminjam sapu tangan dari seseorang yang duduk di depan, lalu berkata :

"Ibaratkan sapu tangan ini adalah Islam dan lima tangan saya yang memegang ini adalah 5 rukun islam."

Sambil menggenggam sapu tangan itu kalam dilanjutkan.

" Lihat sapu tangan ini, tergenggam kuat, ibarat muslim. Jika dia tidak berhaji, (melepas jari kelingking) sapu tangan masih tetap tidak jatuh. Jika dia tidak zakat (melepas jari manis) sapu tangan masih tidak jatuh. jika dia tidak puasa pun, lihat,, (melepas jari tengah) masih belum jatuh. Jika dia tidak shalat? (melepas jari telunjuk) seketika lepas sapu tangan, seperti seorang muslim yg tdak shalat, maka apa yg membedakan dia dengan seseorang yg kafir? Sudah lepas keislamannya seperti sapu tangan yg jatuh tadi."

Kami sekelas merenung, terdiam. Merinding.

Perkataan di atas bukan berarti kita boleh mengkafirkan seseorang ketika dia tidak shalat karena kata2 Laa ilaaha illa Allah tetap merupakan timbangan terberat, namun yg dimaksud, secara umum bukankah tidak ada bedanya? Bukankah Islam itu amalan hati dan perbuatan secara bersamaan?
Sebuah hadits berbunyi "Shalat itu membedakan antara yg mukmin dan kafir"
Begitu pentingnya shalat hingga ktika sakit pun shalat tetap harus ditegakkan meskipun hanya dengan kedipan mata. Wallahu a'lam.

Ini benar2 taujih buat kami yg tadi mendengarkan dengan melongo saking seringnya lalai dari hal penting ini.

gemuruh

ada suatu kesyahduan yg tak tertandingi
suaranya cessss,,,!!!!!
mendinginkan hal2 berasap yg nyata dan maya
sperti wajan panas menggelora yg ditetesi air,,
cesss,,!!!
rasanya dingin, dingin,,,
melenyapkan semua api yg memantik bahaya,,

adakah sbuah dunia yg membuat kita terbebas dari himpitan
seperti ktika mengeluarkan lelehan coklat
dari ujung plastik yg d gunting sangat kecil,,
dan mmmm,,,, yummy!!